
Sejak awal kepindahan ke Kebumen, kami selalu menggunakan jasa pembantu rumah tangga yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ART, Asisten Rumah Tangga. Tapi ijinkan aku untuk tetap menggunakan istilah pembantu. Bukan merendahkan, tapi justru ingin menunjukkan bahwa meskipun mereka pembantu, tapi keluargaku dulu menghargai mereka seperti layaknya anggota keluarga sendiri!
Mereka membantu Mama mengurus rumah. Menyapu, mengepel, menyetrika, berkoordinasi dengan Tupon dalam urusan air dan tanaman hingga belanja ke pasar. Untuk urusan memasak, Mama turun tangan sendiri. Pernah dicoba beberapa kali dan bukannya tidak enak, tapi soal makanan rumah, Papa nggak mau makan makanan yang tidak dimasak oleh istrinya sendiri.
Kami memberikan kamar tidur yang layak bagi mereka dan mencukupi segala perlengkapan sehari-hari termasuk pesawat radio untuk menangkap siaran yang mereka suka dan juga makanan yang sama dengan apa yang kami makan. Ketika ada rejeki dan kesempatan untuk berlibur, mereka juga kami ajak dan ketika Lebaran tiba, Uang tunjangan hari raya dan bingkisan Lebaran diberikan Mama tak hanya kepadanya tapi juga keluarganya.
Pembantu rumah tangga pertamaku adalah seorang yang waktu itu barangkali usianya sudah sekitar 60 tahun. Ia berasal dari Karangsambung, kawasan pegunungan di sebelah utara Kebumen. Pak Eko Pawitno, tetangga, yang mempertemukan kami dengannya. Mama memintaku untuk memanggilnya sebagai Mbok. Mbok bekerja tidak terlalu lama. Dua bulan saja. Aku lupa apa alasannya untuk keluar.
Pembantu berikutnya adalah seorang keturunan Jawa – Deli Serdang, Ipah namanya.
Bahasa Jawa-nya agak kaku, Mama memintanya menggunakan Bahasa Indonesia saja. Mbak Ipah, begitu aku memanggilnya, selalu menggunakan kaos berwarna merah muda, pandai bernyanyi melayu dan termasuk berparas manis di masanya. Rambutnya mirip Astri Ivo dan Dina Mariana.
Setelah Mbak Ipah, ada Mbak Idah yang berasal dari Petanahan, pesisir selatan kota. Hal yang paling membuatku teringat padanya adalah saat malam pergantian tahun baru Jawa, malam Satu Sura, Mbak Idah tiba-tiba kerasukan dan itu membuat kami sekeluarga kalang kabut. Mama mengolesi minyak di sekujur tubuhnya yang menegang hingga kami akhirnya meminta tolong Pak Sirwani M.K, tetangga belakang rumah, untuk mendoakan supaya membaik.
Mbak Idah juga nggak bertahan terlalu lama.
Pak Eko, teman kerja Papa yang rumahnya kebetulan tak terlalu jauh kemudian mengenalkan kami pada Mbak Piyah yang juga adalah tetangganya. Mbak Piyah akhirnya ikut dengan kami dalam waktu yang cukup lama. Ia bergabung sejak Chitra masih bayi hingga setelah kami pindah ke rumah Jl Kaswari 24 di tahun 1990.
Ia akhirnya pamit karena hendak merantau ke Jakarta tak lama berselang setelah Tupon juga pindah ke sana. (Dulu saking dekatnya aku dengan Tupon dan Mbak Piyah, sering berpikir alangkah baiknya jika mereka berdua berjodoh hahahaha).
Sama halnya dengan Tupon, hingga saat ini aku juga masih berhubungan baik dengan Mbak Piyah melalui Facebook maupun WhatsApp. Menurut Mbak Piyah, wajahku selalu mengingatkanku pada wajah Papaku. “Foto kopiane Papa, Don!”
Setelah Mbak Piyah, ada satu pembantu yang aku lupa namanya. Ia tinggal beberapa tahun sejak aku masih duduk di bangku SMP hingga ketika aku sudah pindah ke Jogja untuk melanjutkan SMA. Ia menjadi saksi kenakalan di masa SMP. Pada masa inilah, setiap mengundang kawan-kawan untuk nonton bokep, aku memintanya untuk diam di kamar dengan alasan, “Aku dan kawan-kawan mau belajar bersama, Mbak..”
Awalnya ia percaya, tapi lama-lama pun curiga. “Hayo! Kamu tadi nonton apa?” Akupun buru-buru bilang supaya tidak memberitahukan kepada Papa dan Mama tentang materi belajar bersama kami hahaha…
Sesudahnya ada Pur yang umurnya beberapa tahun di bawahku, tapi Mama tetap memintaku memanggilnya Mbak Pur. “Kamu harus memanggilnya Mbak supaya adikmu juga ikut begitu…”
Mbak Pur seingatku kadang menginap di rumah tapi kadang pulang sore hari karena rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Mama meminjamkan sepedanya ketika Mbak Pur hendak pulang di sore hari. Aku lupa tepatnya kapan Mbak Pur keluar dan apa alasannya karena ketika aku sudah tinggal di Jogja, rasa peduliku terhadap hal-hal beginian sedikit demi sedikit mulai teralihkan.
Setelah Mbak Pur, ada seorang pembantu yang umurnya sudah cukup senior dan rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Ia kemudian menjadi pembantu terakhir sebelum kami pindah ke Klaten pada 1998. Aku lupa namanya tapi mari kita panggil sebagai Ibu, karena usianya waktu itu lebih senior ketimbang Mama dan Papa.
Sama seperti Mbak Pur, Ibu tinggal dekat rumah. Maka ia datang pagi dan pulang di sore hari. Mama tak keberatan karena tugas yang perlu dikerjakan juga menyedikit karena aku sudah di Jogja dan Chitra juga sudah duduk di bangku SMP.
Ada hal yang sangat menyentuh yang selalu kami ingat darinya.
Kami semua pada akhirnya harus mengakhiri periode hidup di Kebumen karena alasan goncangan ekonomi. Papa tak berpenghasilan lagi dan satu-satunya cara untuk bisa membuat kami bertahan hidup adalah menjual rumah lalu pulang ke Klaten, tinggal bersama Eyang dan hidup dari uang hasil penjualan rumah tersebut.(Aku sedang menata hati untuk menceritakan semua itu nanti secara hati-hati…)
Tapi untuk bisa benar-benar terjual, semua tentu butuh waktu karena membeli rumah beda dengan membeli sejinah sate ambal di pojok alun-alun kota yang tinggal mengulurkan sejumlah uang tak sampai seribu kepada penjualnya!
Sekitar setengah tahun lamanya dan selama itu kami bertahan dengan apa-adanya kami. Aku ingat betul bahkan Papa dan Mama sudah tidak memberiku uang untuk tinggal di Jogja selain berhutang kanan-kiri. Apalagi untuk menggaji pembantu, tentu sudah tidak terkirakan lagi kemungkinannya. Mama pun memutus kerja Ibu dengan baik-baik.
Tapi rupanya Ibu tak mau diputus begitu saja. Awalnya Mama berpikir bahwa Ibu masih ingin mendapatkan gaji, Mama pun menyatakan hal ini kepadanya, “Bu, aku ki wes ora duwe duwit. Mengko begitu omah iki payu aku mulih Klaten…”
Ibu mengutarakan niatnya bahwa ia tetap ingin membantu bukan karena mengharapkan uang gaji tapi karena sekadar ingin membantu saja karena Mama (dan Papa) sudah sedemikian baik selama ini.
Mama menceritakan semua ini dulu kepadaku sesaat sebelum kami semua pindah dengan penuh haru. Kesetiaan Ibu terbukti hingga paripurna. Pada dimana kami semua akhirnya harus pergi dari Kebumen, Ibu datang menyambangi rumah bersama kawan-kawan keluarga yang sudah begitu setia selama ini.
Mata Ibu berkaca-kaca ketika kami pamit dan satu per satu dari kami memeluknya erat. Tangan Ibu juga tak berhenti melambai hingga pemandangan yang kudapat dari spion mobil yang kami tumpangi memudar tak kelihatan dan kami terpisahkan sejak saat itu, barangkali untuk selamanya.
Tulisan ini kupersembahkan kepada semua pembantu rumah tangga yang telah begitu setia menemani aku dan Chitra tumbuh dan membantu Papa dan Mama menjalankan rumah tangganya. Terima kasih! Doaku untuk kalian tak kan pernah habis kudaraskan.
*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.
























