Tag: 2024

  • Pembantu-pembantu

    Pembantu-pembantu

    Sejak awal kepindahan ke Kebumen, kami selalu menggunakan jasa pembantu rumah tangga yang sekarang lebih dikenal dengan istilah ART, Asisten Rumah Tangga. Tapi ijinkan aku untuk tetap menggunakan istilah pembantu. Bukan merendahkan, tapi justru ingin menunjukkan bahwa meskipun mereka pembantu, tapi keluargaku dulu menghargai mereka seperti layaknya anggota keluarga sendiri!

    Mereka  membantu Mama mengurus rumah. Menyapu, mengepel, menyetrika, berkoordinasi dengan Tupon dalam urusan air dan tanaman hingga belanja ke pasar. Untuk urusan memasak, Mama turun tangan sendiri. Pernah dicoba beberapa kali dan bukannya tidak enak, tapi soal makanan rumah, Papa nggak mau makan makanan yang tidak dimasak oleh istrinya sendiri. 

    Kami memberikan kamar tidur yang layak bagi mereka dan mencukupi segala perlengkapan sehari-hari termasuk pesawat radio untuk menangkap siaran yang mereka suka dan juga makanan yang sama dengan apa yang kami makan. Ketika ada rejeki dan kesempatan untuk berlibur, mereka juga kami ajak dan ketika Lebaran tiba, Uang tunjangan hari raya dan bingkisan Lebaran diberikan Mama tak hanya kepadanya tapi juga keluarganya.

    Pembantu rumah tangga pertamaku adalah seorang yang waktu itu barangkali usianya sudah sekitar 60 tahun. Ia berasal dari Karangsambung, kawasan pegunungan di sebelah utara Kebumen. Pak Eko Pawitno, tetangga, yang mempertemukan kami dengannya. Mama memintaku untuk memanggilnya sebagai Mbok. Mbok bekerja tidak terlalu lama. Dua bulan saja. Aku lupa apa alasannya untuk keluar.

    Pembantu berikutnya adalah seorang keturunan Jawa – Deli Serdang, Ipah namanya.

    Bahasa Jawa-nya agak kaku, Mama memintanya menggunakan Bahasa Indonesia saja. Mbak Ipah, begitu aku memanggilnya, selalu menggunakan kaos berwarna merah muda, pandai bernyanyi melayu dan termasuk berparas manis di masanya. Rambutnya mirip Astri Ivo dan Dina Mariana.

    Setelah Mbak Ipah, ada Mbak Idah yang berasal dari Petanahan, pesisir selatan kota. Hal yang paling membuatku teringat padanya adalah saat malam pergantian tahun baru Jawa, malam Satu Sura, Mbak Idah tiba-tiba kerasukan dan itu membuat kami sekeluarga kalang kabut. Mama mengolesi minyak di sekujur tubuhnya yang menegang hingga kami akhirnya meminta tolong Pak Sirwani M.K, tetangga belakang rumah, untuk mendoakan supaya membaik.

    Mbak Idah juga nggak bertahan terlalu lama. 
    Pak Eko, teman kerja Papa yang rumahnya kebetulan tak terlalu jauh kemudian mengenalkan kami pada Mbak Piyah yang juga adalah tetangganya. Mbak Piyah akhirnya ikut dengan kami dalam waktu yang cukup lama. Ia bergabung sejak Chitra masih bayi hingga setelah kami pindah ke rumah Jl Kaswari 24 di tahun 1990.

    Ia akhirnya pamit karena hendak merantau ke Jakarta tak lama berselang setelah Tupon juga pindah ke sana. (Dulu saking dekatnya aku dengan Tupon dan Mbak Piyah, sering berpikir alangkah baiknya jika mereka berdua berjodoh hahahaha).

    Sama halnya dengan Tupon, hingga saat ini aku juga masih berhubungan baik dengan Mbak Piyah melalui Facebook maupun WhatsApp. Menurut Mbak Piyah, wajahku selalu mengingatkanku pada wajah Papaku. “Foto kopiane Papa, Don!”

    Setelah Mbak Piyah, ada satu pembantu yang aku lupa namanya. Ia tinggal beberapa tahun sejak aku masih duduk di bangku SMP hingga ketika aku sudah pindah ke Jogja untuk melanjutkan SMA. Ia menjadi saksi kenakalan di masa SMP. Pada masa inilah, setiap mengundang kawan-kawan untuk nonton bokep, aku memintanya untuk diam di kamar dengan alasan, “Aku dan kawan-kawan mau belajar bersama, Mbak..”

    Awalnya ia percaya, tapi lama-lama pun curiga. “Hayo! Kamu tadi nonton apa?” Akupun buru-buru bilang supaya tidak memberitahukan kepada Papa dan Mama tentang materi belajar bersama kami hahaha…

    Sesudahnya ada Pur yang umurnya beberapa tahun di bawahku, tapi Mama tetap memintaku memanggilnya Mbak Pur. “Kamu harus memanggilnya Mbak supaya adikmu juga ikut begitu…”

    Mbak Pur seingatku kadang menginap di rumah tapi kadang pulang sore hari karena rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Mama meminjamkan sepedanya ketika Mbak Pur hendak pulang di sore hari. Aku lupa tepatnya kapan Mbak Pur keluar dan apa alasannya karena ketika aku sudah tinggal di Jogja, rasa peduliku terhadap hal-hal beginian sedikit demi sedikit mulai teralihkan. 

    Setelah Mbak Pur, ada seorang pembantu yang umurnya sudah cukup senior dan rumahnya tak terlalu jauh dari rumah kami. Ia kemudian menjadi pembantu terakhir sebelum kami pindah ke Klaten pada 1998. Aku lupa namanya tapi mari kita panggil sebagai Ibu, karena usianya waktu itu lebih senior ketimbang Mama dan Papa.

    Sama seperti Mbak Pur, Ibu tinggal dekat rumah. Maka ia datang pagi dan pulang di sore hari. Mama tak keberatan karena tugas yang perlu dikerjakan juga menyedikit karena aku sudah di Jogja dan Chitra juga sudah duduk di bangku SMP.

    Ada hal yang sangat menyentuh yang selalu kami ingat darinya.

    Kami semua pada akhirnya harus mengakhiri periode hidup di Kebumen karena alasan goncangan ekonomi. Papa tak berpenghasilan lagi dan satu-satunya cara untuk bisa membuat kami bertahan hidup adalah menjual rumah lalu pulang ke Klaten, tinggal bersama Eyang dan hidup dari uang hasil penjualan rumah tersebut.(Aku sedang menata hati untuk menceritakan semua itu nanti secara hati-hati…)

    Tapi untuk bisa benar-benar terjual, semua tentu butuh waktu karena membeli rumah beda dengan membeli sejinah sate ambal di pojok alun-alun kota yang tinggal mengulurkan sejumlah uang tak sampai seribu kepada penjualnya!

    Sekitar setengah tahun lamanya dan selama itu kami bertahan dengan apa-adanya kami. Aku ingat betul bahkan Papa dan Mama sudah tidak memberiku uang untuk tinggal di Jogja selain berhutang kanan-kiri. Apalagi untuk menggaji pembantu, tentu sudah tidak terkirakan lagi kemungkinannya. Mama pun memutus kerja Ibu dengan baik-baik.

    Tapi rupanya Ibu tak mau diputus begitu saja. Awalnya Mama berpikir bahwa Ibu masih ingin mendapatkan gaji, Mama pun menyatakan hal ini kepadanya, “Bu, aku ki wes ora duwe duwit. Mengko begitu omah iki payu aku mulih Klaten…”

    Ibu mengutarakan niatnya bahwa ia tetap ingin membantu bukan karena mengharapkan uang gaji tapi karena sekadar ingin membantu saja karena Mama (dan Papa) sudah sedemikian baik selama ini.

    Mama menceritakan semua ini dulu kepadaku sesaat sebelum kami semua pindah dengan penuh haru. Kesetiaan Ibu terbukti hingga paripurna. Pada dimana kami semua akhirnya harus pergi dari Kebumen, Ibu datang menyambangi rumah bersama kawan-kawan keluarga yang sudah begitu setia selama ini.

    Mata Ibu berkaca-kaca ketika kami pamit dan satu per satu dari kami memeluknya erat. Tangan Ibu juga tak berhenti melambai hingga pemandangan yang kudapat dari spion mobil yang kami tumpangi memudar tak kelihatan dan kami terpisahkan sejak saat itu, barangkali untuk selamanya.

    Tulisan ini kupersembahkan kepada semua pembantu rumah tangga yang telah begitu setia menemani aku dan Chitra tumbuh dan membantu Papa dan Mama menjalankan rumah tangganya. Terima kasih! Doaku untuk kalian tak kan pernah habis kudaraskan.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Bernyanyi

    Belajar Bernyanyi

    Semua diawali dari sebuah lagu sederhana yang meluncur dari mulut mungilku “Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut makin lama makin jelas bentuk rupanya..”

    Ketika itu aku duduk di bangku kelas 1 SD Pius Bhakti Utama. Guruku, Suster Suharti, memintaku bernyanyi di muka kelas siang itu. Ia senang! Selanjutnya aku kerap diminta melakukan hal yang sama: bernyanyi di muka kelas pada jam-jam santai menjelang pulang sekolah.

    Para guru di kelas-kelas yang kuikuti berikutnya kurang-lebih melakukan hal yang sama  Waktu lagu “Kuserahkan” (Bintang Rock Indonesia, 1988) sedang ngetop-ngetopnya, Pak AS Midi, kepala sekolah, sering memintaku membawakannya di muka kelas.

    Beberapa tahun kemudian, aku memberanikan diri ikut lomba nyanyi antar-kelas saat class meeting menjelang Natal. Hening dan Kidung, keduanya dipopulerkan Chrisye, kunyanyikan. Lumayan! Tetap nggak bisa ngalahin jagoan SD, kakak-kakak kelasku, Mbak Iin dan Mbak Etik (alm), tapi kalau cuma juara tiga ya dapet lah! 

    Di SMP hal itu berlanjut.
    Tarikan suaraku menarik perhatian Bu HS Marnani, guru seni musik di SMP 1 Kebumen. Ia mendekatiku dan memberi motivasi termasuk berpesan, “Jangan banyak makan goreng-gorengan ya Don! Pertahankan suaramu!” 

    Lagi-lagi seperti waktu SD, aku memberanikan diri ikut lomba bernyanyi antar-kelas pada acara class meeting, Desember 1990.

    Waktu itu demam karaoke merebak hingga ke Kebumen, maka lomba nyanyi siang itu diadakan menggunakan alunan musik minus-one alias karaoke. Nah, sialnya, karaoke waktu itu belum punya kemampuan untuk mengatur tinggi-rendah nada dasar. Jadi apa yang ada di kaset yang harus dihajar!

    Aku memilih Bintang Kehidupan-nya Nike Ardilla. 

    Aku tahu kamu pengen komentar, “Wah, tinggi banget dong suaramu dulu!”  Iya! Suaraku memang melengking waktu itu, maka bisa dibayangkan bagaimana orang-orang waktu itu kagum ketika suaraku menanjak tinggi saat beryanyi

    “Malam-malam aku sendiriiii.. tanpa cintamu lagi… wouwooo..!”

    Juara satu? Ya jelas!
    Lagi-lagi Bu HS Marnani mendekatiku dan bilang, “Donny, gimana kalau semester depan kamu ikut ekstra kurikuler bernyanyi?”

    Aku hanya mengangguk tapi tak pernah mengiyakan. 

    Di tahun berikutnya, 1991, aku semakin intens dilatih bernyanyi Bu HS Marnani. Tapi sebenarnya aku tak terlalu suka pada metode bernyanyi dan lagu-lagu yang ditawarkannya. Ketika bernyanyi aku harus berdiri tegak, mengatur nafas dengan benar dan yang kuingat banget, “Kalau kamu menyanyi mengucapkan “A” atau “O” ibaratnya papan penghapus ini harus bisa masuk ke mulutmu!”

    Aku memberontak! Menyanyi menurutku nggak harus seperti itu! Aku memilih fokus ke lagu-lagu freestyle ala karaoke ketimbang seriosa ala Bu HS Marnani!

    Lagipula Papa dan Mama membelikanku satu set karaoke di rumah. Aku mulai sering bolos waktu belajar nyanyi. Sebagai ganti, aku mencoba mendekati anak-anak band untuk bergabung jadi vokalis, tapi sayangnya hal itu tidak terjadi karena mereka sudah punya vokalis sendiri.

    Naik ke kelas dua, aku tak lagi didekati Bu HS Marnani karena mungkin dia tahu bahwa Donny tidak suka dengan nyanyian dan caranya melatih bernyanyi dan dugaannya itu tidak salah sama sekali!

    Sekali waktu di bulan November 1994, ada lomba karaoke di SMEA Kebumen yang letaknya bersebelahan dengan kuil Kong Hu Cu.

    Secara mandiri aku mendaftar dan mengikuti perlombaan itu. Aku menyanyikan Untukmu karya Tito Sumarsono sebagai lagu wajib dan Nona Manis milik UB2 sebagai lagu pilihan. (Iya! Kalian gak salah baca! Bukan UB40 bukan pula U2! Tapi UB2!)

    Nggak dinyana, aku dapat juara 2!
    Piala kejuaraan lalu kubawa ke sekolah pada senin paginya. Aku berangkat pagi benar, datang ke ruang kepala sekolah yang waktu itu adalah Pak Gun Paimona lalu menyerahkan piala itu, “Pak! Saya Jumat kemarin menang lomba karaoke!”

    Di upacara bendera, Pak Gun memanggilku naik ke podium dan memberi selamat kepadaku. Aku punya satu tujuan melakukan semua itu, menunjukkan pada Bu HS Marnani bahwa aku tetap bisa berprestasi meski tak harus melalui cara-cara yang diajarkannya.

    Akhirnya kami mencapai jalan tengah. Bu Marnani punya gacoan baru di ranah seriosa, Hanung namanya. Adik kelasku. Aku tetap diperhatikan tapi untuk menyanyikan lagu-lagu pop sesuai minatku. Beberapa kali kemudian aku sering “dijodohkan” dengan Nunik, adik kelasku yang bersuara emas. 

    Dalam acara-acara sekolah seperti misalnya Hari Kartini, Hari Sumpah Pemuda dan hari-hari lain, aku dan Nunik selalu tampil bersama. Salah satu lagu yang sering kami bawakan dulu adalah Cinta Kita milik Amy Search dan Inka Christie yang waktu itu sedang ngetop-ngetopnya. Hingga kini aku masih ingat penggal-penggal pembagian lagunya. Nunik masuk ke panggung duluan menyanyikan bait pertama, aku kemudian masuk menyanyikan bait kedua. Di bagian reff kami saling bersahutan dan berdinamika.

    Tapi ada cerita unik terkait duetku dengan Nunik.

    Menjelang naik kelas 3, aku naksir cewek, adik kelas, sebut saja FY. Karena saking khawatirnya nggak mendapat perhatian FY, aku kemudian memutuskan untuk tidak mau lagi berduet dengan Nunik. Apa hubungannya? Aku nggak mau FY mengira aku jadian dengan Nunik hanya gara-gara nyanyi bareng hahahahah…

    Naik ke kelas tiga, pada akhirnya aku kembali fokus ke lagu-lagu seriosa. Kenapa? Karena Bu HS Marnani menwari hal yang tak sanggup untuk kutolak, berlomba di ajang Porseni tingkat kabupaten. “Kalau menang, kamu bisa dikirim ke Porseni tingkat propinsi!”

    Waktu itu yang dipersiapkan ada tiga. Aku, Nunik dan Hanung. Sebagai pengiring, kami menggunakan keyboard yang dibawakan oleh Wahyu Adiwinanto, kawan sekelas yang sekarang berprofesi menjadi dokter spesialis anak-anak. Hampir setiap hari kami berlatih dengan keras sepulang sekolah memastikan tak ada not yang lepas, tak ada nafas yang tak teratur dengan jelas.

    Namun sayang! 
    Aku hanya berada di urutan ke-4 alias Juara Harapan 1 yang artinya hanya bisa berharap untuk dikirim ke tingkat propinsi. Titik itu menjadi penanda untukku memutuskan tidak lagi bernyanyi. Ketika pindah ke Jogja, aku fokus menjadi bassist di band. Ketika kuliah pun demikian juga.

    Pernah memang ada satu peristiwa anomali. Menjelang naik ke kelas 2 SMA, ketika berlibur ke Kebumen,  kawan-kawan alumni SMP 1 Kebumen mengajakku ikut lomba band. Aku mengiyakan mumpung libur, menjadi vokalis dan kamipun meraih juara pertama. Tapi sesudahnya aku tak berani bernyanyi lagi, lebih tenggelam di belakang bodi bass di setiap panggung yang kujejaki.

    Aku baru berani kembali bernyanyi ketika aktif dalam pelayanan musik di Gereja pada awal 2000an. Sejak saat itu aku tak lagi bermain bass karena lebih enjoy untuk bernyanyi.

    Setelah pindah ke Sydney, Australia, terlebih setelah banyak bergaul dengan musisi besar Indonesia yang tinggal di Sydney, Sawung Jabo, keberanianku untuk tampil sebagai penyanyi diluar Gereja semakin besar. Ia membuatku berani tak hanya untuk tampil tapi juga berkarya. Aku makin kerap manggung di acara-acara berbayar dan hingga saat tulisan ini kurawi, aku bahkan sudah mengoleksi cukup banyak lagu ciptaanku sendiri yang bisa kalian dengarkan di platform-paltform musik digital.

    Semua diawali dari sebuah lagu sederhana yang meluncur dari mulut mungilku “Lihatlah sebuah titik jauh di tengah laut makin lama makin jelas bentuk rupanya..”

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Tanda

    Tanda

    Beberapa kali aku mendapatkan tanda saat ada orang-orang yang kukenal meninggal dunia. Uniknya, tanda-tanda itu diberikan biasanya secara tiba-tiba pada saat aku sedang duduk di toilet untuk buang air besar alias boker. Ingat, tiba-tiba dan boker!

    Waktu Kristupa Saragih meninggal, 8 Juli 2017. Saat boker tiba-tiba seperti ada yang berkata lantang di telingaku untuk membuka akun facebooknya. Kristupa, saat itu memang sudah sekitar seminggu lamanya terbaring sakit di Bali. Dan benar saja, di dindng facebooknya, kudapati puluhan ucapan duka karena kakak kelasku di De Britto itu telah berpulang.

    Juga pada Mbak Titi.
    Mbak Titi adalah teman sekaligus mantan client waktu aku masih bekerja di Jogja. Dia berjuang melawan kanker pada tahun-tahun terakhir hidupnya. Malam itu, waktu lagi boker, tanganku tiba-tiba seperti ada yang menggerakkan untuk scroll ke namanya dari friendlist dan kagetku luar biasa mendapati kabar Mbak Titi meninggal dunia beberapa jam sebelumnya.

    Tanda terbaru yang kudapatkan adalah Kamis malam pekan lalu.

    Pada saat menemani anakku mengikuti persiapan penerimaan Sakramen Krisma di gereja setempat, di sebelahku duduk seorang bapak yang caranya membuat tanda salib menurutku adalah khas dan entah kenapa tiba-tiba hal itu mengingatkanku pada kawan yang juga rekan kerja, sebut saja G.

    Suatu waktu dulu pernah sepulang kerja, bersama G dan kawan lainnya kami nge-beer di pub sebelah kantor. Karena dia tahu aku ini Katolik, tiba-tiba G yang kakek-neneknya dari Jerman membuat tanda salib di depanku dan bilang bahwa meski jarang ke Gereja tapi dirinya adalah Katolik.

    Sejam kemudian, ketika pikiranku sudah tidak tertuju pada G, akupun boker untuk kemudian mandi.

    Saat boker, tiba-tiba kepikiran ide untuk membuat konten di instagram, “Selamat malam, Selamat Tidur! Berdoalah sebelum tidur karena nggak semua dari kita bisa bangun besok pagi!” Ide itu akhirnya urung kuungah karena kuanggap terlalu umum, nothing special…

    Keesokan harinya, sekitar jam 10 pagi, seorang kawan lama yang juga kolega menelponku dan mengabarkan bahwa G meninggal dunia.

    Kagetku bukan kepalang! 
    Baru semalam kuingat caranya membuat tanda salib lha kok pagi ini meninggal? Dan yang lebih mengagetkan lagi, G meninggal dalam tidur malamnya karena saat istrinya membangunkan tadi pagi, G sudah tidak bisa bangun lagi untuk selamanya…

    Aku merasa perlu lebih berhati-hati kalau saat boker tiba-tiba aku ingin melakukan sesuatu. Meski, mana bisa aku berkelit kalau justru melalui hal-hal itu aku memperoleh tanda, kan?

    Rest in heaven, G!

  • Dituduh Membunuh

    Hal yang hendak kuceritakan ini adalah salah satu titik terpenting dalam hidupku.  Bukan sesuatu yang menyenangkan, sama sekali tidak. Tapi aku percaya bahwa hal yang diperbolehkan terjadi tetap harus dicari makna dibaliknya sesulit dan sepahit apapun itu. 

    ***

    Kebumen, September 1988

    Salah satu ‘keunggulan’ tinggal di tepian Sungai Lukulo, rumahku kerap dijadikan basecamp untuk kawan-kawan sekelas yang hobi berenang di kali. Seminggu bisa sampai tiga kali dari siang hingga sore hari atau hingga Tupon meneriakiku dari pinggir bantaran “Don…. Mulih! Ditimbali Mama kon rampungan!”

    Pernah sekali, Mama sendiri yang turun tangan menjemputku mengenakan daster rumahan hingga ke bantaran dengan kayu berukuran besar di tangannya. Niatnya mungkin ingin menakut-nakutiku supaya pulang tapi entah kenapa aku malah melihatnya seperti sosok Nabi Musa dengan tongkat di tangan hendak membelah lautan hahaha…

    Kamis pertama bulan itu, pada saat pelajaran Olahraga, guru mengajak kami untuk jalan kaki keluar sekolah menuju arah Bilangan Mertakanda lalu belok ke kanan, ke utara menuju Watu Barut dan memutar pulang ke sekolah.

    Kami berbaris dua-dua. Lalu saat sedang berjalan, tiba-tiba B, kawan dekat yang biasa ikut berenang, meringsek barisan dan merangkul pundakku. “Don, besok mandi di kali yuk!?” Akupun mengangguk dan membalas rangkulannya sambil terus berjalan. Beberapa kawan pun menyatakan turut serta, Png, Bon dan Bdt.

    Tapi keesokan harinya rencana itu berubah.

    Hari-hari itu memang aku sedang keranjingan main tenis meja di Aula Paroki Gereja Gembala Yang Baik Kebumen. Maka sepulang sekolah, alih-alih langsung balik ke rumah, bersama temanku yang lain, Widihartoko, kami bermain pingpong beberapa set banyaknya. 

    Saat sedang asyik-asyiknya bermain, kaca jendela aula kupunggungi diketuk. “Don, digoleti B kae!” ujar Widi.

    Kulihat dari balik jendela, B menempelkan wajahnya ke kaca lalu mengangguk-anggukkan kepala seolah menyatakan Ayo, kita jadi renang, kan?

    Aku menghentikan permainan sebentar lalu memberi tanda balik kepadanya dengan menunjuk-nunjuk jam tangan sambil berkata “Kamu duluan, nanti aku susul ke sungai…”

    B pun segera pergi dan aku melanjutkan permainan. Hingga sekitar jam setengah tiga, aku akhirnya memutuskan pulang ke rumah. 

    Sesampainya di rumah, sepeda kawan-kawan sudah terparkir di halaman. Mama sedang tidur bersama Chitra. Setelah berganti baju, aku pamit pada Mbak Piyah (ART), “Mbak, kalau Mama cari aku, bilangin aku mandi di kali ya…” Mbak Piyah pun mengangguk.

    Berjalan menyeberangi jalan tanah melewati pasar kayu, aku sampai di pinggir bantaran kali. Siang itu matahari terik sekali dan angin sepoi-sepoi mengalun dan tiba-tiba, dari arah kali, Png, Bon dan Bdt muncul di hadapanku. Rambut mereka basah habis mandi. “Lho kalian sudah selesai? Kok cepet banget? Aku baru mau nyusul mandi!” ujarku.

    Mereka saling pandang satu sama lain barang sekejap. Sejurus kemudian mata Bon tiba-tiba berkaca dan dengan suara tergetar ia berkata, “Don… B mati….!”

    Sontak aku terkaget dibuatnya. “Hah? B? Mati?”

    “Iya. Klelep!” Bon mengangguk. Matanya mulai basah.

    “Jenasahnya sekarang ada di Puskesmas Pejagoan, Don…”

    Lututku melemas. Aku tak ingat lagi apa yang terjadi beberapa menit kemudian tapi yang pasti kami berempat kembali ke rumahku.

    Bersicepat mereka mengambil sepeda dan pulang ke rumah masing-masing kecuali tentu sepeda milik B yang masih tertinggal di situ. Aku masuk ke rumah dengan perasaan carut-marut tak keruan. Mengetuk pintu kamar Mama, aku tak kuat lagi dan berkata sambil menangis, “Ma…. Ma… B Ma… B mati di kali!”

    Mama sontak kaget dan aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya.

    Aku lupa siapa yang lantas mengambil/mengantarkan sepeda B tapi kurasa Tupon yang disuruh Mama untuk mengantarkannya. Malam itu jadi malam yang sangat mencekam bagiku. Tak hanya kadar rasa takut yang merasuk ke dalam alam pikirku tapi juga sedih dan bingung seolah tak percaya, seorang kawan dekatku, B, meninggal dunia.

    Tapi sampai di titik ini drama yang sesungguhnya belum dimulai.

    Pagi harinya, Sabtu, dengan langkah gontai aku pergi ke sekolah seperti biasa menggunakan sepeda.

    Aku sudah bisa menebak akan seperti apa suasana sekolah dan kelas. Murid-murid wanita terisak menangis sambil meronce bunga kamboja di ruang depan kantin untuk pemakaman B siang harinya. Salah satu dari mereka menanyakan tentang apa yang sebenarnya terjadi.   “Aku tidak ikut berenang. Baru mau ikut trus diberitahu kalau B meninggal…” paparku datar.

    Setelah lonceng tanda masuk berbunyi, saat kami sedang ada di kelas tiba-tiba Png, Bon dan Bdt dipanggil secara bergantian ke ruang guru oleh Pak AM, guru senior di sekolah kami. Sekitar jam sembilan, setelah semua dipanggil, Pak AM dengan langkah tegap masuk ke kelas.

    “Anak-anak… setelah menginterview Png, Bon dan Bdt, saya tahu sekarang siapa yang punya andil paling besar dalam kematian B. Dia adalah Donny!”

    Sejuta topan badai! 
    Perkataan itu bagai mitraliyur yang dimuntahkan begitu saja menghujam ke arahku. Mataku nanar, bibir tergetar. Tak satu kata pun yang sanggup kusampaikan sebagai sanggahan meski wajahku sudah mengungkapkan semua yang harusnya kukatakan saat itu. 

    Sedihku kehilangan kawan dekat belum sirna, takut dan traumaku belum juga hilang sekarang, aku anak umur sebelas tahun, kelas lima SD waktu itu, sudah dicap sebagai PEMBUNUH kawan sendiri!

    Pagi itu sekolah dibubarkan lebih pagi karena kami berencana untuk datang melayat ke rumah B. Atas kejadian itu, aku mengurungkan niat untuk ikut datang. Aku memilih pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku segera memeluk Mama erat-erat. Mama membalas pelukanku lebih erat dan kurasakan isaknya ketika ia mendengar anak sulungnya yang bahkan melawan tantangan berkelahi anak tetangga saja nggak berani, sudah dicap sebagai pembunuh kawan sendiri!

    Papa pun naik pitam!
    Sepulang kerja, ia berencana langsung mendatangi rumah Pak AM saat itu juga. Tapi Mama melarangnya karena ia bisa melihat api emosi tersulut dalam diri suaminya itu. Barulah keesokan paginya, Papa pergi ke rumah Pak AM. Papa tak menjelaskan secara detail tentang apa yang dibicarakan tapi intinya Pak AM mengaku salah telah menuduhku demikian dan hendak mengklarifikasi di upacara bendera Senin pagi.

    Keesokan paginya, apa yang dijanjikan Pak AM ditepati.  Di depan seluruh siswa, guru dan para staf, Pak AM meminta maaf kepadaku. Ketika kami sedang berjalan berbaris menuju ke gedung bioskop Gembira, karena hari itu kami dijadwalkan untuk menonton film Operasi Trisula (Penumpasan PKI di Blitar Selatan), Pak AM menghampiriku dan bilang, “Donny, kalau masih ada yang mencap kamu sebagai pembunuh, lapor ke saya ya..” 

    Aku hanya mengangguk pelan. Aku tahu bahwa Pak AM pun mengerti bahwa untuk menangkal apa yang sudah ia ucapkan sendiri tidak lebih mudah dari mendirikan benang basah.

    Bahkan ketika hampir setiap anak lantas menganggapku sebagai pembunuh, baik dari kawan sekelas maupun dari kelas lainnya, aku tidak melaporkannya kepada Pak AM. Kenapa? Percuma! Apa kuasanya untuk mengubah pikiran yang sudah menancap di benak banyak orang?

    Sepanjang perjalanan hingga pulang ke sekolah, banyak sekali tatapan mata tajam ke arahku. Tak sedikit yang menghardik, “Wohh jebul kowe yang sing mateni B!?”

    Sesampai di kelas, aku kembali menangis. Pandangan sinis dari kawan-kawan sekelas masih bisa kutangkap di sana-sini seolah menelanjangiku. Hanya seorang yang tidak beranggapan seperti itu. Sosok yang tiba-tiba menghampiriku, duduk dan berkata, “Don! Udah tenang aja! Kan kamu gak bersalah dan Pak AM sudah minta maaf tadi di upacara bendera.” Orang itu adalah ISR, orang paling dekat yang duduk di sebelahku. Aku hanya mengangguk, mataku nanar menembus dinding…

    ***

    Sejak saat itu ada banyak hal yang berubah dalam hidupku.

    Aku takut bahkan ketika harus berjalan di koridor kelas karena tak sedikit yang menghardik sebagai pembunuh. Tak hanya itu, untuk melewati area-area tertentu di Kebumen pun aku tak berani karena tahu rumah mereka, para penuduh, ada di situ.

    Pernah salah satu penuduh main ke rumah tetangga karena kebetulan mereka berkawan, Mama tak kuasa untuk tidak melabraknya. 

    Bahkan bertahun-tahun kemudian, saat aku sudah kuliah di Jogja, seorang dari mereka pun masih menatapku tajam penuh curiga seolah ingin tetap menancapkan pisau tuduhan yang sudah karatan itu dalam-dalam di benakku bahwa waktu boleh berlalu tapi aku adalah pembunuhnya!

    Sejak saat itu pula ada satu lapisan yang sejatinya tak ingin kupunya tapi menyatu dengan sendirinya menjadi karakterku hingga kini, tiga puluh enam tahun kemudian. Perasaan insecure/tidak aman terhadap apapun termasuk orang lain siapapun dia! Perasaan tidak mudah percaya dan yang paling berat adalah perasaan tidak percaya bahwa orang lain mempercayaiku! 

    Dan.. yang terakhir, persepsiku tentang Kebumen mulai berubah. Dalam beberapa kali kesempatan aku sering bertanya kepada Papa kapan kita bisa pindah meninggalkan kota itu. Papa menggeleng karena itu bukan dalam wewenang dan kuasanya sebagai pekerja level menengah.

    Pernah juga terbesit ide untuk pindah sekolah ke Klaten, tapi Papa dan Mama tidak mengijinkan.

    “Nanti saja kalau kamu SMA, kamu boleh ke Jogja atau ke mana yang kamu suka!” Sejak saat itu aku terus menghitung hari untuk secepat dan selekasnya pergi dari kebumen.

    Untuk B dan Pak AM, bersemayamlah dalam damai abadi Tuhan kita Yesus Kristus.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • ISR!

    ISR!

    Orang lain menyebut sebagai cinta monyet, tapi aku tak mau menggunakan istilah itu. Bukan karena sensi dengan “monyet” tapi karena semakin aku hidup dalam kubangan cinta semakin aku tak yakin apakah yang dulu kurasakan dan hendak kuceritakan ini adalah cinta atau sekadar suka, sayang atau sekadar perhatian. Maka aku menggunakan istilah “Suka mula-mula”. Artinya apa? Baca aja dulu ceritaku ya…

    Rasa “suka mula-mula” muncul ketika aku berinteraksi dengan ISR di SD Pius Bhakti Utama.

    ISR bersaudari kembar dengan USW. Keduanya berpawakan kurus dan cukup tinggi untuk ukuran teman sebayanya. Rambut depannya diponi rata alis dan rambut belakangnya yang panjang itu dikepang dua, kanan serta kiri. 

    Saat banyak anak tidak tahu siapa yang mana, aku sudah bisa membedakan keduanya dengan mudah sejak awal karena meski posturnya hampir sama tapi profil wajah keduanya berbeda. Tulang rahang ISR lebih tegas ketimbang USW. Hidung ISR lebih bulat ketimbang USW. Tapi yang paling membedakan hingga kini adalah alis dan bentuk mata. Alis ISR menukik dan mata memicing nan tajam sedangkan USW tidak.

    Banyak yang bilang ISR lebih judes dari USW tapi bagiku ISR lebih tegas. Beda tegas dan judes? Entahlah tapi mungkin di sinilah aku mendefinisikan rasa suka itu karena bukankah ketika kita suka terhadap seseorang, semua yang tampak darinya adalah paparan subyektif yang tak perlu dijelaskan kenapa-kenapanya?

    Oh ya, sejak kelas 4 SD, caraku membedakan mana yang USW dan nama yang ISR lebih mudah lagi karena pada tahun itu, aku didudukkan sebangku dengan ISR. Jadi ya, siapa yang disebelahku pasti ISR, bukan USW, kan?

    ISR sejatinya sosok yang sangat pendiam. Ia sangat tak mau diganggu-gugat utamanya ketika pelajaran sedang berlangsung. Beberapa kali kuajak ngobrol, matanya tak sekalipun lepas dari guru dan papan tulis seolah aku tidak pernah ada di sampingnya.

    Interaksiku dengan ISR paling banyak tentu saat jam istirahat atau saat aku meminjam tipe-x darinya. Saking kerapnya meminjam, ISR akhirnya meletakkan tipe-x di tengah meja supaya aku bisa meminjam dan tak perlu bertanya lagi.

    Oh ya, ISR juga memiliki tulisan tangan yang sangat indah. Penulisan per hurufnya sangat konsisten sehingga tatanan lariknya pun rapi dan nyaman untuk dibaca. Ketika aku merasa ragu bahkan untuk membaca tulisanku sendiri, aku sering meminjam catatan ISR untuk kubawa pulang dan kufotokopi malam harinya di OMA Photo.

    Barangkali… barangkali rasa sukaku pada ISR bermula di situ.  Ada interaksi-interaksi sederhana yang terjadi secara rutin tapi bukankah witing tresno jalaran seko kulina?

    Beberapa kali aku bersama kawan-kawan cowok lain main ke rumah ISR dan USW. Ketika banyak orang lebih akrab kepada USW, aku yang menyambangi ISR. Letaknya cukup jauh dari sekolah dibandingkan dengan jarak dari sekolah ke rumahku. Rumah ISR memiliki halaman cukup luas dengan pohon jambu air di pojok halaman depan rumahnya. Bapak dan Ibunya dari kalangan priyayi terpelajar yang menerima kami dengan sangat baik. Neneknya pun sering menyapa saat kami hendak meminjam toilet melewati sumur di belakang/samping rumahnya. Senyum simpatik kakak dan adiknya pun tak pernah bisa kulupakan hingga sekarang. Hal lain yang kuingat, rumahnya bersebelahan dengan mushola kampung yang sering mengagetkanku ketika tiba-tiba lantang suara pengumuman ataupun ajakan beribadah dikumandangkan.

    Salah satu pengalaman nan tak terlupakan dengan ISR adalah yang hendak kuceritakan di paragraf berikutnya. Meski sebenarnya aku suka pada ISR tapi ISR lebih sering menceritakan kepadaku bahwa ada cewek-cewek lain di kelas yang suka kepadaku, LA dan YP. Setiap kali ISR menceritakan itu kepadaku, kepalaku selalu menggeleng dan hal itu sering membuat ISR tertawa terbahak.

    Suatu waktu, aku tidak masuk sekolah karena sakit demam hingga lebih dari seminggu. Sekonyong-konyong pada sebuah sore, ISR, USW, Ani, Amelia, Sylvia Susana dan beberapa kawan cewek lain termasuk LA dan YP datang menyambangi ke rumah dengan bersepeda. Waktu itu tentu belum ada telepon genggam ataupun Whatsapp sehingga kehadiran mereka sangat mengagetkanku.

    Aku tidak siap dan alih-alih merasa senang, yang ada justru panik. Aku membangunkan Mama yang sedang tidur siang bersama Chitra dan memintanya untuk menemanimu menemui kawan-kawan itu.

    Mereka duduk dalam satu kursi panjang di ruang tamu sementara aku dan Mama ada di depannya, duduk di kursi masing-masing. Mereka datang bukan dengan tangan hampa. Ada cake dan buah-buahan dibawa. Mama cuma bisa cengar-cengir sementara aku semakin merasa tidak nyaman. Bukannya tidak suka dalam artian benci, tapi tidak suka karena aku memang anti kejutan, hingga sekarang. 

    Mungkin karena itu juga aku kemudian malah pergi meninggalkan rumah, membiarkan mereka jadi tamu Mamaku sementara aku main bersama kawan-kawan tetangga. Meski untuk yang satu ini tentu tak lama karena Mama menyuruh Tupon untuk memanggilku pulang dan “bertanggung jawab” atas teman-temanku itu.

    Perihal ini, bahkan hingga sekarang baik ISR dan USW, keduanya ingat betul kejadian ini. “Kamu dulu kudatangin kok malah ditinggal pergi!” ujar USW melalui Whastapp belakangan ini. 

    Naik kelas lima aku pernah dipisah dari ISR untuk sekian waktu lamanya. Sebagai gantinya aku didudukkan bersama CM, kawan cewek yang lain lagi. Bukannya aku tak suka pada CM tapi ketika akhirnya kami dibiarkan bebas memilih hendak duduk dengan siapa, aku mendatangi ISR dan bertanya, “Aku boleh duduk bareng kamu lagi?” ISR hanya tersenyum, mengangguk, matanya mengerling. Sejak saat itu hingga lulus SD aku dekat dengan ISR.

    Uniknya, kedekatan itu berpendar begitu saja selepas SD. Ketika kami ada di SMP Negeri 1 Kebumen, sangat jarang kami berinteraksi meski ketika kelas 1 ada di kelas yang sama, 1C.

    Bukan hanya itu, rumahku pun pindah sangat dekat dengan rumah ISR dan ISW. Mama malah pernah menggoda sesaat sebelum pindah, “Nanti kalau di Kaswari (Jl Kaswari Kebumen –red) kamu makin dekat untuk main ke rumah ISR!”


    Tapi nyatanya, hingga aku kemudian pindah ke Jogja, 1993, hingga Papa, Mama dan Chitra pindah dari Kebumen kembali ke Klaten, tak sekalipun aku pernah main ke rumahnya. Sesekali waktu aku hanya melihatnya dan USW main ke rumah Wiwuk, tetangga, dan aku hanya mendongakkan dagu sambil berujar “Hey”.

    Tak ada penjelasan kenapa aku bersikap dingin seperti itu karena tak ada permusuhan yang kusulut dengannya dulu. Semua terjadi begitu saja.

    Itulah kenapa aku menggunakan istilah “suka mula-mula” bukan hanya karena perasaan suka itu muncul di permulaan hidupku sebagai anak menjelang remaja tapi juga barangkali karena rasa suka hanya muncul ketika mula-mula tapi tidak selanjutnya. 

    Tapi apapun itu, pada setiap langkah yang kuambil untuk mengenal makna cinta yang lebih mendalam dengan sosok-sosok wanita berikutnya yang hadir di dalam hidupku, ISR tetap kuingat sebagai sosok pertama yang kepadanya aku memberi perhatian dan menampakkan rasa suka meski secara diam-diam nan tak pernah aku punya nyali dan kesempatan untuk menyatakannya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • SD Pius Bhakti Utama

    SD Pius Bhakti Utama

    Sejak masih tinggal di Klaten, Papa dan Mama sudah berpikir bahwa ketika akhirnya kami harus pindah ke Kebumen, aku akan disekolahkan di SD Pius Bhakti Utama.

    Meski Papa waktu itu belum masuk Katolik tapi sejak awal, Papa sudah mengijinkanku (dan Chitra) untuk dibaptis dan dididik secara Katolik mengikuti agama Mama dan keluarga besarnya.

    Bulan Juli, 1984.
    Tepat empat puluh tahun silam, setelah beberapa. bulan ada di TK Pius, aku memulai pendidikan dasar di SD Pius Bhakti Utama Kebumen. Lokasinya ada di Jalan Sutoyo 11B (Sebelumnya kutulis 22B tapi Bayu Aji via Whatsapp mengingatkanku bahwa alamat tersebut salah) , berada di halaman belakang Gereja Katolik Gembala Yang Baik Kebumen yang sejak 2004 berubah ke nama asalnya, Gereja Paroki Santo Yohanes Maria Vianney Kebumen.

    Letaknya tak terlampau jauh dari rumah karena praktis hanya berbatasan dengan alun-alun Kebumen saja. Di tahun-tahun awal Mama mengirimku ke sekolah menggunakan jasa becak yang kalau tidak salah memakan ongkos sekali jalan dua ratus lima puluh perak. Setelah aku kemudian bisa mengendarai sepeda, Papa membelikanku sepeda BMX dan tidak lagi menggunakan becak sesudahnya.

    Halaman sekolah SD Pius tidak terlalu luas tapi cukup lapang untuk jadi tempat beraktivitas siswa dan siswi juga guru beserta staff. Meski labelnya sekolah katolik, tapi pada kenyataannya SD Pius juga menerima murid beragama lain. Kawan-kawan beragama Islam seperti Bayu Aji, Indarti Setyorini dan Untari Setyowati adalah contohnya.

    Duduk di bangku kelas 1, aku diajar oleh guru senior, Suster Suharti. Di kelas dua, oleh Ibu YF Ardhiyati.  Di kelas 3 diajar Pak Hadi “sepuh” yang pandai menggambar dan senang sekali bernyanyi dan bercangkriman (tebak-tebakan). Kelas empat hingga enam, aku diajar oleh beberapa guru yang masing-masing mengampu mata pelajaran secara terpisah oleh guru-guru senior seperti Bu Sumarwan, Pak YB Suhadi dan Bu Wartini serta kepala sekolah, Pak AS Midi.

    Karena keterbatasan ruang kelas, seingatku waktu itu kegiatan belajar-mengajar kelas 2 SD diadakan di siang hari sekitar jam 10 pagi setelah kelas 1 selesai diadakan hingga jam 12:45 WIB.

    Dalam prestasi belajar, di tahun-tahun awal aku selalu menempati peringkat pertama. Tapi ada peristiwa unik yang terjadi ketika duduk di kelas 2. Waktu itu saat penerimaan rapor, aku ternyata menduduki peringkat kedua di kelas.

    Papa pun kaget.
    Menurut perhitungannya, aku harusnya ada di rangking pertama. Papa kemudian meminta waktu untuk bertemu dengan Bu Ardhiyati yang waktu itu termasuk guru yang sangat muda. Papa membawa semua hasil ulangan dan ujian catur wulan untuk bahan protes dan diskusi. Sehari kemudian, peringkatku pun dinaikkan jadi rangking pertama :)

    Soal angka, rangking dan prestasi, Papa dan Mama ada di dua kutub yang berbeda. Mama cenderung rileks dan “yang penting happy” tapi bagi Papa, aku harus juara. Aku harus menang. Masih terngiang hingga sekarang caranya memberiku motivasi, “Ayo, Le! Kowe mesti iso, Le!”

    Papa sangat kompetitif. Aku masih ingat dulu ketika duduk di bangku kelas 1 SD aku diajak bicara empat mata oleh Papa. 

    “Kamu harus mendata siapa saja temanmu yang pintar-pintar. Kamu cari caranya kenapa mereka bisa pintar lalu tiru caranya dan tambahkan sedikit usaha di atas cara-cara itu supaya kamu bisa menang dari mereka!”

    Aku kemudian mendata. Hendy, Ferry, Bayu dan Bondan adalah mereka yang selalu duduk di rangking pertama sepertiku.

    Sesudahnya, seturut apa yang Papa minta, akupun melakukan observasi pada kebiasaan-kebiasaan mereka.

    Ferry dan Hendy, mereka kursus matematika pada seorang guru senior bernama Pak Suroto. Ketika masuk ke kelas 5 dan 6, mereka kursus matematika pada Bu Sum yang tak lain adalah guru matematika SD Pius sendiri. Oleh Papa, aku kemudian didaftarkan kursus pada guru-guru yang sama di kelas kursus yang sama juga dengan mereka.

    Tak hanya pelajaran, ketika tahu Ferry dan Hendy juga kursus renang dan badminton, akupun disuruh Papa untuk mengekor meski tak berapa lama kemudian aku keluar karena dasarnya memang tak suka olahraga.

    Dengan Bayu lain lagi.
    Setelah tahu bahwa Bayu tidak ikut kursus apapun, aku semakin ingin tahu bagaimana dia bisa begitu cemerlang dalam belajar. Beberapa kali bahkan sampai kudatangi rumahnya di kawasan Prumpung untuk sekadar tahu seperti apa kebiasaannya.

    Beberapa waktu kemudian aku tahu bahwa Bayu punya kebiasaan membaca koran Kompas edisi terbaru berjam-jam lamanya setelah pulang sekolah sambil tiduran tengkurap di ruang tamu rumahnya. (Beberapa hari lalu aku mengkonfirmasi hal ini kepadanya melalui Whatsapp dan ia hanya tertawa mungkin tak menyangka aku masih mengingat dengan detail hal ini).  Sepulang dari rumah Bayu, Papa yang waktu itu sudah berlangganan Kompas menyarankanku untuk melakukan hal yang sama dan sejak saat itu, hingga sekarang, aku sangat gemar mengikuti berita-berita terbaru yang terjadi di tingkat regional maupun internasional.

    Tapi Bondan adalah pengecualian.

    Rumah kami cukup berdekatan. Mama berkawan dengan Bu Margo, ibunya Bondan. Sementara Pak Margo adalah pengusaha loper koran yang men-supply koran ke rumah setiap hari.

    Bondan tidak kursus apapun. DIa juga tidak membaca koran secara rutin tapi ia adalah seorang pembelajar yang hebat. Berjam-jam waktunya habis untuk belajar, belajar dan belajar.

    Sesuatu yang kemudian kusadari tak bisa kuikuti karena aku cenderung tak suka belajar terlalu lama. 

    Sejak kecil, Papa mengajarkan semangat untuk berkompetisi dan harus menang. Sesuatu yang kalau diingat sekarang cukup melelahkan karena aku terpacu untuk selalu waspada terhadap siapapun di sekelilingku. Semua harus kuanalisa dan observasi. Tapi di sisi lain, hal itu sangat aku syukuri.

    Terutama ketika pindah ke Sydney, 2008 silam. Waktu itu aku tak punya kenalan bahkan jangankan pengalaman kerja, kemampuan Bahasa Inggris ku pun masih sangat minim! Tapi Tuhan mengijinkanku untuk tetap bertahan dan tidak tenggelam salah satunya karena aku mewarisi sifat kompetitif dan harus menang sejak sangat muda. 

    Tapi secara sadar, aku dan istri memutuskan untuk tidak meneruskan hal itu kepada kedua anakku, Odilia dan Elodia.

    Aku tak mengharuskan mereka untuk menang melawan siapapun karena dalam hidup ini sejatinya tidak ada yang perlu dikalahkan selain diri sendiri. Aku hanya mengharuskan mereka untuk menjadi orang benar, jujur, berkomitmen serta berpegang pada prinsip kristiani dan… berbahagia dengan apapun yang nantinya mereka punya.

    Aku tidak pernah menganggap apa yang diajarkan papaku salah, hanya saja untuk ukuran konteks jaman yang terus berubah, rasanya bekerja sama dan saling membantu itu lebih penting ketimbang harus bersaing dan mengalahkan untuk menang…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Chitra Verdiana

    Chitra Verdiana

    Setelah lebih dari tujuh tahun jadi anak tunggal, per 6 Mei 1985, statusku berubah dengan lahirnya Chitra. Kalau tidak salah ingat, Mama mengabarkan kehamilannya kepadaku sesaat setelah ia dan Papa pulang dari Jogja mengikuti lomba gerak jalan mewakili instansi tempat Papa bekerja dulu, Agustus 1984.

    Sebagai anak kecil, yang kuamati sejak saat itu adalah perut Mama makin hari makin membesar. Mendekati hari kelahiran, Mama kerap memintaku meraba perutnya dan aku kegelian karena kandungannya bergerak-gerak.

    Mama yang biasa menggunakan daster pendek kemudian membeli daster-daster hamil untuk dikenakan. Oh ya, satu lagi, di awal kehamilannya, Mama ngidam ‘wakpung’ alias iwak glepung (seiris daging sapi yang digoreng menggunakan tepung tebal) yang sayangnya hanya bisa didapatkan di Klaten dan Papa harus mencari hingga ke Klaten karena ketika pembantu rumah tangga mencoba membuatkan wakpung, Mama menolaknya.

    Selama Mama hamil, kami juga pernah berlibur ke Candi Borobudur di Magelang, Jawa Tengah hanya seminggu sebelum peristiwa pengeboman Candi Borobudur pada 21 Januari 1985.

    Sebulan sekali Mama juga harus pergi ke bidan (kalau tidak salah Ibu Rus namanya, istri kolega Papa dan tinggal di daerah Karangsari Kebumen). Setiap ke bidan ia diantar becak dan dengan spesifik tak mau lewat Jl Bengawan karena kondisi jalanan yang tak rata yang ia takutkan karena goncangan bisa membuatnya melahirkan di jalan saat itu juga hahaha…

    Chitra lahir pada Senin Pon sekitar pukul sepuluh pagi. Eyang Slamet Putri (almh) atau yang biasa kami panggil sebagai Eyang Blitar, ibunya Papa datang dari Blitar Jawa Timur sejak beberapa hari sebelumnya. Eyang Pranyoto Putri, Eyang Klaten, sendiri tidak bisa datang pada saat hari kelahiran Chitra karena beliau bekerja sebagai editor buku di PT Intan Pariwara Klaten.

    Hari itu, siang sepulang sekolah, Papa menjemputku menggunakan Honda Astrea 800 dan menungguku keluar kelas di muka kantor pastoran Gereja Katolik Gembala Yang Baik Kebumen yang bersebelahan dengan sekolahku, SD Pius Bhakti Utama.

    “Lho, Pa? Nggak kerja?” tanyaku seketika melihat Papa ada di sana. Papa dengan ceria membalas “Don, adikmu wes lair, wedok…” 

    Aku yang tak tahu harus bereaksi apa hanya berkomentar singkat, “Wah adikku anyar!” sesuatu yang kemudian selalu diingat Papa dan dicritakan berulang-ulang kali dulu.

    Aku dan Papa lalu pergi ke Rumah Sakit Bersalin Wisma Rukti yang letaknya di Jl Pemuda, Kebumen.

    Sesampainya di sana aku diantar menemui Mama yang waktu itu masih terkulai lemas. Tak lama kemudian, Papa mengantarku menjenguk Chitra di ruang bayi.

    Karena aku memang tak pandai berekspresi, waktu itu seingatku aku bersikap datar-datar saja. Hanya melongok di balik kaca untuk melihat bayi yang kemudian menjadi saudara kandungku satu-satunya seumur hidupku itu. Karena aku memang overthinking sejak kecil, aku malah berisik kepada Papa, “Pa, gimana kalau kita jaga adik nanti malam?”

    Papa bingung, “Kenapa? Kamu mau tidur sini?”

    Aku menggeleng, “Aku takut nanti bidannya menukar adik dengan bayi lain. Gimana?”

    Papa tertawa meski aku tetap pasang tampang serius. Well, jadi kalau orang-orang sekelilingku saat ini bilang aku ini overthinking, ya emang dari dulu udah gitu ;)

    Waktu itu seingatku Papa dan Mama juga belum memberi nama Chitra. Bahkan hingga kemudian Mama dan Chitra diijinkan pulang, nama “Chitra” belum ada atau setidaknya aku tidak mengetahuinya.

    Beberapa hari kemudian, Eyang Klaten datang. Ia mengambil cuti seminggu untuk menjenguk kami di Kebumen.

    Tak lama kemudian, aku diajak Eyang Blitar untuk berlibur ke Solo – Jombang – Blitar dan Sidoarjo untuk mengunjungi saudara-saudara dari pihak Papa dan itu jadi liburan pertamaku tanpa Papa dan Mama.  “Biar Mama dan Papa ngurusin adikmu, kamu ikut eyang liburan…”

    Baru sepulang dari kunjungan ke Jawa Timur itu, sekitar sebulan kemudian, semuanya sudah lebih siap bagi Chitra. Ia tidak lagi tidur bersama Mama tapi sudah ada tempat tidur bayi yang letaknya berhimpitan dengan ranjang tidur Mama. Di atas kelambu tempat tidur Chitra tertulis label di kertas manila, “Chitra Betsy Verdiana” di saat itu aku baru tahu nama adikku itu Chitra.

    Sore harinya, Papa mengajakku bicara empat mata. Di teras depan rumah, ia bilang, “Le, mulai nanti malam kamu tidur sendiri di ruang kamar depan.” Selama ini, Papa memang menemaniku tidur di ruang depan karena aku takut tidur sendirian.

    Aku terdiam dan keterdiamanku itu cukup membuat Papa tahu seperti apa perasaanku.

    “Kamu kan sudah punya adik, Le. Kamu harus belajar mandiri. Adikmu sering bangun kalau malam jadi Papa harus bantu Mama…”

    Aku hanya terdiam tanpa memberi permisi pada lidahku untuk mengucap satu kata pun keluar guna melukiskan runyamnya perasaanku…

    Tiga puluh sembilan tahun kemudian, saat aku dan Chitra sudah sama-sama berkeluarga dan beranak-pinak, saat Papa dan Mama kami sudah berpulang semuanya dalam damai Tuhan di surga, saat kami sudah terpisah ribuan kilometer jauhnya, aku merilis lagu di digital music platform berjudul Untuk Adikku, Chitra yang videonya bisa kalian simak di bawah ini…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Dandan

    Belajar Dandan

    Seminggu yang lalu, anak bungsuku, Elodia, tiba-tiba minta rambutnya di-highlight alias disemir tak menyeluruh. Umurnya baru 11 tahun. Semalam hal itupun dilaksanakan. Sepulang dari salon ia memamerkan rambutnya kepadaku. “Look, Papa… look! Do you like it?”

    Aku mengangguk sementara Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, “Elodia itu mirip banget sama kamu! Semuanya kayak kamu termasuk hobinya untuk dandan! Persis gak kebuang sama sekali!”

    Aku hanya tertawa sambil menerawang pada titian hidup masa lalu, bahwa sepertinya hal Elodia, akupun mulai peduli pada penampilan sejak usia dini… sangat dini.

    Rambut Keriting

    Sejak lahir, rambutku tipis, lurus, kemerah-merahan. Dari garis keturunan, aku mendapatkannya dari garis almh. Mama lalu kuturunkan kepada Elodia yang juga berkarakter rambut sama. (Odilia, kakaknya, berambut hitam dan tebal seperti ibunya).

    Ketika duduk di bangku kelas 4 SD, pada sebuah siang, tak ada angin apalagi hujan, sekonyong-konyong aku bilang pada Mama bahwa aku ingin memiliki rambut ikal. Mama tahu betul tabiatku. Ketika aku sudah ingin sesuatu, tekad bulatku tak kan jadi pipih hanya oleh penolakan termasuk cibiran sekalipun.

    Mama membiarkanku bereksperimen. Awalnya aku meminjam roll rambut milik Mama dan memakainya beberapa jam. Alhasil, ikal! Tapi setelah mandi, ikalnya hilang, melemas seperti orang belum makan sehari-harian.

    “Kalau kamu mau permanen, ayo ke salonnya Mama…” 

    Hatiku pun riang. 
    Maka di sebuah minggu siang nan lengas, kami berdua pergi ke Salon Djatmiko, salon langganan Mama yang terletak di Jl Pramuka. Aku sebenarnya tak terlalu suka potong rambut di Djatmiko karena menurutku kerjanya lambat meski kalau menurut Mama justru sebaliknya, Mas Djatmiko itu tidak lambat tapi telaten dan untuk telaten butuh waktu lama.

    Tapi barangkali karena kali itu lebih dari sekadar potong rambut, akupun menikmati betul prosesnya yang memakan waktu hampir dua jam lamanya. Tapi kenikmatan itu buyar ketika aku melihat hasil akhirnya. Di depan kaca aku terdiam. Aku merasa sangat tidak cocok memiliki rambut ikal.

    Di atas becak, sepulang dari Salon Djatmiko, aku bertanya pada Mama, “Ma, ini nanti keritingnya ilang kan setelah mandi?”

    Mama tersenyum. Sambil mengusap rambutku ia bilang, “Yo ora langsung ilang, Le! Tapi gak papa! Hasilnya bagus kok! Nanti sebulan lagi udah mulai lurus meneh kok…”

    Keesokan paginya aku menyiapkan hati untuk menerima reaksi dari kawan-kawan di sekolah atas rambut ikalku. Di depan kaca pagi itu aku bicara pada diri sendiri bahwa aku akan baik-baik saja dengan rambut ikalku.

    Sepeda BMX Putih

    Di kali lain, tiba-tiba aku merengek pada Papa bilang bahwa sepeda BMX-ku sudah mulai tak nyaman dipakai padahal sepeda itu belum berumur lebih dari dua tahun sejak dibeilkan Papa.

    “Kenapa emangnya?” tanya Papa.

    “Stangnya udah gampang kendor… trus aku sering jatuh kalau naik sepeda!” jawabku. Papa pun mengecheck sepeda. “Kayaknya semua ok kok Don…”

    Aku geleng-geleng. “Pa, aku kemarin lihat ada sepeda BMX bagus warna putih! Aku pengen ganti sepeda!”

    Seperti halnya Mama, Papa selalu takluk kalau anak sulungnya ini meminta sesuatu. Ia pun tak kuasa menolak. Di hari minggu berikutnya, Papa mengajakku ke toko sepeda Ban Liong yang letaknya di depan Pasar Kebumen. Sepeda BMX putih yang kuimpikan pun kudapat. Keesokan harinya, sepanjang jalan hingga ke sekolah, sepeda BMX ku jadi tontonan orang-orang yang kulintasi. Tak seperti anak-anak lain yang merasa risih atau takut ketika jadi perhatian orang, hatiku berdebar-debar bangga karena jadi pusat perhatian. (Sepeda BMX putih ini ternyata mengesankan seorang kawan lamaku. Dalam percakapan via Whatsapp beberapa waktu lalu, ia ingat bagaimana aku tampak beda karena ketika anak-anak lain masih naik sepeda mini ataupun jengki, aku sudah tampil beda dengan sepeda BMX warna putih yang gagah!)

    Rambut Ala Tong Po

    Ketika duduk di bangku SMP kasusnya lain lagi. Ada masanya aku tergila-gila pada film Kickboxer yang dibintangi Jean-Claude Van Damme. Dalam film itu, ada sosok antagonis bernama Tong Po yang diperankan oleh Michel Qissi. Bersama Mas N, sosok yang mengajariku nonton film bokep untuk pertama kalinya dulu, aku diajak memotong rambut supaya mirip Tong Po.

    Menggunakan pisau cukur aku memotong rambut bagian depan dan… alis mata. Ya! Kalian gak salah baca.. alis mata!

    Mama pun marah besar melihat semuanya itu. “Kamu itu katanya gak suka dipanggil Cunong karena bathukmu nonong! Tapi kalau kayak gini, kamu pikir mereka akan memanggil kamu apa?!”

    Foto di bawah diambil sekitar sebulan setelah aku potong rambut model “Tong Po” itu tanpa alis dan lihatlah bagian atas jidat yang lebih putih. Itu adalah bekas potongan menggunakan pisau cukur.

    Sepatu Micky Mouse

    Di kelas dua SMP, aku cari gara-gara lagi. Saat kawan-kawan lain memilih membeli Eagle atau merek-merek lain yang cenderung memiliki potongan rendah, aku tiba-tiba memilih Kasogi yang memiliki leher sepatu tinggai melebihi kemiri. Modelnya pun tidak ramping dan memiliki sol cukup tebal. Di Kebumen, sepatu model seperti itu belum lah dikenal awam.

    Papa dan Mama sempat bertanya meyakinkan apakah aku serius memilih sepatu itu? Aku mengangguknya. Aku tahu hal ini akan bikin aku tampak beda dibandingkan dengan kawan lain tapi dasarnya, sejak dulu aku memang suka untuk jadi beda ya tak mengapa.

    Keesokan paginya, nama panggilanku bertambah satu, Mickey Mouse! Kok bisa? Kepala dan jidatku besar, badanku kurus, sepatunya besar! Tapi itu tak lama, beberapa minggu kemudian mulai ada beberapa orang teman yang mengikuti jejakku, membeli sepatu model tinggi untuk dikenakan sehari-hari.

    Hobi dandan atau lebih tepatnya bereksperimen terhadap penampilan berlanjut hingga sekarang saat umurku 46 tahun.

    Tanpa dandan aneh-aneh pun sebetulnya aku sudah tampak tidak umum dengan lubang di telinga berdiameter 2.6cm dan tattoo hingga ke leher ditambah lagi dengan udeng/iket kepala Jawa yang selalu kukenakan bahkan ketika bekerja.

    Aku tak pernah membiarkan wajah dan tubuhku tampil dan menggunakan pakaian seadanya. Aku jadi ingat apa yang dikatakan mantan bossku dulu, “Kamu selalu in style setiap harinya dan kita sangat menghargai itu. Itu artinya kamu memikirkan sejak dari penampilan kamu.. apa yang terbaik yang bisa kamu berikan hari ini…”

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Film Saru – 2 (habis)

    Film Saru – 2 (habis)

    Selalu ada hal yang perlu dilakukan (baca: dikorbankan) untuk bisa diterima dalam sebuah kalangan pertemanan. Setelah gagal meyakinkan bahwa aku ini pemberani dalam berkelahi (simak ceritanya di sini), untuk bisa diterima dalam “kawanan bintang” di SMP Negeri 1 Kebumen, aku mendemonstrasikan bahwa aku tetaplah seorang pemberani dalam hal menonton film saru!

    Seperti kutulis dalam tulisan sebelumnya, terhitung sejak 1988, aku sudah tiga tahun berpengalaman memutar film saru di rumah sendiri!

    Ketika kusampaikan dengan gegap gempita tentang hal itu, mereka pun tertarik dan penasaran lalu serta merta mengajakku untuk menonton di rumah. Akupun merasa jumawa karena dibutuhkan.

    Waktu itu kami sudah pindah ke rumah sendiri di Jl Kaswari No. 24 Kebumen dan denah rumah yang dibangun memungkinkan kami untuk lebih kusyuk menonton tanpa ada gangguan tetangga yang mungkin bisa ikut menonton di balik gordyen rumah yang menerawang.

    Aku hapal betul jadwal kapan Mama pergi entah untuk arisan maupun rapat dharma wanita. Di hari-hari itulah aku mengundang kawanan bintang untuk datang dan memutar film saru. Bosan dengan koleksi kaset yang kumiliki, aku meminta mereka juga membawa koleksi kaset mereka.

    Pembantu rumah tangga pun sudah ‘kukoordinasikan’.

    “Mbak, pokoknya kalau teman-temanku datang kamu masuk kamar dan tutup pintu ya karena kita mau belajar kelompok!” Iapun menurutinya.

    Yang semula aku merasa sendirian berpetualang, sejak saat itu sudah hampir selusin kawan lain yang membersamaiku untuk masuk ke relung-relung labirin permesuman! Lain waktu, mereka gantian mengundangku untuk nonton film saru di rumah mereka. Hal itu berjalan berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun. hingga suatu saat aku mencapai nahas yang detailnya hendak kuceritakan ini.

    Siang itu, seperti biasa, sejak sekitar pukul 2 siang, kawan-kawan sudah berkumpul di rumahku.

    Setelah Mama pergi arisan jam tiga, tak lama sesudahnya, acara nonton film saru pun dimulai. Putaran pertama berjalan aman. Tapi ketika hendak menyelesaikan kaset kedua, sekitar jam setengah lima, tiba-tiba listrik padam. Biasanya, listrik padam hanya sekitar lima menit lalu menyala kembali. Tapi sepuluh, lima belas hingga setengah jam kemudian listrik belum juga kunjung menyala.

    Kami mulai panik. Kaset film saru tertahan di dalam mesin pemutar Sony SL-30 dan tak bisa dikeluarkan karena keluar masuk kaset diatur secara otomatis melalui motor yang digerakkan listrik.

    Aku lantas menyuruh kawan-kawanku untuk pulang. Aku nggak mau mereka ikut terlibat disalahkan kedua orang tuaku. Mereka sempat menawarkan berbagai macam cara termasuk mengangkut video player ke rumah mereka untuk dikeluarkan kasetnya lalu dibawa kembali ke rumahku. Tapi kurasa itu tidak mungkin karena Chitra, adikku, sebentar lagi akan pulang dari les menari lalu sekitar jam lima tiga puluh, Papa akan pulang ke rumah bersama dengan Mama. Mereka tentu akan curiga kenapa video playernya diboyong kesana-kemari.

    “Udah kalian pulang aja, biar aku yang beresin…” Mereka terdiam lalu pulang.

    Ketika rumah sudah sepi, aku mencoba menjadi Macgyver. Aku mengambil obeng, membuka casing video player untuk secara manual memotong pita kaset video dan mengangkatnya secara paksa. Tapi sial, hal itu tak bisa kulakukan karena kaset terlindungi plat besi yang terhubung pada motor dan aku cukup kesulitan untuk mencari dimana sekrupnya terpasang.

    Waktu menunjuk pukul 5 lewat lima belas. Aku memutuskan menutup kembali casing video player dan hanya bisa pasrah.

    Lima belas menit kemudian, seperti yang sudah kuduga, Mama dan Papa pulang ke rumah dan listrik belum juga menyala.

    Di tengah keterhimpitan, otakku tetap berputar. Aku berusaha menyibukkan Mama dan Papa untuk melakukan banyak hal selain di depan televisi berharap supaya ketika listrik menyala dan kaset otomatis keluar, mereka tidak ada di sana. Ide itu sebenarnya cukup berhasil. Aku meminta Mama untuk menyetrika ulang bajuku dan bilang bahwa aku tak terlalu suka hasil setrikaan pembantu, sementara Papa, aku minta tolong dia untuk memeriksa rantai sepedaku.

    Ketika hari menggelap, sekitar jam 6 sore, kami duduk-duduk di depan tivi sambil mengelilingi lilin yang kami nyalakan sebagai penerang.

    Suara detak jam dindingmembuatku semakin gugup seperti sedang hendak mengadapi eksekusi mati saja! Ludah semakin sering kutelan, tangan mendingin dan degup jantung begitu cepat.

    Jam 6:30, tiba-tiba listrik kembali menyala.

    “Nah! Murup!” ujar Mama spontan dan tak lama kemudian, suara motor dari video player memecah keheningan dan… momentum berikutnya adalah momentum yang kalian sudah bisa tebak, kan?

    Papa sigap berdiri mendekat ke video player lalu menarik kasetnya. Aku bukannya tak punya kesempatan untuk meraih dan menyembunyikan tapi semua akan percuma saja toh!

    “Iki opo, Le?” mata Papa terbelalak ke arahku. Papa paling tidak pernah marah dan kali itu ia harus menyemprotku sedemikian keras.

    Meski tak sampai main fisik (Papa dan Mama bukan tipe orang tua yang ringan tangan. Bahkan sekalipun tak pernah mereka memukulku!) tapi aku benar-benar dibuat mati kutu malam itu dihujani dengan puluhan pertanyaan dan pernyataan. Sekitar jam 8:30 semua mereda.

    Sejak malam itu, Papa membuat case khusus bergembok untuk video player sehingga aku tak bisa sembarang mengakses tanpa seijinnya.

    Ya sudah, sebagai anak yang baik dan warga rumah yang patuh, aku menaatinya. Meski karena kawan-kawan lain sudah terlatih memutar video di rumah mereka masing-masing, kalau aku pengen nonton film saru, giliran aku yang bertandang ke rumah mereka.

    Setelah pindah Jogja untuk meneruskan studi, dua tahun sesudahnya, kegiatan nonton film saru terus berlanjut apalagi perkembangan media pun berkembang tak lagi hanya video tapi juga keping vcd. Sering bersama kawan-kawan, kami menyewa player dan berkeping-kpeing vcd lalu menontonnya bersama-sama di akhir pekan.

    Beberapa tahun kemudian ketika internet masuk dan film saru bisa diakses sedemikian mudah dengan cara mengunduh filenya, kami saling berlomba-lomba mendownload dan membagikannya bersama teman-teman.

    Terus terang aku lupa sampai kapan aku terjebak dalam ritual nonton film saru. Tapi yang kuingat adalah bagaimana aku mengakhirinya.

    Suatu waktu, ketika aku mulai tertarik belajar agama, oleh seorang yang sudah kuanggap kakak rohaniku, ia bertanya kepadaku, “Kamu tahu bagaimana cara iblis bekerja, Don?”

    Aku menggeleng…
    “Iblis tahu apa yang jadi kebiasaan kita! Jadi belajarlah untuk berani mengambil keputusan yang ekstrim dalam kebiasaan-kebiasaan burukmu.” jelasnya.

    Sekian lama aku tak tahu maksudnya hingga suatu waktu aku mencoba rumus itu untuk menghentikan kebiasaan nonton film saru tersebut.

    Aku menganalisa bahwa ketika sedang merasa bengong, tidak ada hal yang perlu dikerjakan, timbul pikiran untuk memutar film saru bagaimanapun caranya. Sejak saat itu, setiap bengong, aku bersicepat untuk larut dalam hal-hal yang harus kukerjakan entah dengan cara ngobrol dengan teman yang alim, berolahraga atau bahkan jalan-jalan ke mall.

    Tentu hal itu tak selalu berhasil. Ada kalanya aku jatuh kembali dalam jerat yang sama. Tapi semakin aku bisa menguasai, semakin aku bisa menjauhkan diri dari cengkeraman itu.

    Membayangkan kembali tentang apa yang kulakukan di masa lalu terkait kebiasaanku nonton film saru, kadang terbit rasa sedih dan merasa sangat berdosa.

    Bukan saja terhadap apa yang kulakukan pada diriku sendiri tapi juga kepada banyak kawan yang akhirnya terpengaruh dan masuk ke lembah yang sama bahkan lebih buruk dariku.

    Tapi di sisi lain, aku merasa bersyukur karena masih diberi waktu untuk menyadari bahwa apa yang kulakukan di saat itu adalah sebuah kesalahan dan menuliskannya secara tuntas dalam rawian ini.

    Beberapa waktu sebelum aku menulis ini, seorang kawan yang ikut nonton film saru siang itu, menghubungiku lewat Whatsapp. Dalam percakapan nostalgia, tiba-tiba ia bilang gini, “Don, sebenarnya dulu ada cara supaya kamu gak ketahuan nonton film saru?”

    “Gimana caranya?” tanyaku penasaran!

    “Harusnya kamu cabut kabel playernya sehingga pas listrik menyala, kasetnya gak langsung keluar dari player!”

    Aha! Bener juga! Kenapa tiga puluh dua tahun yang lalu aku gak kepikiran sama sekali ya??!??!?

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Film Saru – Bagian 1

    Film Saru – Bagian 1

    Ada beberapa hal dalam hidup yang kualami lebih lambat ketimbang yang dialami anak-anak seusiaku. Tapi dalam beberapa hal lain, aku termasuk early adopter jika tak mau dibilang terlalu terburu-buru untuk melakukan atau mengalami sesuatu.

    Dalam hal ini, salah satunya adalah menonton film porno alias bokep yang dulu dikenal dengan istilah blue film. Ada kawan bercerita kepadaku, dia nonton film porno pertama kali ketika menjelang skripsi, ada juga yang menonton sejak SMA bahkan ada yang belum pernah menonton sama sekali hingga setelah menikah dan beranak.

    Aku? Aku menonton sejak tahun 1988 saat usiaku belum genap sebelas! Waktu itu Papa dan Mama mendadak harus pergi ke Surabaya, kerabat dekat meninggal dunia. Karena waktu itu sepupuku, Mas N, tinggal bersama kami untuk melanjutkan studi, Papa dan Mama tak mengajakku dan Chitra, adikku yang waktu itu masih berumur tiga tahun dipasrahkan pada Mbak Piyah. “Nggak lama! Lusa udah balik. Mama dan Papa cuma nginep semalam!” kata mereka sebelum berangkat ke stasiun kereta api Kebumen.

    Aku sih asik-asik aja karena ada Mas N yang usianya terpaut lima tahun di atasku jadi omongan kami nyambung dalam banyak hal.

    Sore hari berikutnya, sekitar jam tiga sore saat aku baru bangun dari tidur siang, Mas N tiba-tiba memanggilku, “Dik… Dik Donny…”

    “Ya, Mas?” jawabku.
    “Ssttt… kamu mau nonton blue film nggak nanti malam?” bisiknya seolah tak ingin Mbak Piyah yang sedang ada di dapur mendengarkan.

    “Blue film?” tanyaku.
    “Iya… Film yang isinya orang ginian..” Mas N memberi tanda jempol dijepit diantara jari telunjuk dan tengah.

    “Hah? Film saru? Memangnya kamu punya kasetnya?” Mas N mengangguk, matanya mengisyaratkan petualangan seru yang hendak terjadi di malam harinya.

    Sekitar jam 10 malam, ketika Chitra sudah lelap dan Mbak Piyah masuk ke dalam kamar,  aku yang sebenarnya sudah mengantuk bersama Mas N berjingkat keluar kamar. Setelah memastikan gorden tertutup rapat, kami memutar film. Ada dua kaset malam itu. Aku masih ingat kedua judulnya tapi aku memutuskan untuk tak mencantumkannya dalam tulisan ini karena ketika iseng googling kedua judul film itu masih ada data digitalnya bahkan ada online service yang menyediakan jasa streaming untuk salah satu darinya!

    Malam itu jadi malam yang sangat membekas nan menegangkan bagiku. Untuk pertama kalinya, aku mendapat gambaran visual tentang hal yang selama ini sering mengganggu pikiranku terkait tubuh lawan jenis, persetubuhan dan interaksi seksual.

    Tegang?
    Atas bawah!  Karena selain rangsangan seksual akupun tegang membayangkan kalau tiba-tiba Chitra terbangun atau Mbak Piyah keluar kamar dan kaget melihat kami nonton bokep atau karena gorden yang tipis dan membayang dan tetangga yang tiba-tiba menonton dan melapor…. ah yang terakhir ini beneran terjadi! 

    Sekonyong-konyong pintu rumah diketok seseorang. Jantungku berdegup kencang! Film dimatikan oleh Mas N.

    Ketika kami melongok rupanya Mas A, tetangga rumah. Ia tersenyum dan senyumnya mengisyaratkan “Numpang nonton dong… kalau enggak mau kulaporkan!” Kami tak punya pilihan, bertiga kami menikmati film itu hingga paripurna.

    Sejak malam itu ada dimensi baru di hidupku. Ada sudut pandang yang tak dipunyai kawan-kawan seusiaku. Ketika mereka menganggap penis hanya untuk pipis, aku sudah tahu bahwa ada hal-hal lain yang juga bisa penis lakukan…

    Ketika mereka suka melihat cewek dari pita rambut yang dikenakan, dari lucunya canda dan tawa yang disampaikan, aku ada di level yang berbeda dari itu.

    Ketika mereka membayangkan indahnya belajar kelompok dan makan bakso bareng, aku membayangkannya liarnya kalau ada bersama-sama dalam frame film yang kutonton di film saru.

    Aku dan pikiranku bertualang jauh ke dalam labirin nan tak terbayangkan sebelumnya… sebelum malam itu. Sesuatu yang waktu itu jadi petualangan yang mendebarkan tapi ketika sekarang, tiga puluh empat tahun kemudian, aku menganggapnya sebagai petualangan yang sangat melelahkan.

    Aku bukan tipe orang yang mudah menyesali hal-hal yang terjadi di masa lalu, tapi jika boleh memilih, untuk yang satu ini, aku ingin melompati malam itu dan menganggapnya tak pernah ada dalam alur waktu hidup.

    Bersambung…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Bioskop Rumahan

    Bioskop Rumahan

    Ada satu hal yang lupa kuceritakan dari tulisan bertajuk [Tentang Kebumen] Bioskop Rumahan. Jadi setelah membeli video player (berikut dengan televisi dan perlengkapan rumah tangga lainnya) kami mampir ke Toko Bintang Mas untuk menyewa kaset video.

    Sejauh yang kuingat, ada dua tempat penyewaan kaset video di Kebumen waktu itu; Toko Bintang Mas yang letaknya tak jauh dari kantor tempat Papa bekerja dan Toko Bares Jaya yang ada di kecamatan Gombong, 21 kilometer di sebelah barat Kebumen.

    Setelah mendaftar menjadi anggota, Papa memilih untuk menyewa dua film. Aku lupa film pertama tapi yang kedua adalah Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang antara lain dibintangi Ully Artha dan Deddy Mizwar.

    Sistem sewa di Bintang Mas, seingatku waktu itu adalah 750 rupiah per kaset, cukup mahal untuk ukuran tahun itu.

    Untuk fiilm-film baru, mereka menggunakan kebijakan “sehari pulang” yang artinya, setelah sehari, kaset harus dikembalikan jika tidak akan dikenakan sistem denda. Sementara untuk film-film lama kami boleh meminjam hingga tiga hari lamanya.

    Selain datang ke toko untuk menyewa dan mengembalikan, Bintang Mas dan Bares Jaya memiliki jasa delivery rumah ke rumah.

    Sesampainya di rumah dan kami selesai instalasi, Papa memutar Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

    Tak sampai sepuluh menit kemudian, para tetangga termasuk anak-anak, remaja dan orang tua pun berkerumun di depan pintu samping untuk ikut menonton; maklum, kami adalah keluarga pertama di kampung itu yang punya video player.

    Mungkin karena masih larut dalam euforia karena punya perkakas baru, Papa dan Mama mempersilakan semuanya masuk ke dalam rumah untuk sama-sama menonton film. Suasana rumah hari minggu siang itupun menjelma bak bioskop.

    Setelah film usai dan mereka pulang, Mama dan Papa baru merasakan akibatnya. Rumah jadi kotor dan lantai berminyak. Pun karena rumah kami sempit dan tak ada sistem ventilasi yang baik, aroma keringat dan abab yang tertinggal tak langsung hilang.

    Aku sendiri juga merasa tidak nyaman karena selain aku tak suka suasana riuh, fokus mengikuti alur film buyar! (Kebiasaan ini masih terjadi hingga kini. Setiap kali aku nonton, aku selalu pasang tampang serius dan memusatkan pikiran untuk mengunyah alur cerita setiap detiknya. Joyce, istriku, paling tidak senang kalau aku ada dalam keadaan seperti itu karena setiap ajakan ngobrol bahkan mengomentari film pun kutolak. Kalaupun harus ada hal yang didiskusikan, aku menghentikan film sejenak. Setelah semuanya clear, aku lanjut kemudian).

    Papa dan Mama kemudian membuat keputusan kontroversial. Selama memutar video, pintu akan ditutup dan tak ada tetangga yang diperbolehkan masuk. Tapi hal itu tak menghentikan niat mereka untuk ikut menikmati tayangan film. Mereka lantas mengerubung dibalik kaca jendela samping untuk ikut menonton video.

    Masalah berhenti? Tidak!
    Kalau soal suara-suara yang muncul yang menganggap kami keluarga yang pelit, perhitungan dan gak mau berbagi itu sudah biasa.

    Tapi selain itu, kaca pun jadi kotor karena orang-orang menempelkan jidat dan tangannya ke kaca. Belum lagi tanaman Mama… ini yang paling membuat keki karena tanaman yang ada di balik kaca rusak terinjak-injak.

    Kami pun memperketat lagi….
    Ketika memutar film, gorden kami tutup rapat. Tapi tetap saja… tetap ada yang berusaha menempelkan wajah ke kaca berharap masih bisa mendapat bayang-bayang film dari serat gorden. Sesekali mereka juga sengaja membuat keriuhan di luar mencari perhatian.

    Pada akhirnya kami menyerah. Film hanya kami putar di malam hari saja saat mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.

    Tradisi nonton film melalui kaset video terus berlanjut tapi semakin menjarang hingga berhenti sama sekali sekitar tahun 1992 ketika Papa membeli antena parabola dan kami mendapat pilihan siaran televisi lebih banyak dari sekadar TVRI seperti RCTI, SCTV dan siaran televisi luar negeri seperti TV3 Malaysia. Tapi sebenarnya ada satu sebab lain yang membuat Papa dan Mama enggan menggunakan video player untuk selamanya: aku ketahuan nonton film porno alias bokep.

    Untuk yang satu ini akan kuceritakan dalam tulisan selanjutnya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Tupon

    Tupon

    Karena jaringan PDAM belum sampai di rumah kontrakan dulu, air tanah yang ditimba dari sumur menjadi sumber air satu-satunya untuk keperluan rumah tangga kami sehari-hari. Waktu itu Papa juga belum membeli pompa air sehingga ia dan Mama merasa perlu mencari bantuan tenaga untuk menimba setiap hari.

    Maka hadirlah Tupon yang bernama asli Muhamad Tofa.

    Masih terhitung tetangga meski rumahnya agak jauh. Waktu itu ia berumur sekitar 14 tahun, duduk di bangku SMP di Sekolah Menengah Pertama 2 Kebumen.

    Dari kesepakatan, Tupon datang setiap hari sekitar jam 3-4 sore untuk menimba air sumur memenuhi bak kamar mandi, bak toilet serta bak penyimpanan air untuk masak di dapur. Ia juga diberi tugas Mama untuk menyirami koleksi tanamannya.

    Sebagai bonus, Mama mengundang Tupon untuk menyantap makan malam selepas Maghrib. Mama sendiri yang menyiapkan makanan di meja dapur untuknya.

    Selesai makan, Tupon biasanya menonton tivi hingga larut. Kadang sampai tertidur di sudut lantai ruang tivi dan Papa membangunkan dan memintanya pulang.

    Pada akhirnya Tupon mendapat tugas baru: jadi kawan bagiku.

    Mungkin karena usia kami tak terlampau jauh bedanya. Atau mungkin juga karena Papa dan Mama melihat aku ini tak terlalu pandai beradaptasi dengan teman-teman baru di kampung, mereka lalu meminta Tupon untuk menjagaku. Pernah sekali waktu karena aku malas berkawan dengan teman-teman, setiap pulang sekolah aku mendatangi rumah Tupon lalu mengajaknya bermain.

    Hubungan kami semakin akrab karena Mama kemudian mengandung dan melahirkan Chitra, adikku semata wayang. Lalu ketika “mendung gelap” sempat meliputi rumah tangga Mama dan Papa sekian lama, hubunganku dengan Tupon tambah erat karena aku merasa ia adalah kawan yang paling bisa mengertiku saat itu.

    Pernah suatu waktu di kampung sedang musim anak-anak berjualan telor cicak dan lotere. Aku pun pengen jualan tapi tentu dilarang Mama apalagi Papa. Ketika keinginanku tak terbendung, Mama meminta Tupon menemaniku berjualan berkeliling kampung.

    Ketika aku dan kawan-kawan keasyikan mandi di Sungai Lukulo, Tupon juga lah yang diminta Mama untuk memanggilku pulang. Ia meneriakiku dari pinggir kali, “Don! Ditimbali Mama dikongkon bali!” berkali-kali. Kalau aku tak mau naik, ia turun ke sungai dan menarikku begitu saja…

    Tupon juga pandai melukis. Pernah saat kelas tiga SD, ia mengerjakan tugas lukisku, sebuah lukisan bergambar kuda dengan cat air. Oleh Pak Hadi Sepuh (alm), guruku, lukisan itu diberi nilai tertinggi, delapan setengah melebihi nilai untuk Adi Nugroho, kawan SD ku yang jago gambar. Banyak kawan menuduh bahwa itu bukan lukisanku tapi aku berhasil berbohong meyakinkan Pak Hadi bahwa tuduhan itu tidak benar hehehe…

    Tak hanya melukis, Tupon piawai bermusik. Bahkan hingga sekarang, Tupon adalah pemain keyboard tunggal profesional yang kerap diundang bermain di acara-acara di daerah Tangerang sana. 

    Waktu kecil, aku memang sering melihat Papa bermain gitar tapi lagu-lagu yang dibawakan Papa adalah lagu-lagu lama yang tak membuatku tertarik. Tapi Tupon, suatu siang menunjukkan kepaiawainnya memainkan intro Semut Hitam nya Godbless yang sedang ngehits dan sejak saat itu akupun jadi tertarik untuk belajar gitar.

    Setelah kami pindah ke rumah di Jl Kaswari Kebumen, 1990,  hubungan dengan Tupon bisa dibilang terputus. Bukan karena suatu masalah, bukan karena kami sudah tak perlu jasanya lagi tapi karena ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja hingga kini.

    Sekitar 2010, waktu aku sudah pindah ke Sydney, Australia, aku dan Tupon berhubungan lewat Facebook. Tahun 2012 dan 2018 kami bertemu di bandara Soekarno Hatta sesaat sebelum pulang ke Australia. Hingga kini, kami pun masih sering berhubungan lewat Whatsapp. Termasuk ketika aku merawi kisah-kisahku di “Tentang Kebumen”, ingatanku banyak dibangkitkan kembali dari percakapanku dengannya.

    Oh ya, kalian tahu kenapa ia dipanggil Tupon?

    Karena ia lahir pada hari Sabtu (Tu) di pasaran Jawa Pon (Pon) tepat 54 tahun yang lalu dari hari ini, 4 Juli 1970.

    Pon, Selamat ulang tahun, Bro! Ini hadiah ulang tahunmu dariku! 

    Tulisan ini sederhana tapi semoga merangkum semua hal yang sejatinya tak bisa disederhanakan yang pernah kita lewati bersama .

    Ada banyak orang yang kisah dan eksistensinya kuletakkan dalam tataran masa lalu bahkan segelintir dari mereka tak ku anggap pernah ada, tapi tidak demikian denganmu, Pon. 

    Kamu bukan sekadar tukang timba rumahku. 

    Kamu sudah menjadi seperti kakak dan kawan yang melindungiku sejak kecil. Darimu,  aku belajar banyak hal termasuk arti pengorbanan, ketulusan kesabaran dan tentu kesederhanaan.

    Semoga Tuhan melimpahimu kesehatan dan rejeki serta kesempatan untuk kita kembali bertemu di masa yang akan datang.

    Keterangan foto: Bertemu Tupon pada Januari 2014

    Keterangan foto: Bertemu Tupon pada Desember 2018

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Orang Kaya Baru

    Orang Kaya Baru

    Beberapa hari setelah pindah ke Kebumen, Papa dan Mama mendaftarkanku untuk melanjutkan sekolah di TK Pius Bhakti Utama yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah. (foto di bawah ini, aku berseragam TK Pius difoto di depan rumah)

    Letaknya bersebelahan dengan SMP Pius Bhakti Utama di sisi barat sementara tak jauh darinya di sisi timur ada toko buku dan photocopy Dewi, milik orang tua salah satu kawan TK waktu itu, Agus Purwanto alias Wawan. Wawan pada akhirnya jadi teman di SD dan SMP. Bahkan hingga saat tulisan ini kurawi, aku masih sering berhubungan dengannya. Ia jadi pengusaha di jogja dan banyak temannya (dan kawan bisnisnya) adalah teman-temanku saat tinggal di Jogja dulu.

    Di depan TK Pius ada kantor tempat untuk mengirim telegram (jasa layanan pengiriman informasi tertulis menggunakan mesin telegram) dan ada rumah makan kecil di sisi baratnya, Eka Rasa milik keluarga kawanku TK -SD dan SMP, Agus Mulyono Tanojo. Selain itu tak banyak yang bisa kuingat waktu itu tentang masa belajarku di TK Pius selain ruang kelas yang kecil serta taman bermain yang juga tak besar dibandingkan dengan TK Maria Assumpta Klaten.

    Meski demikian, rasa sepi akibat belum punya teman seakrab teman-teman di Klaten masih terus menguasai terutama setelah pulang sekolah. Untuk itu, Mama mengenalkan aku dengan Fathur dan Faisol, anak Pak Sirwani M.K. Fathur kalau tidak salah satu tahun di bawahku sementara Faisol lima tahun lebih muda dariku.

    Mereka berdua kemudian jadi kawan mainku mula-mula dan mengenalkannya kepada anak-anak Pak Eko Pawitno yang seumuran (Umi, almh. Umul, Aris dan Heri), Koko, Bambang, Budi, Agung, Anto, Mitro dan beberapa yang lain lagi.

    Meski Kebumen dan Klaten hanya berjarak sekitar 125 km, cara bermain dan apa yang dipermainkan anak-anak waktu itu sungguhlah berbeda. Tapi tak ada yang lebih berbeda selain dialek bahasa Jawa yang digunakan.

    Awalnya tak semua apa yang mereka katakan bisa kumengerti dan sebaliknya. Tapi lama-kelamaan kami saling mengerti dan aku justru yang paling bisa ngapak (dialek khas Kebumen) di rumah bahkan dibandingkan Papa sekalipun yang sudah sekitar dua tahun tinggal di Kebumen lebih dulu dari kami.

    Ketika Papa belum memiliki kendaraan pribadi, waktu menawar ongkos becak, akulah yang diminta Papa dan Mama untuk menawar.

    Nah, bicara soal kendaraan pribadi, di awal kepindahan, kami bergantung pada jasa tukang becak. Rumah kami pun kosong melompong. Tapi sekitar dua bulan sesudahnya, di sebuah hari minggu, Papa mengajak Mama dan aku untuk pergi membeli beberapa perlengkapan.

    Keterangan photo: Ruang tamu Rumah Bengawan

    Kupikir sebelumnya Papa hanya hendak membeli kasur atau kompor, tapi nyatanya lebih dari itu.

    Dalam satu hari itu, Papa membeli televisi berwarna ukuran 20 inch merk Quintrix yang konon adalah televisi bewarna pertama di kampung dan video betamax cassette player merk Sony SL-C30.

    Dua set kursi berikut meja, masing-masing untuk ruang tamu dan ruang keluarga. Satu buffet yang jadi pembatas kedua ruang tersebut. Dua dipan berukuran besar lengkap dengan kasur busa untuk kamar tidur tengah dan kamar tidur depan (dan itu jadi pengalaman pertama bagiku tidur menggunakan kasur busa).

    Keterangan photo: Aku dan Papa di ruang tengah. Kursi ini seingatku adalah pinjaman dari Pak Ruslan, pemilik rumah yang kami kontrak

    Untuk ruang makan, Papa membeli satu set meja dan kursi makan yang hingga saat ini masih digunakan Chitra, adikku, dan keluarga di Klaten.

    Meja belajar serta rak buku yang dipasang di sudut ruang makan pun dibelinya. Serta kulkas yang sama halnya dengan kasur busa, jadi kulkas pertama yang kumiliki dalam hidup.

    Di sudut yang lain dari ruang makan, Papa menempatkan tape deck (cassette player) lengkap dengan amplifier dan speaker yang dibawa dari kamar kostnya waktu pindahan ke rumah kontrakan kami.

    Papa juga membeli setrika listrik setelah sebelumnya di Klaten Eyang selalu pakai setrika berbahan bakar arang, lengkap dengan meja setrika lipat yang menurutku waku itu sudah sangat modern.

    Untuk keperluan dapur, Papa membelikan Mama kompor gas serta dispenser penyimpan beras bermerk Cosmos yang sering aku mainkan karena suka dengan suara beras yang keluar dari penyimpan yang kalau dalam bahasa anak jaman sekarang, Autonomous Sensory Meridian Response alias ASMR.

    Untuk kendaraan, Papa membeli Honda Astrea 800 yang jadi prototype motor Honda seri Astrea dan waktu itu bisa dibilang motor canggih dan keluaran terbaru. Oh ya, aku juga dibelikan sepeda dengan roda pembantu di kiri kanan untuk berlatih.

    Lalu darimana Papa mendapat uang sebegitu banyak dalam sehari hingga semua mampu kami beli?

    “Ngutang kantor, Le…” jawabnya kepadaku yang waktu itu belum mengerti benar konsep bekerja, kantor dan… ngutang.

    Sejak saat itu, banyak yang memperhatikan keluargaku sebagai keluarga yang baru pindah, bahasanya bandek (Jogja – Solo), beragama Katolik (Papa waktu itu masih muslim tapi abangan sementara di kampung hanya ada dua keluarga Katolik)  tapi kaya karena mampu membeli semuanya dalam sekejap. 

    Tak lama sesudahnya, kabar tentang iri hati dari tetangga karena keberadaan kami pun merebak. Saking irinya, ada tetangga yang tak lama kemudian membeli semua barang yang kami beli! 

    Jika mengingat itu semua, boleh dibilang yang membawa modernisasi di kampung Kauman, Kebumen, salah sedikitnya adalah keluarga Papa dan  tentu saja aku termasuk ada di dalamnya hahaha…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Menaruh Rasa Suka Pada Wanita

    Belajar Menaruh Rasa Suka Pada Wanita

    Selayaknya anak-anak seusiaku, di awal masa studi di SMP 1 Kebumen, aku mulai belajar untuk menaruh rasa suka kepada species manusia berjenis wanita.

    Di tahun pertama, setidaknya dua kali aku tertarik pada mereka.

    Pertama kepada S, sosok bertubuh mungil, bersorot mata tajam, hidung mancung, bergigi marmut dan berambut ikal. Ia teramat sangat pendiam dan setiap hari selalu pergi dan pulang diantar becak. Tak sekalipun kami pernah bertukar kata. Rasa suka hanya terlontar melalui senyum dan tatapan mata yang malu-malu terarah lalu sebentar kemudian cepat-cepat dialihkan takut ketahuan. Waktu pun membuat utasnya getas dan hilang begitu saja.

    Yang kedua adalah Dmy, gadis cerdas nan lincah, berpipi ranum dan rambut ikal disertai senyum mengembang bersuara sengau. Kepadanyalah perhatian kuarahkan. 

    Adapun caraku menaruh suka mungkin tidak seumum kawan lainnya.

    Ketika kawan lain lebih ekspresif dan agresif, aku memilih memendam rasa suka dalam hati dan menghidupkannya dalam ruang khayal yang senyap.  Di satu sisi ini adalah buah rasa minderku yang merasa secara fisik aku ini jauh dari menarik. Di sisi lainnya, mungkin aku yang terlalu selfish; tak peduli apakah yang kusukai merasa atau tidak yang penting aku sudah menaruh rasa suka di hati.

    Hal ini mewujud dalam hal yang menurut banyak orang ada dalam kategori aneh.

    Misalnya,  aku menandai sepeda jengki milik Dmy dengan coretan spidol warna merah di slebor belakangnya. Lalu setiap jam istirahat aku mencari di mana sepedanya diparkir.Ketika menemukan… aku diam di sana mengamati dan membayangkan Dmy. Begitu saja sudah cukup membuatku merasa nyaman seharian!

    Kalau aku tak berhasil menemukan sepedanya, aku panik dan segera bergegas ke kelasnya, 1A untuk memastikan dia ada atau tidak. Jika tidak, kutanyakan pada G, tetangga Dmy yang ada satu kelas denganku di 1C, “Si Dmy gak masuk sekolah?” tanyaku.

    Dari keteraturan itu aku mulai mampu membangun kepercayaan.

    Ketika kami diwajibkan memilih kegiatan ektra kurikuler, aku mendapatkan informasi dari G kalau si Dmy ikut Praktikum Fisika.

    Kegiatan ekstra kurikuler Praktikum Fisika bukanlah kegiatan populer dibandingkan tenis lapangan, sepakbola ataupun musik. Tapi demi bisa lebih mendekat, akupun menjabaninya. Titik itu kemudian jadi simpul awal untuk akhirnya aku berani memperkenalkan diri pada Dmy dan duduk di sebelahnya setiap praktikum diadakan.

    Karena sudah kenal, aku jadi punya alasan untuk sesekali waktu, ketika nyali muncul, datang ke kelasnya, pura-pura bertanya apakah dia sudah mengerjakan tugas praktikum untuk sore nanti atau belum? Di kali lain aku menitipkan salam melalui  kawan dekatnya, B, yang aku tahu selalu pergi dan pulang bersama Dmy menaiki sepeda.

    Ketika semua amunisi sudah terisi, aku lebih percaya diri untuk melancarkan agresi berikutnya, main ke rumahnya.

    “Rumahmu sebelahnya G ya? Aku sore ini mau main ke G. Boleh nggak main ke rumahmu sebentar buat anterin tugas praktikum ku nanti?” Dia mengangguk.

    Akupun berkoordinasi dengan G.  “Aku nanti main ke rumahmu ya?!” G mengangguk. 

    “Trus nanti aku mau mampir ke rumah Dmy untuk nganterin tugas praktikumku!” G tertawa terbahak-bahak. “Ssssttt!” seruku.

    Sore itu sekitar jam 6 aku naik sepeda pergi ke rumah G tanpa sepengetahuan Papa dan Mama. Hal ini kutempuh karena kalau mereka tahu, bukannya aku dilarang main ke rumah G apalagi Dmy tapi karena jalan tempat mereka tinggal adalah jalan besar yang dilewati kendaraan-kendaraan berat dan kendaraan roda empat pribadi berkecepatan tinggi. Tapi aku toh nekad saja. Demi, ye kan?

    Sesampainya di rumah G, aku ngobrol sebentar lalu setelah nyali benar-benar terisi, aku mengetuk pintu rumah Dmy tepat di waktu yang sudah kujanjikan.

    “Eh, Don! Masuk…”

    Rumah Dmy rapi dan sederhana. Aku duduk di kursi tamu yang terletak di sebelah kiri sementara bising jalan raya terdengar betul karena jendela ruang tamu dibiarkan terbuka.

    Tak lama setelah aku masuk, bapaknya Dmy datang keluar dan ngobrol sebentar menanyakan hal-hal standard seperti aku tinggal dimana, bapakku siapa dan sebagainya. Tak sampai sepuluh menit aku lalu berpamitan dan kembali ke rumah Dmy. Tak lama berselang aku pamit pulang.

    “Lho, cepet temen?” tanya G.

    “Iya! Aku nggak pamit ke Papa Mamaku! Pamitnya mau main ke rumah Agung PS tadi hehehe…”

    Aku mengayuh sepeda pulang. Sepanjang perjalanan, hatiku ranum. Kayuhan sepeda malam itu terasa begiru ringan seperti ada sayap yang tumbuh di punggungku membantuku menggapai rumah untuk pulang.

    Tak lama sesudahnya, aku merencanakan agresi kedua.

    Tapi kali ini aku tak sendirian. Aku mengajak kawan dekatku dari kawanan bintang, AS. “Gelem melu ra?” ajakku.

    “Ayo!”

    Meski AS baru kelas 1 SMP sama sepertiku, tapi dia sudah berani membawa kendaraan bermotor maka jadilah aku diboncengkannya.

    Aku dan AS menghabiskan waktu lebih dari 1 jam sebelum akhirnya kami pamit.

    Sepanjang pertemuan, aku malah lebih banyak terdiam membiarkan waktu diambil oleh AS untuk lebih banyak berbincang dengan L.

    Sepulang dari sana, dalam perjalanan aku tak banyak bicara dengan AS. 

    Tak ada lagi hati yang harum dan sayap-sayap yang tumbuh di punggung merepih lalu hilang seperti halnya rasa sukaku pada Dmy yang menghablur begitu saja malam itu. 

    Aku mulai merutuki diri sendiri kenapa aku mengajak AS? Kenapa aku tidak mengambil inisiatif untuk mendominasi pembicaraan dan malah membiarkannya bicara begitu banyak dengan Dmy?

    Sesampai di muka rumah, AS menurunkanku, “Kamu kok diam saja sejak tadi?”

    Aku hanya mengangkat bahu, memberikan helm ke AS yang tampak kebingungan lalu masuk ke rumah begitu saja. Jika saja Dewa19 sudah mencipta lagu Cemburu, tentu lagu itu yang paling cocok untuk jadi soundtrack malam itu berkelindan dengan Pupus.

    Malam itu jadi malam terakhir aku main ke rumah Dmy. Sesudahnya pijar hatiku pun mulai padam.

    Setiap kali bertatapan dengannya, tak ada desiran dalam hati yang berapi-api seperti sebelum-sebelumnya…

    Masuk semester kedua, aku tak lagi ikut praktikum Fisika. Aku memilih ekstra kurikuler musik yang waktunya bukannya kebetulan sama dengan waktu praktikum dan L masih ikut di sana.

    Sesekali aku melewati laboratorium dan Pak Y, yang membawakan praktikum menegurku, “Donny, kalau kamu mau ikut lagi silakan aja… kamu boleh ikut dua ekstrakurikuler kok..”

    Aku menggeleng sambil tersenyum sinis sementara sudut mataku menangkap Dmy yang sedang sibuk di atas meja dengan percobaan fisikanya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Rumah Bengawan

    Rumah Bengawan

    Bangun pagi di hari kedua setelah pindahan dari Klaten ke Kebumen, Papa dan Mama mengajakku untuk tour mengelilingi rumah kontrakan tempat kami tinggal.

    Rumah kontrakan kami beralamatkan di Jl Bengawan No. 32 Kebumen. Rumah yang untuk ukuran waktu itu terhitung cukup modern secara desain dan lapang untuk kami tinggali.

    Menghadap ke arah selatan, di seberang jalannya berdiri bangunan berisi balok-balok kayu siap untuk diperjualbelikan milik keluarga Eko Pawitno yang tinggal di sebelah barat rumah kami. Di belakang bangunan kayu itu adalah bantaran Sungai Lukulo, sungai utama di Kebumen.

    Di belakang rumah tinggal keluarga Pak Sirwani M.K, kami memanggilnya Pak Sir. Meski kala itu Pak Sir sudah masuk usia lanjut, tapi ia sangat peduli pada informasi terbaru. Hampir setiap malam Pak Sir datang ke rumah numpang nonton siaran Dunia Dalam Berita di televisi sambil meminjam koran Kompas edisi sehari sebelumnya. 

    Di sebelah timur tinggal keluarga sepuh, Pak Sujud. Sepanjang kami tinggal, seingatku, interaksi dengan mereka tidak sebanyak interaksi kami dengan keluarga Sirwani maupun keluarga Eko Pawitno.

    Pekarangan depan rumah kami cukup luas dibatasi pagar besi setinggi sekitar 50 senti. Di kemudian hari, Mama memanfaatkan pekarangan itu sebagai kebun anggrek.

    Di sebelah pekarangan rumah ada sebuah lorong. Pada dinding lorong tergambar diorama Pangeran Diponegoro. Sesuatu yang khas yang kelak kupakai sebagai penanda ketika mencari rumah itu melalui Google Map.

    Tirai bambu membatasi pekarangan dengan teras rumah. Ada sebuah lincak (kursi panjang terbuat dari bambu) dipasang di teras.

    Pada facade depan rumah, ada frame jendela berkaca gelap lengkap dengan bilah-bilah nako serta pintu berwarna cokelat.

    Masuk ke dalam, di sebelah kiri ada ruang tamu tanpa pembatas ke ruang televisi. Di sebelah kanan ada tiga kamar tidur sebelah menyebelah. Ketika tidak ada tamu menginap, kamar tamu kupakai, kamar tengah adalah kamari tidur utama ditempati mama dan papa sementara kamar paling belakang ditempati pembantu rumah tangga kami.

    Ada pembatas frame kayu dengan kaca antara ruang tivi dan ruang makan di belakangnya. Di sudut ruang makan ada meja belajarku.

    Dapur ada di bagian paling belakang sebelah kiri. DI sebelah kanan ada sumur serta kamar mandi dan wc.

    Tapi karena sumur yang di dalam rumah itu kemudian dianggap kurang banyak memproduksi air, Papa atas seijin pemilik rumah lantas membuat sumur dilengkapi pompa otomatis di luar rumah sejajar dengan ruang makan.

    Rumah kontrakan kami letaknya tak jauh dari alun-alun dan Masjid Raya Kebumen. Barangkali karena itu pula, meski secara zonasi masuk ke Desa Kutosari tapi orang-orang menyebut daerah kami sebagai kampung Kauman, sebuah penamaan  khas Jawa untuk menyebut area yang berdekatan dengan masjid.

    Untuk menuju ke rumah, dari arah kota bisa dicapai melalui dua jalan utama, Jalan Kapten Pierre Tendean kemudian masuk ke Jalan Bengawan atau dari alun-alun masuk ke “turunan” yang sekarang jadi Jl Ronggowarsito lalu belok kanan ke Gang Lusi.

    Kalau naik becak, kami lebih banyak lewat Jl Bengawan yang lebih landai. 

    Untuk melewati turunan dan belok ke Gang Lusi, kadang kami tak tega melihat pengemudi becak harus mengerem secara manual: turun dari kursi kemudi lalu menggunakan kaki menahan laju karena tarikan gravitasi saking curamnya turunan untuk kemudian menukik ke kanan ke Gang Lusi. Pernah beberapa kali kejadian pengemudi becak yang jasanya kami pakai gagal mengerem hingga akhirnya melaju  kencang ke Pasar Pring di pinggir Sungai Lukulo yang ada di ujung turunan (waktu itu belum dibangun jembatan yang menghubungkan dengan daerah Pejagoan seperti sekarang).

    Tapi ketika naik sepeda maupun sepeda motor, meski sama-sama jalan tanah dan batu, Gang Lusi adalah pilihan mengingat Jl Bengawan lebih tak rata terutama ketika baru masuk dari Jl Piere Tendean di depan rumah Pak Syarifudin (Udin), teman sejawat di kantor Papa. 

    Untuk mengontrak rumah itu, kalau tak salah ingat, Papa mengeluarkan ongkos 250 ribu per tahun.

    Kami menempatinya selama kurang lebih enam tahun. Dari 1990 hingga saat meninggalkan Kebumen, 1998, kami tinggal di rumah Jl Kaswari 24, rumah kami sendiri.

    Sekitar pertengahan dekade 2010an, tentu ketika aku sudah menetap di Australia, ada peristiwa lucu. Aku berhubungan dengan anak si empunya rumah kontrakan yang waktu aku tinggal di Kebumen melalui Facebook. Dalam sebuah percakapannya, ia sempat menawarkan rumah “Bengawan” untuk kubeli.

    Atas nama kenangan, aku sempat tertarik dan berkontemplasi untuk membelinya tapi karena hidup ini berjalan maju ke depan, aku menggugurkan rencana itu.

    Toh melalui ingatan-ingatanku meski mulai repih satu per satu seperti yang kurawi ini, rumah itu sejatinya tak pernah jauh dariku dan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalananku dan keluarga tanpa perlu membelinya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Ongkos menjadi bintang

    Ongkos menjadi bintang

    Salah satu survival mode yang kupercaya mujarab sejak kecil hingga kini adalah aku harus tampak menonjol di tengah kalangan dimana aku ditempatkan. 

    Sebenarnya gak salah untuk punya prinsip ini asal semua dilakukan dalam koridor aturan dan etika yang benar… Dalam perkerjaanku sekarang ini menjadi seorang konsultan desain, prinsip ini sangat diperlukan. Selain dari rekam jejak, sejak hari pertama bekerja untuk klien aku harus mampu mengimpresikan diri sebagai orang yang layak dipercaya untuk menganalisa dan memecahkan masalah serta menghadirkan solusi bagi bisnisnya.

    Tapi untuk bisa seluwes sekarang ini, perlu waktu tahunan dan “ongkos” yang tidak murah. Waktu yang kuanggap sebagai awalan untuk semua itu dimulai sejak hari-hari pertama mengenyam pendidikan di SMP 1 Kebumen, tiga puluh empat tahun yang lalu.

    ***

    Perkenalanku dengan AS di hari-hari pertama bersekolah di SMP 1 Kebumen adalah sebuah keputusan yang tepat. Ia menonjol di angkatan dan berkawan dengan begitu banyak orang. Kedekatanku dengannya membuat aku akhirnya dikenalkan kepada DM, S, RW, LKM dan beberapa lain yang juga menonjol seperti AS. Untuk kawanan ini, aku menyebutnya sebagai “kawanan bintang”.

    Tapi jangan bayangkan mereka sebagai bintang karena berprestasi kemilau dalam proses belajar di kelas. 

    Sebaliknya, mereka menonjol karena secara penampilan tampak beda. Tingkah laku mereka paling tidak bisa diam cenderung badung dan bersuara lantang di tengah kerumunan! Dan mungkin karena terlalu fokus berkawan dengan mereka, oleh sebagian besar teman lain aku dianggap sombong, tidak mau menyapa dan.. kemlinthi. 

    Pada saat itu aku tentu tak menyadarinya. Tiga puluh empat tahun kemudian ketika aku berjumpa dengan teman-teman alumni se-angkatan di SMP 1 Kebumen pada sebuah grup percakapan aplikasi WhatsApp, ketika banyak dari mereka mengkonfirmasi hal tersebut aku baru sadar bahwa kenyataannya memang demikian. Karena yang kukejar adalah kawanan bintang, yang kuanggap non-bintang ya… kudiamkan.

    Dan dianggap kemlinthi bukanlah satu-satunya “ongkos” yang harus kubayar. Ada “ongkos-ongkos” lain yang kuanggap jadi konsekuensi yang harus kulakukan supaya tetap ada dalam “kawanan.”

    Aku memulainya dengan penampilan!

    Aku makin merasa nggak nyaman menggunakan seragam yang kedodoran karena itu membuatku sama dengan siswa lain. Aku menagih Mama untuk membuatkan satu set seragam baru yang lebih pas. Mama menurutinya. Seragam yang pas dan celana biru yang kemudian kugulung ke atas hingga nyaris ke pangkal paha supaya bisa dibilang keren atau setidaknya menarik perhatian orang yang melihatnya!

    Kedua adalah sepeda.

    Aku merengek minta dibelikan sepeda berstang lurus (mountain bike) yang waktu itu bahkan belum ada yang jual di Kebumen tapi AS sudah menggunakannya. 

    “Di mana belinya?” tanya Papa. “Mosok harus ke Jogja?” waktu itu kami belum memiliki kendaraan roda empat.

    “Di Gombong katanya ada yang jual!” Kami pun pergi ke Gombong membeli sepeda seharga 250 ribu rupiah, sebuah angka yang sangat mahal waktu itu hanya untuk membeli sepeda!

    Sejak saat itu, setiap berangkat dan pulang sekolah, aku selalu pergi bersama AS menggunakan mountain bike dan ada perasaan yang tak terperikan indahnya ketika melewati rombongan anak-anak lain yang menggunakan sepeda jenis lainnya (jengki, mini, dll). 

    Selain soal seragam dan sepeda, kecenderungan kawanan bintang adalah, mereka sosok yang menyalurkan energi akil baliknya untuk usil terhadap anak lain dan kalau perlu berkelahi sebagai lambang seberapa terang sinar yang mereka pancarkan.

    Untuk yang terakhir kusebutkan, sayangnya (tapi aku syukuri sekarang) tidak terlalu berhasil bahkan pengalaman yang hendak kutuliskan ini menunjukkan kegagalanku.

    Sabtu, 11 Agustus 1990

    Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-45, seluruh siswa diwajibkan untuk membersihkan dan menghias kelas masing-masing di hari Sabtu sore itu. 

    Kawanan bintang pun datang. Tapi tak seperti anak-anak lain yang taat pada perintah guru, kami nongkrong di atas sepeda kami masing-masing di bawah pohon di sudut depan sekolah. Sesekali saja ketika guru meminta kami membantu maka kami pura-pura ikut membantu. Ketika para guru pergi, kami pun pergi.

    Sambil nongkrong kami menggoda beberapa kawan yang terlambat datang, “Woy kemana aja kok baru datang? Kamu tadi dicari Pak Satam lho!” Kawan yang kami peringatkan, entah takut pada kami atau takut pada kebenaran berita yang kami sampaikan, pun terbirit-birit mengayuh sepeda dan kami terbahak-bahak dibuatnya!

    Tak jauh dari kami, ada satu anak yang kukenal, Bi.

    Ia kawan lama sejak SD dan kami kenal cukup dekat. Tak hanya di sekolah tapi ia pun sering main ke rumah bersama kawan-kawan lain. Ketika aku dan keluarga masih tinggal di rumah kontrakan di Jl Bengawan, Bi dan kawan-kawan sering menggunakan rumah kami sebagai pos untuk memarkir sepeda dan ganti baju sebelum dan setelah mandi di Sungai Lukulo.

    Tapi S, salah satu “bintang paling terang” dalam kawanan kami berkata, “Kae sapa yah? Bocah kok kemlinthi temen?”

    Aku bersicepat menjawab, “Oh, itu Bi! Kancaku kawit SD! Pancen kemlinthi!”

    “Jal parani! Wani apa ora kowe?” ujar S kepadaku.

    Aku menelan ludah, menoleh kepada S.

    “Parani, cengkiwing trus jebret-jebret! Tinggal!” perintahnya.

    Cengkiwing dalam bahasa lokal yang waktu itu kumengerti adalah secara paksa dan konfrontatif, menarik kerah baju lawan ke atas.

    Lututku bergetar tapi aku menurutinya.

    Aslinya aku penakut meski badung. 
    Sejak kecil aku tak terbiasa berkonfrontasi dengan orang lain. Dalam beberapa kali kesempatan, ketika hendak berkelahi dengan kawan mainku karena hal-hal sepele khas anak-anak, aku selalu menangis lalu lari tunggang langgang padahal belum ngapa-ngapain dan diapa-apain! Tapi atas nama usaha supaya jadi menonjol dan diterima jadi bintang, akupun memberanikan diri.

    Cara jalanku kugagah-gagahkan, masuk ke halaman sekolah lalu menghardik Bi yang berdiri tak jauh dariku sedang membersihkan jendela kelasnya. “Woy! Kemari!” lantangku.

    Kawan-kawan sekelas Bi kaget lalu melihat ke arahku. Bi maju ke arahku seolah tak percaya bahwa aku, kawan lamanya ini menghardik dalam nada yang begitu keras. “Ana apa, Don?” sorot matanya tajam.

    “Kemlinthi temen kowe?” ujarku.
    Sekonyong-konyong tanpa memberi aba-aba, Bi merapatkan tubuhnya kepadaku, mendorongku ke arah pagar sekolah dan tangannya meraih krahku mengangkatnya tinggi-tinggi sementara tangan yang satunya lagi siap mengirimkan bogem ke rahangku.

    Dengan suara bergetar, aku memohon ampun supaya ia melepaskannya. Tak lama setelah Bi melepaskan cengkiwingannya dan berjalan kembali ke kelas, sontak anak-anak itu menyoraki dan menertawakanku dengan sangat keras.

    Aku menunduk lalu berjalan ke kawanan bintang. Mereka yang kupikir akan mendukungku, malah lebih keras menertawakanku.

    “Kecing temen dadi bocah?!” ujar S ketika aku kembali ke kawanan sambil terbahak-bahak.

    Aku terdiam, mataku nanar tak tahu harus berbuat apa.

    Tapi aku tak menyerah.
    Masih ada ongkos lain yang bisa kuajukan untuk tetap menjadi bagian dari kawanan itu. Ongkos yang beberapa diantaranya akan kuceritakan secara seksama di sini sejauh aku bisa mengingat dan sejauh aku bisa menganggapnya cukup layak untuk diceritakan sebagai sebuah pelajaran masa lalu.

    See! 
    Semua kumulai dengan tidak mudah! Sangat tidak mudah! Kalau kata teman-temanku bule di sini,  “Your first 10,000 hours weren’t exactly smooth sailing, were they?”

    Couldn’t agree more. My first attempts were a disaster zone! Hahaha!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • SMP 1 Kebumen, Hari Pertama

    SMP 1 Kebumen, Hari Pertama

    Kebumen 16 Juli 1990

    Sebulan setelah menghabiskan waktu menonton tayangan demi tayangan siaran langsung PIala Dunia 1990 di televisi bersama Papa selama libur akhir tahun ajaran, pagi itu hidup memasuki babak baru. Menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kebumen.

    Exif_JPEG_420

    Enam tahun mengenyam pendidikan dasar di SD Pius Bhakti Utama Kebumen, aku lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) cukup tinggi, empat puluh tiga koma sekian. Oleh orang tua, aku didaftarkan ke SMP N 1 Kebumen yang waktu itu adalah sekolah menengah pertama terbaik se-kabupaten. Sempat terpikir untuk masuk ke SMP Pius Bhakti Utama Kebumen yang sama-sama swasta Katoliknya tapi Papa waktu itu berkata, “Eman-eman! NEM-mu apik kok mrono…”

    Dan harusnya pagi itu jadi pagi yang menyenangkan tapi sayangnya tidak demikian. Gara-gara pakaian dan celana seragam yang kebesaran, aku jadi tak terlalu bersemangat dan perasaan ini tanpa permisi memenuhi benak yang sudah penuh dengan nervous-ku untuk bertemu dengan orang-orang di lingkungan yang sama sekali baru!

    Soal seragam yang kebesaran ini sebenarnya agak lucu juga ceritanya dan khas.

    Jadi setelah resmi diterima, kami , para calon siswa baru diwajibkan untuk melakukan proses daftar ulang datang ke sekolah sambil mengukur badan untuk dibuatkan seragam.

    Proses itu sejatinya sudah dilakukan dengan benar, tapi beberapa hari menjelang hari pertama, ketika mengambil seragam di penjahit E (sebut saja demikian) yang ditunjuk sekolah sebagai pelaksana pembuat seragam,  ternyata hasilnya terlalu longgar. Uniknya lagi, hampir semua anak yang berat badannya di bawah rata-rata sepertiku, kami mendapat pengalaman yang sama, bersekolah di hari pertama dengan seragam yang kedodoran!

    Mama ikutan sewot.
    Sebagai orang yang mendalami jahit-menjahit sejak lama, ia sempat hendak membongkar dan memperbaiki seragamku. Tapi karena waktu mepet, dia nggak mau ambil resiko. 

    Setelah menyantap nasi dengan telor ceplok setengah mateng dan teh panas, menggunakan jasa becak, aku pergi ke sekolah yang letaknya di Jl Sutoyo 22, Kebumen. Waktu itu kami sudah pindah dari rumah kontrakan ke rumah kami sendiri yang baru usai dibangun beberapa bulan sebelumnya di Jl Kaswari No. 24 Kebumen.

    Sesampainya di sekolah, kami diarahkan ke kelas masing-masing. Aku ditempatkan di kelas 1C yang letaknya di luar blok utama sekolah. Sebuah bangunan baru yang ada di depan lapangan upacara dan basket/tenis lapangan.

    Kelasnya lebih kecil dan gelap dibandingkan dengan kelas waktu aku masih ada di SD Pius Bhakti Utama. Sejujurnya aku agak kecewa. Kupikir karena ini sekolah keren harusnya bangunan dan gedungnya juga paten!

    Langit-langitnya pun lebih rendah, sinar matahari terhalang dari dua arah. Arah sisi selatan terhalang area parkir sepeda yang memanjang sementara kaca jendela di sisi utara penuh diblok dengan aku lupa entah itu hiasan atau kertas sticker tapi intinya hal itu jadi menghalangi sinar masuk.

    Tapi aku cukup beruntung karena di kelas itu bertemu lagi dengan salah satu kawan terdekat di SD Pius Bhakti Utama, Indarti Setyorini. 

    Rini, demikian aku memanggil meski kawan lain memanggil Indarti, adalah kembaran dari Untari Setyowati alias Wati yang waktu itu ada di kelas 1D. Saat SD aku beberapa tahun duduk satu meja dengannya sebelah-menyebelah.

    Rini sosok pendiam, tulisan tangannya sangat rapi dan indah. Bersama Wati, Ia pernah main ke rumah kontrakan tempat kami tinggal di Jl Bengawan No. 32 Kebumen dan aku juga sering main ke rumah mereka yang letaknya di Jl Merpati, tak jauh dari Jl Kaswari. (Tapi uniknya, setelah aku pindah ke Jl Kaswari tak sekalipun aku main ke rumahnya  hingga akhirnya aku pindah ke Jogja selepas SMP, tiga tahun kemudian!)

    Hingga kini aku masih berhubungan akrab dengan mereka dan serial Tentang Kebumen ini lahir salah satunya karena saran dan semangat dari Rini meskipun ia tahu bahwa sebenarnya tidaklah mudah untukku menuliskan pengalaman-pengalaman yang terjadi di Kebumen karena pahit-getir yang terjadi (tentu nanti akan ada yang kuceritakan tapi tidak semuanya) . Tapi atas nama rekonsiliasi dengan masa lalu, semua ini harus kuterakan mumpung ingatan masih baik mumpung umur masih ada.

    Selain Rini, di kelas 1C ada juga sosok Agung Prihatmaji Soewarno atau yang kemudian akrab disebut Agung PS.

    Agung bukan orang yang kukenal sebelumnya karena ia bersekolah di SD Kebumen 1. Aku melihatnya pertama kali saat ada pertandingan bola pingpong Porseni di SD Kutosari, Agung bermain dengan begitu jagoannya di partai final dan ditonton begitu banyak orang. Sejak saat itu aku berpikir sepertinya orang ini asik untuk dijadikan teman. Maka ketika ada di kelas yang sama, kalau istilahnya jaman sekarang barangkali aku mengalami “star struck” ketika melihat Agung!

    Pada tahun-tahun selanjutnya aku memang jadi sangat akrab dengan Agung. Ada begitu banyak ‘kegiatan’ yang kami kerjakan bersama-sama di luar kelas bahkan di luar sekolah. Tentu aku tak bisa menceritakan semua detailsnya di sini atas alasan etika hahaha. 

    Bagaimana di dalam kelas?
    Kalau tidak ada ulangan, kami duduk bersama. Tapi kalau ada ulangan, kami berpencar! Aku memilih duduk di sekitar kawan-kawan lain yang lebih rajin belajar dan mau membisikkan jawaban dari soal ulangan yang ditanyakan. Salah satu dari kawan itu ya siapa lagi kalau bukan Rini! Karena tulisannya yang indah, tanpa ia harus berbisik, aku bisa melirik ke arah kertas jawabannya dengan jelas!

    Demikian juga dengan Rini, Agung adalah sedikit kawan yang masih terus berhubungan dengan sangat intens hingga sekarang.

    Jam tujuh tepat, bel berbunyi dengan kerasnya.

    Kami berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti Upacara Bendera.

    bertindak sebagai inspektur upacara adalah Pak Gun Paimona, kepala sekolah SMP 1 Kebumen yang suprisingly enough waktu itu adalah seorang penganut Protestan.

    Setelah selesai upacara, Pak Satamdi, guru olahraga senior naik ke podium dan memberi beberapa pengumuman. Ia mengucapkan selamat datang kepada kami serta memberikan jadwal orientasi yang harus kami lakukan sebagai siswa baru. Sebelum akhirnya membubarkan peserta upacara, Pak Satam, demikian beliau dipanggil, memberi sebuah pengumuman yang selalu membekas hingga sekarang.

    Jadi antara blok utama sekolah dan lapangan upacara dihubungkan sebuah lorong yang tak terlampau panjang.

    Kebetulan waktu itu Indonesia sedang berduka karena Peristiwa Terowongan Mina di Saudi Arabia pada 2 Juli 1990. Korban jatuh secara umum konon sekitar 1400-an meninggal dalam keadaan saling terhimpit dan terinjak-injak. Lima ratus diantaranya adalah jemaah haji asal Indonesia.

    Pada kesempatan itu, setengah bergurau, Pak Satam pun berkata, “Hati-hati melewati terowongan ketika kalian kembali ke kelas. Jangan sampai berhimpit-himpitan seperti yang terjadi di Terowongan Mina!”

    Usai upacara kami masuk ke kelas masing-masing dan kegiatan belajar-mengajar hari pertama dilalui.

    Seragam dan celana yang kebesaran tetap tak membuatku nyaman tapi ketika mengingatnya sekarang, aku menganggap celana dan seragam besar itu barangkali penanda bahwa suatu saat nanti aku bisa jadi orang besar dan yang terjadi di Jl Sutoyo 22 Kebumen selama tiga tahun ke depan adalah proses untuk memulai perjuangannya.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Hari Pertama

    Dari mereka yang mengenalku sejak sekitar dua puluh tahun terakhir ini, tak banyak yang tahu bahwa aku pernah tinggal di Kebumen selama sembilan tahun sejak 1984 hingga 1993 sebelum akhirnya pindah ke Jogja.

    Exif_JPEG_420

    Papa, Mama dan Chitra, adikku, bahkan menetap lebih lama hingga lima tahun sesudahnya, 1998. 

    Mereka berpikir aku asli Klaten yang kemudian menghabiskan banyak waktu di Jogja sebelum akhinya pindah menetap di Sydney, Australia. Tak bisa disalahkan karena aku memang jarang bercerita tentang Kebumen dan dialek tutur Bahasa Jawaku pun tidak ada ngapak-ngapaknya sama sekali.

    Aku pindah ke Kebumen pada pertengahan 1984.

    Sebelumnya bersama Mama, aku tinggal di Klaten di rumah leluhur dari pihak Mama bersama Eyang Putri Pranyoto, Eyang Buyut Putri Padmodiharjo, Om (aku memanggilnya Mas) Kokok dan Tante (aku memanggilnya Mbak) Yohana. Sementara Papa, sejak 1982, mendapat penugasan dari sebuah bank BUMN di Kebumen. Setiap akhir pekan, Papa pulang ke Klaten menjengukku dan Mama. Hal itu berjalan lebih dari setahun. 

    Lalu atas dorongan dari Eyang dan keluarga besar pihak Mama, kami (aku dan Mama) diminta bergabung bersatu dengan Papa. Tidak elok kalau sebuah keluarga terpisah hanya gara-gara pekerjaan, demikian cerita yang kudapatkan dari alm Papa dulu.

    Yang kuingat, ketika Mama mengabarkanku akan hal ini di perayaan ulang tahunku yang ke-6, 20 Desember 1983, aku menanggapinya dengan biasa saja. Bahkan menjelang pindah, enam bulan kemudian, aku sempat menolaknya. Meninggalkan Klaten berarti meninggalkan kehangatan dan kenyamanan yang diberikan tak hanya oleh para eyang dan om serta tante tapi juga kawan-kawan sepermainan baik di kampung Tegal Blateran maupun di sekolah TK Maria Assumpta Klaten. Tapi apa mau dikata, semua harus terjadi demikian adanya.

    Kami berangkat ke Kebumen pada sebuah minggu sore.

    Saat matahari lindap di sisi barat, Eyang Buyut, Eyang Putri, Mas Kokok dan Mbak Yo melepas kami ke depan pintu gerbang rumah dengan penuh haru. Kami saling berpelukan dan berjanji Natal tahun ini akan segera pulang ke Klaten untuk merayakan bersama-sama seperti Natal-natal tahun sebelumnya.

    Tak banyak barang yang kami bawa.
    Seingatku Papa menyewa sebuah kendaraan wagon. Kami duduk di depan berhimpitan. Papa duduk di kursi pinggir dekat pintu supaya mudah untuk merokok, sementara aku dipangku Mama di tengah menyebelah dengan supir. Kursi di area belakang dilipat untuk memasukkan tas-tas berisi pakaian, mainan-mainanku dan satu-satunya perabotan yang kami bawa waktu itu, meja rias Mama. Meja rias ini nantinya kami bawa kembali pulang ke Klaten saat kami menuntasi pengalaman hidup kami di Kebumen pada 1998.

    Aku lupa apakah kami berhenti makan di Jogja malam itu tapi yang pasti kuingat, sepanjang perjalanan saat hari makin gelap, Papa ngganyik bercerita tiada henti. “Oh kita sampai sini…” atau “Nanti di depan itu jalannya akan belok cukup tajam, Yas…” atau “Ini warung enak.. nanti kita main ke sini ya..” dan  “Oh itu rumah nasabahku…” Sesekali waktu ia juga ngobrol dengan Sopir.

    Sesampainya di Prembun, 18 kilometer dari Kebumen, saat hari sudah semakin larut, aku yang sempat tertidur di pelukan Mama berujar, “Ma, wes tekan? Isih suwe?”

    Lalu Papa mengusap rembutku yang berkeringat dan berkata, “Diluk meneh, Le… Diluk meneh…”

    Kami sampai di Kebumen menjelang jam 10 malam.
    Papa mengontrak sebuah rumah di Jl Bengawan No. 32, Kauman, Kebumen. Dari alun-alun kami belok kiri sesudah Mesjid Raya,  masuk ke JL. Kapten Pierre Tendean, Desa Kutosari. Tak jauh dari SMP Muhammadiyah 1 belok kiri masuk ke Jl Bengawan yang waktu itu belum diaspal dan tanahnya pun terlalu rata.

    Rumah kontrakannya tak terlalu besar tapi juga tak bisa dibilang kecil. Aku sudah super mengantuk waktu itu untuk peduli terhadap detailnya meski aku masih sempat bertanya pada Mama, “Ma, di rumah baru apa ada tempat tidur untuk kita?”

    Mama tersenyum lalu mengangguk, “Ana, Le. Papa wes mundhut folding bed. Minggu ngarep mundhut dipan sing gedhe…”

    Ia mengusap rambutku sambil tersenyum. 
    Ia tahu betul anak sulungnya ini selalu merasa takut dan mudah terintimidasi terutama oleh hal-hal baru yang dihadapi. Sesuatu yang hingga saat tulisan ini kurawi, 40 tahun kemudian, masih sering hinggap sesekali.

    Tak lama kemudian, saat Papa dan Mama masih sibuk menurunkan barang satu per satu aku jatuh terlelap. 

    Kebumen, hari pertama.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Reuni, Spion Masa Kini

    Reuni, Spion Masa Kini

    Ketika bicara tentang reuni, aku menganggapnya sebagai kegiatan yang mungkin menggembirakan bagi sebagian orang tapi tidak bagi sebagian lainnya. 

    Bagi yang merasa hidupnya berhasil, reuni jadi ajang untuk merayakan masa lalu atas hidup yang begitu baik di masa kini.

    Tapi bagi yang merasa hidupnya biasa saja atau gagal, reuni dianggap jadi ajang untuk dirinya ditelanjangi dan dipermalukan di tengah kawan-kawan lainnya. “Ngapain reuni? Belum sukses! Malah malu sama kawan-kawan lain yang lebih sukses! Besok-besok aja!” Nggak semua seperti itu, tapi adalah satu-dua.

    Padahal kalau mau dipikir, apa sih standar keberhasilan hidup?

    Jika ada yang menganggap keberhasilan dalam skala angka saja, orang itu tak perlu ikut reuni karena yang bersangkutan sejatinya tak pernah mampu beranjak dari bangku sekolah dimana berhasil tidaknya seseorang ditentukan setinggi apa angka yang diraih dibandingkan orang yang lainnya. 

    Meski kadang memang tak terhindarkan. Ada saja dalam reuni yang keceplosan bertanya, “Pangkatmu apa? Rumahmu dimana? Mobilmu yang mana?” Kalau ngadepin yang kayak gini, anggap saja kamu lagi jalan trus kesandung batu. Sakit memang, tapi segeralah bergeser ngobrol dengan teman lainnya yang tidak mempertanyakan hal-hal konyol seperti itu. Ingat, reuni itu yang penting asik maka jauhilah toksik!

    Ketika bicara tentang reuni, aku mencoba memahaminya dari sudut pandang bagaimana bagaimana tubuh, leher dan kepala kita bekerja.

    Mata, hidung dan mulut yang ada di kepala menghadap ke depan. Sejauh-jauhnya kita bisa melongok adalah ke kiri dan ke kanan karena leher memiliki kompromi untuk digerakkan sejauh itu. Untuk melihat yang ada di belakang, mau-tak-mau kamu harus membalikkan badan. Nah! Reuni bukan ajang untuk membalikkan hidup ke arah yang berlawanan. Reuni itu.. anggap saja seperti kaca spion, saat kita fokus menjalani hidup ke depan, sesekali melihat apa yang ada di belakang itu menyenangkan tapi jangan keterusan!

    Kenapa ini penting?
    Karena gak semua kawanku sekeren kalian!
    Ada lho yang kalau diajak reuni senangnya bukan main lalu dikit-dikit reuni dan lupa untuk hidup masa kini.  Semoga aku salah, tapi kok mereka itu rasanya seperti orang yang sulit untuk mencari kebahagiaan di masa kini dan putus harapan melihat ke depan sehingga satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah berbalik ke belakang.

    Ada juga yang menganggap reuni adalah musim semi untuk cinta-cinta usang yang ada di masa lalu! Kecuali kalau memang sama-sama tidak terhalang komitmen yang ada sekarang ya silakan tapi selebihnya aku kok meragukan adakah itu benar-benar cinta atau sekedar nostalgia belaka?

    Untuk yang barusan kutulis di atas, aku merasa begitu bersyukur.

    Bersyukur karena waktu SMP, tak ada satupun proposal cinta monyetku diterima dan aku dengan ‘bijaksana’ memilih mengelola kegelisahan akil balikku saat itu dengan menjadi anak badung dan bandel karena sekarang aku bisa mengenangnya sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dikenang!

    Bersyukur pula karena waktu SMA aku melanjutkan ke SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sekolah homogen (cowok semua) yang tentu untukku yang heteroseksual ya nggak ngaruh apa-apa. Alhasil kalau reuni, isinya membicarakan urusan bapak-bapak, mengenang masa silam atau paling jauh berbisik, “Sssstttt, kamu denger kabar Si Anu? Gebetanku waktu itu?”

    Jadi, untuk kawan-kawan alumni SMP Negeri 1 Kebumen angkatan 1990 – 1993 yang akan bereuni besok sore di Jogja, syukurilah dan nikmatilah setiap menitnya!

    Sambil memandang Merapi di kejauhan, rayakanlah hidup dalam kebahagiaan bersama kawan-kawan yang pernah ada di kampus yang sama di Jalan Mayjend Sutoyo 22 Kebumen.

    Jangan lupa foto banyak-banyak. Kirimkan sebagian kepadaku yang tidak bisa datang karena bentangan jarak 5000 km jauhnya dari kalian! Simpan foto-foto itu dalam album di gawai atau titipkan saja di social media untuk jadi sebuah kenangan bagi masa depan.

    Ketika akhirnya acara reuni usai dan usai pula segala cipika-cipiki serta jabat tangan, ada nukilan lirik lagu Kartonyono Medhot Janji karya Denny Caknan yang sangat kusukai yang akan kusampaikan pada kalian, “Rasah nyawang sepion sing marai ati tambah mbebani…”

    Pulang ke rumah! Kembalilah ke masa kini!
    Suami, istri, keluarga, orang tua dan segala komplekstias hidup masa kini sudah menanti untuk dilanjutkan, dihadapi. Di dalamnya kita pun diajak untuk terus-menerus bahagia!

    Salam,

    Donny “Botol” Prima
    Alumni SMP N 1 Kebumen, 1990 – 1993

  • Kenapa aku masih bicara tentang Indonesia saat sudah tidak ada lagi di dalamnya?

    Kenapa aku masih bicara tentang Indonesia saat sudah tidak ada lagi di dalamnya?

    Terkait suaraku yang lantang berkoar tentang dunia perpolitikan di Tanah Air, nggak sedikit yang kemudian bertanya melalui DM, “Don, kamu kan udah lama tinggal di luar negeri tapi kok masih saja ngomongin Indonesia tiap hari sih?”

    Tentu kalimat langsung di atas hanyalah contoh ‘baik’ karena pada kenyataannya ada banyak yang nadanya tinggi semacam, “Woy, Aseng! Ngapain ngurus negeri orang! Urus kangguru sono!”

    Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang membebaskanku untuk menyampaikan pendapat. Berpendapat dan menyampaikan alasan adalah norma yang tidak bisa dipersalahkan selama caranya benar. Justru kalau diam pada saat harusnya bersuara, aku dipersalahkan.

    Waktu kelas dua SMP, aku ketahuan nonton bokep! Kedua orang tuaku jelas marah! Tapi mereka lebih marah ketika aku tak bisa menyampaikan jawaban saat mereka tanya, “Kenapa kamu nonton film itu? Apa alasanmu untuk mengkhianati kepercayaan yang selama ini diberikan kepadamu?”

    Diam, terutama karena takut menanggung resiko atas apa yang hendak kusampaikan adalah haram di keluargaku dulu! (Iya.. iya.. kalian kepo kan kenapa aku udah nonton bokep sepagi itu dan kenapa pula sampai ketauan? Nanti lain waktu kuceritain ya…)

    Ketika akhirnya tahu Tuhan memberiku talenta dalam menulis dan membuat lagu (sebenarnya juga memotret dan melukis tapi tak terlalu konsisten) aku mengartikulasikan pendapat, ide dan keresahan dalam wujud-wujud itu. Maka lagu dan tulisan-tulisanku adalah hasil pendapat dan keresahan yang muncul di dalam benak.

    Adapun keresahan-keresahanku itu lintas batas.
    Pernah secara acak aku resah, kenapa sistem pengucapan kata dalam Bahasa Inggris itu tidak konsisten. “Too” dibaca “tu” tapi kenapa mereka tertawa ketika aku mengucap “dur” untuk “door”?

    Aku tak puas dengan alasan “Ya karena emang seperti itu!” karena keresahanku tak berhenti hanya dengan framing sepicik itu. Harus ada alasan terhadap setiap hal yang terjadi di dunia ini!

    Pernah pula aku tiba-tiba ingat bahwa di kampung tempatku dibesarkan di Klaten, ada orang bernama lain tapi dipanggilnya ia, Bengsor. Kutanyakan pada om-om, tante-tante dan eyangku, mereka hanya tertawa nggleges “Hehehe… he eh yo! Kok iso yo?” Puas dengan jawaban itu? Tidak!

    Nah, kalau kemudian aku dikejutkan dengan berita lucu-lucuan politik di Tanah Air belakangan ini dan cuma dijawab, “Tenang lah! itu kan ASIAN VALUES!” apa aku harus diam saja ketika Pandji pun bilang “Cut that stupid sh*t!”

    Lagipula, tiga puluh satu tahun pertama dalam hidup, setiap detiknya kuhabiskan di Indonesia. Akupun masih punya relasi dengan orang-orang yang ada di sana. Adik kandungku dan keluarganya, keluarga besarku dan keluarga besar istriku, kawan lama serta hey kamu! Ya kamu semua yang menikmati tulisan dan laguku, pun kebanyakan dari kalian tinggal di Indonesia? Jadi, atas segala pertimbangan itu, ketika ada keresahan yang timbul tentang Indonesia, apa dosaku untuk tidak diam saja?

    Perkara kemudian ada yang tidak suka, itu kuanggap sama nilainya seperti ketika tiba-tiba ada yang DM dan bilang, “Tulisan kamu mengena banget, Bro! Bravo!” atau ada yang dengan gaya centilnya berkomentar, “Ih, tulisanmu asik! Orangnya pasti asik jugak!”

    “Suka” dan “tidak suka” hanyalah respon di level perasaan terhadap karya. Ia tidak bicara tentang karya itu sendiri. Indikasi sebuah karya itu baik bukan karena banyak dipuji sebagaimana karya yang jahat bukanlah yang panen cemoohan apalagi dari buzzer-buzzer itu!

    Pengartikulasian keresahan pun sebenarnya bukan tentang keresahan itu sendiri.
    Bukan tentang inkonsistensi pengucapan dalam Bahasa Inggris, bukan tentang kenapa Mas Bengsor dipanggil sebagai Bengsor dan bukan tentang Indonesia apalagi Jokowi. Keresahan hanyalah obyek!

    Pengartikulasian keresahan pada mulanya adalah tentang Roh. Roh yang menggerakanku untuk tetap resah, Roh yang sama yang memampukanku untuk mengartikulasikan keresahan itu untuk dinyatakan dalam sebuah karya. Roh yang cara memuliakannya adalah dengan terus melanjutkan semuanya sebaik-baiknya baik, hingga selama-lamanya lama.

    Bentar… sepertinya aku harus menuntasi tulisan ini dan lanjut ke tulisanku yang lebih baru lagi karena tiba-tiba aku merasa resah! Resah kalau ada semakin banyak dari kalian yang tidak mengerti artikulasi keresahanku kali ini!