[Tentang Kebumen] Tupon

4 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Karena jaringan PDAM belum sampai di rumah kontrakan dulu, air tanah yang ditimba dari sumur menjadi sumber air satu-satunya untuk keperluan rumah tangga kami sehari-hari. Waktu itu Papa juga belum membeli pompa air sehingga ia dan Mama merasa perlu mencari bantuan tenaga untuk menimba setiap hari.

Maka hadirlah Tupon yang bernama asli Muhamad Tofa.

Masih terhitung tetangga meski rumahnya agak jauh. Waktu itu ia berumur sekitar 14 tahun, duduk di bangku SMP di Sekolah Menengah Pertama 2 Kebumen.

Dari kesepakatan, Tupon datang setiap hari sekitar jam 3-4 sore untuk menimba air sumur memenuhi bak kamar mandi, bak toilet serta bak penyimpanan air untuk masak di dapur. Ia juga diberi tugas Mama untuk menyirami koleksi tanamannya.

Sebagai bonus, Mama mengundang Tupon untuk menyantap makan malam selepas Maghrib. Mama sendiri yang menyiapkan makanan di meja dapur untuknya.

Selesai makan, Tupon biasanya menonton tivi hingga larut. Kadang sampai tertidur di sudut lantai ruang tivi dan Papa membangunkan dan memintanya pulang.

Pada akhirnya Tupon mendapat tugas baru: jadi kawan bagiku.

Mungkin karena usia kami tak terlampau jauh bedanya. Atau mungkin juga karena Papa dan Mama melihat aku ini tak terlalu pandai beradaptasi dengan teman-teman baru di kampung, mereka lalu meminta Tupon untuk menjagaku. Pernah sekali waktu karena aku malas berkawan dengan teman-teman, setiap pulang sekolah aku mendatangi rumah Tupon lalu mengajaknya bermain.

Hubungan kami semakin akrab karena Mama kemudian mengandung dan melahirkan Chitra, adikku semata wayang. Lalu ketika “mendung gelap” sempat meliputi rumah tangga Mama dan Papa sekian lama, hubunganku dengan Tupon tambah erat karena aku merasa ia adalah kawan yang paling bisa mengertiku saat itu.

Pernah suatu waktu di kampung sedang musim anak-anak berjualan telor cicak dan lotere. Aku pun pengen jualan tapi tentu dilarang Mama apalagi Papa. Ketika keinginanku tak terbendung, Mama meminta Tupon menemaniku berjualan berkeliling kampung.

Ketika aku dan kawan-kawan keasyikan mandi di Sungai Lukulo, Tupon juga lah yang diminta Mama untuk memanggilku pulang. Ia meneriakiku dari pinggir kali, “Don! Ditimbali Mama dikongkon bali!” berkali-kali. Kalau aku tak mau naik, ia turun ke sungai dan menarikku begitu saja…

Tupon juga pandai melukis. Pernah saat kelas tiga SD, ia mengerjakan tugas lukisku, sebuah lukisan bergambar kuda dengan cat air. Oleh Pak Hadi Sepuh (alm), guruku, lukisan itu diberi nilai tertinggi, delapan setengah melebihi nilai untuk Adi Nugroho, kawan SD ku yang jago gambar. Banyak kawan menuduh bahwa itu bukan lukisanku tapi aku berhasil berbohong meyakinkan Pak Hadi bahwa tuduhan itu tidak benar hehehe…

Tak hanya melukis, Tupon piawai bermusik. Bahkan hingga sekarang, Tupon adalah pemain keyboard tunggal profesional yang kerap diundang bermain di acara-acara di daerah Tangerang sana. 

Waktu kecil, aku memang sering melihat Papa bermain gitar tapi lagu-lagu yang dibawakan Papa adalah lagu-lagu lama yang tak membuatku tertarik. Tapi Tupon, suatu siang menunjukkan kepaiawainnya memainkan intro Semut Hitam nya Godbless yang sedang ngehits dan sejak saat itu akupun jadi tertarik untuk belajar gitar.

Setelah kami pindah ke rumah di Jl Kaswari Kebumen, 1990,  hubungan dengan Tupon bisa dibilang terputus. Bukan karena suatu masalah, bukan karena kami sudah tak perlu jasanya lagi tapi karena ia memutuskan merantau ke Jakarta untuk bekerja hingga kini.

Sekitar 2010, waktu aku sudah pindah ke Sydney, Australia, aku dan Tupon berhubungan lewat Facebook. Tahun 2012 dan 2018 kami bertemu di bandara Soekarno Hatta sesaat sebelum pulang ke Australia. Hingga kini, kami pun masih sering berhubungan lewat Whatsapp. Termasuk ketika aku merawi kisah-kisahku di “Tentang Kebumen”, ingatanku banyak dibangkitkan kembali dari percakapanku dengannya.

Oh ya, kalian tahu kenapa ia dipanggil Tupon?

Karena ia lahir pada hari Sabtu (Tu) di pasaran Jawa Pon (Pon) tepat 54 tahun yang lalu dari hari ini, 4 Juli 1970.

Pon, Selamat ulang tahun, Bro! Ini hadiah ulang tahunmu dariku! 

Tulisan ini sederhana tapi semoga merangkum semua hal yang sejatinya tak bisa disederhanakan yang pernah kita lewati bersama .

Ada banyak orang yang kisah dan eksistensinya kuletakkan dalam tataran masa lalu bahkan segelintir dari mereka tak ku anggap pernah ada, tapi tidak demikian denganmu, Pon. 

Kamu bukan sekadar tukang timba rumahku. 

Kamu sudah menjadi seperti kakak dan kawan yang melindungiku sejak kecil. Darimu,  aku belajar banyak hal termasuk arti pengorbanan, ketulusan kesabaran dan tentu kesederhanaan.

Semoga Tuhan melimpahimu kesehatan dan rejeki serta kesempatan untuk kita kembali bertemu di masa yang akan datang.

Keterangan foto: Bertemu Tupon pada Januari 2014

Keterangan foto: Bertemu Tupon pada Desember 2018

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. terharu aku baca tulisanmu Dek Doni, aku suka gaya tutur bahasamu

    Balas
  2. Ke’i oleh oleh & harumnya dollar ostrali don, ben iso dadi obat ndisek pas cilikanmu mbo seneni ae..

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.