[Tentang Kebumen] Film Saru – 2 (habis)

9 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Selalu ada hal yang perlu dilakukan (baca: dikorbankan) untuk bisa diterima dalam sebuah kalangan pertemanan. Setelah gagal meyakinkan bahwa aku ini pemberani dalam berkelahi (simak ceritanya di sini), untuk bisa diterima dalam “kawanan bintang” di SMP Negeri 1 Kebumen, aku mendemonstrasikan bahwa aku tetaplah seorang pemberani dalam hal menonton film saru!

Seperti kutulis dalam tulisan sebelumnya, terhitung sejak 1988, aku sudah tiga tahun berpengalaman memutar film saru di rumah sendiri!

Ketika kusampaikan dengan gegap gempita tentang hal itu, mereka pun tertarik dan penasaran lalu serta merta mengajakku untuk menonton di rumah. Akupun merasa jumawa karena dibutuhkan.

Waktu itu kami sudah pindah ke rumah sendiri di Jl Kaswari No. 24 Kebumen dan denah rumah yang dibangun memungkinkan kami untuk lebih kusyuk menonton tanpa ada gangguan tetangga yang mungkin bisa ikut menonton di balik gordyen rumah yang menerawang.

Aku hapal betul jadwal kapan Mama pergi entah untuk arisan maupun rapat dharma wanita. Di hari-hari itulah aku mengundang kawanan bintang untuk datang dan memutar film saru. Bosan dengan koleksi kaset yang kumiliki, aku meminta mereka juga membawa koleksi kaset mereka.

Pembantu rumah tangga pun sudah ‘kukoordinasikan’.

“Mbak, pokoknya kalau teman-temanku datang kamu masuk kamar dan tutup pintu ya karena kita mau belajar kelompok!” Iapun menurutinya.

Yang semula aku merasa sendirian berpetualang, sejak saat itu sudah hampir selusin kawan lain yang membersamaiku untuk masuk ke relung-relung labirin permesuman! Lain waktu, mereka gantian mengundangku untuk nonton film saru di rumah mereka. Hal itu berjalan berbulan-bulan bahkan lebih dari satu tahun. hingga suatu saat aku mencapai nahas yang detailnya hendak kuceritakan ini.

Siang itu, seperti biasa, sejak sekitar pukul 2 siang, kawan-kawan sudah berkumpul di rumahku.

Setelah Mama pergi arisan jam tiga, tak lama sesudahnya, acara nonton film saru pun dimulai. Putaran pertama berjalan aman. Tapi ketika hendak menyelesaikan kaset kedua, sekitar jam setengah lima, tiba-tiba listrik padam. Biasanya, listrik padam hanya sekitar lima menit lalu menyala kembali. Tapi sepuluh, lima belas hingga setengah jam kemudian listrik belum juga kunjung menyala.

Kami mulai panik. Kaset film saru tertahan di dalam mesin pemutar Sony SL-30 dan tak bisa dikeluarkan karena keluar masuk kaset diatur secara otomatis melalui motor yang digerakkan listrik.

Aku lantas menyuruh kawan-kawanku untuk pulang. Aku nggak mau mereka ikut terlibat disalahkan kedua orang tuaku. Mereka sempat menawarkan berbagai macam cara termasuk mengangkut video player ke rumah mereka untuk dikeluarkan kasetnya lalu dibawa kembali ke rumahku. Tapi kurasa itu tidak mungkin karena Chitra, adikku, sebentar lagi akan pulang dari les menari lalu sekitar jam lima tiga puluh, Papa akan pulang ke rumah bersama dengan Mama. Mereka tentu akan curiga kenapa video playernya diboyong kesana-kemari.

“Udah kalian pulang aja, biar aku yang beresin…” Mereka terdiam lalu pulang.

Ketika rumah sudah sepi, aku mencoba menjadi Macgyver. Aku mengambil obeng, membuka casing video player untuk secara manual memotong pita kaset video dan mengangkatnya secara paksa. Tapi sial, hal itu tak bisa kulakukan karena kaset terlindungi plat besi yang terhubung pada motor dan aku cukup kesulitan untuk mencari dimana sekrupnya terpasang.

Waktu menunjuk pukul 5 lewat lima belas. Aku memutuskan menutup kembali casing video player dan hanya bisa pasrah.

Lima belas menit kemudian, seperti yang sudah kuduga, Mama dan Papa pulang ke rumah dan listrik belum juga menyala.

Di tengah keterhimpitan, otakku tetap berputar. Aku berusaha menyibukkan Mama dan Papa untuk melakukan banyak hal selain di depan televisi berharap supaya ketika listrik menyala dan kaset otomatis keluar, mereka tidak ada di sana. Ide itu sebenarnya cukup berhasil. Aku meminta Mama untuk menyetrika ulang bajuku dan bilang bahwa aku tak terlalu suka hasil setrikaan pembantu, sementara Papa, aku minta tolong dia untuk memeriksa rantai sepedaku.

Ketika hari menggelap, sekitar jam 6 sore, kami duduk-duduk di depan tivi sambil mengelilingi lilin yang kami nyalakan sebagai penerang.

Suara detak jam dindingmembuatku semakin gugup seperti sedang hendak mengadapi eksekusi mati saja! Ludah semakin sering kutelan, tangan mendingin dan degup jantung begitu cepat.

Jam 6:30, tiba-tiba listrik kembali menyala.

“Nah! Murup!” ujar Mama spontan dan tak lama kemudian, suara motor dari video player memecah keheningan dan… momentum berikutnya adalah momentum yang kalian sudah bisa tebak, kan?

Papa sigap berdiri mendekat ke video player lalu menarik kasetnya. Aku bukannya tak punya kesempatan untuk meraih dan menyembunyikan tapi semua akan percuma saja toh!

“Iki opo, Le?” mata Papa terbelalak ke arahku. Papa paling tidak pernah marah dan kali itu ia harus menyemprotku sedemikian keras.

Meski tak sampai main fisik (Papa dan Mama bukan tipe orang tua yang ringan tangan. Bahkan sekalipun tak pernah mereka memukulku!) tapi aku benar-benar dibuat mati kutu malam itu dihujani dengan puluhan pertanyaan dan pernyataan. Sekitar jam 8:30 semua mereda.

Sejak malam itu, Papa membuat case khusus bergembok untuk video player sehingga aku tak bisa sembarang mengakses tanpa seijinnya.

Ya sudah, sebagai anak yang baik dan warga rumah yang patuh, aku menaatinya. Meski karena kawan-kawan lain sudah terlatih memutar video di rumah mereka masing-masing, kalau aku pengen nonton film saru, giliran aku yang bertandang ke rumah mereka.

Setelah pindah Jogja untuk meneruskan studi, dua tahun sesudahnya, kegiatan nonton film saru terus berlanjut apalagi perkembangan media pun berkembang tak lagi hanya video tapi juga keping vcd. Sering bersama kawan-kawan, kami menyewa player dan berkeping-kpeing vcd lalu menontonnya bersama-sama di akhir pekan.

Beberapa tahun kemudian ketika internet masuk dan film saru bisa diakses sedemikian mudah dengan cara mengunduh filenya, kami saling berlomba-lomba mendownload dan membagikannya bersama teman-teman.

Terus terang aku lupa sampai kapan aku terjebak dalam ritual nonton film saru. Tapi yang kuingat adalah bagaimana aku mengakhirinya.

Suatu waktu, ketika aku mulai tertarik belajar agama, oleh seorang yang sudah kuanggap kakak rohaniku, ia bertanya kepadaku, “Kamu tahu bagaimana cara iblis bekerja, Don?”

Aku menggeleng…
“Iblis tahu apa yang jadi kebiasaan kita! Jadi belajarlah untuk berani mengambil keputusan yang ekstrim dalam kebiasaan-kebiasaan burukmu.” jelasnya.

Sekian lama aku tak tahu maksudnya hingga suatu waktu aku mencoba rumus itu untuk menghentikan kebiasaan nonton film saru tersebut.

Aku menganalisa bahwa ketika sedang merasa bengong, tidak ada hal yang perlu dikerjakan, timbul pikiran untuk memutar film saru bagaimanapun caranya. Sejak saat itu, setiap bengong, aku bersicepat untuk larut dalam hal-hal yang harus kukerjakan entah dengan cara ngobrol dengan teman yang alim, berolahraga atau bahkan jalan-jalan ke mall.

Tentu hal itu tak selalu berhasil. Ada kalanya aku jatuh kembali dalam jerat yang sama. Tapi semakin aku bisa menguasai, semakin aku bisa menjauhkan diri dari cengkeraman itu.

Membayangkan kembali tentang apa yang kulakukan di masa lalu terkait kebiasaanku nonton film saru, kadang terbit rasa sedih dan merasa sangat berdosa.

Bukan saja terhadap apa yang kulakukan pada diriku sendiri tapi juga kepada banyak kawan yang akhirnya terpengaruh dan masuk ke lembah yang sama bahkan lebih buruk dariku.

Tapi di sisi lain, aku merasa bersyukur karena masih diberi waktu untuk menyadari bahwa apa yang kulakukan di saat itu adalah sebuah kesalahan dan menuliskannya secara tuntas dalam rawian ini.

Beberapa waktu sebelum aku menulis ini, seorang kawan yang ikut nonton film saru siang itu, menghubungiku lewat Whatsapp. Dalam percakapan nostalgia, tiba-tiba ia bilang gini, “Don, sebenarnya dulu ada cara supaya kamu gak ketahuan nonton film saru?”

“Gimana caranya?” tanyaku penasaran!

“Harusnya kamu cabut kabel playernya sehingga pas listrik menyala, kasetnya gak langsung keluar dari player!”

Aha! Bener juga! Kenapa tiga puluh dua tahun yang lalu aku gak kepikiran sama sekali ya??!??!?

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.