[Tentang Kebumen] Belajar Dandan

10 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Seminggu yang lalu, anak bungsuku, Elodia, tiba-tiba minta rambutnya di-highlight alias disemir tak menyeluruh. Umurnya baru 11 tahun. Semalam hal itupun dilaksanakan. Sepulang dari salon ia memamerkan rambutnya kepadaku. “Look, Papa… look! Do you like it?”

Aku mengangguk sementara Mamanya hanya bisa geleng-geleng kepala sambil bilang, “Elodia itu mirip banget sama kamu! Semuanya kayak kamu termasuk hobinya untuk dandan! Persis gak kebuang sama sekali!”

Aku hanya tertawa sambil menerawang pada titian hidup masa lalu, bahwa sepertinya hal Elodia, akupun mulai peduli pada penampilan sejak usia dini… sangat dini.

Rambut Keriting

Sejak lahir, rambutku tipis, lurus, kemerah-merahan. Dari garis keturunan, aku mendapatkannya dari garis almh. Mama lalu kuturunkan kepada Elodia yang juga berkarakter rambut sama. (Odilia, kakaknya, berambut hitam dan tebal seperti ibunya).

Ketika duduk di bangku kelas 4 SD, pada sebuah siang, tak ada angin apalagi hujan, sekonyong-konyong aku bilang pada Mama bahwa aku ingin memiliki rambut ikal. Mama tahu betul tabiatku. Ketika aku sudah ingin sesuatu, tekad bulatku tak kan jadi pipih hanya oleh penolakan termasuk cibiran sekalipun.

Mama membiarkanku bereksperimen. Awalnya aku meminjam roll rambut milik Mama dan memakainya beberapa jam. Alhasil, ikal! Tapi setelah mandi, ikalnya hilang, melemas seperti orang belum makan sehari-harian.

“Kalau kamu mau permanen, ayo ke salonnya Mama…” 

Hatiku pun riang. 
Maka di sebuah minggu siang nan lengas, kami berdua pergi ke Salon Djatmiko, salon langganan Mama yang terletak di Jl Pramuka. Aku sebenarnya tak terlalu suka potong rambut di Djatmiko karena menurutku kerjanya lambat meski kalau menurut Mama justru sebaliknya, Mas Djatmiko itu tidak lambat tapi telaten dan untuk telaten butuh waktu lama.

Tapi barangkali karena kali itu lebih dari sekadar potong rambut, akupun menikmati betul prosesnya yang memakan waktu hampir dua jam lamanya. Tapi kenikmatan itu buyar ketika aku melihat hasil akhirnya. Di depan kaca aku terdiam. Aku merasa sangat tidak cocok memiliki rambut ikal.

Di atas becak, sepulang dari Salon Djatmiko, aku bertanya pada Mama, “Ma, ini nanti keritingnya ilang kan setelah mandi?”

Mama tersenyum. Sambil mengusap rambutku ia bilang, “Yo ora langsung ilang, Le! Tapi gak papa! Hasilnya bagus kok! Nanti sebulan lagi udah mulai lurus meneh kok…”

Keesokan paginya aku menyiapkan hati untuk menerima reaksi dari kawan-kawan di sekolah atas rambut ikalku. Di depan kaca pagi itu aku bicara pada diri sendiri bahwa aku akan baik-baik saja dengan rambut ikalku.

Sepeda BMX Putih

Di kali lain, tiba-tiba aku merengek pada Papa bilang bahwa sepeda BMX-ku sudah mulai tak nyaman dipakai padahal sepeda itu belum berumur lebih dari dua tahun sejak dibeilkan Papa.

“Kenapa emangnya?” tanya Papa.

“Stangnya udah gampang kendor… trus aku sering jatuh kalau naik sepeda!” jawabku. Papa pun mengecheck sepeda. “Kayaknya semua ok kok Don…”

Aku geleng-geleng. “Pa, aku kemarin lihat ada sepeda BMX bagus warna putih! Aku pengen ganti sepeda!”

Seperti halnya Mama, Papa selalu takluk kalau anak sulungnya ini meminta sesuatu. Ia pun tak kuasa menolak. Di hari minggu berikutnya, Papa mengajakku ke toko sepeda Ban Liong yang letaknya di depan Pasar Kebumen. Sepeda BMX putih yang kuimpikan pun kudapat. Keesokan harinya, sepanjang jalan hingga ke sekolah, sepeda BMX ku jadi tontonan orang-orang yang kulintasi. Tak seperti anak-anak lain yang merasa risih atau takut ketika jadi perhatian orang, hatiku berdebar-debar bangga karena jadi pusat perhatian. (Sepeda BMX putih ini ternyata mengesankan seorang kawan lamaku. Dalam percakapan via Whatsapp beberapa waktu lalu, ia ingat bagaimana aku tampak beda karena ketika anak-anak lain masih naik sepeda mini ataupun jengki, aku sudah tampil beda dengan sepeda BMX warna putih yang gagah!)

Rambut Ala Tong Po

Ketika duduk di bangku SMP kasusnya lain lagi. Ada masanya aku tergila-gila pada film Kickboxer yang dibintangi Jean-Claude Van Damme. Dalam film itu, ada sosok antagonis bernama Tong Po yang diperankan oleh Michel Qissi. Bersama Mas N, sosok yang mengajariku nonton film bokep untuk pertama kalinya dulu, aku diajak memotong rambut supaya mirip Tong Po.

Menggunakan pisau cukur aku memotong rambut bagian depan dan… alis mata. Ya! Kalian gak salah baca.. alis mata!

Mama pun marah besar melihat semuanya itu. “Kamu itu katanya gak suka dipanggil Cunong karena bathukmu nonong! Tapi kalau kayak gini, kamu pikir mereka akan memanggil kamu apa?!”

Foto di bawah diambil sekitar sebulan setelah aku potong rambut model “Tong Po” itu tanpa alis dan lihatlah bagian atas jidat yang lebih putih. Itu adalah bekas potongan menggunakan pisau cukur.

Sepatu Micky Mouse

Di kelas dua SMP, aku cari gara-gara lagi. Saat kawan-kawan lain memilih membeli Eagle atau merek-merek lain yang cenderung memiliki potongan rendah, aku tiba-tiba memilih Kasogi yang memiliki leher sepatu tinggai melebihi kemiri. Modelnya pun tidak ramping dan memiliki sol cukup tebal. Di Kebumen, sepatu model seperti itu belum lah dikenal awam.

Papa dan Mama sempat bertanya meyakinkan apakah aku serius memilih sepatu itu? Aku mengangguknya. Aku tahu hal ini akan bikin aku tampak beda dibandingkan dengan kawan lain tapi dasarnya, sejak dulu aku memang suka untuk jadi beda ya tak mengapa.

Keesokan paginya, nama panggilanku bertambah satu, Mickey Mouse! Kok bisa? Kepala dan jidatku besar, badanku kurus, sepatunya besar! Tapi itu tak lama, beberapa minggu kemudian mulai ada beberapa orang teman yang mengikuti jejakku, membeli sepatu model tinggi untuk dikenakan sehari-hari.

Hobi dandan atau lebih tepatnya bereksperimen terhadap penampilan berlanjut hingga sekarang saat umurku 46 tahun.

Tanpa dandan aneh-aneh pun sebetulnya aku sudah tampak tidak umum dengan lubang di telinga berdiameter 2.6cm dan tattoo hingga ke leher ditambah lagi dengan udeng/iket kepala Jawa yang selalu kukenakan bahkan ketika bekerja.

Aku tak pernah membiarkan wajah dan tubuhku tampil dan menggunakan pakaian seadanya. Aku jadi ingat apa yang dikatakan mantan bossku dulu, “Kamu selalu in style setiap harinya dan kita sangat menghargai itu. Itu artinya kamu memikirkan sejak dari penampilan kamu.. apa yang terbaik yang bisa kamu berikan hari ini…”

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.