[Tentang Kebumen] Orang Kaya Baru

2 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Beberapa hari setelah pindah ke Kebumen, Papa dan Mama mendaftarkanku untuk melanjutkan sekolah di TK Pius Bhakti Utama yang berjarak tak terlalu jauh dari rumah. (foto di bawah ini, aku berseragam TK Pius difoto di depan rumah)

Letaknya bersebelahan dengan SMP Pius Bhakti Utama di sisi barat sementara tak jauh darinya di sisi timur ada toko buku dan photocopy Dewi, milik orang tua salah satu kawan TK waktu itu, Agus Purwanto alias Wawan. Wawan pada akhirnya jadi teman di SD dan SMP. Bahkan hingga saat tulisan ini kurawi, aku masih sering berhubungan dengannya. Ia jadi pengusaha di jogja dan banyak temannya (dan kawan bisnisnya) adalah teman-temanku saat tinggal di Jogja dulu.

Di depan TK Pius ada kantor tempat untuk mengirim telegram (jasa layanan pengiriman informasi tertulis menggunakan mesin telegram) dan ada rumah makan kecil di sisi baratnya, Eka Rasa milik keluarga kawanku TK -SD dan SMP, Agus Mulyono Tanojo. Selain itu tak banyak yang bisa kuingat waktu itu tentang masa belajarku di TK Pius selain ruang kelas yang kecil serta taman bermain yang juga tak besar dibandingkan dengan TK Maria Assumpta Klaten.

Meski demikian, rasa sepi akibat belum punya teman seakrab teman-teman di Klaten masih terus menguasai terutama setelah pulang sekolah. Untuk itu, Mama mengenalkan aku dengan Fathur dan Faisol, anak Pak Sirwani M.K. Fathur kalau tidak salah satu tahun di bawahku sementara Faisol lima tahun lebih muda dariku.

Mereka berdua kemudian jadi kawan mainku mula-mula dan mengenalkannya kepada anak-anak Pak Eko Pawitno yang seumuran (Umi, almh. Umul, Aris dan Heri), Koko, Bambang, Budi, Agung, Anto, Mitro dan beberapa yang lain lagi.

Meski Kebumen dan Klaten hanya berjarak sekitar 125 km, cara bermain dan apa yang dipermainkan anak-anak waktu itu sungguhlah berbeda. Tapi tak ada yang lebih berbeda selain dialek bahasa Jawa yang digunakan.

Awalnya tak semua apa yang mereka katakan bisa kumengerti dan sebaliknya. Tapi lama-kelamaan kami saling mengerti dan aku justru yang paling bisa ngapak (dialek khas Kebumen) di rumah bahkan dibandingkan Papa sekalipun yang sudah sekitar dua tahun tinggal di Kebumen lebih dulu dari kami.

Ketika Papa belum memiliki kendaraan pribadi, waktu menawar ongkos becak, akulah yang diminta Papa dan Mama untuk menawar.

Nah, bicara soal kendaraan pribadi, di awal kepindahan, kami bergantung pada jasa tukang becak. Rumah kami pun kosong melompong. Tapi sekitar dua bulan sesudahnya, di sebuah hari minggu, Papa mengajak Mama dan aku untuk pergi membeli beberapa perlengkapan.

Keterangan photo: Ruang tamu Rumah Bengawan

Kupikir sebelumnya Papa hanya hendak membeli kasur atau kompor, tapi nyatanya lebih dari itu.

Dalam satu hari itu, Papa membeli televisi berwarna ukuran 20 inch merk Quintrix yang konon adalah televisi bewarna pertama di kampung dan video betamax cassette player merk Sony SL-C30.

Dua set kursi berikut meja, masing-masing untuk ruang tamu dan ruang keluarga. Satu buffet yang jadi pembatas kedua ruang tersebut. Dua dipan berukuran besar lengkap dengan kasur busa untuk kamar tidur tengah dan kamar tidur depan (dan itu jadi pengalaman pertama bagiku tidur menggunakan kasur busa).

Keterangan photo: Aku dan Papa di ruang tengah. Kursi ini seingatku adalah pinjaman dari Pak Ruslan, pemilik rumah yang kami kontrak

Untuk ruang makan, Papa membeli satu set meja dan kursi makan yang hingga saat ini masih digunakan Chitra, adikku, dan keluarga di Klaten.

Meja belajar serta rak buku yang dipasang di sudut ruang makan pun dibelinya. Serta kulkas yang sama halnya dengan kasur busa, jadi kulkas pertama yang kumiliki dalam hidup.

Di sudut yang lain dari ruang makan, Papa menempatkan tape deck (cassette player) lengkap dengan amplifier dan speaker yang dibawa dari kamar kostnya waktu pindahan ke rumah kontrakan kami.

Papa juga membeli setrika listrik setelah sebelumnya di Klaten Eyang selalu pakai setrika berbahan bakar arang, lengkap dengan meja setrika lipat yang menurutku waku itu sudah sangat modern.

Untuk keperluan dapur, Papa membelikan Mama kompor gas serta dispenser penyimpan beras bermerk Cosmos yang sering aku mainkan karena suka dengan suara beras yang keluar dari penyimpan yang kalau dalam bahasa anak jaman sekarang, Autonomous Sensory Meridian Response alias ASMR.

Untuk kendaraan, Papa membeli Honda Astrea 800 yang jadi prototype motor Honda seri Astrea dan waktu itu bisa dibilang motor canggih dan keluaran terbaru. Oh ya, aku juga dibelikan sepeda dengan roda pembantu di kiri kanan untuk berlatih.

Lalu darimana Papa mendapat uang sebegitu banyak dalam sehari hingga semua mampu kami beli?

“Ngutang kantor, Le…” jawabnya kepadaku yang waktu itu belum mengerti benar konsep bekerja, kantor dan… ngutang.

Sejak saat itu, banyak yang memperhatikan keluargaku sebagai keluarga yang baru pindah, bahasanya bandek (Jogja – Solo), beragama Katolik (Papa waktu itu masih muslim tapi abangan sementara di kampung hanya ada dua keluarga Katolik)  tapi kaya karena mampu membeli semuanya dalam sekejap. 

Tak lama sesudahnya, kabar tentang iri hati dari tetangga karena keberadaan kami pun merebak. Saking irinya, ada tetangga yang tak lama kemudian membeli semua barang yang kami beli! 

Jika mengingat itu semua, boleh dibilang yang membawa modernisasi di kampung Kauman, Kebumen, salah sedikitnya adalah keluarga Papa dan  tentu saja aku termasuk ada di dalamnya hahaha…

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. siplah kebumen ncen ngangeni pol , wah sebelum di Kaswari ternyata pernah tinggal di kauman yo dek, kalau soal iri dan dengki sejak jaman dulu sampai sekarang yo masih ada loh, apalagi klu tinggal di kampung , ngga punya alias miskin diejek, kaya sedikit ada yang iri, kerja dimana jadi apa kok bisa apa ngingu tuyul apa jadi babi ngepet, ha ha ha suamiku pernah dibuntuti loh sama tetangga sebelah rumah dia kepo pengin tau dimana kerjanya, padahal kalau pagi tu kami nganter anakku sekolah sebelum ngantor, kami berangkat bersama biar irit , jarak rumah baruku nyicil di BTN ke kantorku 20 , sekolah anakku dekat kantorku, mau2 nya ya dia minta bapaknya nganter pakai motor mbuntuti mobil kami sejauh itu

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.