Tag: 2024

  • Memori Baik, Sebuah Review

    Memori Baik, Sebuah Review

    Memori Baik, single terbaru Sheila on 7 yang rilis beberapa minggu lalu itu menurutku memang benar-benar single yang baik.

    Secara tema, aku melihatnya sebagai “sambungan” dari lagu Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan yang mereka rilis dua puluh empat tahun silam.

    Kalau kalian masih ingat penggalan lirik Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan,

    Bersenang-senanglah
    Karna hari ini yang kan kita rindukan
    Di hari nanti sebuah kisah klasik untuk masa depan

    Maka “hari ini” yang ditunjuk di lirik tersebut mengacu pada kata “di saat muda” di penggalan lirik Memori Baik di bawah ini:

    Album foto berdebu,
    memori membawaku kembali di saat muda pula bodoh,
    indah penuh cerita

    Secara lagu, Memori Baik itu Sheila on 7 banget!

    Pilihan diksi yang ditulis itu ya Eross banget. Aku gak bisa menjelaskan dengan huruf dan kata untuk kalian . Tapi penggalan-penggalan seperti:

    “Kami di sini kirim rindu yang sama”
    “Seperti bintang tertutup awan”
    “Jadi cahaya jalan di depan”

    Itu Eross!

    Secara musik, lagu ini membawa karakter yang sama yang dimainkan Sheila sejak era 507 (2006) atau kalau mau yang lebih pas lagi ya sejak Menentukan Arah (2008).

    Sound bass Adam ya tetap kayak gitu, mambu Billy Sheehan. Sound gitar dan pilihan notasi Eross ya kayak Eross sejak dulu meski konon kudengar kali ini dia bener-bener direct ke Fractal! Ini harus dirayakan karena Eross bertobat! :)

    Sementara drum-nya agak sulit untukkku membedakan ini yang main Bounty atau jangan-jangan masih si Brian karena karakternya sama hahahaha ? ;)

    Satu-satunya pembeda, dan ini baik, adalah munculnya Aishameglio (Aisha) yang menjadi backing vocal bapaknya. Menyanyikan lirik dan notasi yang sama tapi beda oktaf selalu menjadikan lagu jadi lebih berdinamika. Hal ini membuatku teringat pada Kau Curi Lagi -nya J-Rock duet dengan Prisa yang juga pernah jadi mantan pemain gitar tamu Sheila on 7 era 2006 setelah Shakti hengkang.

    Kehadiran Memori Baik ini memberi kesan yang sangat baik untukku. Aku sukses terlempar masa lalu, masa di mana Sheila on 7 muncul, masa yang letaknya sudah sekitar dua puluh enam tahun yang lalu.

    Bukan! Bukan lantas karena aku tak mensyukuri dan menganggap hidup masa kini lebih tidak enak dibandingkan masa lalu.

    Tapi ibaratnya, Memori Baik ini seperti aku yang di Australia dan terbiasa makan burger, steak, pizza dan aneka makanan internasional lainnya tiba-tiba Sheila on 7 hadir membawakan semangkuk soto gajih (lemak) lengkap dengan kuah panas dan sesendok sambel di atasnya. Makanan yang dulu kukudap setiap pagi dengan penuh peluh dan keringat di warung emperan kota yang menghadirkan seribu cerita, Yogyakarta!

    Nuwun Dabs!

  • Foto Terbaik Tahun 2024

    Foto Terbaik Tahun 2024

    Fix! No debat!
    Bagiku, foto di atas adalah foto terbaik sekaligus terindah tahun ini!

    Kalau kalian kesulitan untuk membaca tulisan di dua kertas dalam foto itu, baiklah kutulis ulang di bawah ini.

    Kertas pertama bertinta biru berisi tulisan,
    “Doni (Donny) minta didoakan supaya dapat kerjaan lagi. Habis kena PHK!

    Kertas di bawahnya, sepertinya ditulis menggunakan pensil bertuliskan,
    “Nyuwun doanya ya Eyang. Buat Ayok suami Citra. Hari ini operasi tulang belakang.”

    Orang yang menuliskan pesan di atas kertas itu adalah orang yang sama yang memotret foto di atas, Yohanna Widiyatmi, adik kandung almarhumah Mama yang akrab kupanggil Mbak Yo.

    Lalu bagaimana foto itu bisa terjadi?
    Seperti kutulis dalam tulisan sebelum ini, aku sempat kehilangan pekerjaan pada 9 September 2024. Sekitar seminggu setelah peristiwa itu, Chitra, adikku, mengabarkan hal yang tak kalah mendebarkannya, Ayok, suaminya, harus diloperasi tulang belakangnya.

    Kami berdua sama-sama bingung tentu saja. Siapa yang harus mendengarkan keluhan milik siapa, siapa pula yang mampu memberi masukan saat kami berdua sama-sama perlu masukan untuk penyelesaian persoalan!

    Lalu aku menyarankan satu hal pada Chitra, “Minta doain Eyang, Chit! Kalau bisa sebelum Ayok dioperasi…” Chitra mengikuti saranku.

    Ia lantas menelpon Mbak Yo untuk menyampaikan pesan kepada Eyang Putri yang saat ini berusia 94 tahun dan tinggal bersama keluarga Om Dahyo dan Mbak Yo di Bekasi sana.

    Secara fisik, Eyang sehat-sehat saja. Tapi pendengaran beliau sudah jauh sangat berkurang meski kalau soal baca jangan tanya! Eyang masih sangat aktif membaca buku, apapun itu.

    Oleh karenanya, mungkin ketimbang harus teriak-teriak supaya Eyang mendengar, Mbak Yo lantas menuliskan pesan di atas kertas diletakkan di kursi dorong yang digunakan Eyang sehingga ia bisa merespon dan mendoakannya.

    Apa yang dilakukan Chitra itu menggerakan hatiku untuk melakukan yang sama, minta didoakan Eyang. Waktu itu, dua minggu sesudah kehilangan pekerjaan, aku memang belum punya kekuatan hati untuk menyampaikan kabar kehilangan pekerjaan kepada keluarga besar baik dari pihak almarhumah Mama maupun almarhum Papa.

    Aku mengambil keputusan. Saat itu juga aku menelpon Mbak Yo dan memecahkan kabar itu kepadanya.
    “Tolong sampaikan ke Ibuk ya, Mbak Yo! Doakan aku supaya dapat pekerjaan baru secepatnya!” Ibuk adalah caraku memanggil Eyang Putri sejak dulu.

    Maka terjadilah pesan itu ditulisnya.
    Terjadilah pula Ibuk mendaraskan doa.
    Terjadilah pula kepadaku atas kehendak Tuhan, tujuh puluh hari sesudah kehilangan yang lama aku mendapatkan yang baru.

    Kondisi Ayok pun terus membaik. Saat ini meski dalam pemulihan tapi ia sudah bisa beraktivitas seperti biasa termasuk nyetir dan ke kantor untuk bekerja!

    Terpujilah nama Tuhan!

  • Pelajaran-pelajaran Tentang Kehilangan Pekerjaan

    Hari ini adalah hari ke-70 setelah aku kehilangan pekerjaan. Lusa adalah hari dimana aku akan mulai pekerjaan baru di perusahaan yang baru pula.

    Ya! Dua bulan belakangan aku memang unemployed, sesuatu yang sebenarnya sudah kutebak dan tidak mengagetkan tapi tetap saja bikin grogi gak keruan saat akhirnya kejadian! Ini bukan kali pertama! Pernah aku kehilangan pekerjaan di tahun 2010, dua tahun sesudah pindah ke Australia.

    Kenapa aku tidak kaget?
    Dua hal. Pertama, karena aku meletakkan pekerjaan sebagai sebuah interaksi bisnis antara pemilik usaha dan pegawai. Ibaratnya, kalau aku bisa bilang ke atasan bahwa mulai besok aku gak balik kerja karena aku mendapatkan pekerjaan baru, kenapa yang sebaliknya tidak boleh terjadi apapun alasannya?

    Kedua, ditambah lagi keadaan krisis ekonomi dunia yang berakibat ada banyak pemutusan hubungan kerja di sana-sini… jadi benar-benar nggak kaget meski tetap bikin dag-dig-dug dan seperti ada puluhan kupu-kupu berkeliaran di perutku dalam dua bulan terakhir ini!

    Dari apa yang kualami dan kurenungkan, berikut adalah hal-hal yang bisa jadi catatan. Siapa tahu kamu atau kerabatmu membutuhkan.

    Sadari

    Semenit setelah unemployed, aku segera melakukan realisasi bahwa itu bukan mimpi bukan pula sesuatu yang bisa ditawar. Penyadaran bahwa kita kehilangan pekerjaan ini penting sebagai langkah awal untuk menghadapi kenyataan.

    Maka sebaiknya hindari pikiran-pikiran seperti:

    Ah, besok kukontak lagi deh Si Bos! Siapa tahu berubah pikiran?!
    Ah, ini pasti ada yang salah! Coba aku check ke kenalan-kenalanku di perusahaan siapa tahu bisa mengubah keputusan!

    Kamu sudah kehilangan pekerjaan.
    Sadari! Hadapi! Titik!

    Berhentilah mengasihani diri sendiri!

    Aku menghindari untuk mengasihani diri sendiri karena dua hal, aku tidak melakukan kesalahan sehingga patut dikasihani dan yang kedua aku tak mau jadi kehilangan daya dan api hanya karena aku merasa kecil, lemah dan layak dikasihani!

    Kawanku bercerita waktu ia mengalami hal serupa, tiga malam ia tak nyenyak tidur karena tak bisa berhenti mengasihani bahkan mengutuk diri sendiri.

    Malam pertama kehilangan pekerjaan, aku tidur seperti biasa dan malah bangun siang. Hal pertama yang kurasakan setelah bangun pagi keesokan paginya, “Busyet! Kapan ya terakhir kali aku tidur selama dan seenak ini?!”

    Bukan yang pertama, bukan pula yang terakhir

    Jangan merasa kamu adalah satu-satunya orang di dunia yang sedang mengalami celaka! Kamu bukan yang pertama dan kamu bukan pula yang terakhir yang kehilangan pekerjaan.

    Karena kehilangan (dan mendapatkan) pekerjaan adalah hal lumrah dalam dunia kerja.

    Pemahaman ini penting supaya kita bisa merasa tidak sendirian tapi sekaligus juga jadi pengingat bahwa kompetitormu gak sedikit buat cari kerja selanjutnya! Waspadalah!

    Berhitung dan tentukan langkah

    Kehilangan pekerjaan berarti kehilangan pemasukan. Aku memang menerima pesangon tapi tentu terbatas. Maka sejak sore aku pulang ke rumah, hal yang pertama kulakukan adalah berdiskusi dengan istri dan berhitung bagaimana mengelola pesangon supaya bisa bertahan lama.

    Bagaimana membayar tagihan dan cicilan bulanan? Hal-hal apa saja yang perlu disesuaikan terkait kejadian ini dan jika memang perlu untuk melakukan tindakan-tindakan darurat, misalnya pinjam uang atau menjual aset, hitung juga bagaimana implikasi dan benefitnya secara mendetail.

    Cari kerja

    Aku memilih untuk tidak mengambil jeda. Bahkan dalam perjalanan pulang dari kantor untuk yang terakhir kalinya, aku sudah langsung mencari pekerjaan secara online!

    Sejak dua bulan lalu, total aku sudah melamar 128 pekerjaan. Dari sebanyak itu, 127 menolak dan hanya satu yang menerima yang kutandatangani kontraknya minggu lalu.

    Lalu bagaimana cara mengelola perasaan ketika ditolak dalam pekerjaan?
    Aku harus berterima kasih pada banyak cewek yang dulu menolakku sebagai pacar karena hal itu membuatku mudah untuk menerima penolakan hingga sekarang!

    Lagipula, mari berpikir taktis dan logis! Kalau kamu melamar 1000 pekerjaan, apa kamu mengharap semuanya menerimamu? Kan tidak! Kamu hanya perlu satu lamaran yang berhasil, kan? Jadi kalau merasa selalu ditolak selama ini, berpikirlah bahwa dari semua itu belum ada yang terbaik untukmu. Terus maju! Terus mencari!

    Kelola interaksi

    Semenit setelah melewati gate kantor untuk yang terakhir kalinya, orang pertama yang kuberitahu bahwa aku kehilangan pekerjaan tentu Joyce, istriku kemudian keluarga besarku.

    Selanjutnya adalah orang tua baptis kedua anakku, beberapa mantan rekan kerja serta kawan-kawan lain yang kuanggap dekat yang jumlah tidak banyak, tidak lebih dari sepuluh seingatku.

    Aku tidak pernah mempublikasikan secara terbuka bahwa aku kehilangan pekerjaan.
    Kenapa? Karena aku tak mau mood yang sedang kutata, strategi yang kuterapkan hancur karena semua orang tahu bahwa aku sedang kehilangan pekerjaan.

    Kecuali kalau kamu siap untuk ditanya

    “Duh, kok bisa? Gimana ceritanya?”
    “Oh, gue tahun lalu juga kena!

    Loe mesti siap dana sekian supaya aman kayak gue, Bos!”
    “Wah, ini jaman lagi gak enak… moga-moga ok semua ya!”

    Ya lebih baik gak usah memberitahu secara terbuka.

    Lho tapi kalau kita mempublikasikan lantas kita akan dapat pekerjaan dari mereka!
    Ya, kalau pada akhirnya harus seperti itu ya nggak papa, tapi sekali lagi, ingat implikasi buruknya juga ya…

    Terus merasa berguna

    Kehilangan pekerjaan sangat rentan membuatku merasakan hal yang sangat kubenci yaitu merasa tidak berguna.

    Untuk menghindari hal itu, bahkan sejak malam hari tanggal 9 September 2024 aku sudah langsung bersiap untuk showcase meeting dengan salah satu client freelance-ku di Jakarta. Keesokan paginya aku langsung berkebun, bersih-bersih rumah dan banyak hal lain lagi yang kulakukan. Semakin aku sibuk dan merasa berguna, semakin aku jadi tidak berkecil hati.

    Tuhan

    Mungkin ada dari kalian berpikir, “Ah, kalau lagi apes aja loe inget Tuhan!”

    Sebenarnya nggak juga karena apes-nggak apes aku berusaha terus sadar pada penyertaan Tuhan. Tapi memang tidak bisa kupungkiri, masa kehilangan pekerjaan kemarin adalah masa dimana aku semakin khusyuk untuk bersekutu di dalam Dia.

    Dalam perjalanan pulang pada 9 September 2024 silam, Gereja adalah bangunan yang kutuju untuk berdoa di sana. Perasaan masih bergejolak tentu saja dan doaku tidak fokus sama sekali tapi ya nggak papa, yang penting Tuhan tahu bahwa aku datang ke tempat terbaik yang bisa kudatangi waktu itu.

    Keesokan paginya, aku mendaraskan novena tiga salam maria setiap hari. Kalau kalian followerku di Instagram, pasti noticed bahwa akhir-akhir ini aku selalu menghitung hari “1st day, 2nd day dan seterusnya” Banyak yang bertanya-tanya aku lagi ngitung apa? Hanya satu yang kujawab karena ia bertanya satu pertanyaan yang paling tepat, “Lagi novena ya Bung?” Aku menjawab “Iya!”

    Sesekali aku juga ber-rosario harian dan selalu mendaraskan Salam Maria ketika misalnya hendak melamar pekerjaan atau untuk meredakan perasaan ketika cemas, takut dan amarah tiba-tiba muncul tanpa permisi!

    Tulisan ini juga sekaligus kujadikan sebagai pemenuhan janjiku kepada Tuhan dan Bunda Maria bahwa aku akan mengabarkan kabar baik kepada publik ketika permohonanku terkabul!

  • Mendhem Jero Mikul Dhuwur

    Mendhem Jero Mikul Dhuwur

    Rejim sudah berganti sejak 20 Oktober 2024 silam namun pepatah Jawa mikul dhuwur mendhem jero masih belum sepenuhnya hilang dari berbagai media. Kehadirannya seolah mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin yang lengser adalah pemimpin yang patut kita junjung tinggi nama dan jasa-jasanya terlepas dari kesalahan-kesalahan yang pernah diperbuat selama ia memimpin.

    Hal ini sebenarnya bukan sesuatu yang istimewa. Penghormatan kepada orang tua termasuk pemimpin yang lengser tidak hanya ada dalam budaya Jawa saja. Dalam khasanah kebudayaan Cina, Jepang, Timur Tengah bahkan barat, ajakan untuk menghormati orang tua adalah hal jamak yang mudah kita temukan.

    Tapi meski demikian, untuk lebih memahami ke-khas-an ajaran tersebut dalam budaya Jawa, memahami istilah mikul dhuwur mendhem jero adalah salah satu hal yang bisa kita lakukan.

    Soeharto

    Istilah mikul dhuwur mendhem jero pertama kali dikenal penulis pada saat menjelang dan sesudah Presiden Soeharto lengser dari jabatan, 21 Mei 1998. Di tengah seruan yang digelorakan para aktivis dan pendemo kala itu terkait penolakan terhadap korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) yang kerap dialamatkan kepada Pak Harto dan kroni-kroninya, ada gelombang lain yang menggemakan mikul dhuwur mendhem jero terkait pentingnya untuk mengingat jasa baik Pak Harto bagi negara selama lebih dari tiga puluh tahun ia memerintah.

    Pada akhirnya, Pak Harto memang diajukan ke pengadilan. Tapi karena kondisi kesehatannya yang tidak memungkinkan, pada bulan Mei 2006, Jaksa Agung mengeluarkan surat keputusan penghentian penuntutan perkara (SKP3) untuk kasus tersebut.

    Lalu apa makna mikul dhuwur mendhem jero yang sebenarnya?

    Dalam riset singkat yang dilakukan penulis ketika menyusun tulisan ini, referensi justru muncul dari apa yang diucapkan Pak Harto sendiri. Seperti dipaparkan dalam buku “Soeharto, Pikiran, Ucapan dan Tindakan” yang ditulis G. Dwipayana dan Ramadhan KH, di halaman 165-169, dituliskan dalam sebuah kesempatan, Pak Harto dan Bung Karno berbincang empat mata di awal tahun 1966. 

    Saat itu keadaan sosial politik Tanah Air memang sedang mengalami gonjang-ganjing sebagai buntut dari peristiwa berdarah G30S,1 Oktober 1965.

    Bung Karno bertanya kepada Pak Harto dalam Bahasa Jawa, “Harto, Jane aku iki arep kok apakke?” (Harto, sebenarnya aku ini akan kamu apakan?) Aku ini pemimpinmu”

    Pak Harto lantas mengemukakan istilah mikul dhuwur mendhem jero itu.

    Mikul dhuwur, artinya kita harus menghurmati orang tua dan menjunjung tinggi nama baik orang tua.

    Mendhem jero, artinya segala kekurangan orang tua itu tidak perlu ditonjol-tonjolkan. Apa lagi ditiru!. Kekurangan itu harus kita kubur sedalam-dalamnya, supaya tidak kelihatan.

    Mana yang lebih dulu?

    Mikul dhuwur dan mendhem jero adalah dua hal yang berbeda dan jika apa yang dikatakan Pak Harto itu kita anggap sebagai definisi yang sebenarnya, maka yang perlu kita pertanyakan adalah hal mana yang harus kita lakukan terlebih dahulu? Mikul dhuwur dulu lalu mendhem jero atau sebaliknya, mendhem jero untuk kemudian mikul dhuwur?

    Ibaratnya jasad, pemimpin yang akan kita junjung tinggi adalah pemimpin yang seharusnya sudah dibersihkan terlebih dahulu dari kesalahan-kesalahannya melalui proses mendhem jero yang seksama sehingga ketika akan di-pikul dhuwur, beban pikulan akan terasa lebih ringan.

    Dalam sudut pandang lain, ketika seorang pemimpin kita junjung tanpa di-pendhem dulu kesalahan-kesalahannya, yang akhirnya dijunjung bukan hanya jasa baik tapi juga kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan yang ikut terjunjung. 

    Oleh karena itu adalah penting untuk menempatkan mendhem jero sebelum kita mikul dhuwur sebagai hasil dari sebuah proses pikir yang runut. Keberanian kita untuk melakukan proses mendhem jero adalah kunci sukses menjalankan ajaran budaya ini.

    Dalam mendhem jero, kesalahan yang dilakukan si pemimpin harus dinyatakan, dipelajari bahkan jika perlu dimintakan pertanggungjawabannya di muka hukum  untuk kemudian bisa kita jadikan pelajaran berharga bagi bangsa dan negara supaya hal-hal buruk itu tak terjadi lagi dan tidak ditiru oleh pemimpin-pemimpin berikutnya.

    “Yang sudah biarlah sudah”

    Sayangnya, dalam beberapa kesempatan, hal seperti ini tidak terjadi sebagaimana mestinya. Orang-orang cenderung tidak ingin bicara tentang kesalahan dan maunya fokus pada jasa-jasa baik saja. 

    Sikap permisif yang muncul untuk mengabaikan kesalahan melalui ungkapan seperti “Yang sudah biarlah sudah” atau “Yang bersangkutan toh sudah minta maaf” kerap dijadikan sebagai alasan untuk menutup proses mendhem jero.

    Padahal, seharusnya tidak semudah itu. Pemaafan bisa diberikan tapi proses pencarian kebenaran terhadap substansi kesalahan di masa lalu tetap harus dituntaskan.

    Orang pertama yang seharusnya bisa mengambil inisiatif untuk memulai proses mendhem jero ini adalah pemimpin yang hendak lengser itu sendiri.

    Adalah baik bagi si pemimpin untuk berani meminta maaf di akhir masa jabatan karena itu berarti ia secara tidak langsung mengakui bahwa sebagai manusia, ia tidak sempurna. Tapi alangkah lebih baiknya lagi kalau permintaan maaf itu disertai dengan pengakuan atas kesalahan demi kesalahan secara detail sehingga masyarakat pun tidak sembarang memberikan maaf.

    Nama si pemimpin pun akan kembali baik setidaknya karena yang bersangkutan memiliki sikap ksatria.

    Sebaliknya, pemimpin yang tak berani mengakui kesalahan walau sudah meminta maaf adalah pemimpin yang bersama kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukannya akan menjadi momok yang menghantui perjalanan bangsa dan negara ke depannya.

    Namanya akan sulit dilupakan seiring berjalannya waktu. Jasa-jasa baiknya mungkin tetap akan dikenang tapi yang lebih mungkin lagi, masyarakat tetap tak bisa melepaskan citranya dari kesalahan-kesalahan yang pernah dilakukan tapi tak pernah diakuinya apalagi diselesaikan secara tuntas.

  • Sepeda Federal

    Sepeda Federal

    Sejak kecil,hingga kini, aku memang terbiasa memperhatikan betul tentang apa dan bagaimana aku berpenampilan di antara orang-orang di sekitarku.

    Jika orang berprinsip bahwa yang penting isi bukannya penampilan, aku tidak menentang ide itu tapi melengkapinya bahwa baik isi dan penampilan sama pentingnya. Karena untuk tertarik melihat isi, seseorang harus dipikat dulu dengan penampilan kita!

    Untuk itu aku merasa harus menonjol dari yang lain. Tak harus menggunakan barang mahal tapi beda. Tak sembarang beda tapi berkelas dan memiliki keunikan yang aku harus yakin tak bisa disamai dengan mudah oleh yang lainnya. Memiliki sepeda keren adalah salah satunya. Sepeda tak hanya kujadikan sebagai alat transportasi tapi juga penanda beda dibanding kawan-kawan yang lain.

    Setelah sekitar tiga tahun mengendarai BMX Jemboly warna putih, di awal 1991, beberapa bulan setelah luka sunatku kering, Papa membelikan sepeda ber-stang lurus yang mulai ngetrend waktu itu. Orang-orang menyebutnya sebagai “sepeda federal.”

    Federal sebenarnya merk dan waktu itu jadi merk generik atau eponim dalam istilah tata-bahasa karena ia jadi pemula di Indonesia dalam khasanah sepeda berstang lurus lengkap dengan pengatur multi-kecepatan berbasis gir dan rantai.

    Adapun yang memiliki sepeda federal di Kebumen masih belum banyak waktu itu. Hanya satu-dua yang kulihat bersliweran di jalan-jalan protokol Kebumen dan hal itu menarik perhatian orang-orang di sekitarnya. Tapi hal itu sebenarnya bukan pendorong utama kenapa aku kemudian minta dibelikan sepeda federal. Adalah Agung PS, kawan dekatku di sekolah yang sudah menjadi early adopter, pemilik mula-mula sepeda federal di sekolah.

    Tak butuh waktu lama untuk membujuk hati Papa. Ia mendukung karena tak mau melihat anaknya yang semakin tinggi badannya ini membungkuk saat menaiki sepeda BMX yang cukup pendek. Tapi persoalannya adalah, di kota Kebumen belum ada dealer atau toko yang menjual sepeda federal.

    Setelah beberapa hari mencari solusi, Papa menemukan dealer sepeda federal terdekat justru ada di Gombong, kecamatan yang jadi bagian Kebumen, sekitar 20 kilometer jauhnya dari rumah.

    Di hari berikutnya,  sore sepulang kerja, Papa membawa kabar gembira. “Don! Papa mau awan wes tekan Gombong, mbayar sepeda federalmu. Minggu isuk tinggal dijukuk neng Gombong, Le…”

    Senangku bukan kepalang. 

    Membayangkan menjadi orang kedua di sekolah yang mengendarai sepeda federal tentu akan sangat menyenangkan!

    Tapi ada yang menarik tentang bagaimana Papa merencanakan membawa sepeda federal itu ke rumah.

    Kupikir sepeda itu akan dipaketkan ke rumah atau setidaknya Papa akan menyewa mobil dengan bak terbuka untuk mengangkut sepeda karena bagasi mobil kami pribadi tidak akan cukup untuk dimasuki sepeda sebesar itu! Tapi Papa ingin mengendarai sepeda itu langsung dari Gombong ke Kebumen.

    Mama tentu tak setuju! Ia memikirkan jarak dan keselamatan suaminya mengingat jalan Gombong – Kebumen adalah jalur arteri yang dilalui berbagai macam kendaraan termasuk beraneka ragam ukuran bis dan truk-truk pengangkut barang!

    Tapi sebagaimana aku, Papa adalah orang dengan kepala batu. Keinginannya tak bisa dibendung.

    Diam-diam aku dan Mama menyusun rencana. 

    Aku dan Papa akan menyertakan seorang kawan Papa menggunakan mobil pergi ke Gombong. Sampai di sana, Papa mengendarai sepeda dan kami mengiringnya dari belakang. 

    Ide lain lagi, kami akan mengajak  dua orang kawan. Kawan yang satu mengantarku pulang  sementara kawan yang satunya, mengendarai motor mengiringi Papa bersepeda sampai ke Kebumen.

    Tapi ide-ide itu ditolak Papa mentah-mentah.

    “Wes ra sah angel-angel. Awake dewe numpak bis ke Gombong. Donny bali nge-bis, aku numpak sepeda!”

    Ya sudah, terjadilah!

    Minggu pagi kami menumpang bus ke Gombong. Sesampainya di dealer sepeda, setelah memilih warna kombinasi putih dan biru muda, kami menunggu mereka mempersiapkan sepeda supaya bisa dinaiki dan setelah selesai, Papa langsung menaikinya begitu saja dan aku pulang menggunakan bus seperti rencana. 

    Hingga aku sampai di rumah sekitar satu jam sesudahnya dan usai pula makan siang, Papa belum juga datang.

    Mama mulai ketar-ketir terlebih karena tak tahu dimana Papa berada. Waktu itu moda komunikasi belum secanggih sekarang tentu saja. Menjelang jam tiga sore, tiba-tiba pagar rumah terbuka dan Papa dengan wajah letih berkeringat muncul dengan sepeda federalnya.

    Keesokan paginya, Hari Senin, sengaja aku menunggui Agung PS di ruas Jalan Pemuda untuk pergi ke sekolah bersama-sama menggunakan sepeda federal.

    Sepanjang jalan, kami jadi pusat perhatian banyak orang. Begitupun sesampainya di sekolah, kawan-kawan merubung sepeda baruku dan aku tak bisa menyembunyikan rasa banggaku.

    Sayangnya sepeda itu tak berumur panjang!

    Mas Kokok, adik bungsu Mama yang waktu itu kuliah di Purwokerto datang berkunjung ke Kebumen. Ia sedang pdkt dengan seorang yang rumahnya di Tamanwinangun, tak jauh dari rumah kami. Untuk ngapel, Ia meminjam sepeda federalku.

    Tentu ia lupa mengunci dan keasyikan ngobrol di dalam rumah si cewek dan begitu keluar, sepeda federal kebanggaanku telah raib dimaling orang.

    Aku baru tahu kejadian itu keesokan paginya. 

    Mama yang membangunkanku mewan-wanti sambil berbisik, “Le, ojo kaget! Sepedamu ilang digawa Mas Kokok! Ora usah mbengok, Mas Kokok sedih banget dan merasa sangat bersalah…”

    Aku hanya mengangguk perlahan. Keluar dari kamar, Papa sedang merokok menatap langit-langit rumah sementara Mas Kokok duduk tak jauh darinya dengan mata yang masih sembab berkaca-kaca.

    Mas Kokok meminta maaf kepadaku, aku diam saja karena hingga detik itu otakku masih melumat pelan-pelan apa yang telah terjadi.

    Papa memecah keheningan dengan berujar, “Ora popo, Kok! Don, mengko Papa mundhut sing anyar… ora usah sedih!”

    Benar yang dikatakannya! 
    Tak sampai seminggu, Papa membelikanku sepeda berstang lurus yang baru. Tak perlu ke Gombong untuk mengambil karena sepeda itu datang diantar mobil berbak terbuka. Merknya Polygon, lebih baik dari federal. Warnanya hijau lumut. Bobotnya sangat ringan dan secara penampilan jauh lebih baik dan modern dari Federal.

    Sepeda Polygon itu menjadi sepeda terakhir yang dibelikan Papa. Papa sempat sering menggunakannya untuk ikut lomba bersepeda yang dulu kerap diadakan di Candi Borobudur, Baturaden hingga Jogja.

    Sepeda itu sempat pula kubawa ke Jogja ketika aku pindah tahun 1993 tapi tak lama kemudian kukembalikan karena sudah merasa bosan dengan sepeda dan mulai merengek untuk dibelikan sepeda motor.

    Sejak kelas tiga SMP sebenarnya aku sudah minta dibeilkan setidaknya Yamaha RXZ atau syukur-syukur Yamaha RZR seperti yang dipakai Bowie, temanku SMP yang tinggal tak jauh dari rumah. 

    Seperti biasa, bagi Papa tidak ada masalah dan siap membelikan tapi Mama ketakutan bahkan sekadar untuk membayangkan anak sulungnya ini mengendari motor di Jogja.

    “Dalane gede-gede, rame.. tur mengko kowe nek digawani motor isine mung pacaran terus lali sekolah! Ojo, Pa! Ora. usah!” ujarnya tajam kepada Papa sementara aku yang merengek diacuhkan begitu saja…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Foto Jenasah di Perpustakaan sekolah

    Foto Jenasah di Perpustakaan sekolah

    Awalnya, hanya sedikit orang yang tahu bahwa aku ini penakut hingga akhirnya kejadian yang hendak kuceritakan ini yang membuat dari yang sedikit menjadi makin banyak! Banyak yang tahu bahwa aku ini penakut akut!

    Gedung Perpustakaan SMP Negeri 1 Kebumen terletak di ujung barat kompleks sekolah. Ia termasuk gedung baru ketika aku mengeyam pendidikan di sana, 1990 – 1993. Letaknya berhadap-hadapan dengan laboratorium biologi nan tak kalah barunya.

    Setiap jam pelajaran kosong karena guru berhalangan hadir, kami selalu diarahkan pergi ke perpustakaan untuk mengisi waktu hingga jam pelajaran kosong usai.

    Kebanyakan siswa membaca buku, entah buku pelajaran yang dibawa dari kelas atau buku referensi dan majalah yang ditawarkan perpustakaan. Sebagian lagi ada yang memilih mengerjakan PR tapi segelintir dari siswa adalah mereka yang sibuk melakukan apapun yang tidak membaca buku, tidak pula mengerjakan PR. Mereka ini cenderung tidak mau menuruti aturan tapi juga berusaha supaya tidak ditegur karena mengganggu siswa yang lain. Dan ya kalian bisa menebak, aku adalah bagian dari yang segelintir itu!

    Suatu siang ketika ada di dalam perpustakaan, teman-teman lain yang ada di kalangan “segelintir” membuat gaduh karena cekikikan.

    Aku yang waktu itu duduk agak jauh pun datang untuk melihat apa sumbernya. Ternyata mereka sedang membuka album foto lalu dengan usilnya menggunakan pena, mereka “mengerjai” wajah-wajah yang ada di foto entah itu menambah kumis, mewarnai bola mata dan gigi serta hal-hal konyol lainnya.

    Tentu hal ini membuatku girang karena menemukan kegiatan konyol yang tak pernah kupikirkan sebelumnya. Segera kuambil album foto dari rak untuk melakukan hal yang sama dengan teman-temanku tadi.

    Tapi sepertinya aku mengambil album yang salah. Di lembar pertama, kulihat foto dengan wajah-wajah sendu sedang berdiri di bawah tenda perhelatan yang dipasang di halaman sebuah rumah.

    Aku membuka lembar berikutnya untuk mencari wajah yang tidak sendu yang menurutku asyik untuk dikerjain. Tapi yang kulihat berikutnya adalah foto jenasah yang diambil dari jarak sangat dekat yang lantas membuatku gugup dan tak sanggup lagi untuk tidak melemparnya jauh-jauh dari meja tempatku duduk.

    Hal ini membuat kawan-kawan yang duduk di sebelahku pun melongok.

    “Ngapa Don? Kok dibuang?” 
    Wajah pucat tanpa jawaban yang kutampakkan membuat mereka semakin penasaran. Salah satu dari mereka lalu mengambil album itu dan membukanya, “Oh, kamu takut ya liat foto ini?” sambil mempertontonkan foto itu kepadaku.

    Aku tunggang-langgang meninggalkan perpustakaan dan mereka pun semakin gaduh dibuatnya. Dari kejauhan aku dengar beberapa dari mereka bilang, “Donny keching! Donny keching!” Keching dalam Bahasa Jawa dialek Banyumas yang kami gunakan di Kebumen berarti penakut.

    Sejak saat itu, ada saja kawan-kawan yang menakut-nakutiku setiap datang ke perpustakaan.

    Ada yang tiba-tiba meletakkan foto itu di atas buku yang sedang kubaca. Ada yang bahkan menyodorkan foto itu tepat di muka. Dan meski berkali-kali, reaksiku tetap sama, sama-sama kaget lalu lari tunggang-langgang keluar dari perpustakaan. 

    Tapi dari semua usaha yang dilakukan kawan-kawan untuk mengerjaiku terkait foto jenasah itu, tak ada yang lebih kejam dari apa yang hendak kuceritakan ini.

    Kejadiannya bukan di perpustakaan, tidak di ruang kelas dan bahkan di luar lingkungan sekolah.

    Suatu sore menjelang malam, ketika hendak mengerjakan PR di rumah, aku berteriak sejadi-jadinya memanggil Mama karena dari buku yang hendak kubaca, terselip foto jenasah yang seharusnya ada di perpustakaan sekolah!

    Ya kalian bisa menebak, ini sudah barang tentu hasil kerjaan usil dari segelintir kawan yang kusebutkan di atas. Mereka mengambil foto dari perpustakaan lalu menyelipkannya di bukuku sehingga ketika kubuka, kejutan indah pun terjadi!

    Tentu itu bukan pengalaman terakhir meski tak ada yang lebih parah dari itu. 

    Hingga sekarang, lebih dari tiga puluh tahun kemudian, aku tak bisa bilang bahwa rasa takutku telah hilang sama sekali.

    Tentu bukan melalui foto yang ada di perpustakaan tapi apa yang terpampang di social media. Ada saja orang yang entah dengan alasan apapun mengunggah foto atau video yang memuat wajah jenasah. Tentu aku tak sampai melemparkan gadgetku karena terkejut tapi cukup membuat gugup dan mengubah mood meski kian lama aku kian bisa mengendalikannya. 

    Untungnya semua terjadi di social media! Kalau dulu aku tak punya kuasa untuk mencegah hal itu terjadi, sekarang tinggal unfollow, unfriend atau bahkan block akun yang menanyangkan fotonya.

    Mungkin kalian bertanya, “Lho kan teman? Kok diblock?”

    Well, bagiku teman yang baik adalah teman yang punya sopan santun. Teman yang sebelum mengunggah foto wajah orang lain, ia harusnya meminta ijin pada yang bersangkutan lebih dulu apakah ia keberatan atau tidak fotonya ditampilkan. Pertanyaannya, ketika teman tadi mengunggah foto jenasah, apakah ia sudah bertanya pada si jenasah bahwa foto yang diambil barusan akan ditayangkan di social media? Kan enggak!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Menatap cakrawala saat badai menerpa

    Menatap cakrawala saat badai menerpa

    Aku bersyukur kepada Tuhan karena memperoleh momen pencerahan mistik kemarin siang saat sedang ikut whale watching tour, melihat ikan paus, di lepas pantai Port Stephens, NSW bersama keluarga.

    Menggunakan kapal ukuran sedang bersama rombongan lain, kami sekeluarga berangkat pagi sekitar jam 10 dari Nelson Bay. Sisa angin laut masih cukup kencang untuk menciptakan ombak besar karena benturan dinding-dinding karang yang saling berhadapan yang kami lewati.

    Makin ke tengah ombak bukannya makin kecil tapi membesar mengombang-ambingkan kapal. Ada kalanya kapal benar-benar miring dan ombak kami lihat berdiri lebih tinggi dari pandangan mata kami. Sungguh mengerikan untuk awam yang tak punya wawasan mumpuni tentang laut ini.

    Beberapa penumpang menumbang. Mereka muntah terdampak goncangan.

    Kami sebenarnya tak lebih beruntung karena posisi duduk kami di deret kursi sudut paling belakang kapal. Secara posisi, sudut kapal adalah tempat yang paling merasakan goncangan.

    Untungnya Odilia, anak pertamaku, tidur jadi ia tak terlalu merasakan, sementara Elodia, adiknya, mulai mengeluh dan Joyce, istriku, memilih memejamkan mata untuk menghindari keadaan yang lebih buruk terjadi pada dirinya. Aku sebenarnya juga lumayan kalang-kabut. Sempat menyesal kenapa juga ikut tour kalau harus begini. Tapi bahkan untuk menunjukkan wajah panik di hadapan mereka pun aku tak tega!

    Sambil berusaha mengatur nafas aku membuka apilkasi ChatGPT di gadgetku dan bertanya. “What is the best way to fight seasick?”

    Artificial Intelegence agent yang mumpuni itu memberiku beberapa saran dan salah satunya adalah untuk memandang cakrawala supaya pandangan mata bisa lebih stabil dan kita tak kehilangan orientasi.

    Awalnya tak percaya karena apa hubungannya memandang cakrawala dengan menghilangkan goncangan kapal, kan? Tapi ternyata benar juga apa katanya! Ini perkara pikiran. Setiap memandang cakrawala dan fokus di sana, aku tenang dan tak lagi berpikir melulu tentang goncangan. Ketika pandanganku goyah dan mulai mencari tahu setinggi apa ombak yang kami lalui, rasa mual dan panik kembali menyerang.

    Lima belas menit kemudian aku mulai terbiasa untuk mengacuhkan ombak dan fokus memandang cakrawala. Aku bahkan bisa menikmati betul perjalanan lengkap dengan goncangan-goncangannya.

    Di titik itu, Tuhan mengijinkanku  berkontemplasi! Aku meletakkan pengalaman hidupku dalam pengalaman laut itu.

    Sebagaimana kapal yang kutumpangi, hidupku sejak awal September ini sejatinya sedang tergoncang dengan masalah yang tidak kecil. Aku sendiri sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi sejak beberapa bulan sebelumnya tapi tetap saja, ketika akhirnya benar-benar kejadian, goncangannya benar-benar bikin mual!

    Memandang cakrawala tidak membuat angin reda dan tidak pula membuat goncangan kapal sirna. Tapi memandang cakrawala membuat kita fokus pada harapan dan tak membiarkan diri larut dalam kepanikan karena goncangan.

    Dalam menyikapi masalah pun sama.
    Berbekal nasihat istri untuk tidak terlalu mellow dan segera move on, aku tak mau fokus pada pertanyaan kenapa masalah ini bisa terjadi, siapa yang andil untuk membuatku jadi begini! Itu semua hanya akan membuatku jatuh dalam perasaan sedih dan murung. Aku memilih fokus pada move on!

    Dan sejatinya cakrawala sepadan dengan harapan itu sendiri. Ia adalah garis terjauh yang bisa kita pandang. Ia ada karena keterbatasan kita untuk melihat secara utuh apa yang ada di balik cakrawala. Memandang cakrawala adalah memandang harapan  bahwa suatu waktu nanti akan ada gugusan daratan yang muncul dari ufuk cakrawala dan itu pertanda tak lama lagi kapal akan sampai di sana.

    Tapi bagaimana kalau kapal yang kita tumpangi pecah atau karam karena tak mampu mengatasi ombak ganas? Kalau begitu apa gunanya memandang cakrawala toh akhirnya naas juga?

    Bisa jadi! Karena semua kan ada batasnya! Tapi kemarin siang aku percaya saja pada kapal yang kutumpangi. Meski tak besar, tapi sepertinya cukup kokoh untuk digunakan. Nahkodanya pun, meski tak kenal, aku yakin dia pasti sudah sangat berpengalaman mengemudikannya.

    Kapal hidupku pun sudah pasti sangat kokoh menghadapi ombak hidup yang sedang kuhadapi. Dan kalian gak perlu mempertanyakan kualitas nahkodanya! Aku kenal baik! Dia adalah Tuhanku sendiri! Tuhan yang sudah mengasihiku sebelum aku mampu mengeja kata kasih. Tuhan yang sudah menyelamatkanku jauh sebelum ombak itu datang mencoba merenggut keselamatan itu.

    Dalam perjalanan pulang kembali ke dermaga, saat ombak belum juga reda, aku mensyukuri momen mistik itu dengan mendaraskan rosario. 

    Bibirku tak henti mengucap doa dan mataku tetap tertuju pada cakrawala. Goncangan yang kurasakan membuat doa semakin mantap kulantunkan dan menjelang putaran terakhir, tiba-tiba serombongan lumba-lumba menyambut kapal kami dalam jarak yang sangat dekat. Ramai penumpang mengabadikan momen itu dengan mengambil foto.

    Akupun bersyukur kepadaNya, “Ah, Tuhan! Bahkan saat tergoncang… Engkau masih sempat-sempatnya mengirimkan kami hiburan…” hingga beberapa menit sebelum mendarat, lumba-lumba itu masih menyertai kami seolah ingin mengapresiasi keteguhan kami sejauh ini…

    How Great Thou Art!

  • Memaknai Keajaiban

    Memaknai Keajaiban

    Kadang kita terlalu egois untuk memaknai keajaiban. Hanya karena kita yang meminta, lantas kita merasa berhak mengatur seperti apa keajaiban yang nanti akan tercipta.

    Seperti seorang yang sakit, ia memohon diberi keajaiban untuk sembuh seperti sedia kala. Ketika si sakit akhirnya meninggal dunia, keluarganya pun kecewa kepada Tuhan, “Minta sembuh kok diberi mati!?”

    Padahal, barangkali kematian adalah cara terbaik untuk si sakit tadi sembuh. Karena bukankah setelah mati, si sakit akan hidup kembali dan tidak akan sakit dan tidak akan mati lagi?

    Atau kawan yang mengeluh karena suaminya malas bekerja. Bertahun-tahun ia meminta supaya Tuhan membuatnya jadi giat lagi… tapi bertahun-tahun juga kawan tadi kecewa.

    Padahal kalau ia mau meletakkan ego dan kecewanya sedikit agak ke pinggir, ia harusnya sadar karirnya yang melejit tahun-tahun ini adalah keajaiban itu sendiri karena oleh uang yang dihasilkan, kawan tadi dimampukan menghidupi anak-anak dan suaminya yang malas itu…

    Meminta keajaiban itu bukan seperti memesan mie goreng pedas level 17 langganan kita!

    Kita bisa bilang ke penjual mie, “Pak, mie goreng pedas level 17 seperti biasa!” Lalu sepuluh menit kemudian si penjual datang membawa pesanan persis seperti yang kamu minta.

    Tapi Tuhan bukan tukang jual mie goreng. Ia pun tidak kita bayar untuk keajaiban yang Ia kerjakan. Dan kalaupun minta bayaran, emangnya kita mampu mengongkosi-Nya, Bos! Maka kalau yang lantas diberikanNya tidak sama persis atau beda sama sekali dengan yang kamu inginkan… jangan ngambek, jangan pundung, ojo nesu!

    Disyukuri aja!
    Syukur itu jadi jembatan, jadi sarana untuk memahami keajaiban Tuhan di tengah ketidaktahuan kita dalam menyelami-Nya.

    Melatih bersyukur melalui perkara-perkara kecil yang bahkan mungkin menurutmu, “Dimana letak ajaibnya?”

    Ketika kamu bernafas, pikirkanlah apa jasamu sehingga kamu masih bisa mendapatkan asupan oksigen secara cuma-cuma, tanpa kamu harus mengongkosinya sepeserpun kepada-Nya?

    Ajaib, kan?

  • Mengukur Syukur

    Mengukur Syukur

    Sejatinya kalau hanya untuk bersyukur, percaya kepada Tuhan itu tidak perlu jadi prasyarat.

    Adalah kawan kerjaku. Ia seorang yang dengan terbuka pernah bilang bahwa Tuhan itu hanya buah pikir… God is a concept! Sebagai penggemar John Lennon sejati, tentu aku tahu dia meminjam apa yang dilagukan Mr Lennon lima puluh empat tahun yang lalu.

    Tapi suatu waktu ketika ia hampir saja terjatuh di eskalator yang melilit celana jeansnya,
    berujarlah ia, “Lucky I got my pants out of that mess, Mate!” Ia merasa beruntung karena tak sampai terjungkal meski celana jeansnya robek.

    Dalam tatanan pikirnya, beruntung belum tentu bersyukur karena sejak ia menolak Tuhan, baginya hidup ini perkara probabilitas saja, tidak ada cawe-cawe dari divine power sama sekali apalagi sekelas cawe-cawenya Mulyono awokwokwok. Kalau pas baik ya “lucky” kalau nggak baik, ya “unlucky”

    Bedanya tipis.
    Setipis “un” di depan “lucky”
    Setipis “b” di depan “untung”

    Sebagai orang yang mengakui Tuhan, tentu hidup tak semudah itu! Aku dan mungkin juga kalian ditantang mengucap syukur di setiap waktu, baik saat untung maupun buntung simply karena dalam keadaan apapun itu, Tuhan menyertai kita, kan?

    Tapi pertanyaannya? Mudahkah hal itu dilakukan?
    Kalau kamu dapet hadiah dari sayembara atau menang tender proyek besar, dengan mudah kamu bilang “Puji Tuhan!” tapi ketika kamu gagal, sanggupkah kamu tetap berkata demikian?

    Mari lanjut belajar dari kawanku yang nirtuhan tadi…

    Jadi ketika aku lalu mengantar kawanku pergi ke toko baju untuk membeli celana baru dan membuang celana robeknya ke tempat sampah, aku bertanya kepadanya, “Jadi, kamu tadi merasa beruntung karena tidak jatuh?”

    Ia mengangguk.
    “Hmmm, mana yang lebih cocok, kamu beruntung karena tidak jatuh atau kamu buntung karena harus kehilangan celanamu?” tanyaku.

    “Ya gak bisa dihindari! Ya untung tapi juga buntung!” jawabnya.

    “Atau sebaliknya, buntung tapi beruntung karena gak jatuh ya!” sergahku.

    Kawanku tahu arah pembicaraanku. Ia memandangku sambil tertawa, “Are you persuading me to believe in your God? Hahaha!”

    Untung dan buntung kadang berkelindan serta berjarak sangat tipis. Saking tipis dan eratnya kelindan antar keduanya, sejatinya kita tidak pernah tahu sedang ada di fase mana, sedang untung atau sedang buntung?!

    Gak perlu overthinking, bahkan kalau kamu gak bertuhan sekalipun, seperti kutulis sebagai postulat di awal tulisan tadi, hidup ini ya disyukuri aja!

    Tapi untuk bersyukur pun susah, Don!
    I know! Tapi ya syukurilah atas hadirnya rasa susah untuk bersyukur itu! Karena syukur adalah kesimpulan terbaik, terlepas dari seburuk apapun hidupmu saat ini!

    God is a concept by which measures our pain
    (God, John Lennon)

  • Kenangan dan ketergopohan kita untuk merawatnya

    Kenangan dan ketergopohan kita untuk merawatnya

    Beberapa bulan lalu, melalui kiriman foto seorang kawan yang tinggal di Jogja, aku baru sadar ternyata gerai restaurant asal Amerika, Kentucky Fried Chicken (KFC) yang terletak di Jl Solo di pertigaan IAIN (UIN) sudah tutup.

    Sebagai orang yang tumbuh di era 90an, KFC Jl Solo menyimpan begitu banyak kenangan.

    KFC pertama di Jogja yang sempat membuatku heran kenapa buka di sana dan bukan di Malioboro? Atau kalaupun di Jl Solo kenapa tidak di area Gardena yang bakal lebih ramai? Baru beberapa tahun kemudian aku sadar KFC ada di sana karena melekat di gedung toserba Gelael yang ada di bawahnya. Gelael milik pengusaha Ricardo Gelael, orang yang sama yang membawa lisensi KFC ke Indonesia.

    Sebagian besar waktu yang kuhabiskan di Jogja juga berada di sekitar KFC itu. Saat duduk di bangku SMA, aku indekost di belakang gedung KFC dari tahun 1993 – 1996. Saat membuka kantor tempat usaha, aku dan kawan-kawan juga menyewa gedung (kemudian membangun sendiri) di sekitaran situ dari tahun 2001 – 2008 sebelum akhirnya aku pindah menetap ke Australia hingga sekarang.

    Jumlah berapa kali makan di KFC, bisa dihitung dengan jari, tapi kenangan yang terjadi dan terlukis di sana, tak terwakilkan oleh jari…

    Masih belum hilang keterkejutanku, beberapa hari lalu muncul di instagram bahwa sama halnya dengan KFC, gerai McDonnalds pertama di Jogja yang letaknya di Malioboro Mall juga tutup untuk selamanya sejak pertengahan september ini!

    Duh! Sedihlah!
    Aku termasuk orang pertama yang datang di hari pertama mereka buka untuk menjajal kenikmatan burgernya. McDonnalds di Malioboro Mall menurutku menempati posisi penting sebagai ajang untuk bersosialisasi dan menaikkan derajat kawula muda Jogja 90an. Kalau mau dicap kaya (atau memang kaya beneran), nongkrong aja di sana meski cuma beli kentang atau es krim sebiji, niscaya rasa percaya diri kita akan naik seribu persen apalagi ketika keluar dari sana, tangan kanan membawa tas belanjaan dan tangan kiri menggandeng pacar!

    Sama pula dengan KFC, McDonnalds Malioboro Mall menyimpan begitu banyak memori bagiku dari yang asik sampai asik banget :)

    Kemarin, akun IG Alumni Debritto mengabarkan hal lain lagi.

    Wajah Alex, ketua presidium alumni, mengabarkan bahwa acara temu alumni tahunan MPK (Manuk Pulang Kandang) tahun ini akan jadi reuni terakhir sebelum gedung SMA Kolese De Britto direnovasi.

    Membayangkannya saja sudah menyedihkan bagiku dan mungkin bagi ribuan alumni lainnya. Tempat dimana kami dulu bertumbuh, belajar dan berproses menjadi manusia dewasa akan diubah dan diperbaiki. Sebagai seorang heteroseksual, aku tak punya kenangan romantis di sekolah homogen itu. Tapi, sedihku bisa dibilang berlipat kali dibandingkan kesedihan ketika mendengar bahwa KFC dan MCDonnalds tutup untuk selamanya.

    Sayangnya hidup ini memang tidak memiliki tombol “rewind”. Ia terus bergerak maju sementara masa akan terus berganti dan berlalu. Melalui sarana fisik seperti gedung tempat dimana kenangan terjadi, juga jalanan dan perkakas lain lah kita seperti diberi alat bantu untuk merawat dan mengingat.

    Ketika sarana-sarana itu pada akhirnya berganti dan runtuh dan harus pula jadi bagian yang telah berlalu, kitapun kelabakan meraba dan mencari dengan apa lagi kita mampu mengenang dan bernostalgia…

    Sic transit gloria mundi 
    (Demikianlah kemuliaan dunia akan berlalu…)

  • Pengalaman nonton film G-30S/PKI di Bioskop Star Kebumen

    Pengalaman nonton film G-30S/PKI di Bioskop Star Kebumen

    Tidak ada film yang lebih horor bahkan dari semua film horor sekalipun, selain film Pengkhiatan G 30-S/PKI. Film rilisan rejim Orde Baru di awal 1980-an ini kutonton pertama kali pada tahun 1984 di Gedung Bioskop Star, Kebumen bersama Papa dan Mama yang waktu itu sedang hamil Chitra.

    Kami berangkat sore hari sekitar jam setengah lima menggunakan becak menuju gedung yang letaknya tak jauh dari Terminal Bus Antar Kota Antar Propinsi di Jl Ahmad Yani, Kebumen. Sesampai di sana, halaman bioskop memadat. Papa segera menuju loket untuk mengantri tiket sementara aku dan Mama membeli kacang rebus dan minuman ringan.

    Aku terlalu kecil untuk mengetahui kenapa animo masyarakat tinggi sekali waktu itu. Tapi bisa jadi karena mereka penasaran dengan penggambaran Orde Baru terhadap kekejaman yang terjadi di dinihari 1 Oktober 1965 itu. Atau barangkali karena masyarakat Kebumen waktu itu memang haus betul dengan hiburan mengingat di kota itu hanya ada dua bioskop, Star dan Gembira. Yang terakhir kusebut ini lebih cocok untuk kuklasifikasikan sebagai bioskop kelas dua.

    Setelah Papa mendapat tiket, aku dan Mama bergegas menuju ke arahnya dan bergabung dengan ratusan orang lain mengantri masuk ke gedung. Waktu itu belum model tiket bernomer kursi seperti yang kita temui di bioskop-bioskop modern. Kami harus berjuang untuk mendapatkan posisi kursi paling nyaman. Perkara kemudian di kursi itu kami harus berjuang dengan gigitan bangsat (binatang insect yang hidup di kursi kumal ataupun rotan dan sekalinya menggigit bikin badan gatal tak keruan!) itu urusan selanjutnya.

    Tapi ternyata urusan kami, terutama urusanku, tak hanya berhenti di situ. Aku harus berurusan dengan kengerian yang ditampilkan di sekujur film! 

    Bahkan sebenarnya sejak menit-menit awal sejak dibacakan pesan dari diorama Lubang Buaya dengan suara menggema seolah-olah suara itu adalah suara para pahlawan revolusi dari dalam sumur sudah membuatku menutup mata, menutup telinga dan merengek minta pulang.

    Tapi Papa dan Mama tentu tidak bergeming.
    Awalnya mereka berusaha menenangkanku dengan berbagai macam cara. Kadang berhasil, kadang tidak. Tapi ketika layar menampilkan wajah close-up Bung Karno (diperankan Umar Kayam) yang sedang tidur setelah diperiksa tim dokter dari Tiongkok, hal itu membuatku tak mampu lagi membendung ketakutan.

    Ya! Yang paling kutakutkan dari film itu bukan soal penculikan dan pembantaian para jenderal tapi justru wajah Bung Karno yang menurutku menyeramkan!

    Sialnya lagi film itu berdurasi cukup panjang, maka perjuanganku juga perjuangan Papa dan Mama untuk menenangkanku jadi tidak singkat.

    Paruh kedua dari film yang diberi judul “Penumpasan G 30-S/PKI” bisa kulalui dengan lebih baik karena mood film sudah membaik pula menampilkan sosok Soeharto yang diperankan Amoroso Katamsi sebagai pahlawan penumpasan. Aku jadi lebih sering membuka mata dan telinga meski sesekali masih menutup mata terutama saat ada adegan Bung Karno, adegan pengangkatan jenasah para jenderal dan adegan waktu Ade Irma Suryani meninggal dunia yang diambil dari dokumentasi aslinya. Aku juga terhibur dengan penjelasan Papa yang tak berhenti membicarakan dan memberitahu bagian per bagian film seolah dia adalah ahli sejarah yang paling tahu di gedung itu.

    Ketika kemudian film selesai, betapa lega hatiku. Mama mengelap keringat yang mengucur sangat deras dari jidat dan wajahku. Sepulang dari sana, kami mampir ke rumah makan kesukaan kami, Bakmi Suratman. Papa menyantap mie rebus sementara aku dan Mama lahap menyantap seporsi mie goreng.

    Sayangnya pengalaman menonton film tersebut bukannya sekali itu saja.

    Sejak saat itu, setiap malam tanggal 30 September hingga Soeharto lengser pada 1998, film itu dijadikan film wajib putar di televisi yang membuat kengerian selalu terulang.

    Aku selalu memilih untuk tidur lebih cepat pada tanggal itu meski sialnya ketika aku terbangun untuk kencing, tiba-tiba terdengar melodi lagu Genjer-Genjer yang dibikin menyeramkan, film masih belum selesai dan aku jadi takut untuk ke toilet sekadar untuk kencing sekalipun!

    Ketika sudah tinggal di jogja, pernah ada satu kejadian yang lucu tapi sebenarnya memalukan.

    Waktu itu aku kuliah semester pertama dan tinggal di daerah Condong Catur, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ketika sedang perjalanan pulang di maalm tanggal 30 September, motorku terjungkal dan akupun jatuh terjerembab di tanah pekarangan milik warga. Apa pasal? Aku panik karena masuk di area pedesaan yang belum banyak lampu dan jalanan belum seluruhnya beraspal, aku mendengar suara Genjer-Genjer bertubi-tubi dari semua pesawat televisi milik warga. Malu? Nggak karena tidak ada satupun orang kelaur rumah karena mereka sedang fokus nonton film itu di layar mereka masing-masing!

    Sekitar tahun 2005, ketika film itu sudah tidak lagi jadi kewajiban meski konyolnya masih saja ada yang memutar bahkan sampai sekarang!, aku membeli keping VCD film Pengkhianatan G-30 S/ PKI. Uniknya, film itu tidak pernah kuputar hingga selesai sampai sekarang!

    Takut? Ya iya! Rasa ngerinya masih sama meski kadang tergelitik untuk nonton hingga tuntas seperti kisah sore itu di Bioskop Star Kebumen. Tapi berkali-kali niat itu kuurungkan karena aku malu kalau harus menutup mata dan menutup telinga di depan istri dan anak-anak yang saat tulisan ini kurawi sudah beranjak dewasa! Masa iya, suami dan ayah mereka yang tattoo nya banyak ini masih belum bisa move on dari ketakutan yang tercipta empat puluh tahun sebelumnya? Yang bener aja!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Mendemonstrasikan Iman bersama Paus Fransiskus

    Belajar Mendemonstrasikan Iman bersama Paus Fransiskus

    Fransiskus, Bapa Suci kita itu, adalah seorang Jesuit sejati!

    Dia mengikuti bukan hanya cara pikir tapi juga cara bertindak Yesus Kristus yang menurutku demonstratif, berani turun tangan.

    Dulu Yesus tak hanya bicara di mimbar tapi juga memberi makan yang lapar, menyembuhkan yang sakit, membangkitkan yang mati, memberi kesempatan pendosa untuk hidup lebih baik dengan tidak menghukumnya dan masih banyak lagi yang bisa kita baca secara lengkap dalam tulisan Matius, Markus, Lukas dan Yohanes.

    Dengan segala keterbatasannya, Fransiskus pun demikian. Ia tentu tidak bisa menghidupkan orang mati karena ia bukan Yesus tapi setidaknya Fransiskus tidak hanya aktif mengajar di mimbar. Ia turun tangan, demonstratif.

    Fransiskus secara radikal mencuci kaki para tawanan dan bahkan migran yang beda agama seperti halnya dulu Yesus mencuci kaki para murid.

    Ketika berkunjung ke Jakarta 6-9 September 2024, Fransiskus memilih tinggal di kedutaan besar Vatikan bukannya di hotel mewah. Ia tidak pula memakai sepatu merah seperti para pendahulunya melainkan sepatu hitam pating tekuk nan sederhana. Fransiskus juga mengenakan jam ecek-ecek yang konon harganya cuma seratus ribu rupiah saja.

    Dan yang menurutku paling monumental adalah, Fransiskus memilih mobil Toyota Innova Zenix dengan kaca mobil selalu terbuka seolah tubuhnya adalah tubuh anti masuk angin dan anti peluru! Khusus tentang hal ini, aku jadi teringat peristiwa Minggu Palma. Seminggu sebelum disalib, Yesus datang sebagai raja ke Yerusalem naik keledai bukannya kuda atau unta yang gagah. (lih. Matius 21:1-11)

    Aksi demonstratif terbukti efektif membuat orang mudah menangkap pesan dan tak jarang meninggalkan kesan.

    Aku yang tinggal di Sydney saja sejak hari kedatangan Paus hingga kepulangannya selalu mantengin Youtube untuk mengetahui apa yang ia kerjakan.  Dan setiap melihatnya mataku selalu sembab dan basah sampai aku heran jangan-jangan ia datang dari Vatikan itu gak cuma bawa kasih, gak cuma bawa ajaran iman tapi juga bawa bawang dikupas ya kok bisa jadi semewek ini?!

    Lalu apa yang hendak disampaikan melalui demonstrasi Fransiskus itu?

    Kesederhaan dan keberpihakan kepada yang miskin sesuai kaulnya pada Serikat Yesus dan sesuai apa yang dilakukan patronnya, Santo Fransiskus Asisi, 800 tahun silam.

    Tapi aku tahu, kekuatan demonstrasi ini rentan membuat orang berpikir bahwa hal itu barangkali cuma pencitraan saja!

    Ada lho yang komentar begitu di salah satu postinganku. Aku sih gak tersinggung dan malah mahfum. Mahfum karena kita memang belum lepas dari rasa kaget dan sebel terhadap perilaku seorang pemimpin yang sangat rajin melakukan pencitraan tapi berakhir mengecewakan.

    Dulu ada yang kemana-mana selalu pakai kemeja putih seratus ribuan, celana hitam dan sepatu kets putih brand lokal tapi akhirannya maunya malah pakai pakaian raja jawa seolah dia raja beneran padahal cosplay!

    Dulu ada yang waktu menjenguk anaknya di Singapore pakai pesawat komersial dan duduk di bangku ekonomi  (Eh… sepuluh tahun kemudian si anak terbang ke Amerika bersama istri pake private jet! Anjrit, kan? eh maaf kok jadi ngumpat, ini kan tulisan religi ya hahaha)

    Dulu ada yang bilang kalau anak-anaknya lebih memilih jualan pisang dan gak berminat di politik tapi naga-naganya ya tahulah…

    Apa yang membuatnya berubah? Tidak ada yang tahu kecuali gorong-gorong! Tapi asumsiku, perubahan terjadi karena sejak awal, motif yang dijadikan landasan bertindak ya hanya untuk mendapatkan simpati rakyat yang diramu dengan niat jahatnya berhasil disulap jadi kekuatan untuk melakukan apapun yang ia mau.

    Tak ada yang bisa menjamin bahwa Fransiskus pun tidak seperti si pemimpin itu. Tapi daripada menuduh, metani dan mencari pembuktian bahwa yang dilakukan Fransiskus hanyalah pencitraan, kenapa tidak lebih baik fokus pada hal yang lebih esensial, tentang apa yang bisa kita pelajari dari sikap dan demonstrasi seorang Fransiskus?

    Apa yang membuat hidup kita jadi lebih baik setelah kedatangan Fransiskus dibanding sebelumnya?

    Apa hanya karena kamu kemarin sempat salaman, mencium cincin dan tangannya? Atau jangan-jangan hanya karena kamu mendapatkan rosario dan berkesempatan hadir datang ke perayaan ekaristi yang dipimpinnya di GBK?

    Itu saja?

    Harusnya bisa lebih. Kalau kamu Katolik sepertiku, hal yang bisa kita lakukan mungkin ya seperti yang Fransiskus dan Yesus lakukan, mendemonstrasikan iman dan menunjukkan kasih secara nyata dalam hidup dan sesama!

    Melihat Paus menggunakan mobil sederhana harusnya memberanikanmu untuk mulai lebih banyak meninggalkan motor atau mobil di garasi lalu memilih opsi transportasi publik supaya ikut berkontribusi dalam mencegah perusakan alam  sesuai dengan ajakan Fransiskus yang tertulis di Laudato Si.

    Melihat Paus menggunakan jam tangan murah harusnya memantikmu untuk melepas sekalian jam tanganmu karena toh kalau mau lihat jam bisa di henpon?

    Melihat Paus mendatangi Masjid Istiqlal untuk menawarkan kasih persaudaraan dengan sesama manusia yang beda agama, membuatmu harusnya juga gak sungkan dan gak segan untuk nongol gak cuma di acara gereja atau doa lingkungan melulu tapi juga di acara kumpulan warga kampung meski mereka beda agama.

    Kalau belum berani seperti itu, ngapain kemarin mau ngantri berjam-jam untuk sekadar dadah-dadah sama Paus?

    Kalau belum berani seperti itu, ngapain ngabisin bandwidth untuk nonton live streaming Paus? (Yang ini aku termasuk di dalamnya.. You’re not alone, don’t worry hahaah!)

    Yuk mulai berani mendemonstrasikan iman supaya ia tidak hanya tinggal di hati sebagai kesan, tanggal dalam kata sebagai cerita pengantar tidur saja!

    Semakin mendemonstrasikan iman semakin kita berdampak dan berdaya guna bagi sesama… siapa tahu kita nanti jadi presiden juga! Ye kan? Wkwkwkw!

  • Belajar Mencari Uang: Jual Lotre dan Jadi Kacung

    Belajar Mencari Uang: Jual Lotre dan Jadi Kacung

    Aku belajar mencari uang sejak kecil.
    Ketika duduk di bangku kelas 2 SD, kawan-kawan di kampung dilanda ‘wabah’ berjualan lotre.

    Lotre yang dijual dikemas dalam beberapa butir telor cicak beserta kertas memuat angka lotre. Harga satuannya sepuluh rupiah. Setelah membayar, si pembeli diminta membuka kertas dan kalau angkanya cocok dengan angka yang tertera pada hadiah, ia mendapatkan hadiah tersebut. Adapun hadiahnya bermacam-macam mulai dari mobil-mobilan, permen, gayung hingga, seingatku, baskom plastik.

    Suatu siang, aku minta Mama untuk membelikan lotre untuk kujual. Awalnya Mama menolak. Pertimbangannya karena aku terlalu kecil dan tidak perlu berjualan lotre untuk bisa hidup layak. Tapi aku ngotot karena ingin melakukan hal-hal yang dilakukan kawan-kawan lain.

    Akhirnya, Mama pun membelikan lotre di pasar.
    Sepulang sekolah, ditemani Tupon, mengenakan kaos singlet dan celana pendek akupun mengedarkan lotre selayaknya anak-anak lain ke rumah-rumah tetangga sambil berpromo “Lotre… Lotre…” Ada beberapa yang beli, tapi tak terlalu ramai seperti yang kuperkirakan, mungkin orang-orang juga eneg karena setiap hari sudah banyak anak menawari mereka lotre, kan? Hingga sekitar jam 5, Tupon sudah mengajakku pulang tapi aku tetap tidak mau. “Nanti pulang kalau sudah laku semua!”

    Tak lama berselang, aku melihat Papa dan Mama menghampiriku. Tupon panik kebingungan mungkin karena ia takut dipersalahkan karena tak mampu membujukku supaya pulang tepat waktu.

    Tapi Papa dan Mama tersenyum. “Ayo bali, Le! Wes bengi…”

    Aku berkeras, “Mengko Pa, bar maghrib!” Pemikiranku, setelah maghrib, orang-orang akan keluar rumah untuk pergi ke surau ataupun masjid. Di saat itu, aku pikir mereka akan memborong lotere-ku yang tinggal beberapa saja.

    Papa kemudian mengeluarkan dompet. “Piro sing durung laku?” tanyanya.

    “Sepuluh, Pa…” Papa kemudian memberiku lembaran uang seratus rupiah. Girangku bukan kepalang. Aku pulang bersama Papa dan Mama sementara sisa lotere kuberikan kepada Tupon yang kemudian juga beringsut pulang ke rumahnya.

    ***

    Dua tahun kemudian, aku tertarik lagi untuk mencari uang dengan cara lain.

    Adalah Ino, Martinus Tresno Suprihatno, kawan sekelas di SD. Suatu saat ia bercerita bahwa hampir setiap hari selepas sekolah, Ino tidak langsung pulang. Ia menghabiskan waktu di sekolah lalu sekitar jam tiga sore, ia pergi ke lapangan tenis yang letaknya berseberangan dengan kompleks Gereja dan sekolah, bekerja menjadi kacung.

    “Jadi kacung? Gimana itu?” tanyaku pada Ino.

    “Ya intinya kita membantu mengambilkan bola tenis yang tak bisa dijangkau oleh para pemainnya…” jawabnya.

    “Dapat uang berapa sekali kerja jadi kacung?” tanyaku lagi makin penasaran.

    “Dua ratus lima puluh rupiah!” jawabnya. Sebuah angka yang lumayan waktu itu! Bisa untuk ongkos sekali naik becak dari sekolah ke rumah.

    Aku tertarik tapi takut-takut juga jika minta persetujuan Mama apalagi Papa, aku pasti akan dilarang.

    Tapi dasar nekat!
    Siang itu dengan menggunakan alasan “main di sekolah”, aku memutuskan tak pulang untuk membersamai Ino hingga jam tiga lalu bekerja sebacai kacung bersamanya.

    Tugas sebagai seorang kacung sebetulnya menyenangkan. Kami beredar di sekitar lapangan. Ketika yang bermain adalah dua orang yang jago, kerjanya sangat gampang karena bola tidak mudah lepas. Kadang kami malah membantu menjadi wasit untuk menghitung angka perolehan masing-masing pemain.

    Tapi yang runyam adalah kalau yang bermain adalah pemula. Bola sering lepas dan kadang lepasnya jauh hingga keluar pagar. Tugas kami sebagai kacung ya harus mengejar dan menemukan bola itu untuk kemudian dilemparkan kembali ke lapangan untuk diserahkan pada pemain supaya permainan berlanjut.

    Ada peristiwa unik ketika aku sedang jadi kacung. Salah seorang pemain mengenali wajahku meski waktu itu aku aku sudah berusaha menyembunyikan wajah dengan mengenakan topi.

    “Lho! Kamu kan anaknya Pak Didiek yang pegawai bank itu? Kok kamu di sini?”

    Mukaku memerah tak keruan. Bukannya malu menjadi kacung tapi aku sudah bisa membayangkan apa yang akan terjadi. Si pemain itu akan lapor pada Papa dan Papa pasti akan marah kepadaku!

    Sepulang dari situ, alih-alih menunggu laporan, aku berinisiatif untuk melaporkan kepada Papa apa yang terjadi.

    “Pa… Ma… aku arep matur..”
    Ini adalah kalimat yang selalu aku pakai ketika hendak bicara cukup serius dengan Papa dan Mama.

    Papa dan Mama saling pandang lalu bilang, “Ono opo, Le?”

    Hal itupun kuceritakan. Di luar perkiraan, Papa tidak marah. Ia memelukku lalu bilang, “Yo ra popo… tapi nek iso ora usah meneh… “ Ia tak memberi alasan tapi aku bisa memperkirakan apa yang ada di dalam benaknya waktu itu.

    Papa memang selalu berkeinginan supaya aku fokus belajar bukan bekerja. Sebuah hal yang ia pertahankan betul hingga akhirnya semua runtuh pada 1999, dua tahun setelah badai ekonomi mengubah hidup kami seratus delapan puluh derajat.

    Waktu itu kami sudah menjual rumah Kebumen lalu pindah ke Klaten. Papa tidak berpekerjaan. Pada sebuah akhir pekan, aku pulang dari Jogja. Menjelang tidur, aku bilang pada mereka, “Pa.. Ma… aku arep matur…”

    Seperti dulu, Papa dan Mama kembali saling pandang lalu bilang, “Ono opo, Le?”

    Aku lantas menjelaskan bahwa atas alasan ekonomi, sepertinya aku harus memilih antara berhenti kuliah atau mempertahankan hidup di Jogja dengan bekerja.

    “Ada yang nawari aku untuk bekerja jadi penjaga warnet dan membuat website untuk perusahaan, Pa, Ma…”

    Papa memandang langit-langit rumah, menerawang jauh, sangat jauh… Ia tak berucap apa-apa…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Sepeda BMX dan Sepatu Roda

    Sepeda BMX dan Sepatu Roda

    Salah satu hal yang kemudian membuatku termotivasi untuk bisa mengayuh sepeda roda dua adalah karena aku diajak Papa nonton film BMX Bandits di Bioskop Gembira, Kebumen.

    Film bikinan negara tempatku sekarang berdomisili, Australia, itu benar-benar mengubah persepsiku tentang sepeda karena sesuai namanya, BMX Bandits mengeksplorasi sepeda jenis BMX yang sebenarnya adalah singkatan dari Bicycle Motocross. (Cross, disingkat dengan “X” yang berarti silang).

    Sejak saat itu aku merengek minta dibelikan sepeda BMX tapi sejak saat itu pula Papa selalu bilang, “Papa akan belikan tapi kamu harus bisa naik sepeda dulu!”

    Tak sampai tiga bulan aku akhirnya bisa mengayuh sepeda dan Papa menepati janjinya, membelikanku sepeda BMX merk Jemboly.

    Aku senang betul dengan hadiah itu dan aku ingat dulu sepedaku jadi pusat perhatian banyak kawan di kampung karena sepeda BMX ku adalah yang mula-mula yang pernah ada di sana. 

    Setelah berhasil meyakinkan Mama (kalau Papa sudah yakin sejak awal), akhirnya akupun mendapat ijin untuk mengendarai sepeda ke sekolah yang berarti menyudahi langganan jasa becak yang selama ini dipakai untuk antar-jemput aku ke sekolah.

    Seperti halnya anak-anak lain, sepeda BMX ku pun kaya akan modifikasi. Mulai dari mengganti velg biasa jadi velg bintang sampai mengganti ring gerigi jadi lebih kecil supaya lebih kebat meski agak sedikit lebih berat ketika dikayuh.

    Tapi kegilaanku pada sepeda BMX tak terlampau lama.

    Papa yang memulai, Papa pula yang mengakhiri.

    Waktu itu, alun-alun Kebumen sedang direnovasi dengan ditambah sebuah track beraspal sepanjang lingkar alun-alun itu. Lebarnya kalau tak salah ingat sekitar lima meter dan ketika dibangun, banyak orang berpikir bahwa pemerintah daerah menyediakan lintasan itu untuk para pengguna sepatu roda.

    Papa pun lantas membawa ide sepatu roda itu ke rumah. “Le, itu di alun-alun bakal ada lintasan sepatu roda. Kamu mau?”

    Ya siapa yang menolak, kan?
    Awalnya Mama berpikir, daripada beli mending meminjam sepatu roda bekas dari Mbak Mega.

    Mbak Mega adalah sepupu Mama yang tinggal di Jakarta dan dia dikenal jago bersepatu roda. Tapi mengenal Papa, iapun menolak ide itu. “Nggak usah, beli aja gak papa!”

    Tapi sekian lama Papa tak kunjung membelikanku sepatu roda. Hingga di hari ulang tahunku yang ke-10, 20 Desember 1987, malam hari, Papa menyerahkan kunci kepadaku. “Selamat ulang tahun yo, Le! Iki hadiahmu…”

    Rupanya ia menyembunyikan hadiah ulang tahun di lemari baju dan setelah lemari itu kubuka, menyembul kotak karton berisi sepatu roda berwarna merah yang masih baru sama sekali!

    Seperti halnya ketika aku belajar sepeda, hari-hari dan minggu-minggu berikutnya aku belajar menggunakan sepatu roda langsung di track yang masih baru.

    Beda dengan sepeda BMX yang pertama di kampung, ada anak tetangga yang kebetulan juga suka bersepatu roda. Kamipun sering berlatih bersama. (Aku sempat menanyakan pada Tupon via WhatsApp tentang nama anak ini tapi. rupanya diapun lupa. Satu hal yang kuingat, dia adalah putra dari Pak Baedowi, tetangga rumah)

    Sejak saat itu, sepeda BMX hanya kupakai sebagai alat transportasi ke sekolah saja, selebihnya pikiranku fokus pada sepatu roda.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Mulyono dan Sejarah yang akan menyelesaikannya

    Mulyono dan Sejarah yang akan menyelesaikannya

    Waktu masih tinggal di Jogja dulu, Sudi, kawan dekat, memperkenalkanku kepada Amir. Keduanya nama samaran karena kisah ini nyata adanya.

    Amir seorang yang perangainya pendiam. Air mukanya tenang, tutur katanya santun. Berkebalikan benar denganku yang emosional, banyak bicara, membicarakan umpatan-umpatan. 

    Tapi meski saling mengkutub, hal yang membuatku akhirnya merasa nyaman berkawan dengan Amir adalah kemampuannya dalam bermain gitar. Kampiun!

    Ketika kami sedang bercanda-canda gila, Amir hanya senyam-senyum sambil gelang-geleng kepala. Mungkin baginya, cara bercanda kami ini sudah di luar jangkaun nurulnya!

    Ketika kami melemparkan joke kepadanya supaya ia terpancing dan ikutan gila, ia beringsut malu-malu, merah muka sambil bilang, “Wah, Mas… Aku nggak ikut-ikut…”

    Amir juga bukan makhluk malam.
    Ia selalu pamit dari tempat tongkrongan sekitar jam sembilan malam. Padahal sebagai anak nongkrong, jam segitu masih terlalu pagi. Seduhan teh pun baru jadi, hidangan gorengan masih belum kering benar dan suguhan alkohol belum dibuka tutupnya, masa mau pulang?

    Tapi suatu malam Amir bilang bahwa malam itu ia hendak nginep di tempat kami nongkrong. 

    “Lho tumben, Mir?” tanyaku

    “Iya, Mas. Kost-kostan juga sepi… aku main di sini ya?”

    “Boleh! Nanti sekalian kita minum ya…. Kamu minum alkohol juga kan?” tanyaku. Amir mengangguk pelan sambil tersenyum.

    Perjamuan dimulai diselingi gitaran dan nyanyi-nyanyi seperti biasa.

    Makin larut, makin seru.
    Makin seru, makin saru percakapan.
    Makin banyak tuangan alkohol digilirkan dan makin perangai Amir mulai berubah pelan-pelan. 

    Yang semula pendiam, ketika dalam pengaruh alkohol, Amir jadi lebih aktif berbicara.

    Dari yang semula bicaranya santun, sekarang mulai diimbuhi kata-kata mutiara seperti “Asu” dan “Bajingan”.

    Jika Amir bukanlah Amir, tentu aku senang-senang saja dengan hal itu karena dalam bergaul, di Jogja dulu kata-kata seperti itu adalah panggilan sayang bukan cemoohan apalagi penghinaan.

    Tapi atas nama Amir yang adalah Amir, dahiku mengernyit. Adakah alkohol yang tak seberapa banyak yang ia tenggak ini sudah mampu meruntuhkan celak yang menempel di wajahnya selama ini yang membuatnya tampak santun? Jika demikian, lantas siapa dan seperti apakah Amir sebenarnya?

    Hari-hari berikutnya praktis tak ada yang berubah. Amir tetap santun, selama tidak ikut minum.

    Beberapa lama kemudian, Dita, kawanku yang lainnya, cewek, mengabarkan kepadaku bahwa ia sedang “jalan” dengan Amir.

    Dita adalah seorang ibu beranak satu yang ditinggal pergi suaminya karena main gila dengan wanita lain.

    Karena Dita sudah menganggapku kakak, akupun mencoba menelisik kenapa ia bisa suka pada Amir. “Dia pinter main gitar kayak kamu, Mas… Dia juga sering nganterin aku pulang…” Tapi itu belum semua karena di akhir percakapan, Dita mengimbuhkan, “Amir orangnya santun banget! Anakku suka dan ibu bapakku juga cocok kayaknya sama dia..”

    Aku mengangguk-angguk.
    Bukan tanda setuju tapi sebagai usaha supaya otakku yang ada di ceruk kepala yang kuangguk-anggukan itu memunculkan memori ketika Amir jadi pribadi yang tak santun lagi, ketika ia mabuk.

    Beberapa bulan sesudahnya, aku mengundang teman-teman untuk makan di sebuah restaurant, tak terkecuali Dita dan Amir.

    Menjelang sepuluh menit sebelum mulai acara, telponku bergetar. Ada nama Dita di sana. 

    “Piye, Dit?” tanyaku.

    Dengan suara tergetar, Dita berkata “Mas…. aku gak bisa datang ke acaramu. Maaf ya…”

    “Loh!? Kenapa?” aku curiga karena di belakang suara Dita ada begitu banyak suara motor dan mobil berlalu-lalang.

    “Aku berantem sama Amir, Mas! Aku diturunkan dan ditinggal di jalan!” suaranya meyendu, sesenggukan.

    Aku dan beberapa kawan sontak bergegas menjemput Dita untuk memastikan dia baik-baik saja. Tapi nyatanya tidak! Sesampainya di tempat di mana Dita ditinggalkan Amir, penampilannya amburadul. Rambutnya acak-acakan, kain bajunya robek dengan beberapa kancing yang lepas dari tempatnya.

    Dengan sesenggukan, Dita menceritakan bahwa Amir marah besar melihat Dita dandan maksimal. “Ia menjambak dan menamparku, Mas! Dia juga menyobek bajuku! Menurutnya bajuku terlalu seksi lalu aku diturunkan begitu saja di sini!”

    Aku geram. Beberapa kawan kutinggal untuk membantu Dita lalu bersama beberapa yang lain, aku bergegas mendatangi Amir untuk menuntasinya malam itu juga.

    Amir adalah contoh nyata bagiku bahwa kesantunan, setulus apapun itu hanyalah tampilan, hanyalah permukaan.

    Alkohol membuatnya tampak lebih transparan, kekuasaan atas diri Dita membuat Amir tak mampu lagi menyembunyikan kebinatangannya. Ia yang malu-malu mengatakan asu ternyata lebih asu dari yang paling asu sekalipun!

    Ada banyak orang seperti Amir, banyak sekali. Seperti halnya yang kita lihat belakangan ini tampak pada sosok Mulyono.

    Citra Mulyono sebagai orang baik, pengayom rakyat dan orang sederhana sudah tutup buku. Goyah dan goncang karena nafsu: jabatan, kuasa, uang entah wanita… 

    Seperti halnya malam itu aku “menyelesaikan’ Amir, saat ini Mulyono pun sedang diselesaikan oleh sejarah.

    Kita tidak perlu tahu kapan dan akan seperti apa kejamnya meringkus dan menyelesaikan Mulyono beserta konco-konconya nanti seperti halnya kalian dan bahkan Dita pun tak pernah kuberitahu seperti apa kejamku malam itu menyelesaikan kepalsuan Amir dan membuatnya tidak berani lagi untuk mendekati Dita dan menampakkan muka kepadaku dan kawan-kawanku yang lainnya…

  • Mencintai Indonesia meski sudah tidak lagi tinggal di dalamnya

    Mencintai Indonesia meski sudah tidak lagi tinggal di dalamnya

    Ada seorang kawan bertanya “Don, gimana sih rasanya jadi orang Indonesia tapi nggak tinggal di Indonesia lagi? Masih cintakah kamu pada Ibu Pertiwi?”

    Ibaratnya seperti kita sedang bermalam di rumah tetangga di akhir pekan.

    Melihat bangunan rumah sendiri dari rumah tetangga, kita baru sadar bahwa ternyata atap rumah kita itu agak miring! Pantesan banyak genteng yang melorot dan bikin bocor di musim hujan.

    Kita juga baru sadar ternyata bahkan ketika jendela kamar ditutup, suara senandung Ibu menyanyikan lagu-lagu kesukaannya pun masih terdengar dari sini.

    Dan masih soal suara, ketika sedang mengamati, tiba-tiba Ibu berteriak dan teriakannya terdengar kencang sekali! “Duh apa sih yang sedang terjadi kok riuh amat?”

    Seperti itu jugalah kami melihat Indonesia… dari sini.

    Kami jadi merasa punya sudut pandang yang berbeda barangkali karena tidak tinggal di dalamnya. 

    Kami jadi bisa langsung mendengar testimoni tentang bagaimana kawan-kawan non-Indonesia yang kami temui di sini mengungkapkan apresiasi terhadap alam dan budaya Indonesia!

    Tapi kami juga tak bisa menutup mata bahwa dari sini, rumah bernama Indonesia itu sesekali memang tampak “agak laen”. Tak jarang suara gaduh yang terjadi pun terdengar sampai sini. Kami tak tahu apa tepatnya tapi kami tahu pasti sedang ada apa-apa di sana.

    Mengenai cinta…

    Memang tak sedikit dari kami yang kemudian jatuh dalam pilihan untuk menjelek-jelekkan Indonesia. Bahkan tak sedikit yang merasa malu dan menutupi kenyataan bahwa sejauh-jauhnya pergi mereka tetaplah orang Indonesia.

    Tapi ya maklumlah!
    Warisan genetik bernama sikap inferior memang kadang tak terhindarkan, membuat kawan-kawan kami itu tadi memilih menjelek-jelekkan bangsa sendiri dan tak percaya diri.

    Tapi percayalah, dibandingkan mereka, jumlah yang masih sangat mencintai Indonesia seperti kami ini ya lebih banyak!

    Kami mencintai Indonesia karena sadar bahwa sejauh apapun kami pergi, selama apapun kami di sini dan  apapun kewarganegaraan kami saat ini , Indonesia adalah rumah yang melatarbelakangi kehidupan awal kami.

    Kami pernah sama-sama minum air dari sumber mata air di  Indonesia, makan… dari  nasi yang ketika masih jadi padi tumbuh di Indonesia…

    Lidah kami, sehebat-hebatnya menguasai bahasa baru, tetaplah lidah indonesia yang sulit ditekuk ketika mengucap ‘R’ ala bule dan kadang tetap susah untuk mereka mendengar kami membedakan pengucapan “Thing” dan “Think”, “Six” dan “Seek” juga “Sheet” dan “SHIT!”

    Tapi kami juga sadar, pasti ada yang mencibir “Ah, kalau ngakunya cinta mati kenapa gak pulang kembali?”

    Dua hal itu menurut kami tidak selalu bisa dijadikan sebagai sebab dan akibat.

    Cinta kepada Indonesia tidak serta merta berarti kami harus pulang kembali ke sana karena keputusan mencintai dan keputusan untuk menetap di suatu tempat diciptakan dari bilik otak yang barangkali berbeda.

    Jangan ragukan cinta kami terhadap Indonesia! Anggaplah keputusan kami untuk tinggal jauh ini sebagai cara untuk ikut membantu membentangkan sayap Garuda hingga selebar dunia!

    Dirgahayu Negeri!

    Maaf catatan ini terlambat, weekend kemarin kami sibuk mengikuti tujuhbelasan di kota dan negara tempat kami tinggal dan minggu ini langsung dipaparkan pada keadaan darurat konstitusi….

  • Mengenakan Kacamata

    Mengenakan Kacamata

    Aku mengenakan kacamata sejak kelas lima SD dan berikut adalah cerita awal mula yang masih sanggup kuingat saat tulisan ini kurawi, 34 tahun sesudahnya.

    Gejala awalnya barangkali sama dengan gejala kebanyakan anak-anak yang harus mengenakan kacamata, tak sanggup membaca tulisan di papan tulis dari barisan bangku kedua dari belakang di kelas.

    Untung, ISR, teman satu bangkuku adalah seorang yang baik hati. Ia membantuku mengeja satu per satu kata yang tertulis yang tak sanggup kutangkap.

    Tapi lama-lama nggak enak ati juga! 

    Akhirnya aku minta pindah ke bangku yang lebih depan kepada guru wali kelas. Permintaan itu dikabulkan dengan syarat, “Kamu harus bilang ke orang tuamu supaya memeriksakan mata ke dokter ya!”

    Seminggu kemudian, aku diantar Papa ke dokter mata di daerah Tamanwinangun dan sesuai prediksi, aku harus mengenakan kacamata karena kedua mataku rabun jauh dan bisa diatasi kalau aku menggunakan lensa berukuran minus 1.5.

    Uniknya, dan lagi-lagi barangkali aku tak sendirian karena Papa dan Mamaku menanggapinya dengan kaget tapi juga bangga!

    Kaget karena aku harus mengenakan kacamata sepagi itu. Bangga karena menurut mereka, kacamata yang kupakai adalah simbol pintar dan kutubuku! Hmmm, mereka nggak tahu bahwa dalam hati aku malah berpikir, “Duh, jangan-jangan ini terjadi karena aku udah pernah nonton bokep jadi mataku kayak gini ya?!” Bukan kutu buku tapi kutu bokep!

    Pada hari Minggu sesudahnya, Papa kemudian mengajakku pergi ke Jogja untuk membeli kacamata.

    Padahal di Kebumen sebenarnya ada beberapa toko kacamata tapi Papa ogah. Dia gengsi membelikan kacamata di Kebumen, maunya di Jogja. “Pokokmen nang Akur Optik! Wes, kuwi wae!”

    Menggunakan jasa travel, Bumen Jaya, pagi-pagi benar aku dan Papa pergi sementara Mama jaga rumah bersama Chitra dan Mbak Piyah. Kebetulan karena pool Bumen Jaya itu ada di Jl Perwakilan, Jogja, sesampainya di Jogja kami hanya berjalan kaki saja untuk sampai ke Akur Optik yang ada di jalan yang sama.

    Papa memilihkan frame kacamata dan setelah memberi resep serta membayar ongkos, kami meninggalkan Akur Optik untuk kemudian jalan-jalan sebentar di sekitaran Malioboro sebelum kembali ke Kebumen.

    Dua minggu kemudian kami datang lagi ke sana untuk mengambil kacamata dan sejak hari itu hingga kini dan mungkin untuk selamanya aku mengenakan kacamata.

    Kacamata pertamaku modelnya sangat umum kala itu, model 80-an kalau kata anak-anak jaman sekarang. Avation style, berwarna emas dengan lensa yang tak tebal karena sudah ditipiskan.

    Aku cukup percaya diri dengan kacamata itu. Berkat Papa dan Mama yang selalu membesarkan hati, “Ketok bagus, Le! Makin ketok pinter!”

    Tapi yang kudapat di sekolah, berbeda dengan yang diutarakan Papa dan Mama. Tak semua, tapi banyak yang meledekku dengan kacamata baruku itu. Mereka menyebut aneh, mereka memanggil Lodhong. Dalam Bahasa Jawa, lodhong adalah istilah untuk toples kaca. Apa kaitannya? Karena menurut mereka, kacamataku mengingatkan pada pantat lodhong.

    Beruntung aku tak sendirian. 

    Beberapa bulan sesudah aku mengenakan kacamata, Widihartoko, teman akrabku pun juga mengenakan kacamata yang kala itu menggunakan lensa yang ketika terkena sinar matahari akan menggelap dan ketika ada di ruangan akan menjernih… Kawan-kawan menyebutnya kacamata Deddy Dores. Entah lebih parah yang mana untuk dijadikan bahan ledekan pokoknya begitulah awal ceritanya hahahaha….

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Praja Muda Karana

    Praja Muda Karana

    Pengalamanku mengkuti kegiatan Pramuka (Praja Muda Karana) dimulai dan diakhiri di Kebumen.

    Sejak SD hingga SMP, Pramuka adalah kegiatan wajib bagi para siswa. Tak hanya itu, di hari tertentu, kalau tidak salah sabtu, kami diwajibkan mengenakan seragam Pramuka sebagai seragam sekolah.

    Awalnya aku dulu suka dengan kegiatan itu. Rertarik dengan pelajaran tali-temali, hingga kini bahkan aku masih ingat cara melakukan ikat silang dan ikat jangkar. Juga di saat Pramuka, aku diajari kegiatan-kegiatan terkait ketrampilan dasar seperti memasak, mendirikan tenda… hal-hal yang tidak diajarkan di kelas.

    Tapi seiring berjalannya waktu, aku jadi tidak terlalu suka.

    Perkara awalnya adalah karena kegiatan Pramuka diadakan sore hari, waktu yang paling menyenangkan untuk bermain bersama kawan-kawan. Juga karena untuk berkegiatan, kita harus mengenakan kemeja yang kancingnya hanya dua di leher (mirip poloshirt tapi berbahan kemeja) plus dasi (duk) dan topi baret. Badan jadi berkeringat, gerah dan tidak nyaman! (Maaf, dari dulu aku memang manja! Menghadapi hal begitu saja mengeluh hahaha…)

    Saat duduk di kelas enam SD, kami mengikuti kemah akhir pekan di halaman SD Kutosari 1 Kebumen yang letaknya tak jauh dari sekolah, SD Pius Bhakti Utama, dan dekat dari rumah.

    Kami mendirikan dua tenda dan kegiatan-kegiatan di acara itu sesungguhnya cukup menyenangkan. Kami diajak mendirikan tenda lalu memasak. Waktu itu aku diajari Mama memasak bakwan jagung dan menghidangkannya untuk kawan-kawan.

    Acara api unggun meski tak kuikuti apa yang dibicarakan oleh kakak-kakak pembina, aku asyik aja memanfaatkan nyala api untuk menangkap wajah-wajah cantik malam itu. Tapi yang paling tidak menyenangkan adalah sesudahnya.

    Ketika api dipadamkan dan kami diminta kembali ke tenda untuk beristirahat, tiba-tiba ada seorang kawan yang mengabarkan kabar bohong. “Malam ini kayaknya bakal ada kakak pembina yang memutari kemah dan pura-pura jadi hantu lho!“

    Wah, karena dasarnya aku ini penakut, dikabari hal seperti itu akupun jadi tidak tenang dan tidak bisa tidur! Semalam-malaman aku hanya berbaring tak mengatupkan mata sama sekali hingga pagi. Di saat upacara terakhir, pagi harinya, akupun limbung lalu muntah karena masuk angin, kurang tidur atau lebih tepatnya tidak tidur sama sekali!

    Masuk ke SMP 1 Kebumen, harapan untuk suka pada Pramuka naik lagi.

    Seragamnya lebih tidak cupu! lebih keren dengan kemeja beneran, dua saku kanan dan kiri serta pengikat baret di bahu kanan. Emblem yang dipakai pun sudah bukan lagi hijau tapi merah terang. Maklum, kita sudah bukan Siaga tapi Penggalang, tingkatan yang lebih tinggi.

    Dan yang lebih membuat naluri kompetitifku naik adalah karena ternyata setiap tahun ada siswa yang dikirim ke kegiatan Jambore Nasional di Cibubur, Jakarta. Selain itu, aku baru sadar ternyata menjadi Penggalang, kita diijinkan untuk mengkoleksi emblem lalu dipasang di selempang sebagai tanda kecakapan kita terhadap satu skill yang kita kuasai. “Wah, jadinya gagah kayak tentara!” batinku waktu itu.

    Tapi sayangnya hal itu tak kutindaklanjuti karena aku pada akhirnya lebih sibuk pada kegiatan ekstrakurikuler seni suara dan apalagi kalau bukan main-main bersama teman sebaya.

    Ketika duduk di kelas tiga, saat sudah tidak niat lagi untuk ber-Pramuka, aku mengikuti kegiatan wajib, kemah akhir pekan di sekolah dan aku tahu hal itu akan kembali jadi hal yang mencekam bagiku.

    Beda dengan kemah waktu SD, pada saat SMP, kami diminta melakukan kegiatan jurit malam yang diisi dengan berbaris lalu berjalan mengitari kompleks sekolah lalu keluar mengitari sekitar dua blok kawasan tempat tinggal warga. Namanya juga jurit malam, kegiatan itu dilakukan tepat tengah malam.

    Seperti halnya waktu SD, gosip bahwa akan ada panitia yang menyaru menjadi hantu jadi-jadian pun mengemuka.

    “Nanti kamu waktu lewat sungai dekat Gereja, ati-ati… mereka ada di sana!”

    Ada juga yang bilang, “Kamu kalau ke toilet hati-hati, kayaknya tadi ada yang sedang bersiap di ruang UKS!”

    Aku yang selalu tidak santai menghadapi hal-hal seperti itupun jadi makin gusar dibuatnya!

    Aku mulai mempertanyakan dalam hati, apa sih fungsi jurit malam? Latihan kepemimpinan? Apa kaitannya dengan jalan kaki di tengah malam? Apakah dengan begitu kita lantas dapat wangsit dari langit dan otomatis jadi pemimpin yang unggul?

    Di tengah berkecamuknya pikiran di benak, aku toh sebenarnya merasa cukup terhibur waktu itu.

    Sebelum jurit malam, diadakan api unggun dan malam kesenian. Seperti biasa, aku didapuk jadi penyanyi dan malam itu aku membawakan Maafkan, lagu yang ada di album pertama grup band yang sekarang jadi legenda, Slank.

    Suaraku yang mencapai nada tinggai tanpa perlu diturunkan chord dasarnya ternyata menarik perhatian banyak orang termasuk Si LA. LA ini adik kelas dua angkatan yang kukenal sejak lama karena mamanya berkawan dengan Mamaku. LA berparas manis, berwajah tirus, hidung mancung dan mata yang begitu tajam.

    Malam itu LA duduk di barisan depan. Matanya mengerling dan senyumnya tak henti disampaikan kepadaku yang beraksi di atas panggung.

    Sejak saat itu, hatiku tertambat padanya. Hingga beberapa tahun ke depannya aku berusaha mengejar bahkan ketika aku sudah pindah ke Jogja untuk melanjutkan studi. Tapi seperti kisah-kisahku sebelum (dan beberapa sesudahnya), kisahku dengan LA adalah kisah kasih yang tak sampai, kandas di tengah jalan.

    Kembali ke soal Pramuka…

    Ketika aku akhirnya melanjutkan sekolah di SMA Kolese De Britto, salah satu berita yang paling melegakan adalah karena di sana tidak ada kegiatan Pramuka!

    Selamat Hari Pramuka, 14 Agustus 2024!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Menang Porkas dan SDSB

    Menang Porkas dan SDSB

    Sebagai pegawai bank level menengah ke bawah di sebuah kota kecil bernama Kebumen, keadaan ekonomi Papa di paruh akhir dekade 80an bisa dibilang lumayan bagus. 

    Untuk memudahkan kalian paham akan label “lumayan bagus” ini, kira-kira berikut adalah deskripsinya.

    Papa dan Mama adalah perokok berat dan untuk keperluan itu, mereka tidak pernah kehabisan stock rokok. Papa, Dji Sam Soe. Mama, Dunhill Hijau. Keduanya bukan rokok yang murah waktu itu.

    Untuk urusan makan, kalau mau, setiap malam Papa bisa saja menraktir kami makan makanan kesukaan seperti mie goreng atau mie godhog Ratman atau Ratman Muda. 

    Untuk urusan pakaian, jangan tanya. Papa selalu alergi kalau bajuku terlihat kusam dan itu-itu aja. Jadi yang lain masih buta merk, aku sudah dikenalkan dengan Hammer dan Country Fiesta yang harganya lumayan!

    Demikian juga Mama.
    Papa membebaskannya untuk pergi ke salon sesering ia suka, membeli yang ia mau. Kenapa aku tahu hal itu? Karena Papa selalu menyerahkan semua uang gajinya kepada Mama tanpa tersisa satu peser rupiah pun! Papa sangat menghargai dan percaya kepada Mama! Hal yang kemudian kuterapkan hingga kini di dalam kehidupan rumah tanggaku.

    Tapi bagaimana kalau kami ingin berlibur?
    Selain kebutuhan mudik lebaran ke Blitar dan mudik Natal ke Klaten yang diusahakan melalui tunjangan hari raya dan tabungan, anggaran untuk berlibur itu tidak ada pos anggarannya!. Meski demikian, beberapa kali kami toh akhirnya berlibur juga.

    Lalu darimana asal muasal uangnya? Berikut adalah ceritanya…

    Sebagaimana banyak pria seusianya dulu, Papa menggemari judi angka yang dilegalkan pemerintah. Awalnya Porkas! Sesuatu yang di kemudian hari kutahu singkatannya adalah Pekan Olahraga dan Ketangkasan. Kebetulan Papa pun penggila bola, cocoklah. Tapi seingatku, Papa tidak pernah menang sekalipun! (Sekali lagi, dari informasi yang kubaca setelahnya, peluang seseorang menang judi Porkas itu hanya 1:10 juta! ya mana bisa, kan?)

    Setelah Porkas, muncul SDSB yang tak lain adalah singkatan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah! Anjrit banget kan singkatannya hahaha Soeharto emang jago deh bikin singkatan-singkatan gini :)

    SDSB adalah judi tebak angka, yang diundi Rabu malam setiap minggunya.

    Untuk menebak, Papa (dan banyak manusia-manusia lain waktu itu) tidak asal tebak saja. Hampir setiap malam, Papa selalu “meracik angka” berdasarkan perhitungan-perhitungan kertas yang ia bawa kemana-mana. Bagiku coretan-coretan itu tanpa makna, tapi Papa bisa berjam-jam dengan sangat serius mengerjakannya. 

    Pernah aku terpikir untuk belajar dengan be tanya bagaimana caranya menebak, ia sempat menjelaskan tapi bagiku hal itu sama sekali tidak menarik. (Ketidaktertarikanku pada judi angka ini berlaku hingga sekarang. Tak hanya karena secara prinsip iman aku menentang, tapi juga karena aku tak suka menggantungkan harapan pada hal yang sama sekali tak bisa kita kenali apalagi kendalikan juntrungannya itu!)

    Papa membeli kupon SDSB ke seorang bernama Pak Mg yang tak lain adalah juga orang yang kepadanya kami berlangganan koran. Setiap Rabu pagi, Pak Mg datang tak hanya mengantar koran tapi bertanya apa malam itu papa mau pasang judi SDSB atau tidak? Jika pasang, Papa kemudian menyebut kombinasi nomer yang ia dapat dari kertas-kertasnya itu seraya memberikan uang kepada Pak Mg yang kemudian menukarnya dengan nota bukti keikutsertaan judi. 

    Dan uniknya, beberapa kali Papa menang undian!

    Ada ritual unik tentang hari-hari kemenangan ini. Oh ya, lupa bilang bahwa Pak Mg ini tak lain adalah ayah dari kawan dekatku, Bd. 

    Bd lah yang diutus bapaknya untuk menyampaikan kabar sukacita itu :) Setiap kami melihat sosok Bd masuk ke pelataran rumah dengan sepeda kecilnya, Mama yang paling dulu berteriak “Hore! Kita liburan…” lalu Bd dengan santun berkata di depan pintu sambil tersenyum, “Pak Didiek… nomernya tembus!”

    Biasanya Papa dengan riang lalu memberikan beberapa lembar uang kepada Bd sebagai tanda terima kasih sementara aku hanya mengamatinya dari meja makan sambil menghabiskan sarapanku.

    Sesuai apa yang dikatakan Mama, tak lama kemudian biasanya Papa mengumumkan liburan.

    Jangan bayangkan liburan ini seperti liburan-liburan masa kini. Liburan, setidaknya dalam keluarga kami, berarti melancong ke tempat pariwisata, pergi di hari minggu pagi, pulang di sore atau malam hari.

    Karena waktu itu kami belum punya mobil, Papa menyewa minibus sekaligus jasa sopir dari Pak Sariman, kolega kerjanya. Lalu kami pergi. Ke arah timur berarti mengitari Jogja lalu ke Taman Kyai Langgeng dan Candi Borobudur di Magelang. Kalau ke arah barat, kami menuju ke Kopeng atau Baturaden di Purwokerto. Yang pergi bukan cuma aku, Chitra, Mama dan Papa tapi Tupon dan Mbak Piyah pun turut serta.

    Sepanjang perjalanan kami banyak bercerita menghidupkan waktu, mampir makan kemudian di tempat wisata, tak lupa kami berfoto juga berbelanja souvenir untuk dibawa pulang. Jika diingat-ingat, meski sederhana, tapi pengalaman-pengalaman seperti ini melekat di dalam benak hingga kini. 

    Dalam percakapanku dengan Tupon melalui WhatsApp beberapa waktu lalu, ia bahkan masih sanggup mengenang perjalanan demi perjalanan termasuk ketika tiba-tiba mobil mogok dan kami pun panik karena tidak tahu harus bereaksi seperti apa…

    Hobi Papa membeli judi angka terus berlanjut bahkan hingga setelah kami pindah ke Klaten pada 1998.

    SDSB memang sudah tidak ada seiring ambyarnya Orde Baru pada reformasi 1998, tapi judi-judi underground seperti Jap Ji Kia masih ada dan diikutinya.

    Waktu itu, sekitar tahun 2001, aku sudah bekerja dan mulai serius beragama. Pernah sekali waktu, aku berpikir hendak mengingatkan Papa untuk berhenti bermain judi seperti itu karena hal itu tidak baik untuk diteruskan seturut iman yang kudalami.

    Tapi aku bersyukur hal itu tidak pernah kulakukan setelah aku mendengar cerita dari kawan dekatku Pelet (alm)  tentang betapa bahagianya Papa ketika meracik angka apalagi menang. 

    “Papamu kalau menang itu uangnya dibuat nraktir kita-kita ini. Trus beli rokok Dunhill Hijau beberapa kotak dari Sami Laris lalu dibawa pulang untuk Mamamu!”

    Mataku berkaca ketika diberitahu hal itu. Dunhill Hijau itu sangat berarti bagi Papa. Ia menganggpnya sebagai lambang hidup nyaman seperti yang pernah ia usahakan kepada Mama, aku dan Chitra saat tinggal di Kebumen, beberapa tahun sebelumnya.

    Bagiku ini bukan tentang perkara benar atau salah. Atau katakanlah aku salah karena tak menyampaikan kebenaran kepada Papa, tapi aku tahu betul bahwa membuat Papa tetap merasa senang dan nyaman di tengah situasi yang tidak baik-baik saja secara ekonomi adalah lebih penting ketimbang mendakwanya telah berbuat salah dengan ikut judi angka.

    Berbeda dengan ketika hidup di Kebumen, keadaan ekonomi Papa ketika kami tinggal di Klaten memang berbeda bumi dan langit.

    Jika di awal tulisan aku melukiskan bahwa kehidupan kami di Kebumen pada dekade 80an adalah lumayan bagus, di dekade akhir hidup Papa, kondisi kami sangat tidak mengenakan secara ekonomi. 

    Setidak enak apa? Wah! Untuk yang satu ini, bahkan hingga sekarang, aku belum mampu menata huruf dan kata untuk sekadar membagikan kepada kalian tentang apa yang pernah kami alami bersama-sama sebagai sebuah keluarga…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Sekolah Bulutangkis Nabati Yasa

    Sekolah Bulutangkis Nabati Yasa

    Sebagaimana layaknya orang tua yang anaknya lahir di era Orde Baru, Papaku dulu pun merasa bahwa anak sulungnya ini punya peluang yang sama untuk menjadi jagoan bulutangkis seperti Icuk Sugiharto, Lim Swie King, Ardi B Wiranata hingga Alan Budikusuma.

    Waktu aku tumbuh, dunia bulutangkis Indonesia memang sedang hot-hotnya. Setelah era Rudy Hartono lewat, para penerusnya seperti Icuk Sugiharto dan Liem Swie King benar-benar jadi idola dan momok yang menggetarkan lawan-lawannya.

    Papa tak pernah melewatkan satu pertandingan pun apapun arenanya. Entah itu All England atau Thomas dan Uber Cup. Hal ini diperkuat lagi dengan pengalaman yang terjadi saat kami berlibur ke Semarang, menginap di rumah Om Agus dan Mbak In (adiknya Mama), kami sempat berpapasan dengan Liem Swie King di pusat perbelanjaan Simpang Lima Semarang dan sejak saat itu, Papa seperti semakin berapi-api pada bulutangkis.

    Waktu aku kelas 4 SD, obsesi Papa itu menemui titik nyatanya. Setelah aku melaporkan bahwa beberapa teman seperti Hendy, Ferry dan Anton ikut sekolah bulutangkis, tanpa berpikir panjang lagi Papa langsung menyuruhku untuk mengikuti mereka.

    Sekolah bulutangkis itu menempati gedung bekas pabrik pengolahan minyak kelapa, Nabati Yasa, Kebumen.

    Tempatnya lumayan jauh dari rumah dan di dalam gedung-gedung yang kusam dan gelap berjelaga dengan beberapa kereta pengangkut kepala masih dibiarkan begitu saja itu dibangun setidaknya tiga lapangan bulutangkis.

    Setelah mendaftar, sepulang dari situ, aku dan Papa mampir ke toko peralatan olahraga Garuda untuk membeli raket bulutangkis. Sebelum pergi ke sana, Papa sudah berpikir hendak membelikanku Pro Kennex seperti yang Bondan pakai, tapi setelah tahu bahwa Hendi, Ferry dan Anton memakai Yonex Carbonex, iapun berubah pikiran, membelikanku Yonex meski harganya lebih mahal ketimbang Pro Kennex.

    Tak hanya raket, Papa juga membelikan kaos, celana, sepatu hingga sweatband atau yang dulu dikenal dengan istilah deker.  Pokoknya secara penampakan, aku sudah tampak seperti atlet meski belum pernah sekalipun mencoba mengayunkan raket dan memukul shuttlecock.

    Sejak saat itu, hingga beberapa waktu kemudian, setiap hari Minggu pagi jam 8 aku sudah mengayuh sepeda membelah kota membawa raket kuselempangkan ke punggung untuk ikut sekolah bulutangkis.

    Rutinintas di sekolah itu adalah seperti berikut, acara dimulai jam sembilan pagi dengan pemanasan lalu kami diminta berlari mengelilingi kampung di dekat gedung. Sesudahnya kami mulai diajari bermain bulutangkis hingga sekitar jam 12 siang. Sebelum pulang, biasanya aku bersama Anton, Feri dan Hendi makan siang bersama di warung dekat gedung.

    Sesampai di rumah, Papa selalu berantusias bertanya bagaimana jalannya rutinitas yang kulalui. Awalnya aku bersemangat tapi lama-kelamaan aku sadar diri bahwa olahraga, termasuk bulutangkis, bukanlah keahlian apalagi passionku.

    Aku merasa tak berbakat sama sekali karena bahkan untuk perform teknik-teknik dasar seperti forehand, backhand pun aku gagal. Bahkan ketika melakukan service, beberapa kali aku tak sanggup menyeberangkan shuttlecock ke area lawan dan itu mengundang tawa banyak peserta yang lain.

    Ketika pertandingan, aku pada akhirnya hanya jadi bawang kothong, istilah untuk mereka yang hanya jadi pelengkap penderita saja tak seperti ketiga kawan yang kusebut tadi yang benar-benar menguasai.

    Awalnya Papa tak bergeming ketika kukabarkan hal itu kepadanya.  Baginya, semua akan bisa karena terbiasa. “Jangan menyerah, Don! Deloken Ardi BW kae lho, Le! Ardi itu mainnya cuma gitu-gitu aja! Beda dengan Alan Budikusuma tapi Ardi itu tekun… makanya dia bisa!” ujar Papa seolah dia adalah pelatih Ardi B Wiranata hahaha :)

    Aku lupa bagaimana akhirnya, tapi intinya aku memaksa untuk keluar dari sekolah bulutangkis tak seberapa lama kemudian dan Papa pun tak bisa berbuat apa-apa apalagi setelah Mama turun tangan membela anak sulungnya ini.

    Sejak saat itu aku menggantungkan raket dalam arti yang sebenarnya, menggantungkan raket yang masih baru dan selanjutnya kujadikan hiasan dinding saja selama beberapa waktu hingga akhirnya Mama memberikan raket itu kepada orang lain yang menurutnya lebih memerlukan…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.