[Tentang Kebumen] Hari Pertama

25 Jun 2024 | Tentang Kebumen

Dari mereka yang mengenalku sejak sekitar dua puluh tahun terakhir ini, tak banyak yang tahu bahwa aku pernah tinggal di Kebumen selama sembilan tahun sejak 1984 hingga 1993 sebelum akhirnya pindah ke Jogja.

Exif_JPEG_420

Papa, Mama dan Chitra, adikku, bahkan menetap lebih lama hingga lima tahun sesudahnya, 1998. 

Mereka berpikir aku asli Klaten yang kemudian menghabiskan banyak waktu di Jogja sebelum akhinya pindah menetap di Sydney, Australia. Tak bisa disalahkan karena aku memang jarang bercerita tentang Kebumen dan dialek tutur Bahasa Jawaku pun tidak ada ngapak-ngapaknya sama sekali.

Aku pindah ke Kebumen pada pertengahan 1984.

Sebelumnya bersama Mama, aku tinggal di Klaten di rumah leluhur dari pihak Mama bersama Eyang Putri Pranyoto, Eyang Buyut Putri Padmodiharjo, Om (aku memanggilnya Mas) Kokok dan Tante (aku memanggilnya Mbak) Yohana. Sementara Papa, sejak 1982, mendapat penugasan dari sebuah bank BUMN di Kebumen. Setiap akhir pekan, Papa pulang ke Klaten menjengukku dan Mama. Hal itu berjalan lebih dari setahun. 

Lalu atas dorongan dari Eyang dan keluarga besar pihak Mama, kami (aku dan Mama) diminta bergabung bersatu dengan Papa. Tidak elok kalau sebuah keluarga terpisah hanya gara-gara pekerjaan, demikian cerita yang kudapatkan dari alm Papa dulu.

Yang kuingat, ketika Mama mengabarkanku akan hal ini di perayaan ulang tahunku yang ke-6, 20 Desember 1983, aku menanggapinya dengan biasa saja. Bahkan menjelang pindah, enam bulan kemudian, aku sempat menolaknya. Meninggalkan Klaten berarti meninggalkan kehangatan dan kenyamanan yang diberikan tak hanya oleh para eyang dan om serta tante tapi juga kawan-kawan sepermainan baik di kampung Tegal Blateran maupun di sekolah TK Maria Assumpta Klaten. Tapi apa mau dikata, semua harus terjadi demikian adanya.

Kami berangkat ke Kebumen pada sebuah minggu sore.

Saat matahari lindap di sisi barat, Eyang Buyut, Eyang Putri, Mas Kokok dan Mbak Yo melepas kami ke depan pintu gerbang rumah dengan penuh haru. Kami saling berpelukan dan berjanji Natal tahun ini akan segera pulang ke Klaten untuk merayakan bersama-sama seperti Natal-natal tahun sebelumnya.

Tak banyak barang yang kami bawa.
Seingatku Papa menyewa sebuah kendaraan wagon. Kami duduk di depan berhimpitan. Papa duduk di kursi pinggir dekat pintu supaya mudah untuk merokok, sementara aku dipangku Mama di tengah menyebelah dengan supir. Kursi di area belakang dilipat untuk memasukkan tas-tas berisi pakaian, mainan-mainanku dan satu-satunya perabotan yang kami bawa waktu itu, meja rias Mama. Meja rias ini nantinya kami bawa kembali pulang ke Klaten saat kami menuntasi pengalaman hidup kami di Kebumen pada 1998.

Aku lupa apakah kami berhenti makan di Jogja malam itu tapi yang pasti kuingat, sepanjang perjalanan saat hari makin gelap, Papa ngganyik bercerita tiada henti. “Oh kita sampai sini…” atau “Nanti di depan itu jalannya akan belok cukup tajam, Yas…” atau “Ini warung enak.. nanti kita main ke sini ya..” dan  “Oh itu rumah nasabahku…” Sesekali waktu ia juga ngobrol dengan Sopir.

Sesampainya di Prembun, 18 kilometer dari Kebumen, saat hari sudah semakin larut, aku yang sempat tertidur di pelukan Mama berujar, “Ma, wes tekan? Isih suwe?”

Lalu Papa mengusap rembutku yang berkeringat dan berkata, “Diluk meneh, Le… Diluk meneh…”

Kami sampai di Kebumen menjelang jam 10 malam.
Papa mengontrak sebuah rumah di Jl Bengawan No. 32, Kauman, Kebumen. Dari alun-alun kami belok kiri sesudah Mesjid Raya,  masuk ke JL. Kapten Pierre Tendean, Desa Kutosari. Tak jauh dari SMP Muhammadiyah 1 belok kiri masuk ke Jl Bengawan yang waktu itu belum diaspal dan tanahnya pun terlalu rata.

Rumah kontrakannya tak terlalu besar tapi juga tak bisa dibilang kecil. Aku sudah super mengantuk waktu itu untuk peduli terhadap detailnya meski aku masih sempat bertanya pada Mama, “Ma, di rumah baru apa ada tempat tidur untuk kita?”

Mama tersenyum lalu mengangguk, “Ana, Le. Papa wes mundhut folding bed. Minggu ngarep mundhut dipan sing gedhe…”

Ia mengusap rambutku sambil tersenyum. 
Ia tahu betul anak sulungnya ini selalu merasa takut dan mudah terintimidasi terutama oleh hal-hal baru yang dihadapi. Sesuatu yang hingga saat tulisan ini kurawi, 40 tahun kemudian, masih sering hinggap sesekali.

Tak lama kemudian, saat Papa dan Mama masih sibuk menurunkan barang satu per satu aku jatuh terlelap. 

Kebumen, hari pertama.

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.