Siapakah yang kamu cari?* Aku Donny Verdian!

28 Jan 2014

Tulisan ini berisi profil tentang pemilik blog, Donny Verdian

“Siapakah yang kamu cari?”
“Donny Verdian dari Klaten!”
“Akulah dia!”*

Blogger Indonesia yang sejak penghujung tahun 2008 bermigrasi dan menetap di Sydney, Australia.

Hidup dan berpenghasilan sebagai seorang IT developer dan bersyukur karena diberi permata kehidupan yang luar biasa: istri yang kokoh beserta dua anak yang menggemaskan.

Menulis dan terus akan menulis karena cinta dan sadar bahwa daya ingat itu memiliki batasan seperti halnya hidup yang juga memiliki titik batas.

Dan ketika batas hidupku tiba, aku ingin dikenang sebagai seorang blogger yang berbahagia ketimbang IT developer gagah nan perkasa simply karena keperkasaan dan kegagahan itu ada batasnya sementara kebahagiaan itu abadi karena melibatkan cinta di dalamnya.

Ikuti juga akun social mediaku, @dv77 baik di Twitter maupun Instagram. Kalian juga bisa menemukan Facebook page blog ini di sini.

*: terinspirasi percakapan antara prajurit romawi yang mendatangi Yesus di Taman Getsmani untuk menangkapNya menurut catatan Santo Yohanes.?18:4 Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” 18:5 Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.”?

Kelahiran Donny Verdian

Donny Verdian bersama Mas (Om) Kokok dan Mbak (Tante) Yohana di rumah Klaten awal 80an.
Bersama Mas (Om) Kokok dan Mbak (Tante) Yohana di rumah Klaten awal 80an.

Aku dilahirkan pada Selasa Wage, 20 Desember 1977 di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Sri Asih yang letaknya satu kompleks dengan Rumah Retreat/Panti Semedhi Sangkal Putung di sisi timur kota Klaten, Jawa Tengah.

Papa memberiku nama depan Donny karena waktu itu ia begitu gandrung pada musisi Donny Osmond. Verdian, nama belakangku diambil dari gabungan nama kedua orangtuaku. Nama tengahku adalah Prima, sesuatu yang kalian tak perlu kuberitahu pasti sudah mengerti apa artinya.

Sejak bayi, orang tuaku menyerahkanku pada persatuan dengan Gereja Katholik dengan dibaptis. Untuk itu, aku mendapatkan imbuhan nama baptis, Antonio, nama seorang santo dari Padua, Italia.

Lalu kelak ketika dewasa, sebagai kelengkapan dari sakramen baptis yang kuterima saat bayi, aku menerima sakramen krisma dan untuk itu aku mendapat satu lagi tambahan nama baru, Engelbert, seorang santo dari Cologne, Jerman.

Jadilah namaku, Antonio Engelbert Donny Prima Verdian.

Masa Kecil Donny Verdian

Donny Verdian dipangku Papa didampingi Mama. Entah aku tak tahu ketika itu berapa usiaku...
Aku dipangku Papa didampingi Mama. Entah aku tak tahu ketika itu berapa usiaku…

Sejak lahir hingga tahun 1984, aku tinggal di rumah bersama Simbah Buyut Putri, Simbah Putri yang kerap kupanggil Ibu, Mama, beserta tiga adiknya yang seharusnya kupanggil tante dan om, tapi karena umur kami yang tak terpaut terlalu jauh maka kupanggil mereka mbak dan mas.

Waktu itu Papa hanya sekali seminggu pulang ke Klaten karena ia bekerja di Kebumen, kota kecil lainnya selain Klaten yang terletak sekitar 140km jauhnya di sisi barat.

Pendidikan pertama yang kuenyam adalah TK Trisula yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah.

25 desember 1984
25 desember 1984

Tapi di sana aku hanya bertahan tiga bulan saja karena Mama lantas memindahku ke TK Maria Assumpta Klaten dengan alasan untuk mendapatkan pendidikan berdasarkan ajaran Katholik yang lebih baik.

dv_sd

Awal 1984 Mama dan Papa memutuskan untuk pindah ke Kebumen dan hidup mandiri sebagai sebuah keluarga. Di Kebumen, sesaat sebelum masuk ke SD Pius Bhakti Utama, aku melanjutkan pendidikan TK di TK Pius Bhakti Utama.

Tanggal 6 Mei 1985 mengakhiri masa ‘lajang’ ?ku sebagai anak tunggal, Benedicta Chitra Betsy Verdiana lahir ke dunia menjadi satu-satunya adik dan saudara kandungku.

Tahun 1990, dengan nilai EBTANAS yang sangat tinggi, aku diterima dengan mulus di SMP favorit di Kebumen waktu itu, SMP Negeri 1 Kebumen dan di situlah tingkat pendidikan terakhir yang kuenyam ketika aku tinggal satu atap dengan orang tuaku karena selepas lulus SMP, aku memutuskan untuk pindah ke Jogja bersekolah di sekolah yang paling banyak mempengaruhi kepribadian dan pola berpikirku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Waktu itu angka tahun menunjuk 1993.

SMA Kolese De Britto Yogyakarta

dv_jb

Tinggal tak serumah dan tak sekota dengan orang tua pada usia yang masih cukup muda, 16 tahun, membuat banyak perubahan dalam hidup dan aku terus ditantang untuk mengubah hidup setiap hari.

Aku patut bersyukur aku tinggal di kota berukuran ?sedang?, Yogyakarta yang barangkali karena atmosfirnya yang berbudaya dan khas dengan kerumunan pelajarnya membuat aku tak terlalu merayakan kebebasanku dengan cara-cara yang keterlaluan dan kebablasan.

Apalagi dengan dukungan pola pendidikan ala Jesuit yang diterapkan di SMA Kolese De Britto yang mengedepankan kebebasan yang disertai pertanggungan jawab membuat aku seolah berada di atas rel yang benar.

Orang bilang bahwa hal yang paling menarik dari bersekolah di De Britto adalah tentang bagaimana kami boleh berpakaian bebas dan berambut gondrong.
Tidak salah, tapi bagiku pandangan seperti itu menunjukkan kelas orang yang mengatakannya yaitu bahwa pengetahuan mereka tentang De Britto baru sebatas pada tingkat apa yang mereka lihat dan dengar saja belum sampai pada tingkat-tingkat dasarnya.

Di saat anak-anak lain seusiaku di sekolah lain belajar keras tentang bagaimana mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran akademik yang nantinya bakalan digeluti sepanjang kuliah lalu mengantar mereka masuk ke jenjang karir yang brilian, aku bersama rekan-rekan di De Britto belajar bagaimana menjadi manusia seutuhnya yang tak peduli akan seperti apa karir akademik dan pekerjaan nantinya yang terpenting adalah bagaimana membuat hidup lebih berguna bagi Tuhan dan sesama.

Hingga lulus dari situ tahun 1996, aku merasa tak pernah menemukan kata cukup untuk nilai-nilai pendidikan yang dituangkan para guru dan semua unsur yang ada di De Britto. Hal yang teringat hingga kini, malam sesudah perayaan kelulusan, di dalam mobil yang dikendarai alm. Papaku, aku menggumam perlahan, ?Aku cah JB (John de Britto)!?

Aku merasakan kesedihan yang sangat karena waktu tiga tahun berjalan begitu melesat meski di sisi lain aku tahu dan sadar bahwa di titik itu kecintaanku pada De Britto harus mulai dibuktikan justru ketika kita menapak keluar dari kampus yang terletak di Jalan Solo 161 Yogyakarta itu.

Pesta Pelajar Hai 1996, Donny Verdian yang mengenakan helm bersama Nonot (kiri) dan Epic (kanan)...
Pesta Pelajar Hai 1996, aku yang mengenakan helm bersama Nonot (kiri) dan Epic (kanan)…

Teknik Informatika Universitas Kristen Duta Wacana

Satu-satunya hal yang kusesali selama tiga tahun bersekolah di SMA Kolese De Britto adalah karena saking asyiknya belajar untuk menjadi ‘manusia’, aku lupa bahwa aku juga harus dituntut belajar ilmu-ilmu akademik yang merupakan syarat untuk tetap bisa mengejar impian hendak melanjutkan studi dimana dan bagaimana.

Alhasil, karena tahu ketertinggalanku terhadap mempelajari ilmu-ilmu akademik, selepas SMA aku tak punya motivasi sama sekali untuk melanjutkan kuliah. Ketika kawan-kawan lain berencana kuliah di Bandung, Jakarta, atau kalau di Jogja setidaknya ya UGM jauh sebelum kelulusan aku santai-santai saja. Masa depan bagiku seperti memandang sebuah danau dari jarak dua mil jauhnya pada sebuah pagi ketika embun belum tersingkirkan.

Hingga akhirnya aku ‘terdampar’ di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (UKDW).
Kukatakan terdampar karena memang aku sudah tak tahu lagi harus kuliah dimana sedangkan jadwal pendaftaran di kampus-kampus lain sudah masuk masa-masa akhir dan salah sedikit dari yang masih buka ya UKDW itu.

Di sana aku mengambil jurusan Teknik Informatika semata karena di kampus waktu itu hanya ada jurusan Theologi, Arsitektur, Biologi dan Ekonomi Manajemen. Pemikiranku simple, aku tak ingin menjadi seorang ahli ekonomi karena aku tak bisa mengendalikan keuanganku sendiri, aku tak mau belajar biologi karena aku takut memegang binatang baik hidup maupun mati, aku tak merasa bisa menggambar makanya aku tak ingin jadi arsitektur dan jadi pendeta? May oh my, come on… adakah pekerjaan lain yang lebih cool daripada itu?

Padahal, aku waktu itu tak tahu apa yang hendak kupelajari di jurusan Teknik Informatika karena laju perkembangan teknologi informasi memang belum sederas sekarang.

Saking tak niatnya, ketika ditanya Papa apakah aku perlu dibelikan seperangkat komputer (waktu itu masih cukup langka) aku menolaknya karena bagiku kalau aku menerima maka aku harus memanfaatkannya dengan baik dan nanti ditanya ini dan itu tentang hal-hal yang aku tak suka dan itu bukan kesukaanku. Aku lebih memilih dibelikan gitar beserta amplifier dan sound effectnya, sesuatu yang tentu ditolak mentah-mentah oleh Papa meski aku telah merayunya.

Tapi perubahan terjadi pada diriku.
Setelah tiga bulan berstudi di UKDW, aku mulai mendapatkan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya: menikmati belajar ilmu pengetahuan. Aku jadi tergila-gila dengan ilmu-ilmu yang kupelajari di sana dan tak bisa berhenti memikirkan ilmu-ilmu yang kupelajari, setiap pagi selalu mengantri di depan laboratorium komputer, menenteng buku pemrograman yang kupinjam di perpustakaan lalu mulai belajar mengimplementasikannya padahal itu bukan tuntutan mata kuliah yang tengah kuambil.

Nilai-nilai ujianku tinggi, dan hal itu tak kusia-siakan, kuceburkan diri lebih dalam ke dunia teknik informatika, mendaftarkan diri sebagai asisten dosen dan aku diterima.

Itulah awal kecintaanku pada dunia IT. Dunia yang hingga kini kukubangi di dalamnya dan hidup layak dari kecintaanku terhadapnya.

Masuk tahun kedua kuliah di UKDW, aku jadi terpikir sepertinya aku perlu menanyakan apakah tawaran Papa untuk membelikan komputer masih berlaku karena mengantri di laboratorium setiap pagi itu makin lama makin membosankan dan alangkah asyiknya jika aku mengerjakan semuanya dari kamar kost saja?

Sayang, aku terlambat. Tawaran itu sudah tak berlaku lagi karena ketidakmampuan ekonomi yang datang tiba-tiba dan kami menamainya badai…

Ditaburi Badai, Menuai Berkat

Badai itu datang pada pertengahan 1997, sekitar 10 bulan sebelum Soeharto berpidato dari Mesir dan bicara bahwa badai pasti berlalu, 12 bulan sebelum akhirnya ia sendirilah yang harus berlalu dari tampuk pemerintahan negara meski mungkin ia tak pernah mengaku diri sebagai badai.

Keadaan ekonomi keluargaku yang semula baik-baik saja mendadak terjun bebas ke titik nadir. Imbasnya jelas sekali kurasakan. Uang bulananku sempat hanya terlambat saja dikirim Mama, lalu masuk ke fase terhambat dan akhirnya mampat, bener-bener terhenti sama sekali.

Aku berada di persimpangan.
Motivasiku untuk kuliah dan mendalami ilmu informatika padahal sedang dalam-dalamnya, tapi persimpangan hidup menghadirkan pilihan yang tak menyenangkan, pulang ke Kebumen saja dan mungkin kerja asal-asalan di sana atau tetap di Jogja dengan tanggungan hidup atas diriku berada di pundakku sendiri.

Aku lantas memilih.
Dasar pikir pemilihanku adalah karena aku lelaki, pantang bagiku untuk pulang ke rumah orang tua yang telah kutinggalkan sejak lima tahun sebelumnya. Bagi lelaki, sekali keluar dari rumah maka ia tak layak mengenal kata pulang ke rumah orang tuanya kecuali berkunjung.

Tuhan seolah mengerti pilihanku untuk tetap berada di Jogja. Urusan remeh-temeh lantas diselesaikanNya tepat waktu supaya aku bisa berkonsentrasi berlayar di tengah badai ini.

Kawan-kawan yang rupanya hanya mau kenal dekat ketika keadaan ekonomiku baik mulai meninggalkanku dan pacar yang akhirnya juga meninggalkanku dengan alasan yang ?muter-muter? tak membuatku lemah justru membuat ?ikatan tali kepala? ku makin kencang saja.

Di sisi lain, kawan-kawan sesungguhnya malah didatangkan Tuhan. Adalah ?komunitas? Gang Semar yang bermarkas di Gang Semar, Tegal Lempuyangan, tempat kubernaung ketika ibu kost telah mengusirku karena aku tak sanggup membayar tunggakan kamar kost. Mereka bersebelas, tak ada yang istimewa sebenarnya, tapi aku tak kan bisa melupakan mereka semua hingga katup mata dan hembusan nafas terakhirku karena justru saat aku berada dalam gulita karena badai ekonomi dan keterhimpitan yang lainnya, mereka adalah lilin yang mau menghampiriku dan menemaniku.

Aku menemukan arti baru tentang pertemanan di sana yang belum pernah kudapat sebelumnya. Uniknya lagi, justru di komunitas itu aku secara tak sengaja belajar tentang bagaimana membuat situs web, sesuatu yang akhirnya menjadi lahan pencarian nafkahku setidaknya hingga waktu ketika tulisan ini kutuliskan, lima belas tahun sesudahnya.

Screenshot situs web UKDW yang dinyatakan menang lomba hasil kreasiku dengan Amin Sutawidjaya, my web brother :)
Screenshot situs web UKDW yang dinyatakan menang lomba hasil kreasiku dengan Amin Sutawidjaya, my web brother :)

Ketika itu bahkan mata kuliah kampus belum pula mengenalkannya sebagai ilmu yang harus dipelajari karena materi masih berkutat pada pemrograman desktop saja. Ketekunan kami di Gang Semar untuk belajar web development akhirnya berbuah manis. Aku dan Amin Sutawidjaya (ia sebenarnya pengontrak rumah tempat kami berkumpul di Gang Semar) menang lomba pembuatan situs web kampus.

Hal ini tentu membanggakan sekaligus menyenangkan karena selepas dari situ, kami mulai dikenal sebagai orang yang bisa membuat website. Tawaran untuk mengerjakan proyek web pun berdatangan dari sana-sini. Kian hari jumlahnya kian banyak dan aku mengerjakannya dengan penuh suka cita karena dari sisi uang yang kudapat, jumlahnya berpuluh kali lipat dari gaji sebagai asisten dosen yang kudapat selama sebulan lamanya.

Awalnya aku ingin menyeimbangkan antara menjadi seorang web developer dan asisten dosen tapi nyatanya baru masuk tiga bulan saja aku sudah keteteran. Sekali lagi aku ditantang untuk berkeputusan dan karena membutuhkan uang, aku lebih memilih untuk menanggalkan gelar asisten dosenku dan terus melanjutkan karirku sebagai web developer.

Pada suatu sore, menjelang mata kuliah praktikum pemrograman yang biasanya ku ‘asisten’-i, aku datang ke kampus, bertemu dengan dosen dan menyerahkan surat pengunduran diriku. Tak ada suasana yang menegangkan atau mengharukan waktu itu, semua berjalan karena konsekuensi keputusanku yang memang harus seperti itu.

Tapi kalau kuingat saat ini, saat waktu telah melesat jauh meninggalkan sore itu, rasa haru menyeruak ke permukaan mengingat sore itu adalah sore terakhir aku datang ke kampus UKDW yang telah membekaliku dengan ilmu pengetahuan untuk bekerja. Sejak saat itu, kemahasiswaan adalah sekadar status bagiku hingga sembilan tahun berikutnya, aku memang datang lagi ke situ, hanya sekitar 10 menit, itupun ke lobby kampus mengantar surat pengunduran diri sebagai mahasiswa.

Citraweb Nusa Infomedia

Gang Semar bubar! Umur kebersamaannya ternyata hanya berumur dalam hitungan bulan dan aku sempat merasa sangat kehilangan!

Aku tak bisa menceritakan sebab-musababnya di sini namun satu hal yang perlu kalian tahu, kami berpisah bukan karena sesuatu terkait dengan pertikaian apalagi permusuhan kami tetap berteman meski sudah tak bisa berkumpul lagi di Gang Semar.

Dari pelajaran itu aku semakin yakin bahwa Tuhan memang membawa maksud tertentu melalui hadirnya Gang Semar. Ia datang benar-benar seperti lilin ketika aku sedang berada dalam gulita, seperti kutulis di atas. Terbukti ketika matahari sudah berada di ufuk timur ketika hari sudah terang tanah, lilin itupun berpendar lalu hilang.

Aku membayangkan jika Gang Semar berumur lama, aku akan tenggelam menikmatinya dan aku pernah berada pada keadaan yang sama ketika tiga tahun berada di SMA Kolese De Britto. Sebaliknya, dari Gang Semar aku telah belajar banyak; arti pertemanan yang lebih tulus dan apalagi kalau bukan ilmu web development yang secara tak langsung justru kukenal ketika aku berada di dalamnya.

Selepas Gang Semar, aku semakin gila kerja!
Bersama Amin aku mendapat pekerjaan sebagai web developer di sebuah perusahaan furniture berbasis di Singapore tapi berproduksi di Jogja.

Namun karena aku juga bekerja sebagai penjaga warnet di Yapkom Internet Cafe, Jl Gejayan (sekarang Jl Affandi) Yogyakarta, aku meminta pengertian bosku untuk masuk malam hari selepas jaga warnet dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi.

Jadi, inilah daur hidup harianku saat itu,
Bangun jam 11 pagi, mandi lalu makan siang dan pergi ke Yapkom untuk jaga warnet dari jam 1 siang hingga jam 8 malam dilanjutkan dengan makan malam lalu langsung lanjut kerja ke perusahaan Singapore tadi bersama Amin hingga jam 4 pagi. Pulang dari sana langsung tidur sekitar jam 5 pagi.

Dengan penghasilan yang kudapat waktu itu, jumlahnya jauh di atas lumayan untuk ukuran pegawai Jogja dan aku menikmatinya sebagai pembuktian kepada siapapun yang sebenarnya tak layak untuk kujadikan paparan bahwa meski ?putus kuliah?, aku bertanggung jawab dan berpenghasilan yang boleh dikatakan besar.

Aku menyewa kamar kost yang bagi kalangan mahasiswa termasuk elit di pusat kota Jogja, sebelah Galeria Mall, di kampung Sagan tepatnya. Dengan penghasilanku, biaya kamar kost plus hidup agak sedikit mewah dengan kerap mengunjungi dan berbelanja di Galeria Mall bukanlah hal yang terlalu susah.

Hingga suatu waktu di penghujung dekade 90-an, Tuhan rupanya punya rencana lain yang lebih unik dan menarik lagi.

Suatu siang ketika sedang jaga warnet, aku berbincang dengan kawan lama lulusan SMA Kolese De Britto di mIRC bahwa ia hendak berencana membuka usaha di Jogja. Ia tertarik untuk berbincang denganku karena ia tahu aku punya skill set yang ?lumayan? dalam pembuatan website.

Lalu kami sepakat bertemu dan ia langsung menyatakan niatnya, ?Kita nanti jadi pemiliknya, bukan pegawai!?

?Tapi kita belum punya pegawai kan nanti awal-awalnya jadi ya kita tetap pegawai juga!??

?Iya… tapi kalau sudah punya pegawai ya kita jadi bosnya!?

Aku manggut-manggut.
Keputusan untuk bergabung atau tidak tak kusampaikan saat itu.

Aku harus berpikir keras untuk memutuskan hal itu.

Di satu sisi, apa yang kudapat dari bekerja di dua tempat sudah lebih dari cukup bukan saja untuk takaran mahasiswa tapi untuk takaran pendapatan karyawan yang tinggal di Jogja waktu itu.

Tapi aku punya pemikiran lain. Meski skillku tinggi, aku tetap tak punya gelar kesarjanaan dan aku tinggal di Jogja. Padahal seperti yang kita tahu, gelar kesarjanaan tetap memegang peranan penting untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di Indonesia dan selain itu tinggal dan bekerja di Jakarta tentu pilihan untuk mendapatkan karir yang lebih bagus dengan penghasilan yang lebih banyak daripada kebanyakan yang tetap tinggal di Jogja dan aku sangat anti untuk pindah ke Jakarta.

Dengan mempelajari keadaan itu, aku berpikir cepat atau lambat, ketika kawan-kawan seangkatanku lulus kuliah, terlepas ia punya skill bagus atau tidak, mereka akan dengan mudah mendapatkan sesuatu yang lebih baik dariku.

Tahun 2002, ki-ka, Aku, Valens, Riza dan Iwan. Photo by Kristupa Saragih
Tahun 2002, ki-ka, Aku, Valens, Riza dan Iwan. Photo by Kristupa Saragih

Mungkin kalian bertanya, apa hubungan antara karirku dengan mereka?
O well, aku ini makhluk yang sejak kecil sudah dikondisikan untuk berkompetisi dan dunia pekerjaan selalu kumaknai sebagai kompetisi dan suka-tak-suka, karena persaingan yang kuciptakan sendiri inilah yang membuatku merasa selalu terlecut untuk melakukan yang terbaik setiap harinya.

Nah, satu-satunya jalan pintas untuk tetap menjadi yang terdepan adalah membuat loncatan yang ekstrim dan menjadi wirausahawan adalah jawabannya! Kalau perlu nanti mereka (kawan-kawanku seangkatan yang lulus kuliah) yang kerja untukku! gumamku.

Pada suatu hari di awal bulan November 1999, bertempat di meja kasir warnet Yapkom Yogyakarta, aku berkeputusan. dan itu adalah kali ketiga dalam hidup seorang makhluk berusia awal 20an membuat keputusan yang tak mudah.

Aku gabung!? tukasku pada kawan lamaku tadi.

Inilah kami berlima. Iwan, Riza, Aku, Wicak dan Valens (ki-ka). Foto ini diambil sekitar tiga hari setelah pembukaan pertama kantor, 7 Februari 2000 silam
Inilah kami berlima. Iwan, Riza, Aku, Wicak dan Valens (ki-ka). Foto ini diambil sekitar tiga hari setelah pembukaan pertama kantor, 7 Februari 2000 silam

Setelah sekitar tiga bulan mempersiapkan semuanya aku bersama Valens Riyadi, Riza Tantular, Iwan Santoso dan Wicaksono Cipto bangun mengakhiri mimpi dan mewujudkannya dalam tataran kenyataan pada sebuah senin pagi, 7 Februari 2000.

Donny Verdian
Dan ini adalah foto kami berempat pada Juli 2012 saat Chitra, adikku, menikah. Dari kiri ke kanan: Riza, Iwan, Aku dan Valens. Wicak tak datang meski kuundang karena ia sudah pindah ke Jakarta. Aku mengundurkan diri dari Citraweb per 1 Oktober 2008 sedangkan Wicak keluar sejak Agustus 2000.

CV Citraweb Nusa Infomedia secara resmi berdiri dan menjadi pegangan hidup dan kebanggaan kami. Semuanya bermula dari sebuah pavilliun kecil yang kami sewa di Jalan Kemuning Baciro Yogyakarta…

Donny Verdian dan Ngeblog

Entah, mungkin karena nenekku dulu adalah seorang editor buku di penerbit PT Intan Pariwara atau mungkin juga karena pengaruh lain tapi hobiku menulis memang sudah tumbuh bahkan sejak sebelum akil balik.

Dan tebakan kalian tepat, aku sangat menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia! Bagiku, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan hobi menulis itu seperti seruling dengan ular kobranya, senada sepenarian…

Kalau bukan karena gengsi bahwa harus ?A1? (Fisika), mungkin waktu SMA aku sudah masuk kelas Bahasa (A4). Bagiku, bahasa itu ajaib karena bermodal huruf dan tanda, ia bisa mengubah dunia!

Pernah suatu waktu, ketika aku masih tinggal di Kebumen lalu berlibur ke Klaten, ke rumah nenek, aku ditantang beliau untuk membuat satu tulisan panjang dengan topik sesukaku dan dikerjakan selama aku berlibur di sana.

Dengan senang hati aku memenuhi tantangannya dan jadilah sebuah cerita silat yang kutulis tangan menggunakan beberapa helai kertas HVS folio bergaris. Menjelang akhir liburan aku menyerahkan tulisan itu dan karena ia belum sempat membacanya ketika aku harus pamit pulang ke Kebumen, ia berjanji akan menulis surat tentang pandangannya terhadap tulisanku lalu mengirimkannya kepadaku setelah ia selesai membacanya.

Janji nenekku ternyata bukan janji palsu!
Beberapa hari setelah aku kembali ke Kebumen, pada sebuah siang sepulang sekolah, aku menerima amplop berukuran besar. Ketika kubuka, ternyata Nenek tak hanya menuliskan kesan dan masukan tentang ceritaku itu tapi ia juga memfoto kopi tulisanku dan dibubuhinya dengan aneka ragam masukan dan kritik berupa coretan-coretan di sana-sini.

Aku terharu meski sejak saat itu hingga kini aku berpikir bahwa bekerja dibawah supervisi editor adalah bukan sesuatu yang menyenangkan karena apa yang kita tuliskan tiba-tiba bisa dicoret-coret diimbuhi ini-itu sesuka hati!

(Sekitar tahun 2006, naskah yang pernah kutuliskan di blog terdahulu tentang gempa dilirik sebuah penerbit dan dijadikan buku. Ketika aku memberikan buku itu kepada Nenek, beliau pun masih melakukan hal yang sama, mencorat-coret sana-sini dan ketika aku pulang di akhir pekan ke Klaten, ia mengajak berdiskusi panjang lebar tentang buku itu hehehe…)

Hobi menulisku sempat terhenti ketika SMA karena ketertarikanku pada musik dan berbagai hal lain yang lebih banyak menyita waktuku.

Namun, di Citraweb aku kembali mendapatkan passion menulis.?Jadi ceritanya tiga minggu setelah berdiri, kami meresmikan situs portal Kota Jogja yang kami beri nama Gudegnet. Di situ, aku tak hanya dipercaya sebagai seorang web administrator tapi juga sebagai komandan yang memroduksi konten.

Meski akhirnya dibantu beberapa wartawan, tapi aku juga sering menulis dan menerbitkan tulisan itu di sana.

Tak lama sesudah itu, trend web log yang semula hanya dipakai oleh para developer IT untuk membuat catatan tentang pekerjaannya berbasis web, marak dikenal lantas diberi nama blog.

Aku tak kuasa untuk tak menceburkan diri ke dalamnya meski awalnya adalah coba-coba.?Tepat tanggal 12 Februari 2002, menggunakan domain name yang semula kugunakan untuk situs web pribadiku, blog pertama pun berdiri, donnie.or.id alamatnya.

Sejak saat itu, istilahnya selain oksigen, huruf adalah hirupan nafasku yang ketika kuhembuskan berubah menjadi kata-kata merangkai kalimat dan terjadilah tulisan!

Sempat berhenti sebentar karena rupanya mungkin karena terlalu mendalami hobi itu, masalah perasaan hati ikut mempengaruhi semburan kran tulisanku.

Tahun 2004, tiada angin dan tiada hujan aku pernah memindahkan blogku ke domain DonnyVerdian.com, lalu berhenti lagi tak seberapa lama kemudian.

Tahun 2005 kembali ngeblog ketika cuaca hati mulai membaik, menggunakan domain donnie.or.id lagi dan mulai menemukan ritme yang bagus seperti masa-masa awal ngeblog, 2002 silam.

Tapi pertikaian dengan kawan-kawan dari sebuah komunitas blogger yang memang sengaja kusulut karena muak dengan segala kemunafikannya berganjar pada serangan terhadap blogku hingga hancur berantakan. Aku kecewa dan sempat berpikir itulah akhir dari ?karir? ngeblogku.

Tapi tak lama kemudian, seorang kawan Daniel Mahendra, membuat sumbuku tersulut lagi untuk ngeblog. Bermula dari membuat blog di Friendster, pelan tapi pasti aku merasa seperti berjalan di atas roda yang menggelinding ke bawah yang makin lama makin cepat lajunya.

Aku berpikir untuk ?serius? ngeblog lagi!
Aku lantas membeli domain name DonnyVerdian.Net dan memilih menganggurkan Donnie.Or.Id karena waktu itu, pertengahan 2007, aku telah berpikir untuk pindah ke Australia dan tak sepantasnya lagi kalau aku tetap menggunakan domain ?Indonesia?.

20 Desember 2007, bertepatan dengan ulang tahunku ke-30, DonnyVerdian.Net mengudara menggantikan blog yang sebelumnya ada di Friendster. Waktu itu, ketika aku muncul kembali di blogosphere, ramai orang dengan blog mereka masing-masing dan aku merasa aku bukanlah siapa-siapa; awal yang bagus pikirku jadi ?siapa aku sebelumnya? tak jadi soal yang besar.

Tapi garis takdir mengharuskan blog ini terkenal dan menjalani nasibnya sebagai salah satu yang paling lama bertahan ketika blogger lainnya bertumbangan entah karena bosan atau justru termakan omongan seorang pakar yang semula dibenci oleh mereka. Pakar itu pernah berkata, ?Blog adalah trend sesaat!? Dan omongannya memang tak ada yang bisa disalahkan terutama ketika dihadapkan pada para trend follower yang bagai lalat berkerumun tatkala ada makanan yang baru yang mungkin dipikirnya lebih nyaman tapi lantas tak lama kemudian berpindah ke tempat baru mengerumuni tinja yang mungkin dipikirnya juga adalah makanan yang lainnya yang tak kalah lezatnya.

Ah, tiba-tiba aku ingat percakapanku dengan seorang kawan sekitar akhir 2006.??Aku sedang berencana membuat buku autobiografiku! Akan kuedit sendiri, kucetak sendiri dan akan kuterbitkan tepat pada usiaku yang ke-30!?

Tak kusangka? inilah bukuku. Buku yang bisa kalian simak tanpa harus merampas pohon dari para satwa di hutan. Buku yang bisa kalian simak tanpa harus dibeli ataupun difotokopi. Buku yang tak harus membuatku menelutkan lutut di hadapan editor memohon-mohon supaya diluluskan penerbitannya, dan buku yang tetap dan semoga akan tetap menemani kalian dengan cerita-cerita baru sampai achir hidupku.
(bersambung…)

102 Komentar

  1. hae om..

    Balas
    • Hae, Keponakan :)

      Balas
  2. Sambungane ditunggu mas bro…

    Balas
    • Siyappp!

      Balas
  3. Wow! Keren! Ini contoh halaman profil yang ditulis secara lengkap dan dalam. Salut!

    Balas
    • Makasih, Mas Bud :) Akan terus bersambung nih…

      Balas
  4. apik tenan iki.
    tulisan selfie sing enak diwoco.
    dienteni sambungane yo cah bagus

    Balas
    • Nuwun, Om :)

      Balas
      • Ternyata sampeyan keponakanne om Nukman.. xixixi

        Balas
  5. Nggak nyangka perjuangannya sedahsyat itu. Tak pikir mulus mulus saja je mas. Saluttt….
    Sekarang tinggal memetik hasilnya

    Balas
    • Memetik hasil itu bisa kapan saja Mbak. Saya selalu berusaha berpikir bahwa setiap waktu hidup itu sebenarnya berbuah, tinggal perut kita mau dan berani makan yang masam juga nggak kalau memang hasilnya sedang masam :)

      Balas
  6. welha dalah, sumpah mas, ini sangar sekali… halaman about me yang benar-benar rinci dan ditulis menarik… saya mbaca sambil mbayangke jadi sampeyan… hidup benar-benar sungguh menarik ya mas, semesta benar-benar ladang yang tak pernah membosankan

    Balas
    • Hahahaha, makasih Mas Agus. Wah dikomentari anda yang sedang mengorbit di tlatah online tanah air ini sungguh jadi suatu kebanggaan :) Ngeblog terus ya… ;)

      Balas
  7. Aih jadi membaca sebuah biografi…….
    Setiap orang adalah tokoh utama dalam perjuangan hidupnya

    Balas
    • Thanks, Bro :) Jadi nggak salah ya kalau tulisan ini terlalu selfie :D

      Balas
  8. Ini satu-satunya “about me” yang selfie tapi ga narsis :) Tak tunggu Mas, lanjutane….

    Balas
    • Nuwun, Mbak :)

      Balas
  9. Seperti membaca biografi orang keren. Penuh perjuangan

    Mlongo sambil nunggu lanjutanya

    Balas
    • Thanks, Mas. Jadi menurutmu aku ini belum keren tho? Hahahahah :)

      Balas
  10. W.O.W
    ini kereeen…bisa bikin mataku terpaku smp titik akhir…

    Balas
    • Makasih… nanti bakalan kuupdate lagi.. Berkunjung lagi ya :)

      Balas
  11. Cerita yang keren,penulis juga pelaku,semoga aku juga punya keberanian spt mas don.

    Balas
    • Ayo berani, hidup ini cuma sekali… :)

      Balas
  12. kutipan chatting di fb, mas bat said : ” tapi aku pas nulis profil kuwi rasane pengen nangis tenanan jhe su. Sejak mas bat gabung di Gang Semar, semua anggota berubah nama jadi “Su” ( Asu / Anjing dalam bahasa Indonesia ), Contoh : “Su!, kowe wis mangan durung”, (padahal yg diajak ngomong namanya Yokie), “Su!, wis nggarap tugas rung” ( padahal jenenge Abenk atau yg lainnya ), “Su!, neng warnet yo” ( ngajak aku / Amin ). Itu cuman contoh kecil betapa dekat dan tulus persahabatan di Gang Semar, nggak marah, nggak curiga, nggak dendam, setuju banget kalo banyak pelajaran hidup yang di dapat dari komunitas kamar paling belakang, pojok, tanpa jendela …. yang nggak didapat di Gang manapun ….
    Anyway, salah satu request favoritku adalah Stand By Me punya Oasis, di play dari winamp komputer sejuta umat, pagi pagi semua masih tidur, aku dan Bathuk kadang ngobrol, kadang cuman diem sambil ndengerin Liam nyanyi. Kalo Indonesianya ya “terlalu manis” : mic yang digantung ala Kaka Slank, kardus yang jadi drum, tidur dengan helem di kepala, mbeleh celengan bebek, nyatuin puntung rokok jadi sebatang rokok utuh, …… dan ‘asu’ yang begitu akrab di telinga, hahahaha …. teteppp aahh, Mas Bat Cotsu …..

    Balas
    • Hahahaha, makasih Min!
      Ya, sodara-sodara, Amin Sutawidjaya ini adalah Pak Lurah dari Gang Semar, dia bukan lagi kawan tapi sobat dan seorang web brother! LOL.

      Secara khusus aku minta dia komentar di tulisan ini kemarin karena bagiku pasti bakal menarik kalau dia memberi apa yang ada di benaknya bukan tentang aku tapi tentang persahabatan di Gang Semar yang meski sebentar tapi SANGAT berpengaruh dalam hidupku.

      Min, pagi ini aku jadi pengen dengerin Stand By Me nya OASIS lalu tiba-tiba aku ambil gitar, buka laptop dan bikin rekaman lagu ini buatmu, kawan-kawan Gang Semar dan buat masa lalu kita yang teramat sangat menyenangkan.

      Thanks atas persahabatan kita. Yahwe bless us!

      Balas
  13. Ooohh… design situs duta wacana yang ini to…. Isih kelingan ki aku :D
    Hmm…lumayan bertahan lama ya designnya, kalo ngga salah awal 2004 sampai akhirnya aku berstatus sebagai mahasiswa di situ juga masih pakai design ini.

    Balas
    • Yoi, Masbro :)
      Yang gambar burungnya bisa gerak-gerak sendiri hahaha… :)

      Balas
  14. Always be the best where ever u are bro. Don’t forget us

    Balas
    • Halo, Bim..
      Ngga akan lupa, Mas bro… Kenangan itu abadi :)

      Balas
  15. Kata pertama: asem dowo tenan! :))

    Bagi lelaki, sekali keluar dari rumah maka ia tak layak mengenal kata pulang ke rumah orang tuanya kecuali berkunjung.

    Nampaknya kita pernah punya pemikiran yang sama Mas. Bedanya, hal ini terjadi di hidupku sekitar tahun 2003-2004 saat aku memutuskan “merantau” ke Jogja sebagai lulusan SMA :D

    Balas
    • Pernah punya pikiran yang sama? Lalu sekarang? :)

      Balas
      • Sekarang masih sama, masih jadi perantau :D

        Balas
  16. you know what Mas Don! :D

    Aku senang membaca profilmu ini, aku senang karena aku tidak sendiri menulis profil diri sedetil yang di TE (yang belum sempat kubenahi dan kutambahi juga). Kadang aku takut membuka diri sedetil begini, tapi…. aku merasa aku tidak pernah melakukan kesalahan yang perlu ditutupi-tutupi, aku pun bukan orang kaya atau politikus. So…. begitu ada yang mau membaca blogku dan halaman profilku dia adalah teman. Meskipun teman, tidak perlu juga saling “bertepuk tangan” hehehe, ada yang cocok, ada yang tidak atau ada yang pergi meninggalkanku dan menjauhiku seperti beberapa teman mayaku yang kamu kenal juga.

    Kasih tahu saja kalau sudah ada tambahan baru ya ;)

    Balas
    • Thanks, Imel.
      Kian waktu kita memang seperti makin banyak hal yang cocok.. ya semoga kita langgeng jadi teman, jadi sahabat.. :)

      Balas
  17. Hampir sejam membaca eh ada sambungane ….oke nulis meneh ah hihihi

    Balas
    • Suwun, Kangmas :)

      Balas
  18. hmmm aku kenal kamu mustinya sekitar 2008-2009 itu ya? Ntar cari ah kapan itu

    Balas
    • Ayo cari, kalo udah ketemu kasi tahu, aku pengen baca juga

      Balas
  19. perjalanan hidupmu membuatku melongo.
    aku lupa sejak kapan baca blogmu. tapi aku ingat, aku sempat baca blogmu tentang kisah masa SMA-mu. tapi yang jelas, aku baca blogmu awal tahun 2000-an ya? 2002? atau 2003? lupa.
    bagiku, kamu termasuk “penyemangat” ngeblog. soalnya ketika aku sendiri “nglokro” dan super males nulis, aku tahu kamu (dan Imelda) bisa “tak jagakne” pasti ngeblog. :))

    satu hal yang membuatku iri: simbahmu yang editor itu. huh, cobak ya ada kerabatku yang editor…

    Balas
    • Aku malah inget kapan kamu baca blogku pertama kali.
      Kamu kirim email ke aku (karena waktu itu blogku ga ada fasilitas commentingnya) dan bilang kalau kamu suka tulisan yang menceritakan bagaimana aku dibaptis dan menerima sakramen komuni untuk pertama kalinya. I think it was in 2006 :)

      Balas
  20. Sepertinya halaman Profil ini tak akan ada habisnya. Lama-lama bisa dicetak jadi buku :D *maaf OOT

    Balas
    • Ya ini kan bukuku :) Tak perlu dicetak dan tak perlu dibeli…

      Balas
  21. halo, Pak Donny. Saya baru pertama kali ke sini dan suka sekali dengan tulisan-tulisannya.

    Balas
    • Terima kasih atas kunjungannya.. sering-sering mampir ya :)

      Balas
  22. Ngga nyangka dulu pas sekolah njenengan pakai tas koper president yang nge-trend sedunia tahun 80-an.. hihihihi… Jadi pengen nyari-nyari foto2 jadul juga. Tapi saya belum memiliki keberanian seperti Mas Donny yang majang foto2 tersebut…^_^ *Keren mas

    Balas
    • Saya berani karena saya keren.. kalaupun tak keren , saya berani untuk dibilang tak keren :) hahahahaha…

      Balas
  23. Wah, ga nyangka ya jalan hidup setiap kita memang dahsyat… setiap kita memang punya mimpi & pergumulan masing2…
    Yang membedakan hasil akhirnya adalah, beranikah kita kejar mimpi itu walaupun harus membayar dengan hidup kita, seperti yg kau ceritakan bro…
    So proud to be your friend mate…
    Jangan pernah berhenti menulis untuk menjadi inspirasi buat banyak orang…..

    Balas
    • Thanks, Buddy.
      Kasi tau ya kalo kamu main-main ke Australia! :) God bless!

      Balas
  24. Halaman ini sudah satu buku biografi seutuhnya. Salam blogger Om :)

    Balas
  25. Gaya tulisan dan ceritanya bikin aku hanyut dan keasikan baca! You’re inspiring!

    Balas
    • Thanks.. sering-sering mampir kemari ya, blogku update tiap senin dan kamis…

      Balas
  26. Wooowww….cakep sekali tulisannya. Saya IT juga kuliah di Jogja juga, punya cita2 ke Australi juga..hahahaha. Terima kasih sudah nulis mas/om? :) Saya jadi semangat nulis lagi. Gbu always!

    Balas
    • Sip. Ayo nulis lagi :) Salam kenal…

      Balas
  27. Baca tulisan ini, jadi kilas balik ke masa silam. Seperti biasa, mungkin DV sudah bosan mendengarnya, aku selalu menikmati tulisan2mu :)

    Balas
    • Thanks, Ki :)

      Balas
  28. Donny… Kamu inspirator….siapapin ga sapat menutup #kalan kebaikanNYA…

    Balas
    • Saya hanya manusia biasa, Mas :)

      Balas
  29. Kalau mbandingin antara foto yang tahun 2000 dengan yang 2012, Om DV dulu kurus gitu ya… atau efek kamera atau efek programmer atau efek mahasiswa tiada akhir (yang untungnya berakhir) ya om?

    Ngomong-ngomong, kamu keren Om. Sedikit banyak inspiratif membuat saya berkaca(-kaca) ketika baca-baca buku gratismu ini. Kebetulan saya (juga) mahasiswa IT, yang hobi ngeblog (juga), yang concernnya web development (juga), yang tak lulus-lulus (juga), yang agaknya kurus (juga). Makasih om sudah berbagi cerita, saya yakin saya ‘optimis bisa’ kayak njenenengan.

    Optimis bisa gemuk maksudnya.

    Balas
  30. cerita para blogger mmg penuh warna yaa…mejikuhibiniu…tp aku suka menyimaknya…

    Balas
    • Makasih :)

      Balas
  31. mas donny verdian..seh eling karo diriku ora? :D

    ciri khas nulismu seh koyo biyen…malah tambah gahar yen diwoco kalem2 hahahhahaha

    yen sempet WA diriku yoh?
    +6285646184326

    maturnuwun

    Balas
  32. job well done…aku gak nyangka ternyata tulisan2mu wangun!…keep up the good work bro!..GBU

    Balas
    • Jawabanku satu: kemana aja mas brooo hahahahah… GBU too, Army! Teruslah berkarya!

      Balas
  33. walahh cah Galeria to. Jaman semono belum ada AmPlaz ya mas,

    Balas
  34. Maknyos detail banget, salam kenal Pak Donny :)

    Balas
  35. baru nyelesain baca yang ini.
    busyet, yang bikin kemecer: foto by kristupa saragih … :)

    aniwei, (gak bosen-bosen bilang) thanks ya oom, blog ini telah senantiasa menyemangati untuk tetap ngeblog

    Balas
  36. Setelah melihat, membacanya sampai akhir lalu merenungkan..
    “tulisannya sudah lama tapi kenapa sy baru ketemu n baru bisa membacanya hari ini ???”
    Rasanya saya baru dibangunkan dari tidur ketika mendengar sebuah bisikan, “Seorang lagi pemimpi yang telah berhasil mewujudkan mimpinya. kamu sudah dimana? lekas bangun wujudkan mimpimu seperti dia, abaikan kegagalan yang sudah-sudah dan jangan takut”

    (Tulisannya sangat inspiratif.. Amazing)

    Balas
    • Makasih.. sering-sering datang ya :)

      Balas
  37. Panjang sekali namun bermanfaat. Terima kasih informasinya yah

    Balas
  38. ?Siapakah yang kamu cari??
    ?Donny Verdian dari Klaten!?
    ?Akulah dia!?*

    Jika Aku yang kamu cari, biarkanlah mereka ini pergi…… *Pasio wkwk

    Balas
    • Hehehehe…

      Balas
  39. Sejauh ini baru dua orang yang saya ketahui halaman about me serinci ini :)

    Balas
    • yang satunya lagi siapa? :)

      Balas
  40. Sangat menarik ceritanya… cuma nyambungnya kemana nich Mas Don… Aku sudah sering mampir ke blog ini, dan ini dengan blog yang lain.

    Balas
  41. Salam kenal, Mas Donny.
    Selfbiography yang enak dibaca. Gak sombong tapi penuh makna dan bikin kangen Jogja…

    Balas
    • Terima kasih, Mas dan salam kenal juga… :)

      Balas
  42. Halo Don….salam yo. Aku Gatot, 96 juga

    Balas
  43. woalah nemu blog cah JB ,angakatan e profit lan riki pitik yo dab ? dadi kelingan gudeg.net piye kabare gudeg.net ?

    Balas
  44. Bajilak, bul mbaureksone GudegNet to iki, web sing marai aku pengen mlebu IT, ngenet nang baciro gek jaman mlebu JB thn 2000….

    Balas
    • Hehehehe, ndhisik, lampau :)

      Balas
  45. Banyak banget kata-kata mutiara pembangkit semangat nih om tulsanya.
    Ada bebera kata yang aku kopas terus aku simpen di layar desktop, boleh kan ya :)
    Salam kenal dariku blogger newbie

    Balas
  46. Hallo om, salam kenal, saya nemu cerita yang begitu menginspirasi, ditengah menurunnya semangat untuk produktif dan sedang kehilangan arah.
    Salam kenal om, dari saya Benjo. :) btw saya jb 2012, dan kita udah temenan fb, but this is the first hello haha. I think you’re a good role model of consistency. Thanks for sharing.

    Balas
  47. hay dv sukses trss yes kangen ngumpul2 di jogja lagi

    Balas
  48. Sy copas ke anak2 sy yg sdh beranjak dewasa… sungguh mnginspirasi…
    Tks Oom DV… (mama mrk jg initialnya DV : Detty Vivianti -Alumni SMA Stece 88)…

    Balas
  49. Mantap maaf ternyata sepangkat bapak aku usia nya. Hehehe
    Berkah Dalem

    Balas
  50. Salam kenal mas Donny, saya Jerry.
    Biografi nya sangat bagus, bisa menjadi motivasi. Trima kasih, GBU.

    Balas
  51. Bagus mas Donny, gara gara cari tulisan tentang magnificat, sy jadi membaca panjang tentang diri anda…….anak ragil saya laki laki sekarang kelas 3 smp dominico savio semarang katanya pengen masuk JB setelah sebelumnya sudah ada pilihan mau ke van lith ikut jejak kedua kakak nya atau mertoyudan…… Saya belum punya argumen apapun utk meyetujui dan tidak menyetujui selain satu satunya argumen istri saya yg bernada keberatan karena harus tinggal sendiri di yogya sangat beresiko, jika harus berpisah lebih baik ke van lith yg ada asramanya jadi lebih aman. Tulisan anda sangat mempengaruhi saya di jam 03.57 subuh tadi ketika mencari artikel sekitar kata magnificat. Terima kasih saudaraku….. saya jadi kepingin belajar menulis perjalanan hidupku yg mungkin juga bagus utk ditulis dalam bentuk blog ini……tapi sy masih sangat awam dan belum pernah nulis, jika berkenan bisa mengajari saya…..sekali laagi terima kasih ……God Bless You…..

    Balas
  52. Proficiat, narasi yg bagus. Saya tidak kenal mas Donie sama sekali. Kenal karena sama2 diinvite di Grup Teman Warta oleh Romo Mardi SJ. Iseng2 saya klik tulisnanya saat pulang kerja naik KRL JKT – Bekasi. Jalan dikemacetan lalulintas menuju penitipan motor saya baca sampai selesai biografinya. Super keren….

    Balas
    • Makasih Mas, salam kenal…

      Balas
  53. Saya membacanya sampai merinding. Keren banget su…… ( ikut ikutan memanggil dengan panggilan ” Su… ), lanjutkan………..

    Salam dari saudara sekandang ( aku YB 81, anakku saiki YB kelas 11 ),

    Balas
  54. Maaf mas Donie, Om kokok-mu (dan mbak yohana) sekarang di mana?

    Balas
    • Mas Kokok di Purwokerto dan Mbak Yohana di Bekasi. Ini siapa ya..

      Balas
  55. sudah adakah sambungannya?
    menarik sungguh kisahnya.

    Balas
    • Belum hehehe…

      Balas
  56. wow keren

    Balas
  57. Telat banget ya baru nemu blog keren ini. Salam kenal dari wong Klaten.

    Balas
  58. Very inspiring! Kita seumuran Mas. Saya 4 bulan lahir lebih awal daripada Mas Donny. Hanya saja saya baru menginjak tahun 1998. Tadi nggak sengaja nemu tulisan Mas Donny waktu mau nostalgia dengan Jogja.

    Btw, saya sempat kuliah bareng Wicak di D3 Komsi UGM. Apa kabar dia sekarang? Barangkali masih kontak dengannya.

    Sukses, Mas Donny. Terus berkarya menebar manfaat…

    Balas
    • Siap, Maskuu…
      Nanti kucheck nggih… maturnuwun wkwkwkw…

      Balas
  59. Saya baru tahu kalau domain or.id sudah ada sejak jaman dulu.
    Tahun itu punya domain sendiri udah hebat banget.

    Mas Donny mulai nge blog saya baru masuk kelas 1 SD nih,
    jangankan blog, internet belum ngerti saat itu.

    Blogger senior yang menginspirasi saya nih.
    Cukup sedih melihat banyak blogger sudah berhenti dan tidak ngeblog lagi.
    Padahal pengen banget blogwalking.

    Sukses selalu mas Donny,
    Seoga tetap aktif nge blog,
    saya masih mau baca baca dan nulis nulis komeng di blog ini.

    Matur suwun

    Balas
    • Hehehe, makasih dan selamat datang di blog saya. Ayo terus ngeblog :)

      Balas

Trackbacks/Pingbacks

  1. Desain baru, halaman profil yang juga akan selalu baru – Donny Verdian - […] Aku […]
  2. Dua belas! – Donny Verdian - […] Aku […]
  3. Papa dan Pemilu – Donny Verdian - […] Aku […]
  4. Piala dunia, sebuah oase – Donny Verdian - […] dunia pertama setelah keluargaku pindah dari Kebumen ke Klaten setelah ?badai? yang kuceritakan di sini […]
  5. Tersenyumlah meski kalah – Donny Verdian - […] Aku […]
  6. Lantip: Amien Rais! – Donny Verdian - […] Ketika orang masih malu-malu menyatakan diri sebagai web developer dan pemodal juga masih ragu untuk berinvestasi di bidang IT,…
  7. tis76* - Donny Verdian - […] Aku […]
  8. Risalah Akhir Pekan 20/2015 - Donny Verdian - […] Citraweb… […]
  9. Sarjana Komputer - Donny Verdian - […] Aku […]
  10. DV.FYI blog berbayar? Errr... - DV - […] Profil […]
  11. KABAR BAIK VOL.34/2016 ? Ketidakpercayaanmu itu urusanmu! - DV - […] Profil […]
  12. KABAR BAIK VOL.38/2016 ? DUC IN ALTUM - DV - […] Profil […]
  13. Kabar Baik VOL. 214/2016 ? Mencukupkan, bukan melipatgandakan - DV - […] Profil […]

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.