Tulisan ini berisi profil tentang pemilik blog, Donny Verdian

“Siapakah yang kamu cari?”
“Donny Verdian dari Klaten!”
“Akulah dia!”*
Blogger Indonesia yang sejak penghujung tahun 2008 bermigrasi dan menetap di Sydney, Australia.
Hidup dan berpenghasilan sebagai seorang IT developer dan bersyukur karena diberi permata kehidupan yang luar biasa: istri yang kokoh beserta dua anak yang menggemaskan.
Menulis dan terus akan menulis karena cinta dan sadar bahwa daya ingat itu memiliki batasan seperti halnya hidup yang juga memiliki titik batas.
Dan ketika batas hidupku tiba, aku ingin dikenang sebagai seorang blogger yang berbahagia ketimbang IT developer gagah nan perkasa simply karena keperkasaan dan kegagahan itu ada batasnya sementara kebahagiaan itu abadi karena melibatkan cinta di dalamnya.
Ikuti juga akun social mediaku, @dv77 baik di Twitter maupun Instagram. Kalian juga bisa menemukan Facebook page blog ini di sini.
*: terinspirasi percakapan antara prajurit romawi yang mendatangi Yesus di Taman Getsmani untuk menangkapNya menurut catatan Santo Yohanes.?18:4 Maka Yesus, yang tahu semua yang akan menimpa diri-Nya, maju ke depan dan berkata kepada mereka: “Siapakah yang kamu cari?” 18:5 Jawab mereka: “Yesus dari Nazaret.” Kata-Nya kepada mereka: “Akulah Dia.”?
Kelahiran Donny Verdian
Aku dilahirkan pada Selasa Wage, 20 Desember 1977 di Balai Kesehatan Ibu dan Anak (BKIA) Sri Asih yang letaknya satu kompleks dengan Rumah Retreat/Panti Semedhi Sangkal Putung di sisi timur kota Klaten, Jawa Tengah.
Papa memberiku nama depan Donny karena waktu itu ia begitu gandrung pada musisi Donny Osmond. Verdian, nama belakangku diambil dari gabungan nama kedua orangtuaku. Nama tengahku adalah Prima, sesuatu yang kalian tak perlu kuberitahu pasti sudah mengerti apa artinya.
Sejak bayi, orang tuaku menyerahkanku pada persatuan dengan Gereja Katholik dengan dibaptis. Untuk itu, aku mendapatkan imbuhan nama baptis, Antonio, nama seorang santo dari Padua, Italia.
Lalu kelak ketika dewasa, sebagai kelengkapan dari sakramen baptis yang kuterima saat bayi, aku menerima sakramen krisma dan untuk itu aku mendapat satu lagi tambahan nama baru, Engelbert, seorang santo dari Cologne, Jerman.
Jadilah namaku, Antonio Engelbert Donny Prima Verdian.
Masa Kecil Donny Verdian
Sejak lahir hingga tahun 1984, aku tinggal di rumah bersama Simbah Buyut Putri, Simbah Putri yang kerap kupanggil Ibu, Mama, beserta tiga adiknya yang seharusnya kupanggil tante dan om, tapi karena umur kami yang tak terpaut terlalu jauh maka kupanggil mereka mbak dan mas.
Waktu itu Papa hanya sekali seminggu pulang ke Klaten karena ia bekerja di Kebumen, kota kecil lainnya selain Klaten yang terletak sekitar 140km jauhnya di sisi barat.
Pendidikan pertama yang kuenyam adalah TK Trisula yang jaraknya hanya sekitar 300 meter dari rumah.

Tapi di sana aku hanya bertahan tiga bulan saja karena Mama lantas memindahku ke TK Maria Assumpta Klaten dengan alasan untuk mendapatkan pendidikan berdasarkan ajaran Katholik yang lebih baik.
Awal 1984 Mama dan Papa memutuskan untuk pindah ke Kebumen dan hidup mandiri sebagai sebuah keluarga. Di Kebumen, sesaat sebelum masuk ke SD Pius Bhakti Utama, aku melanjutkan pendidikan TK di TK Pius Bhakti Utama.
Tanggal 6 Mei 1985 mengakhiri masa ‘lajang’ ?ku sebagai anak tunggal, Benedicta Chitra Betsy Verdiana lahir ke dunia menjadi satu-satunya adik dan saudara kandungku.
Tahun 1990, dengan nilai EBTANAS yang sangat tinggi, aku diterima dengan mulus di SMP favorit di Kebumen waktu itu, SMP Negeri 1 Kebumen dan di situlah tingkat pendidikan terakhir yang kuenyam ketika aku tinggal satu atap dengan orang tuaku karena selepas lulus SMP, aku memutuskan untuk pindah ke Jogja bersekolah di sekolah yang paling banyak mempengaruhi kepribadian dan pola berpikirku, SMA Kolese De Britto Yogyakarta.
Waktu itu angka tahun menunjuk 1993.
SMA Kolese De Britto Yogyakarta
Tinggal tak serumah dan tak sekota dengan orang tua pada usia yang masih cukup muda, 16 tahun, membuat banyak perubahan dalam hidup dan aku terus ditantang untuk mengubah hidup setiap hari.
Aku patut bersyukur aku tinggal di kota berukuran ?sedang?, Yogyakarta yang barangkali karena atmosfirnya yang berbudaya dan khas dengan kerumunan pelajarnya membuat aku tak terlalu merayakan kebebasanku dengan cara-cara yang keterlaluan dan kebablasan.
Apalagi dengan dukungan pola pendidikan ala Jesuit yang diterapkan di SMA Kolese De Britto yang mengedepankan kebebasan yang disertai pertanggungan jawab membuat aku seolah berada di atas rel yang benar.
Orang bilang bahwa hal yang paling menarik dari bersekolah di De Britto adalah tentang bagaimana kami boleh berpakaian bebas dan berambut gondrong.
Tidak salah, tapi bagiku pandangan seperti itu menunjukkan kelas orang yang mengatakannya yaitu bahwa pengetahuan mereka tentang De Britto baru sebatas pada tingkat apa yang mereka lihat dan dengar saja belum sampai pada tingkat-tingkat dasarnya.
Di saat anak-anak lain seusiaku di sekolah lain belajar keras tentang bagaimana mempelajari mata pelajaran-mata pelajaran akademik yang nantinya bakalan digeluti sepanjang kuliah lalu mengantar mereka masuk ke jenjang karir yang brilian, aku bersama rekan-rekan di De Britto belajar bagaimana menjadi manusia seutuhnya yang tak peduli akan seperti apa karir akademik dan pekerjaan nantinya yang terpenting adalah bagaimana membuat hidup lebih berguna bagi Tuhan dan sesama.
Hingga lulus dari situ tahun 1996, aku merasa tak pernah menemukan kata cukup untuk nilai-nilai pendidikan yang dituangkan para guru dan semua unsur yang ada di De Britto. Hal yang teringat hingga kini, malam sesudah perayaan kelulusan, di dalam mobil yang dikendarai alm. Papaku, aku menggumam perlahan, ?Aku cah JB (John de Britto)!?
Aku merasakan kesedihan yang sangat karena waktu tiga tahun berjalan begitu melesat meski di sisi lain aku tahu dan sadar bahwa di titik itu kecintaanku pada De Britto harus mulai dibuktikan justru ketika kita menapak keluar dari kampus yang terletak di Jalan Solo 161 Yogyakarta itu.

Teknik Informatika Universitas Kristen Duta Wacana
Satu-satunya hal yang kusesali selama tiga tahun bersekolah di SMA Kolese De Britto adalah karena saking asyiknya belajar untuk menjadi ‘manusia’, aku lupa bahwa aku juga harus dituntut belajar ilmu-ilmu akademik yang merupakan syarat untuk tetap bisa mengejar impian hendak melanjutkan studi dimana dan bagaimana.
Alhasil, karena tahu ketertinggalanku terhadap mempelajari ilmu-ilmu akademik, selepas SMA aku tak punya motivasi sama sekali untuk melanjutkan kuliah. Ketika kawan-kawan lain berencana kuliah di Bandung, Jakarta, atau kalau di Jogja setidaknya ya UGM jauh sebelum kelulusan aku santai-santai saja. Masa depan bagiku seperti memandang sebuah danau dari jarak dua mil jauhnya pada sebuah pagi ketika embun belum tersingkirkan.
Hingga akhirnya aku ‘terdampar’ di Universitas Kristen Duta Wacana Yogyakarta (UKDW).
Kukatakan terdampar karena memang aku sudah tak tahu lagi harus kuliah dimana sedangkan jadwal pendaftaran di kampus-kampus lain sudah masuk masa-masa akhir dan salah sedikit dari yang masih buka ya UKDW itu.
Di sana aku mengambil jurusan Teknik Informatika semata karena di kampus waktu itu hanya ada jurusan Theologi, Arsitektur, Biologi dan Ekonomi Manajemen. Pemikiranku simple, aku tak ingin menjadi seorang ahli ekonomi karena aku tak bisa mengendalikan keuanganku sendiri, aku tak mau belajar biologi karena aku takut memegang binatang baik hidup maupun mati, aku tak merasa bisa menggambar makanya aku tak ingin jadi arsitektur dan jadi pendeta? May oh my, come on… adakah pekerjaan lain yang lebih cool daripada itu?
Padahal, aku waktu itu tak tahu apa yang hendak kupelajari di jurusan Teknik Informatika karena laju perkembangan teknologi informasi memang belum sederas sekarang.
Saking tak niatnya, ketika ditanya Papa apakah aku perlu dibelikan seperangkat komputer (waktu itu masih cukup langka) aku menolaknya karena bagiku kalau aku menerima maka aku harus memanfaatkannya dengan baik dan nanti ditanya ini dan itu tentang hal-hal yang aku tak suka dan itu bukan kesukaanku. Aku lebih memilih dibelikan gitar beserta amplifier dan sound effectnya, sesuatu yang tentu ditolak mentah-mentah oleh Papa meski aku telah merayunya.
Tapi perubahan terjadi pada diriku.
Setelah tiga bulan berstudi di UKDW, aku mulai mendapatkan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya: menikmati belajar ilmu pengetahuan. Aku jadi tergila-gila dengan ilmu-ilmu yang kupelajari di sana dan tak bisa berhenti memikirkan ilmu-ilmu yang kupelajari, setiap pagi selalu mengantri di depan laboratorium komputer, menenteng buku pemrograman yang kupinjam di perpustakaan lalu mulai belajar mengimplementasikannya padahal itu bukan tuntutan mata kuliah yang tengah kuambil.
Nilai-nilai ujianku tinggi, dan hal itu tak kusia-siakan, kuceburkan diri lebih dalam ke dunia teknik informatika, mendaftarkan diri sebagai asisten dosen dan aku diterima.
Itulah awal kecintaanku pada dunia IT. Dunia yang hingga kini kukubangi di dalamnya dan hidup layak dari kecintaanku terhadapnya.
Masuk tahun kedua kuliah di UKDW, aku jadi terpikir sepertinya aku perlu menanyakan apakah tawaran Papa untuk membelikan komputer masih berlaku karena mengantri di laboratorium setiap pagi itu makin lama makin membosankan dan alangkah asyiknya jika aku mengerjakan semuanya dari kamar kost saja?
Sayang, aku terlambat. Tawaran itu sudah tak berlaku lagi karena ketidakmampuan ekonomi yang datang tiba-tiba dan kami menamainya badai…
Ditaburi Badai, Menuai Berkat
Badai itu datang pada pertengahan 1997, sekitar 10 bulan sebelum Soeharto berpidato dari Mesir dan bicara bahwa badai pasti berlalu, 12 bulan sebelum akhirnya ia sendirilah yang harus berlalu dari tampuk pemerintahan negara meski mungkin ia tak pernah mengaku diri sebagai badai.
Keadaan ekonomi keluargaku yang semula baik-baik saja mendadak terjun bebas ke titik nadir. Imbasnya jelas sekali kurasakan. Uang bulananku sempat hanya terlambat saja dikirim Mama, lalu masuk ke fase terhambat dan akhirnya mampat, bener-bener terhenti sama sekali.
Aku berada di persimpangan.
Motivasiku untuk kuliah dan mendalami ilmu informatika padahal sedang dalam-dalamnya, tapi persimpangan hidup menghadirkan pilihan yang tak menyenangkan, pulang ke Kebumen saja dan mungkin kerja asal-asalan di sana atau tetap di Jogja dengan tanggungan hidup atas diriku berada di pundakku sendiri.
Aku lantas memilih.
Dasar pikir pemilihanku adalah karena aku lelaki, pantang bagiku untuk pulang ke rumah orang tua yang telah kutinggalkan sejak lima tahun sebelumnya. Bagi lelaki, sekali keluar dari rumah maka ia tak layak mengenal kata pulang ke rumah orang tuanya kecuali berkunjung.
Tuhan seolah mengerti pilihanku untuk tetap berada di Jogja. Urusan remeh-temeh lantas diselesaikanNya tepat waktu supaya aku bisa berkonsentrasi berlayar di tengah badai ini.
Kawan-kawan yang rupanya hanya mau kenal dekat ketika keadaan ekonomiku baik mulai meninggalkanku dan pacar yang akhirnya juga meninggalkanku dengan alasan yang ?muter-muter? tak membuatku lemah justru membuat ?ikatan tali kepala? ku makin kencang saja.
Di sisi lain, kawan-kawan sesungguhnya malah didatangkan Tuhan. Adalah ?komunitas? Gang Semar yang bermarkas di Gang Semar, Tegal Lempuyangan, tempat kubernaung ketika ibu kost telah mengusirku karena aku tak sanggup membayar tunggakan kamar kost. Mereka bersebelas, tak ada yang istimewa sebenarnya, tapi aku tak kan bisa melupakan mereka semua hingga katup mata dan hembusan nafas terakhirku karena justru saat aku berada dalam gulita karena badai ekonomi dan keterhimpitan yang lainnya, mereka adalah lilin yang mau menghampiriku dan menemaniku.
Aku menemukan arti baru tentang pertemanan di sana yang belum pernah kudapat sebelumnya. Uniknya lagi, justru di komunitas itu aku secara tak sengaja belajar tentang bagaimana membuat situs web, sesuatu yang akhirnya menjadi lahan pencarian nafkahku setidaknya hingga waktu ketika tulisan ini kutuliskan, lima belas tahun sesudahnya.

Ketika itu bahkan mata kuliah kampus belum pula mengenalkannya sebagai ilmu yang harus dipelajari karena materi masih berkutat pada pemrograman desktop saja. Ketekunan kami di Gang Semar untuk belajar web development akhirnya berbuah manis. Aku dan Amin Sutawidjaya (ia sebenarnya pengontrak rumah tempat kami berkumpul di Gang Semar) menang lomba pembuatan situs web kampus.
Hal ini tentu membanggakan sekaligus menyenangkan karena selepas dari situ, kami mulai dikenal sebagai orang yang bisa membuat website. Tawaran untuk mengerjakan proyek web pun berdatangan dari sana-sini. Kian hari jumlahnya kian banyak dan aku mengerjakannya dengan penuh suka cita karena dari sisi uang yang kudapat, jumlahnya berpuluh kali lipat dari gaji sebagai asisten dosen yang kudapat selama sebulan lamanya.
Awalnya aku ingin menyeimbangkan antara menjadi seorang web developer dan asisten dosen tapi nyatanya baru masuk tiga bulan saja aku sudah keteteran. Sekali lagi aku ditantang untuk berkeputusan dan karena membutuhkan uang, aku lebih memilih untuk menanggalkan gelar asisten dosenku dan terus melanjutkan karirku sebagai web developer.
Pada suatu sore, menjelang mata kuliah praktikum pemrograman yang biasanya ku ‘asisten’-i, aku datang ke kampus, bertemu dengan dosen dan menyerahkan surat pengunduran diriku. Tak ada suasana yang menegangkan atau mengharukan waktu itu, semua berjalan karena konsekuensi keputusanku yang memang harus seperti itu.
Tapi kalau kuingat saat ini, saat waktu telah melesat jauh meninggalkan sore itu, rasa haru menyeruak ke permukaan mengingat sore itu adalah sore terakhir aku datang ke kampus UKDW yang telah membekaliku dengan ilmu pengetahuan untuk bekerja. Sejak saat itu, kemahasiswaan adalah sekadar status bagiku hingga sembilan tahun berikutnya, aku memang datang lagi ke situ, hanya sekitar 10 menit, itupun ke lobby kampus mengantar surat pengunduran diri sebagai mahasiswa.
Citraweb Nusa Infomedia
Gang Semar bubar! Umur kebersamaannya ternyata hanya berumur dalam hitungan bulan dan aku sempat merasa sangat kehilangan!
Aku tak bisa menceritakan sebab-musababnya di sini namun satu hal yang perlu kalian tahu, kami berpisah bukan karena sesuatu terkait dengan pertikaian apalagi permusuhan kami tetap berteman meski sudah tak bisa berkumpul lagi di Gang Semar.
Dari pelajaran itu aku semakin yakin bahwa Tuhan memang membawa maksud tertentu melalui hadirnya Gang Semar. Ia datang benar-benar seperti lilin ketika aku sedang berada dalam gulita, seperti kutulis di atas. Terbukti ketika matahari sudah berada di ufuk timur ketika hari sudah terang tanah, lilin itupun berpendar lalu hilang.
Aku membayangkan jika Gang Semar berumur lama, aku akan tenggelam menikmatinya dan aku pernah berada pada keadaan yang sama ketika tiga tahun berada di SMA Kolese De Britto. Sebaliknya, dari Gang Semar aku telah belajar banyak; arti pertemanan yang lebih tulus dan apalagi kalau bukan ilmu web development yang secara tak langsung justru kukenal ketika aku berada di dalamnya.
Selepas Gang Semar, aku semakin gila kerja!
Bersama Amin aku mendapat pekerjaan sebagai web developer di sebuah perusahaan furniture berbasis di Singapore tapi berproduksi di Jogja.
Namun karena aku juga bekerja sebagai penjaga warnet di Yapkom Internet Cafe, Jl Gejayan (sekarang Jl Affandi) Yogyakarta, aku meminta pengertian bosku untuk masuk malam hari selepas jaga warnet dari jam 9 malam sampai jam 4 pagi.
Jadi, inilah daur hidup harianku saat itu,
Bangun jam 11 pagi, mandi lalu makan siang dan pergi ke Yapkom untuk jaga warnet dari jam 1 siang hingga jam 8 malam dilanjutkan dengan makan malam lalu langsung lanjut kerja ke perusahaan Singapore tadi bersama Amin hingga jam 4 pagi. Pulang dari sana langsung tidur sekitar jam 5 pagi.
Dengan penghasilan yang kudapat waktu itu, jumlahnya jauh di atas lumayan untuk ukuran pegawai Jogja dan aku menikmatinya sebagai pembuktian kepada siapapun yang sebenarnya tak layak untuk kujadikan paparan bahwa meski ?putus kuliah?, aku bertanggung jawab dan berpenghasilan yang boleh dikatakan besar.
Aku menyewa kamar kost yang bagi kalangan mahasiswa termasuk elit di pusat kota Jogja, sebelah Galeria Mall, di kampung Sagan tepatnya. Dengan penghasilanku, biaya kamar kost plus hidup agak sedikit mewah dengan kerap mengunjungi dan berbelanja di Galeria Mall bukanlah hal yang terlalu susah.
Hingga suatu waktu di penghujung dekade 90-an, Tuhan rupanya punya rencana lain yang lebih unik dan menarik lagi.
Suatu siang ketika sedang jaga warnet, aku berbincang dengan kawan lama lulusan SMA Kolese De Britto di mIRC bahwa ia hendak berencana membuka usaha di Jogja. Ia tertarik untuk berbincang denganku karena ia tahu aku punya skill set yang ?lumayan? dalam pembuatan website.
Lalu kami sepakat bertemu dan ia langsung menyatakan niatnya, ?Kita nanti jadi pemiliknya, bukan pegawai!?
?Tapi kita belum punya pegawai kan nanti awal-awalnya jadi ya kita tetap pegawai juga!??
?Iya… tapi kalau sudah punya pegawai ya kita jadi bosnya!?
Aku manggut-manggut.
Keputusan untuk bergabung atau tidak tak kusampaikan saat itu.
Aku harus berpikir keras untuk memutuskan hal itu.
Di satu sisi, apa yang kudapat dari bekerja di dua tempat sudah lebih dari cukup bukan saja untuk takaran mahasiswa tapi untuk takaran pendapatan karyawan yang tinggal di Jogja waktu itu.
Tapi aku punya pemikiran lain. Meski skillku tinggi, aku tetap tak punya gelar kesarjanaan dan aku tinggal di Jogja. Padahal seperti yang kita tahu, gelar kesarjanaan tetap memegang peranan penting untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih layak di Indonesia dan selain itu tinggal dan bekerja di Jakarta tentu pilihan untuk mendapatkan karir yang lebih bagus dengan penghasilan yang lebih banyak daripada kebanyakan yang tetap tinggal di Jogja dan aku sangat anti untuk pindah ke Jakarta.
Dengan mempelajari keadaan itu, aku berpikir cepat atau lambat, ketika kawan-kawan seangkatanku lulus kuliah, terlepas ia punya skill bagus atau tidak, mereka akan dengan mudah mendapatkan sesuatu yang lebih baik dariku.
Mungkin kalian bertanya, apa hubungan antara karirku dengan mereka?
O well, aku ini makhluk yang sejak kecil sudah dikondisikan untuk berkompetisi dan dunia pekerjaan selalu kumaknai sebagai kompetisi dan suka-tak-suka, karena persaingan yang kuciptakan sendiri inilah yang membuatku merasa selalu terlecut untuk melakukan yang terbaik setiap harinya.
Nah, satu-satunya jalan pintas untuk tetap menjadi yang terdepan adalah membuat loncatan yang ekstrim dan menjadi wirausahawan adalah jawabannya! Kalau perlu nanti mereka (kawan-kawanku seangkatan yang lulus kuliah) yang kerja untukku! gumamku.
Pada suatu hari di awal bulan November 1999, bertempat di meja kasir warnet Yapkom Yogyakarta, aku berkeputusan. dan itu adalah kali ketiga dalam hidup seorang makhluk berusia awal 20an membuat keputusan yang tak mudah.
Aku gabung!? tukasku pada kawan lamaku tadi.

Setelah sekitar tiga bulan mempersiapkan semuanya aku bersama Valens Riyadi, Riza Tantular, Iwan Santoso dan Wicaksono Cipto bangun mengakhiri mimpi dan mewujudkannya dalam tataran kenyataan pada sebuah senin pagi, 7 Februari 2000.

CV Citraweb Nusa Infomedia secara resmi berdiri dan menjadi pegangan hidup dan kebanggaan kami. Semuanya bermula dari sebuah pavilliun kecil yang kami sewa di Jalan Kemuning Baciro Yogyakarta…
Donny Verdian dan Ngeblog
Entah, mungkin karena nenekku dulu adalah seorang editor buku di penerbit PT Intan Pariwara atau mungkin juga karena pengaruh lain tapi hobiku menulis memang sudah tumbuh bahkan sejak sebelum akil balik.
Dan tebakan kalian tepat, aku sangat menyukai mata pelajaran Bahasa Indonesia! Bagiku, mata pelajaran Bahasa Indonesia dan hobi menulis itu seperti seruling dengan ular kobranya, senada sepenarian…
Kalau bukan karena gengsi bahwa harus ?A1? (Fisika), mungkin waktu SMA aku sudah masuk kelas Bahasa (A4). Bagiku, bahasa itu ajaib karena bermodal huruf dan tanda, ia bisa mengubah dunia!
Pernah suatu waktu, ketika aku masih tinggal di Kebumen lalu berlibur ke Klaten, ke rumah nenek, aku ditantang beliau untuk membuat satu tulisan panjang dengan topik sesukaku dan dikerjakan selama aku berlibur di sana.
Dengan senang hati aku memenuhi tantangannya dan jadilah sebuah cerita silat yang kutulis tangan menggunakan beberapa helai kertas HVS folio bergaris. Menjelang akhir liburan aku menyerahkan tulisan itu dan karena ia belum sempat membacanya ketika aku harus pamit pulang ke Kebumen, ia berjanji akan menulis surat tentang pandangannya terhadap tulisanku lalu mengirimkannya kepadaku setelah ia selesai membacanya.
Janji nenekku ternyata bukan janji palsu!
Beberapa hari setelah aku kembali ke Kebumen, pada sebuah siang sepulang sekolah, aku menerima amplop berukuran besar. Ketika kubuka, ternyata Nenek tak hanya menuliskan kesan dan masukan tentang ceritaku itu tapi ia juga memfoto kopi tulisanku dan dibubuhinya dengan aneka ragam masukan dan kritik berupa coretan-coretan di sana-sini.
Aku terharu meski sejak saat itu hingga kini aku berpikir bahwa bekerja dibawah supervisi editor adalah bukan sesuatu yang menyenangkan karena apa yang kita tuliskan tiba-tiba bisa dicoret-coret diimbuhi ini-itu sesuka hati!
(Sekitar tahun 2006, naskah yang pernah kutuliskan di blog terdahulu tentang gempa dilirik sebuah penerbit dan dijadikan buku. Ketika aku memberikan buku itu kepada Nenek, beliau pun masih melakukan hal yang sama, mencorat-coret sana-sini dan ketika aku pulang di akhir pekan ke Klaten, ia mengajak berdiskusi panjang lebar tentang buku itu hehehe…)
Hobi menulisku sempat terhenti ketika SMA karena ketertarikanku pada musik dan berbagai hal lain yang lebih banyak menyita waktuku.
Namun, di Citraweb aku kembali mendapatkan passion menulis.?Jadi ceritanya tiga minggu setelah berdiri, kami meresmikan situs portal Kota Jogja yang kami beri nama Gudegnet. Di situ, aku tak hanya dipercaya sebagai seorang web administrator tapi juga sebagai komandan yang memroduksi konten.
Meski akhirnya dibantu beberapa wartawan, tapi aku juga sering menulis dan menerbitkan tulisan itu di sana.
Tak lama sesudah itu, trend web log yang semula hanya dipakai oleh para developer IT untuk membuat catatan tentang pekerjaannya berbasis web, marak dikenal lantas diberi nama blog.
Aku tak kuasa untuk tak menceburkan diri ke dalamnya meski awalnya adalah coba-coba.?Tepat tanggal 12 Februari 2002, menggunakan domain name yang semula kugunakan untuk situs web pribadiku, blog pertama pun berdiri, donnie.or.id alamatnya.
Sejak saat itu, istilahnya selain oksigen, huruf adalah hirupan nafasku yang ketika kuhembuskan berubah menjadi kata-kata merangkai kalimat dan terjadilah tulisan!
Sempat berhenti sebentar karena rupanya mungkin karena terlalu mendalami hobi itu, masalah perasaan hati ikut mempengaruhi semburan kran tulisanku.
Tahun 2004, tiada angin dan tiada hujan aku pernah memindahkan blogku ke domain DonnyVerdian.com, lalu berhenti lagi tak seberapa lama kemudian.
Tahun 2005 kembali ngeblog ketika cuaca hati mulai membaik, menggunakan domain donnie.or.id lagi dan mulai menemukan ritme yang bagus seperti masa-masa awal ngeblog, 2002 silam.
Tapi pertikaian dengan kawan-kawan dari sebuah komunitas blogger yang memang sengaja kusulut karena muak dengan segala kemunafikannya berganjar pada serangan terhadap blogku hingga hancur berantakan. Aku kecewa dan sempat berpikir itulah akhir dari ?karir? ngeblogku.
Tapi tak lama kemudian, seorang kawan Daniel Mahendra, membuat sumbuku tersulut lagi untuk ngeblog. Bermula dari membuat blog di Friendster, pelan tapi pasti aku merasa seperti berjalan di atas roda yang menggelinding ke bawah yang makin lama makin cepat lajunya.
Aku berpikir untuk ?serius? ngeblog lagi!
Aku lantas membeli domain name DonnyVerdian.Net dan memilih menganggurkan Donnie.Or.Id karena waktu itu, pertengahan 2007, aku telah berpikir untuk pindah ke Australia dan tak sepantasnya lagi kalau aku tetap menggunakan domain ?Indonesia?.
20 Desember 2007, bertepatan dengan ulang tahunku ke-30, DonnyVerdian.Net mengudara menggantikan blog yang sebelumnya ada di Friendster. Waktu itu, ketika aku muncul kembali di blogosphere, ramai orang dengan blog mereka masing-masing dan aku merasa aku bukanlah siapa-siapa; awal yang bagus pikirku jadi ?siapa aku sebelumnya? tak jadi soal yang besar.
Tapi garis takdir mengharuskan blog ini terkenal dan menjalani nasibnya sebagai salah satu yang paling lama bertahan ketika blogger lainnya bertumbangan entah karena bosan atau justru termakan omongan seorang pakar yang semula dibenci oleh mereka. Pakar itu pernah berkata, ?Blog adalah trend sesaat!? Dan omongannya memang tak ada yang bisa disalahkan terutama ketika dihadapkan pada para trend follower yang bagai lalat berkerumun tatkala ada makanan yang baru yang mungkin dipikirnya lebih nyaman tapi lantas tak lama kemudian berpindah ke tempat baru mengerumuni tinja yang mungkin dipikirnya juga adalah makanan yang lainnya yang tak kalah lezatnya.
Ah, tiba-tiba aku ingat percakapanku dengan seorang kawan sekitar akhir 2006.??Aku sedang berencana membuat buku autobiografiku! Akan kuedit sendiri, kucetak sendiri dan akan kuterbitkan tepat pada usiaku yang ke-30!?
Tak kusangka? inilah bukuku. Buku yang bisa kalian simak tanpa harus merampas pohon dari para satwa di hutan. Buku yang bisa kalian simak tanpa harus dibeli ataupun difotokopi. Buku yang tak harus membuatku menelutkan lutut di hadapan editor memohon-mohon supaya diluluskan penerbitannya, dan buku yang tetap dan semoga akan tetap menemani kalian dengan cerita-cerita baru sampai achir hidupku.
(bersambung…)




