[Tentang Kebumen] Bioskop Rumahan

6 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Ada satu hal yang lupa kuceritakan dari tulisan bertajuk [Tentang Kebumen] Bioskop Rumahan. Jadi setelah membeli video player (berikut dengan televisi dan perlengkapan rumah tangga lainnya) kami mampir ke Toko Bintang Mas untuk menyewa kaset video.

Sejauh yang kuingat, ada dua tempat penyewaan kaset video di Kebumen waktu itu; Toko Bintang Mas yang letaknya tak jauh dari kantor tempat Papa bekerja dan Toko Bares Jaya yang ada di kecamatan Gombong, 21 kilometer di sebelah barat Kebumen.

Setelah mendaftar menjadi anggota, Papa memilih untuk menyewa dua film. Aku lupa film pertama tapi yang kedua adalah Kejarlah Daku Kau Kutangkap yang antara lain dibintangi Ully Artha dan Deddy Mizwar.

Sistem sewa di Bintang Mas, seingatku waktu itu adalah 750 rupiah per kaset, cukup mahal untuk ukuran tahun itu.

Untuk fiilm-film baru, mereka menggunakan kebijakan “sehari pulang” yang artinya, setelah sehari, kaset harus dikembalikan jika tidak akan dikenakan sistem denda. Sementara untuk film-film lama kami boleh meminjam hingga tiga hari lamanya.

Selain datang ke toko untuk menyewa dan mengembalikan, Bintang Mas dan Bares Jaya memiliki jasa delivery rumah ke rumah.

Sesampainya di rumah dan kami selesai instalasi, Papa memutar Kejarlah Daku Kau Kutangkap.

Tak sampai sepuluh menit kemudian, para tetangga termasuk anak-anak, remaja dan orang tua pun berkerumun di depan pintu samping untuk ikut menonton; maklum, kami adalah keluarga pertama di kampung itu yang punya video player.

Mungkin karena masih larut dalam euforia karena punya perkakas baru, Papa dan Mama mempersilakan semuanya masuk ke dalam rumah untuk sama-sama menonton film. Suasana rumah hari minggu siang itupun menjelma bak bioskop.

Setelah film usai dan mereka pulang, Mama dan Papa baru merasakan akibatnya. Rumah jadi kotor dan lantai berminyak. Pun karena rumah kami sempit dan tak ada sistem ventilasi yang baik, aroma keringat dan abab yang tertinggal tak langsung hilang.

Aku sendiri juga merasa tidak nyaman karena selain aku tak suka suasana riuh, fokus mengikuti alur film buyar! (Kebiasaan ini masih terjadi hingga kini. Setiap kali aku nonton, aku selalu pasang tampang serius dan memusatkan pikiran untuk mengunyah alur cerita setiap detiknya. Joyce, istriku, paling tidak senang kalau aku ada dalam keadaan seperti itu karena setiap ajakan ngobrol bahkan mengomentari film pun kutolak. Kalaupun harus ada hal yang didiskusikan, aku menghentikan film sejenak. Setelah semuanya clear, aku lanjut kemudian).

Papa dan Mama kemudian membuat keputusan kontroversial. Selama memutar video, pintu akan ditutup dan tak ada tetangga yang diperbolehkan masuk. Tapi hal itu tak menghentikan niat mereka untuk ikut menikmati tayangan film. Mereka lantas mengerubung dibalik kaca jendela samping untuk ikut menonton video.

Masalah berhenti? Tidak!
Kalau soal suara-suara yang muncul yang menganggap kami keluarga yang pelit, perhitungan dan gak mau berbagi itu sudah biasa.

Tapi selain itu, kaca pun jadi kotor karena orang-orang menempelkan jidat dan tangannya ke kaca. Belum lagi tanaman Mama… ini yang paling membuat keki karena tanaman yang ada di balik kaca rusak terinjak-injak.

Kami pun memperketat lagi….
Ketika memutar film, gorden kami tutup rapat. Tapi tetap saja… tetap ada yang berusaha menempelkan wajah ke kaca berharap masih bisa mendapat bayang-bayang film dari serat gorden. Sesekali mereka juga sengaja membuat keriuhan di luar mencari perhatian.

Pada akhirnya kami menyerah. Film hanya kami putar di malam hari saja saat mereka sudah pulang ke rumah masing-masing.

Tradisi nonton film melalui kaset video terus berlanjut tapi semakin menjarang hingga berhenti sama sekali sekitar tahun 1992 ketika Papa membeli antena parabola dan kami mendapat pilihan siaran televisi lebih banyak dari sekadar TVRI seperti RCTI, SCTV dan siaran televisi luar negeri seperti TV3 Malaysia. Tapi sebenarnya ada satu sebab lain yang membuat Papa dan Mama enggan menggunakan video player untuk selamanya: aku ketahuan nonton film porno alias bokep.

Untuk yang satu ini akan kuceritakan dalam tulisan selanjutnya…

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.