Kenapa aku masih bicara tentang Indonesia saat sudah tidak ada lagi di dalamnya?

18 Jun 2024 | Cetusan

Terkait suaraku yang lantang berkoar tentang dunia perpolitikan di Tanah Air, nggak sedikit yang kemudian bertanya melalui DM, “Don, kamu kan udah lama tinggal di luar negeri tapi kok masih saja ngomongin Indonesia tiap hari sih?”

Tentu kalimat langsung di atas hanyalah contoh ‘baik’ karena pada kenyataannya ada banyak yang nadanya tinggi semacam, “Woy, Aseng! Ngapain ngurus negeri orang! Urus kangguru sono!”

Aku dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang membebaskanku untuk menyampaikan pendapat. Berpendapat dan menyampaikan alasan adalah norma yang tidak bisa dipersalahkan selama caranya benar. Justru kalau diam pada saat harusnya bersuara, aku dipersalahkan.

Waktu kelas dua SMP, aku ketahuan nonton bokep! Kedua orang tuaku jelas marah! Tapi mereka lebih marah ketika aku tak bisa menyampaikan jawaban saat mereka tanya, “Kenapa kamu nonton film itu? Apa alasanmu untuk mengkhianati kepercayaan yang selama ini diberikan kepadamu?”

Diam, terutama karena takut menanggung resiko atas apa yang hendak kusampaikan adalah haram di keluargaku dulu! (Iya.. iya.. kalian kepo kan kenapa aku udah nonton bokep sepagi itu dan kenapa pula sampai ketauan? Nanti lain waktu kuceritain ya…)

Ketika akhirnya tahu Tuhan memberiku talenta dalam menulis dan membuat lagu (sebenarnya juga memotret dan melukis tapi tak terlalu konsisten) aku mengartikulasikan pendapat, ide dan keresahan dalam wujud-wujud itu. Maka lagu dan tulisan-tulisanku adalah hasil pendapat dan keresahan yang muncul di dalam benak.

Adapun keresahan-keresahanku itu lintas batas.
Pernah secara acak aku resah, kenapa sistem pengucapan kata dalam Bahasa Inggris itu tidak konsisten. “Too” dibaca “tu” tapi kenapa mereka tertawa ketika aku mengucap “dur” untuk “door”?

Aku tak puas dengan alasan “Ya karena emang seperti itu!” karena keresahanku tak berhenti hanya dengan framing sepicik itu. Harus ada alasan terhadap setiap hal yang terjadi di dunia ini!

Pernah pula aku tiba-tiba ingat bahwa di kampung tempatku dibesarkan di Klaten, ada orang bernama lain tapi dipanggilnya ia, Bengsor. Kutanyakan pada om-om, tante-tante dan eyangku, mereka hanya tertawa nggleges “Hehehe… he eh yo! Kok iso yo?” Puas dengan jawaban itu? Tidak!

Nah, kalau kemudian aku dikejutkan dengan berita lucu-lucuan politik di Tanah Air belakangan ini dan cuma dijawab, “Tenang lah! itu kan ASIAN VALUES!” apa aku harus diam saja ketika Pandji pun bilang “Cut that stupid sh*t!

Lagipula, tiga puluh satu tahun pertama dalam hidup, setiap detiknya kuhabiskan di Indonesia. Akupun masih punya relasi dengan orang-orang yang ada di sana. Adik kandungku dan keluarganya, keluarga besarku dan keluarga besar istriku, kawan lama serta hey kamu! Ya kamu semua yang menikmati tulisan dan laguku, pun kebanyakan dari kalian tinggal di Indonesia? Jadi, atas segala pertimbangan itu, ketika ada keresahan yang timbul tentang Indonesia, apa dosaku untuk tidak diam saja?

Perkara kemudian ada yang tidak suka, itu kuanggap sama nilainya seperti ketika tiba-tiba ada yang DM dan bilang, “Tulisan kamu mengena banget, Bro! Bravo!” atau ada yang dengan gaya centilnya berkomentar, “Ih, tulisanmu asik! Orangnya pasti asik jugak!”

“Suka” dan “tidak suka” hanyalah respon di level perasaan terhadap karya. Ia tidak bicara tentang karya itu sendiri. Indikasi sebuah karya itu baik bukan karena banyak dipuji sebagaimana karya yang jahat bukanlah yang panen cemoohan apalagi dari buzzer-buzzer itu!

Pengartikulasian keresahan pun sebenarnya bukan tentang keresahan itu sendiri.
Bukan tentang inkonsistensi pengucapan dalam Bahasa Inggris, bukan tentang kenapa Mas Bengsor dipanggil sebagai Bengsor dan bukan tentang Indonesia apalagi Jokowi. Keresahan hanyalah obyek!

Pengartikulasian keresahan pada mulanya adalah tentang Roh. Roh yang menggerakanku untuk tetap resah, Roh yang sama yang memampukanku untuk mengartikulasikan keresahan itu untuk dinyatakan dalam sebuah karya. Roh yang cara memuliakannya adalah dengan terus melanjutkan semuanya sebaik-baiknya baik, hingga selama-lamanya lama.

Bentar… sepertinya aku harus menuntasi tulisan ini dan lanjut ke tulisanku yang lebih baru lagi karena tiba-tiba aku merasa resah! Resah kalau ada semakin banyak dari kalian yang tidak mengerti artikulasi keresahanku kali ini!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.