[Tentang Kebumen] Ongkos menjadi bintang

28 Jun 2024 | Tentang Kebumen

Salah satu survival mode yang kupercaya mujarab sejak kecil hingga kini adalah aku harus tampak menonjol di tengah kalangan dimana aku ditempatkan. 

Sebenarnya gak salah untuk punya prinsip ini asal semua dilakukan dalam koridor aturan dan etika yang benar… Dalam perkerjaanku sekarang ini menjadi seorang konsultan desain, prinsip ini sangat diperlukan. Selain dari rekam jejak, sejak hari pertama bekerja untuk klien aku harus mampu mengimpresikan diri sebagai orang yang layak dipercaya untuk menganalisa dan memecahkan masalah serta menghadirkan solusi bagi bisnisnya.

Tapi untuk bisa seluwes sekarang ini, perlu waktu tahunan dan “ongkos” yang tidak murah. Waktu yang kuanggap sebagai awalan untuk semua itu dimulai sejak hari-hari pertama mengenyam pendidikan di SMP 1 Kebumen, tiga puluh empat tahun yang lalu.

***

Perkenalanku dengan AS di hari-hari pertama bersekolah di SMP 1 Kebumen adalah sebuah keputusan yang tepat. Ia menonjol di angkatan dan berkawan dengan begitu banyak orang. Kedekatanku dengannya membuat aku akhirnya dikenalkan kepada DM, S, RW, LKM dan beberapa lain yang juga menonjol seperti AS. Untuk kawanan ini, aku menyebutnya sebagai “kawanan bintang”.

Tapi jangan bayangkan mereka sebagai bintang karena berprestasi kemilau dalam proses belajar di kelas. 

Sebaliknya, mereka menonjol karena secara penampilan tampak beda. Tingkah laku mereka paling tidak bisa diam cenderung badung dan bersuara lantang di tengah kerumunan! Dan mungkin karena terlalu fokus berkawan dengan mereka, oleh sebagian besar teman lain aku dianggap sombong, tidak mau menyapa dan.. kemlinthi

Pada saat itu aku tentu tak menyadarinya. Tiga puluh empat tahun kemudian ketika aku berjumpa dengan teman-teman alumni se-angkatan di SMP 1 Kebumen pada sebuah grup percakapan aplikasi WhatsApp, ketika banyak dari mereka mengkonfirmasi hal tersebut aku baru sadar bahwa kenyataannya memang demikian. Karena yang kukejar adalah kawanan bintang, yang kuanggap non-bintang ya… kudiamkan.

Dan dianggap kemlinthi bukanlah satu-satunya “ongkos” yang harus kubayar. Ada “ongkos-ongkos” lain yang kuanggap jadi konsekuensi yang harus kulakukan supaya tetap ada dalam “kawanan.”

Aku memulainya dengan penampilan!

Aku makin merasa nggak nyaman menggunakan seragam yang kedodoran karena itu membuatku sama dengan siswa lain. Aku menagih Mama untuk membuatkan satu set seragam baru yang lebih pas. Mama menurutinya. Seragam yang pas dan celana biru yang kemudian kugulung ke atas hingga nyaris ke pangkal paha supaya bisa dibilang keren atau setidaknya menarik perhatian orang yang melihatnya!

Kedua adalah sepeda.

Aku merengek minta dibelikan sepeda berstang lurus (mountain bike) yang waktu itu bahkan belum ada yang jual di Kebumen tapi AS sudah menggunakannya. 

“Di mana belinya?” tanya Papa. “Mosok harus ke Jogja?” waktu itu kami belum memiliki kendaraan roda empat.

“Di Gombong katanya ada yang jual!” Kami pun pergi ke Gombong membeli sepeda seharga 250 ribu rupiah, sebuah angka yang sangat mahal waktu itu hanya untuk membeli sepeda!

Sejak saat itu, setiap berangkat dan pulang sekolah, aku selalu pergi bersama AS menggunakan mountain bike dan ada perasaan yang tak terperikan indahnya ketika melewati rombongan anak-anak lain yang menggunakan sepeda jenis lainnya (jengki, mini, dll). 

Selain soal seragam dan sepeda, kecenderungan kawanan bintang adalah, mereka sosok yang menyalurkan energi akil baliknya untuk usil terhadap anak lain dan kalau perlu berkelahi sebagai lambang seberapa terang sinar yang mereka pancarkan.

Untuk yang terakhir kusebutkan, sayangnya (tapi aku syukuri sekarang) tidak terlalu berhasil bahkan pengalaman yang hendak kutuliskan ini menunjukkan kegagalanku.

Sabtu, 11 Agustus 1990

Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia ke-45, seluruh siswa diwajibkan untuk membersihkan dan menghias kelas masing-masing di hari Sabtu sore itu. 

Kawanan bintang pun datang. Tapi tak seperti anak-anak lain yang taat pada perintah guru, kami nongkrong di atas sepeda kami masing-masing di bawah pohon di sudut depan sekolah. Sesekali saja ketika guru meminta kami membantu maka kami pura-pura ikut membantu. Ketika para guru pergi, kami pun pergi.

Sambil nongkrong kami menggoda beberapa kawan yang terlambat datang, “Woy kemana aja kok baru datang? Kamu tadi dicari Pak Satam lho!” Kawan yang kami peringatkan, entah takut pada kami atau takut pada kebenaran berita yang kami sampaikan, pun terbirit-birit mengayuh sepeda dan kami terbahak-bahak dibuatnya!

Tak jauh dari kami, ada satu anak yang kukenal, Bi.

Ia kawan lama sejak SD dan kami kenal cukup dekat. Tak hanya di sekolah tapi ia pun sering main ke rumah bersama kawan-kawan lain. Ketika aku dan keluarga masih tinggal di rumah kontrakan di Jl Bengawan, Bi dan kawan-kawan sering menggunakan rumah kami sebagai pos untuk memarkir sepeda dan ganti baju sebelum dan setelah mandi di Sungai Lukulo.

Tapi S, salah satu “bintang paling terang” dalam kawanan kami berkata, “Kae sapa yah? Bocah kok kemlinthi temen?”

Aku bersicepat menjawab, “Oh, itu Bi! Kancaku kawit SD! Pancen kemlinthi!”

“Jal parani! Wani apa ora kowe?” ujar S kepadaku.

Aku menelan ludah, menoleh kepada S.

“Parani, cengkiwing trus jebret-jebret! Tinggal!” perintahnya.

Cengkiwing dalam bahasa lokal yang waktu itu kumengerti adalah secara paksa dan konfrontatif, menarik kerah baju lawan ke atas.

Lututku bergetar tapi aku menurutinya.

Aslinya aku penakut meski badung. 
Sejak kecil aku tak terbiasa berkonfrontasi dengan orang lain. Dalam beberapa kali kesempatan, ketika hendak berkelahi dengan kawan mainku karena hal-hal sepele khas anak-anak, aku selalu menangis lalu lari tunggang langgang padahal belum ngapa-ngapain dan diapa-apain! Tapi atas nama usaha supaya jadi menonjol dan diterima jadi bintang, akupun memberanikan diri.

Cara jalanku kugagah-gagahkan, masuk ke halaman sekolah lalu menghardik Bi yang berdiri tak jauh dariku sedang membersihkan jendela kelasnya. “Woy! Kemari!” lantangku.

Kawan-kawan sekelas Bi kaget lalu melihat ke arahku. Bi maju ke arahku seolah tak percaya bahwa aku, kawan lamanya ini menghardik dalam nada yang begitu keras. “Ana apa, Don?” sorot matanya tajam.

“Kemlinthi temen kowe?” ujarku.
Sekonyong-konyong tanpa memberi aba-aba, Bi merapatkan tubuhnya kepadaku, mendorongku ke arah pagar sekolah dan tangannya meraih krahku mengangkatnya tinggi-tinggi sementara tangan yang satunya lagi siap mengirimkan bogem ke rahangku.

Dengan suara bergetar, aku memohon ampun supaya ia melepaskannya. Tak lama setelah Bi melepaskan cengkiwingannya dan berjalan kembali ke kelas, sontak anak-anak itu menyoraki dan menertawakanku dengan sangat keras.

Aku menunduk lalu berjalan ke kawanan bintang. Mereka yang kupikir akan mendukungku, malah lebih keras menertawakanku.

“Kecing temen dadi bocah?!” ujar S ketika aku kembali ke kawanan sambil terbahak-bahak.

Aku terdiam, mataku nanar tak tahu harus berbuat apa.

Tapi aku tak menyerah.
Masih ada ongkos lain yang bisa kuajukan untuk tetap menjadi bagian dari kawanan itu. Ongkos yang beberapa diantaranya akan kuceritakan secara seksama di sini sejauh aku bisa mengingat dan sejauh aku bisa menganggapnya cukup layak untuk diceritakan sebagai sebuah pelajaran masa lalu.

See! 
Semua kumulai dengan tidak mudah! Sangat tidak mudah! Kalau kata teman-temanku bule di sini,  “Your first 10,000 hours weren’t exactly smooth sailing, were they?”

Couldn’t agree more. My first attempts were a disaster zone! Hahaha!

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.