[Tentang Kebumen] SMP 1 Kebumen, Hari Pertama

26 Jun 2024 | Tentang Kebumen

Kebumen 16 Juli 1990

Sebulan setelah menghabiskan waktu menonton tayangan demi tayangan siaran langsung PIala Dunia 1990 di televisi bersama Papa selama libur akhir tahun ajaran, pagi itu hidup memasuki babak baru. Menjadi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 1 Kebumen.

Exif_JPEG_420

Enam tahun mengenyam pendidikan dasar di SD Pius Bhakti Utama Kebumen, aku lulus dengan NEM (Nilai Ebtanas Murni) cukup tinggi, empat puluh tiga koma sekian. Oleh orang tua, aku didaftarkan ke SMP N 1 Kebumen yang waktu itu adalah sekolah menengah pertama terbaik se-kabupaten. Sempat terpikir untuk masuk ke SMP Pius Bhakti Utama Kebumen yang sama-sama swasta Katoliknya tapi Papa waktu itu berkata, “Eman-eman! NEM-mu apik kok mrono…”

Dan harusnya pagi itu jadi pagi yang menyenangkan tapi sayangnya tidak demikian. Gara-gara pakaian dan celana seragam yang kebesaran, aku jadi tak terlalu bersemangat dan perasaan ini tanpa permisi memenuhi benak yang sudah penuh dengan nervous-ku untuk bertemu dengan orang-orang di lingkungan yang sama sekali baru!

Soal seragam yang kebesaran ini sebenarnya agak lucu juga ceritanya dan khas.

Jadi setelah resmi diterima, kami , para calon siswa baru diwajibkan untuk melakukan proses daftar ulang datang ke sekolah sambil mengukur badan untuk dibuatkan seragam.

Proses itu sejatinya sudah dilakukan dengan benar, tapi beberapa hari menjelang hari pertama, ketika mengambil seragam di penjahit E (sebut saja demikian) yang ditunjuk sekolah sebagai pelaksana pembuat seragam,  ternyata hasilnya terlalu longgar. Uniknya lagi, hampir semua anak yang berat badannya di bawah rata-rata sepertiku, kami mendapat pengalaman yang sama, bersekolah di hari pertama dengan seragam yang kedodoran!

Mama ikutan sewot.
Sebagai orang yang mendalami jahit-menjahit sejak lama, ia sempat hendak membongkar dan memperbaiki seragamku. Tapi karena waktu mepet, dia nggak mau ambil resiko. 

Setelah menyantap nasi dengan telor ceplok setengah mateng dan teh panas, menggunakan jasa becak, aku pergi ke sekolah yang letaknya di Jl Sutoyo 22, Kebumen. Waktu itu kami sudah pindah dari rumah kontrakan ke rumah kami sendiri yang baru usai dibangun beberapa bulan sebelumnya di Jl Kaswari No. 24 Kebumen.

Sesampainya di sekolah, kami diarahkan ke kelas masing-masing. Aku ditempatkan di kelas 1C yang letaknya di luar blok utama sekolah. Sebuah bangunan baru yang ada di depan lapangan upacara dan basket/tenis lapangan.

Kelasnya lebih kecil dan gelap dibandingkan dengan kelas waktu aku masih ada di SD Pius Bhakti Utama. Sejujurnya aku agak kecewa. Kupikir karena ini sekolah keren harusnya bangunan dan gedungnya juga paten!

Langit-langitnya pun lebih rendah, sinar matahari terhalang dari dua arah. Arah sisi selatan terhalang area parkir sepeda yang memanjang sementara kaca jendela di sisi utara penuh diblok dengan aku lupa entah itu hiasan atau kertas sticker tapi intinya hal itu jadi menghalangi sinar masuk.

Tapi aku cukup beruntung karena di kelas itu bertemu lagi dengan salah satu kawan terdekat di SD Pius Bhakti Utama, Indarti Setyorini

Rini, demikian aku memanggil meski kawan lain memanggil Indarti, adalah kembaran dari Untari Setyowati alias Wati yang waktu itu ada di kelas 1D. Saat SD aku beberapa tahun duduk satu meja dengannya sebelah-menyebelah.

Rini sosok pendiam, tulisan tangannya sangat rapi dan indah. Bersama Wati, Ia pernah main ke rumah kontrakan tempat kami tinggal di Jl Bengawan No. 32 Kebumen dan aku juga sering main ke rumah mereka yang letaknya di Jl Merpati, tak jauh dari Jl Kaswari. (Tapi uniknya, setelah aku pindah ke Jl Kaswari tak sekalipun aku main ke rumahnya  hingga akhirnya aku pindah ke Jogja selepas SMP, tiga tahun kemudian!)

Hingga kini aku masih berhubungan akrab dengan mereka dan serial Tentang Kebumen ini lahir salah satunya karena saran dan semangat dari Rini meskipun ia tahu bahwa sebenarnya tidaklah mudah untukku menuliskan pengalaman-pengalaman yang terjadi di Kebumen karena pahit-getir yang terjadi (tentu nanti akan ada yang kuceritakan tapi tidak semuanya) . Tapi atas nama rekonsiliasi dengan masa lalu, semua ini harus kuterakan mumpung ingatan masih baik mumpung umur masih ada.

Selain Rini, di kelas 1C ada juga sosok Agung Prihatmaji Soewarno atau yang kemudian akrab disebut Agung PS.

Agung bukan orang yang kukenal sebelumnya karena ia bersekolah di SD Kebumen 1. Aku melihatnya pertama kali saat ada pertandingan bola pingpong Porseni di SD Kutosari, Agung bermain dengan begitu jagoannya di partai final dan ditonton begitu banyak orang. Sejak saat itu aku berpikir sepertinya orang ini asik untuk dijadikan teman. Maka ketika ada di kelas yang sama, kalau istilahnya jaman sekarang barangkali aku mengalami “star struck” ketika melihat Agung!

Pada tahun-tahun selanjutnya aku memang jadi sangat akrab dengan Agung. Ada begitu banyak ‘kegiatan’ yang kami kerjakan bersama-sama di luar kelas bahkan di luar sekolah. Tentu aku tak bisa menceritakan semua detailsnya di sini atas alasan etika hahaha. 

Bagaimana di dalam kelas?
Kalau tidak ada ulangan, kami duduk bersama. Tapi kalau ada ulangan, kami berpencar! Aku memilih duduk di sekitar kawan-kawan lain yang lebih rajin belajar dan mau membisikkan jawaban dari soal ulangan yang ditanyakan. Salah satu dari kawan itu ya siapa lagi kalau bukan Rini! Karena tulisannya yang indah, tanpa ia harus berbisik, aku bisa melirik ke arah kertas jawabannya dengan jelas!

Demikian juga dengan Rini, Agung adalah sedikit kawan yang masih terus berhubungan dengan sangat intens hingga sekarang.

Jam tujuh tepat, bel berbunyi dengan kerasnya.

Kami berkumpul di lapangan upacara untuk mengikuti Upacara Bendera.

bertindak sebagai inspektur upacara adalah Pak Gun Paimona, kepala sekolah SMP 1 Kebumen yang suprisingly enough waktu itu adalah seorang penganut Protestan.

Setelah selesai upacara, Pak Satamdi, guru olahraga senior naik ke podium dan memberi beberapa pengumuman. Ia mengucapkan selamat datang kepada kami serta memberikan jadwal orientasi yang harus kami lakukan sebagai siswa baru. Sebelum akhirnya membubarkan peserta upacara, Pak Satam, demikian beliau dipanggil, memberi sebuah pengumuman yang selalu membekas hingga sekarang.

Jadi antara blok utama sekolah dan lapangan upacara dihubungkan sebuah lorong yang tak terlampau panjang.

Kebetulan waktu itu Indonesia sedang berduka karena Peristiwa Terowongan Mina di Saudi Arabia pada 2 Juli 1990. Korban jatuh secara umum konon sekitar 1400-an meninggal dalam keadaan saling terhimpit dan terinjak-injak. Lima ratus diantaranya adalah jemaah haji asal Indonesia.

Pada kesempatan itu, setengah bergurau, Pak Satam pun berkata, “Hati-hati melewati terowongan ketika kalian kembali ke kelas. Jangan sampai berhimpit-himpitan seperti yang terjadi di Terowongan Mina!”

Usai upacara kami masuk ke kelas masing-masing dan kegiatan belajar-mengajar hari pertama dilalui.

Seragam dan celana yang kebesaran tetap tak membuatku nyaman tapi ketika mengingatnya sekarang, aku menganggap celana dan seragam besar itu barangkali penanda bahwa suatu saat nanti aku bisa jadi orang besar dan yang terjadi di Jl Sutoyo 22 Kebumen selama tiga tahun ke depan adalah proses untuk memulai perjuangannya.

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.