[Tentang Kebumen] Belajar Menaruh Rasa Suka Pada Wanita

1 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Selayaknya anak-anak seusiaku, di awal masa studi di SMP 1 Kebumen, aku mulai belajar untuk menaruh rasa suka kepada species manusia berjenis wanita.

Di tahun pertama, setidaknya dua kali aku tertarik pada mereka.

Pertama kepada S, sosok bertubuh mungil, bersorot mata tajam, hidung mancung, bergigi marmut dan berambut ikal. Ia teramat sangat pendiam dan setiap hari selalu pergi dan pulang diantar becak. Tak sekalipun kami pernah bertukar kata. Rasa suka hanya terlontar melalui senyum dan tatapan mata yang malu-malu terarah lalu sebentar kemudian cepat-cepat dialihkan takut ketahuan. Waktu pun membuat utasnya getas dan hilang begitu saja.

Yang kedua adalah Dmy, gadis cerdas nan lincah, berpipi ranum dan rambut ikal disertai senyum mengembang bersuara sengau. Kepadanyalah perhatian kuarahkan. 

Adapun caraku menaruh suka mungkin tidak seumum kawan lainnya.

Ketika kawan lain lebih ekspresif dan agresif, aku memilih memendam rasa suka dalam hati dan menghidupkannya dalam ruang khayal yang senyap.  Di satu sisi ini adalah buah rasa minderku yang merasa secara fisik aku ini jauh dari menarik. Di sisi lainnya, mungkin aku yang terlalu selfish; tak peduli apakah yang kusukai merasa atau tidak yang penting aku sudah menaruh rasa suka di hati.

Hal ini mewujud dalam hal yang menurut banyak orang ada dalam kategori aneh.

Misalnya,  aku menandai sepeda jengki milik Dmy dengan coretan spidol warna merah di slebor belakangnya. Lalu setiap jam istirahat aku mencari di mana sepedanya diparkir.Ketika menemukan… aku diam di sana mengamati dan membayangkan Dmy. Begitu saja sudah cukup membuatku merasa nyaman seharian!

Kalau aku tak berhasil menemukan sepedanya, aku panik dan segera bergegas ke kelasnya, 1A untuk memastikan dia ada atau tidak. Jika tidak, kutanyakan pada G, tetangga Dmy yang ada satu kelas denganku di 1C, “Si Dmy gak masuk sekolah?” tanyaku.

Dari keteraturan itu aku mulai mampu membangun kepercayaan.

Ketika kami diwajibkan memilih kegiatan ektra kurikuler, aku mendapatkan informasi dari G kalau si Dmy ikut Praktikum Fisika.

Kegiatan ekstra kurikuler Praktikum Fisika bukanlah kegiatan populer dibandingkan tenis lapangan, sepakbola ataupun musik. Tapi demi bisa lebih mendekat, akupun menjabaninya. Titik itu kemudian jadi simpul awal untuk akhirnya aku berani memperkenalkan diri pada Dmy dan duduk di sebelahnya setiap praktikum diadakan.

Karena sudah kenal, aku jadi punya alasan untuk sesekali waktu, ketika nyali muncul, datang ke kelasnya, pura-pura bertanya apakah dia sudah mengerjakan tugas praktikum untuk sore nanti atau belum? Di kali lain aku menitipkan salam melalui  kawan dekatnya, B, yang aku tahu selalu pergi dan pulang bersama Dmy menaiki sepeda.

Ketika semua amunisi sudah terisi, aku lebih percaya diri untuk melancarkan agresi berikutnya, main ke rumahnya.

“Rumahmu sebelahnya G ya? Aku sore ini mau main ke G. Boleh nggak main ke rumahmu sebentar buat anterin tugas praktikum ku nanti?” Dia mengangguk.

Akupun berkoordinasi dengan G.  “Aku nanti main ke rumahmu ya?!” G mengangguk. 

“Trus nanti aku mau mampir ke rumah Dmy untuk nganterin tugas praktikumku!” G tertawa terbahak-bahak. “Ssssttt!” seruku.

Sore itu sekitar jam 6 aku naik sepeda pergi ke rumah G tanpa sepengetahuan Papa dan Mama. Hal ini kutempuh karena kalau mereka tahu, bukannya aku dilarang main ke rumah G apalagi Dmy tapi karena jalan tempat mereka tinggal adalah jalan besar yang dilewati kendaraan-kendaraan berat dan kendaraan roda empat pribadi berkecepatan tinggi. Tapi aku toh nekad saja. Demi, ye kan?

Sesampainya di rumah G, aku ngobrol sebentar lalu setelah nyali benar-benar terisi, aku mengetuk pintu rumah Dmy tepat di waktu yang sudah kujanjikan.

“Eh, Don! Masuk…”

Rumah Dmy rapi dan sederhana. Aku duduk di kursi tamu yang terletak di sebelah kiri sementara bising jalan raya terdengar betul karena jendela ruang tamu dibiarkan terbuka.

Tak lama setelah aku masuk, bapaknya Dmy datang keluar dan ngobrol sebentar menanyakan hal-hal standard seperti aku tinggal dimana, bapakku siapa dan sebagainya. Tak sampai sepuluh menit aku lalu berpamitan dan kembali ke rumah Dmy. Tak lama berselang aku pamit pulang.

“Lho, cepet temen?” tanya G.

“Iya! Aku nggak pamit ke Papa Mamaku! Pamitnya mau main ke rumah Agung PS tadi hehehe…”

Aku mengayuh sepeda pulang. Sepanjang perjalanan, hatiku ranum. Kayuhan sepeda malam itu terasa begiru ringan seperti ada sayap yang tumbuh di punggungku membantuku menggapai rumah untuk pulang.

Tak lama sesudahnya, aku merencanakan agresi kedua.

Tapi kali ini aku tak sendirian. Aku mengajak kawan dekatku dari kawanan bintang, AS. “Gelem melu ra?” ajakku.

“Ayo!”

Meski AS baru kelas 1 SMP sama sepertiku, tapi dia sudah berani membawa kendaraan bermotor maka jadilah aku diboncengkannya.

Aku dan AS menghabiskan waktu lebih dari 1 jam sebelum akhirnya kami pamit.

Sepanjang pertemuan, aku malah lebih banyak terdiam membiarkan waktu diambil oleh AS untuk lebih banyak berbincang dengan L.

Sepulang dari sana, dalam perjalanan aku tak banyak bicara dengan AS. 

Tak ada lagi hati yang harum dan sayap-sayap yang tumbuh di punggung merepih lalu hilang seperti halnya rasa sukaku pada Dmy yang menghablur begitu saja malam itu. 

Aku mulai merutuki diri sendiri kenapa aku mengajak AS? Kenapa aku tidak mengambil inisiatif untuk mendominasi pembicaraan dan malah membiarkannya bicara begitu banyak dengan Dmy?

Sesampai di muka rumah, AS menurunkanku, “Kamu kok diam saja sejak tadi?

Aku hanya mengangkat bahu, memberikan helm ke AS yang tampak kebingungan lalu masuk ke rumah begitu saja. Jika saja Dewa19 sudah mencipta lagu Cemburu, tentu lagu itu yang paling cocok untuk jadi soundtrack malam itu berkelindan dengan Pupus.

Malam itu jadi malam terakhir aku main ke rumah Dmy. Sesudahnya pijar hatiku pun mulai padam.

Setiap kali bertatapan dengannya, tak ada desiran dalam hati yang berapi-api seperti sebelum-sebelumnya…

Masuk semester kedua, aku tak lagi ikut praktikum Fisika. Aku memilih ekstra kurikuler musik yang waktunya bukannya kebetulan sama dengan waktu praktikum dan L masih ikut di sana.

Sesekali aku melewati laboratorium dan Pak Y, yang membawakan praktikum menegurku, “Donny, kalau kamu mau ikut lagi silakan aja… kamu boleh ikut dua ekstrakurikuler kok..”

Aku menggeleng sambil tersenyum sinis sementara sudut mataku menangkap Dmy yang sedang sibuk di atas meja dengan percobaan fisikanya…

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

1 Komentar

  1. woow dik Doni ceritamu mengingatkanku pada jama SMP seperti itulah kalau cowok SMP naksir temannya ya, rasanya mirip2 dari jaman ke jaman sebelum ada HP, aku kls 1 smp saja nolak teman sekelas, bukan sok ya, waktu aku suka cowok berambut ikal sementara yang naksir aku rambutnya lurus, ceritanya temenku si H itu datang kerumah minta dianterin kerumah sahabatku cewek S mau pinjam buku, karena ngga ada rasa apa2 maka aku mau aja diajak ke jalan Kaswari toh dekat dari rumah diboncengin motor, bapak ibuku membolehkan pergi sebentar karena beliau kenal sama orangtuanya si H, kupikir dia naksir S karena dia lebih manis dari aku ngga taunya dia naksir aku setelah malam itu yah karena aku dah naksir orang lain maka surat2yang dia kirim ke aku ya ku abaikan tak tinggal di laci kelas, patah hati dia kenaikan kelas 2 pindah ke Papua, balik lagi ke SMP 1 setelah 3 bulan

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.