Reuni, Spion Masa Kini

21 Jun 2024 | Cetusan

Ketika bicara tentang reuni, aku menganggapnya sebagai kegiatan yang mungkin menggembirakan bagi sebagian orang tapi tidak bagi sebagian lainnya. 

Bagi yang merasa hidupnya berhasil, reuni jadi ajang untuk merayakan masa lalu atas hidup yang begitu baik di masa kini.

Tapi bagi yang merasa hidupnya biasa saja atau gagal, reuni dianggap jadi ajang untuk dirinya ditelanjangi dan dipermalukan di tengah kawan-kawan lainnya. “Ngapain reuni? Belum sukses! Malah malu sama kawan-kawan lain yang lebih sukses! Besok-besok aja!” Nggak semua seperti itu, tapi adalah satu-dua.

Padahal kalau mau dipikir, apa sih standar keberhasilan hidup?

Jika ada yang menganggap keberhasilan dalam skala angka saja, orang itu tak perlu ikut reuni karena yang bersangkutan sejatinya tak pernah mampu beranjak dari bangku sekolah dimana berhasil tidaknya seseorang ditentukan setinggi apa angka yang diraih dibandingkan orang yang lainnya. 

Meski kadang memang tak terhindarkan. Ada saja dalam reuni yang keceplosan bertanya, “Pangkatmu apa? Rumahmu dimana? Mobilmu yang mana?” Kalau ngadepin yang kayak gini, anggap saja kamu lagi jalan trus kesandung batu. Sakit memang, tapi segeralah bergeser ngobrol dengan teman lainnya yang tidak mempertanyakan hal-hal konyol seperti itu. Ingat, reuni itu yang penting asik maka jauhilah toksik!

Ketika bicara tentang reuni, aku mencoba memahaminya dari sudut pandang bagaimana bagaimana tubuh, leher dan kepala kita bekerja.

Mata, hidung dan mulut yang ada di kepala menghadap ke depan. Sejauh-jauhnya kita bisa melongok adalah ke kiri dan ke kanan karena leher memiliki kompromi untuk digerakkan sejauh itu. Untuk melihat yang ada di belakang, mau-tak-mau kamu harus membalikkan badan. Nah! Reuni bukan ajang untuk membalikkan hidup ke arah yang berlawanan. Reuni itu.. anggap saja seperti kaca spion, saat kita fokus menjalani hidup ke depan, sesekali melihat apa yang ada di belakang itu menyenangkan tapi jangan keterusan!

Kenapa ini penting?
Karena gak semua kawanku sekeren kalian!
Ada lho yang kalau diajak reuni senangnya bukan main lalu dikit-dikit reuni dan lupa untuk hidup masa kini.  Semoga aku salah, tapi kok mereka itu rasanya seperti orang yang sulit untuk mencari kebahagiaan di masa kini dan putus harapan melihat ke depan sehingga satu-satunya alasan untuk terus hidup adalah berbalik ke belakang.

Ada juga yang menganggap reuni adalah musim semi untuk cinta-cinta usang yang ada di masa lalu! Kecuali kalau memang sama-sama tidak terhalang komitmen yang ada sekarang ya silakan tapi selebihnya aku kok meragukan adakah itu benar-benar cinta atau sekedar nostalgia belaka?

Untuk yang barusan kutulis di atas, aku merasa begitu bersyukur.

Bersyukur karena waktu SMP, tak ada satupun proposal cinta monyetku diterima dan aku dengan ‘bijaksana’ memilih mengelola kegelisahan akil balikku saat itu dengan menjadi anak badung dan bandel karena sekarang aku bisa mengenangnya sebagai sesuatu yang menyenangkan untuk dikenang!

Bersyukur pula karena waktu SMA aku melanjutkan ke SMA Kolese De Britto Yogyakarta, sekolah homogen (cowok semua) yang tentu untukku yang heteroseksual ya nggak ngaruh apa-apa. Alhasil kalau reuni, isinya membicarakan urusan bapak-bapak, mengenang masa silam atau paling jauh berbisik, “Sssstttt, kamu denger kabar Si Anu? Gebetanku waktu itu?”

Jadi, untuk kawan-kawan alumni SMP Negeri 1 Kebumen angkatan 1990 – 1993 yang akan bereuni besok sore di Jogja, syukurilah dan nikmatilah setiap menitnya!

Sambil memandang Merapi di kejauhan, rayakanlah hidup dalam kebahagiaan bersama kawan-kawan yang pernah ada di kampus yang sama di Jalan Mayjend Sutoyo 22 Kebumen.

Jangan lupa foto banyak-banyak. Kirimkan sebagian kepadaku yang tidak bisa datang karena bentangan jarak 5000 km jauhnya dari kalian! Simpan foto-foto itu dalam album di gawai atau titipkan saja di social media untuk jadi sebuah kenangan bagi masa depan.

Ketika akhirnya acara reuni usai dan usai pula segala cipika-cipiki serta jabat tangan, ada nukilan lirik lagu Kartonyono Medhot Janji karya Denny Caknan yang sangat kusukai yang akan kusampaikan pada kalian, “Rasah nyawang sepion sing marai ati tambah mbebani…”

Pulang ke rumah! Kembalilah ke masa kini!
Suami, istri, keluarga, orang tua dan segala komplekstias hidup masa kini sudah menanti untuk dilanjutkan, dihadapi. Di dalamnya kita pun diajak untuk terus-menerus bahagia!

Salam,

Donny “Botol” Prima
Alumni SMP N 1 Kebumen, 1990 – 1993

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.