[Tentang Kebumen] Rumah Bengawan

30 Jun 2024 | Tentang Kebumen

Bangun pagi di hari kedua setelah pindahan dari Klaten ke Kebumen, Papa dan Mama mengajakku untuk tour mengelilingi rumah kontrakan tempat kami tinggal.

Rumah kontrakan kami beralamatkan di Jl Bengawan No. 32 Kebumen. Rumah yang untuk ukuran waktu itu terhitung cukup modern secara desain dan lapang untuk kami tinggali.

Menghadap ke arah selatan, di seberang jalannya berdiri bangunan berisi balok-balok kayu siap untuk diperjualbelikan milik keluarga Eko Pawitno yang tinggal di sebelah barat rumah kami. Di belakang bangunan kayu itu adalah bantaran Sungai Lukulo, sungai utama di Kebumen.

Di belakang rumah tinggal keluarga Pak Sirwani M.K, kami memanggilnya Pak Sir. Meski kala itu Pak Sir sudah masuk usia lanjut, tapi ia sangat peduli pada informasi terbaru. Hampir setiap malam Pak Sir datang ke rumah numpang nonton siaran Dunia Dalam Berita di televisi sambil meminjam koran Kompas edisi sehari sebelumnya. 

Di sebelah timur tinggal keluarga sepuh, Pak Sujud. Sepanjang kami tinggal, seingatku, interaksi dengan mereka tidak sebanyak interaksi kami dengan keluarga Sirwani maupun keluarga Eko Pawitno.

Pekarangan depan rumah kami cukup luas dibatasi pagar besi setinggi sekitar 50 senti. Di kemudian hari, Mama memanfaatkan pekarangan itu sebagai kebun anggrek.

Di sebelah pekarangan rumah ada sebuah lorong. Pada dinding lorong tergambar diorama Pangeran Diponegoro. Sesuatu yang khas yang kelak kupakai sebagai penanda ketika mencari rumah itu melalui Google Map.

Tirai bambu membatasi pekarangan dengan teras rumah. Ada sebuah lincak (kursi panjang terbuat dari bambu) dipasang di teras.

Pada facade depan rumah, ada frame jendela berkaca gelap lengkap dengan bilah-bilah nako serta pintu berwarna cokelat.

Masuk ke dalam, di sebelah kiri ada ruang tamu tanpa pembatas ke ruang televisi. Di sebelah kanan ada tiga kamar tidur sebelah menyebelah. Ketika tidak ada tamu menginap, kamar tamu kupakai, kamar tengah adalah kamari tidur utama ditempati mama dan papa sementara kamar paling belakang ditempati pembantu rumah tangga kami.

Ada pembatas frame kayu dengan kaca antara ruang tivi dan ruang makan di belakangnya. Di sudut ruang makan ada meja belajarku.

Dapur ada di bagian paling belakang sebelah kiri. DI sebelah kanan ada sumur serta kamar mandi dan wc.

Tapi karena sumur yang di dalam rumah itu kemudian dianggap kurang banyak memproduksi air, Papa atas seijin pemilik rumah lantas membuat sumur dilengkapi pompa otomatis di luar rumah sejajar dengan ruang makan.

Rumah kontrakan kami letaknya tak jauh dari alun-alun dan Masjid Raya Kebumen. Barangkali karena itu pula, meski secara zonasi masuk ke Desa Kutosari tapi orang-orang menyebut daerah kami sebagai kampung Kauman, sebuah penamaan  khas Jawa untuk menyebut area yang berdekatan dengan masjid.

Untuk menuju ke rumah, dari arah kota bisa dicapai melalui dua jalan utama, Jalan Kapten Pierre Tendean kemudian masuk ke Jalan Bengawan atau dari alun-alun masuk ke “turunan” yang sekarang jadi Jl Ronggowarsito lalu belok kanan ke Gang Lusi.

Kalau naik becak, kami lebih banyak lewat Jl Bengawan yang lebih landai. 

Untuk melewati turunan dan belok ke Gang Lusi, kadang kami tak tega melihat pengemudi becak harus mengerem secara manual: turun dari kursi kemudi lalu menggunakan kaki menahan laju karena tarikan gravitasi saking curamnya turunan untuk kemudian menukik ke kanan ke Gang Lusi. Pernah beberapa kali kejadian pengemudi becak yang jasanya kami pakai gagal mengerem hingga akhirnya melaju  kencang ke Pasar Pring di pinggir Sungai Lukulo yang ada di ujung turunan (waktu itu belum dibangun jembatan yang menghubungkan dengan daerah Pejagoan seperti sekarang).

Tapi ketika naik sepeda maupun sepeda motor, meski sama-sama jalan tanah dan batu, Gang Lusi adalah pilihan mengingat Jl Bengawan lebih tak rata terutama ketika baru masuk dari Jl Piere Tendean di depan rumah Pak Syarifudin (Udin), teman sejawat di kantor Papa. 

Untuk mengontrak rumah itu, kalau tak salah ingat, Papa mengeluarkan ongkos 250 ribu per tahun.

Kami menempatinya selama kurang lebih enam tahun. Dari 1990 hingga saat meninggalkan Kebumen, 1998, kami tinggal di rumah Jl Kaswari 24, rumah kami sendiri.

Sekitar pertengahan dekade 2010an, tentu ketika aku sudah menetap di Australia, ada peristiwa lucu. Aku berhubungan dengan anak si empunya rumah kontrakan yang waktu aku tinggal di Kebumen melalui Facebook. Dalam sebuah percakapannya, ia sempat menawarkan rumah “Bengawan” untuk kubeli.

Atas nama kenangan, aku sempat tertarik dan berkontemplasi untuk membelinya tapi karena hidup ini berjalan maju ke depan, aku menggugurkan rencana itu.

Toh melalui ingatan-ingatanku meski mulai repih satu per satu seperti yang kurawi ini, rumah itu sejatinya tak pernah jauh dariku dan sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalananku dan keluarga tanpa perlu membelinya…

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.