[Tentang Kebumen] Film Saru – Bagian 1

8 Jul 2024 | Tentang Kebumen

Ada beberapa hal dalam hidup yang kualami lebih lambat ketimbang yang dialami anak-anak seusiaku. Tapi dalam beberapa hal lain, aku termasuk early adopter jika tak mau dibilang terlalu terburu-buru untuk melakukan atau mengalami sesuatu.

Dalam hal ini, salah satunya adalah menonton film porno alias bokep yang dulu dikenal dengan istilah blue film. Ada kawan bercerita kepadaku, dia nonton film porno pertama kali ketika menjelang skripsi, ada juga yang menonton sejak SMA bahkan ada yang belum pernah menonton sama sekali hingga setelah menikah dan beranak.

Aku? Aku menonton sejak tahun 1988 saat usiaku belum genap sebelas! Waktu itu Papa dan Mama mendadak harus pergi ke Surabaya, kerabat dekat meninggal dunia. Karena waktu itu sepupuku, Mas N, tinggal bersama kami untuk melanjutkan studi, Papa dan Mama tak mengajakku dan Chitra, adikku yang waktu itu masih berumur tiga tahun dipasrahkan pada Mbak Piyah. “Nggak lama! Lusa udah balik. Mama dan Papa cuma nginep semalam!” kata mereka sebelum berangkat ke stasiun kereta api Kebumen.

Aku sih asik-asik aja karena ada Mas N yang usianya terpaut lima tahun di atasku jadi omongan kami nyambung dalam banyak hal.

Sore hari berikutnya, sekitar jam tiga sore saat aku baru bangun dari tidur siang, Mas N tiba-tiba memanggilku, “Dik… Dik Donny…”

“Ya, Mas?” jawabku.
“Ssttt… kamu mau nonton blue film nggak nanti malam?” bisiknya seolah tak ingin Mbak Piyah yang sedang ada di dapur mendengarkan.

“Blue film?” tanyaku.
“Iya… Film yang isinya orang ginian..” Mas N memberi tanda jempol dijepit diantara jari telunjuk dan tengah.

“Hah? Film saru? Memangnya kamu punya kasetnya?” Mas N mengangguk, matanya mengisyaratkan petualangan seru yang hendak terjadi di malam harinya.

Sekitar jam 10 malam, ketika Chitra sudah lelap dan Mbak Piyah masuk ke dalam kamar,  aku yang sebenarnya sudah mengantuk bersama Mas N berjingkat keluar kamar. Setelah memastikan gorden tertutup rapat, kami memutar film. Ada dua kaset malam itu. Aku masih ingat kedua judulnya tapi aku memutuskan untuk tak mencantumkannya dalam tulisan ini karena ketika iseng googling kedua judul film itu masih ada data digitalnya bahkan ada online service yang menyediakan jasa streaming untuk salah satu darinya!

Malam itu jadi malam yang sangat membekas nan menegangkan bagiku. Untuk pertama kalinya, aku mendapat gambaran visual tentang hal yang selama ini sering mengganggu pikiranku terkait tubuh lawan jenis, persetubuhan dan interaksi seksual.

Tegang?
Atas bawah!  Karena selain rangsangan seksual akupun tegang membayangkan kalau tiba-tiba Chitra terbangun atau Mbak Piyah keluar kamar dan kaget melihat kami nonton bokep atau karena gorden yang tipis dan membayang dan tetangga yang tiba-tiba menonton dan melapor…. ah yang terakhir ini beneran terjadi! 

Sekonyong-konyong pintu rumah diketok seseorang. Jantungku berdegup kencang! Film dimatikan oleh Mas N.

Ketika kami melongok rupanya Mas A, tetangga rumah. Ia tersenyum dan senyumnya mengisyaratkan “Numpang nonton dong… kalau enggak mau kulaporkan!” Kami tak punya pilihan, bertiga kami menikmati film itu hingga paripurna.

Sejak malam itu ada dimensi baru di hidupku. Ada sudut pandang yang tak dipunyai kawan-kawan seusiaku. Ketika mereka menganggap penis hanya untuk pipis, aku sudah tahu bahwa ada hal-hal lain yang juga bisa penis lakukan…

Ketika mereka suka melihat cewek dari pita rambut yang dikenakan, dari lucunya canda dan tawa yang disampaikan, aku ada di level yang berbeda dari itu.

Ketika mereka membayangkan indahnya belajar kelompok dan makan bakso bareng, aku membayangkannya liarnya kalau ada bersama-sama dalam frame film yang kutonton di film saru.

Aku dan pikiranku bertualang jauh ke dalam labirin nan tak terbayangkan sebelumnya… sebelum malam itu. Sesuatu yang waktu itu jadi petualangan yang mendebarkan tapi ketika sekarang, tiga puluh empat tahun kemudian, aku menganggapnya sebagai petualangan yang sangat melelahkan.

Aku bukan tipe orang yang mudah menyesali hal-hal yang terjadi di masa lalu, tapi jika boleh memilih, untuk yang satu ini, aku ingin melompati malam itu dan menganggapnya tak pernah ada dalam alur waktu hidup.

Bersambung…

*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.