
Kalau ingat ceritaku tentang L, sejak bubar sebelum jadian dengannya, aku mulai mengambil jarak lebih jauh dengan Kebumen. Meski waktu itu sebenarnya juga belum kerasan-kerasan amat tinggal di Jogja.
Setiap pulang mudik di akhir pekan, aku jadi lebih cenderung menutup diri untuk tak bertemu atau bersinggungan dengan siapapun termasuk dengan teman-teman lamaku. Interaksi biasanya terjadi hanya ketika kami pergi ke Gereja, melihat teman-teman kusapa dengan anggukan kepala lalu sudah.
Tapi ada satu momentum yang akhirnya membuatku punya kesempatan berkumpul dengan teman-teman lama, gank masa SMP, Magic Boys, secara intens. Momentum itu dimulai dari perjumpaan yang tak disengaja.
Waktu itu libur panjang kenaikan kelas tiga.
Di sebuah sore, aku naik sepeda hendak beli makan dan rokok di warung milik almh. Rinawati, kawan SMP, yang waktu itu sudah pindah ke Prembun untuk melanjutkan studi. Ketika melewati rumah dinas kepala kantor pajak yang letaknya hanya beberapa rumah, aku melihat ada beberapa teman SMPku nongkrong di sana. Awalnya sempat mau balik badan karena malas untuk bertegur sapa tapi sudah terlambat karena mereka memanggilku, “Ndul!”
Ndul?
Iya! Setelah aku merasa keberatan dipanggil Botol, mereka sepakat untuk memanggilku Gendhul, Bahasa Jawa yang berarti botol. Aku tak keberatan mereka memanggilku demikian karena tidak ada akhiran “Tol” yang berarti tolol; sesuatu yang sangat menyakitkanku hingga akhirnya aku pindah ke Jogja (Baca ulang deh tulisanku yang lalu di Superblogger.ID)
Akupun menghentikan langkah lalu oleh mereka, aku dikenalkan dengan Agung. Agung adalah anak kepala kantor pajak yang baru. Bapaknya mengganti posisi Pak Domo, Bapaknya Bowie yang juga teman kami waktu SMP. Aku cukup akrab dengan Bowie dan keluarganya dulu.
Agung bersekolah di SMA 1 Kebumen sama seperti kebanyakan teman-teman SMPku. Setelah basa-basi sebentar, aku lupa siapa tapi ada salah seorang yang bilang kepadaku, “Mumpung kamu liburan, ngeband yuk! Mau ada lomba band kalau kamu mau ikut!”
Aku langsung meng-iya-kan. Tentu aku tak perlu bertanya akan ada di posisi apa di band itu karena meski di Jogja main bass, kawan-kawan SMP di Kebumen tahunya aku ini ya nyanyi.
Paling gak bisa menolak untuk diajak berkesenian, akupun mengiyakan ajakan itu dan sejak sore itu, seolah-olah aku lupa pada ikhtiar awal untuk mengurung diri selama di Kebumen. Aku jadi jarang ada di rumah karena sejak siang hingga larut malam aku selalu pergi kalau nggak ke rumah Agung, ke studio musik milik Iza untuk berlatih atau jalan-jalan bareng kemanapun kami suka.
Lalu siapa saja yang ada di band itu?
Selain aku yang jadi vokalis, Agung bermain bass, Dodo, bermain gitar dan Iza ngedrum. Lagu yang kami pilih dari Greenday, band yang lagi ngetop-ngetopnya waktu itu. Ada tiga, When I Come Around, She dan Basket Case.
Setelah kurang lebih tiga minggu bersiap, datanglah hari H. Lomba diadakan di alun-alun kota. Panggungnya cukup besar menghadap ke arah selatan. Aku ingat betul dengan outfitku sore itu. Kaos hitam bertuliskan BRONX warna ungu merk C-59. Celana jeans hitam dan beannie (kupluk rapper istilah dulu) warna abu-abu. Rambutku waktu itu cukup panjang karena di De Britto, kami memang boleh berambut panjang sementara kawan-kawan ngeband-ku lainnya berambut potongan layaknya anak-anak SMA lainnya.
Kebetulan Budhe Her, Kakak tertua Papa waktu itu juga sedang ada di Kebumen. Dia pun ikut nonton berbaur di sana sementara Papa dan Mama tidak. Papa dan Mama memang selalu kularang untuk nonton aku saat berlomba nyanyi sejak dulu karena aku tak mau malu atau jadi tak fokus dan anehnya mereka menuruti saja. Lucunya, anak keduaku, Elodia juga pernah ikut dance competition dan ia juga melarangku serta istri untuk menonton dengan alasan yang sama persis! Like father like… daughter!
Kami berhasil membawakan lagu-lagu sebaik saat latihan dan seperti sudah bisa kutebak setelah membandingkan performance band-band lainnya, kami muncul sebagai juara satu. Sesudah acara kami berkeliling naik mobil-nya Agung, aku lupa kemana tapi pokoknya makan dan putar-putar kota lagaknya seperti kumpulan artis daerah saja!
Malam itu ketika berpamitan, aku diijinkan kawan-kawan untuk membawa piala sebagai kenang-kenangan.
Hingga akhir hayat Papa dan Mama di dekade 2010an, piala itu masih dipajang di sudut ruang keluarga rumah Klaten bersama piala-pialaku yang lainnya meski saat itu aku sudah pindah ke Sydney, Australia. Tapi sepeninggal mereka dan saat rumah direnovasi karena Chitra, adikku, membutuhkan lebih banyak ruang untuk keluarganya, piala-piala itu entah sekarang ada di mana. Tebakanku mungkin tersimpan dengan berbagai macam barang-barang lawasan lainnya di gudang rumah Klaten.
Tapi dimanapun piala itu sekarang berada, kenangan saat bagaimana aku bersama Agung, Iza dan Dodo memperjuangkannya tiga puluh satu tahun silam tidak akan hilang, makanya kuabadikan melalui tulisan ini.
Momentum lomba ngeband waktu itu adalah pembuktian bagi diriku sendiri bahwa meski sudah merasa tersakiti, ketika mau mengusahakan dan berkorban, oleh Tuhan, aku masih bisa melihat nilai positif dari pertemanan yang pernah kualami di Kebumen.
Sayangnya, momentum itu adalah momentum kesukacitaan yang terakhir yang kualami di Kebumen sebelum kami sekeluarga akhirnya masuk ke lorong kelam hidup yang kemudian jadi penanda akhir perantauan empat belas tahun kami di kota itu. Sesuatu yang akan kuceritakan di tulisan-tulisan berikutnya yang sekaligus akan jadi penutup rangkaian panjang serial Tentang Kebumen ini.
*Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

















