Kategori: Tentang Kebumen

  • Menang Lomba Band

    Menang Lomba Band

    Kalau ingat ceritaku tentang L, sejak bubar sebelum jadian dengannya, aku mulai mengambil jarak lebih jauh dengan Kebumen. Meski waktu itu sebenarnya juga belum kerasan-kerasan amat tinggal di Jogja.

    Setiap pulang mudik di akhir pekan, aku jadi lebih cenderung menutup diri untuk tak bertemu atau bersinggungan dengan siapapun termasuk dengan teman-teman lamaku. Interaksi biasanya terjadi hanya ketika kami pergi ke Gereja, melihat teman-teman kusapa dengan anggukan kepala lalu sudah.

    Tapi ada satu momentum yang akhirnya membuatku punya kesempatan berkumpul dengan teman-teman lama, gank masa SMP, Magic Boys,  secara intens. Momentum itu dimulai dari perjumpaan yang tak disengaja.

    Waktu itu libur panjang kenaikan kelas tiga. 
    Di sebuah sore, aku naik sepeda hendak beli makan dan rokok di warung milik almh. Rinawati, kawan SMP, yang waktu itu sudah pindah ke Prembun untuk melanjutkan studi. Ketika melewati rumah dinas kepala kantor pajak yang letaknya hanya beberapa rumah, aku melihat ada beberapa teman SMPku nongkrong di sana. Awalnya sempat mau balik badan karena malas untuk bertegur sapa tapi sudah terlambat karena mereka memanggilku, “Ndul!” 

    Ndul?
    Iya! Setelah aku merasa keberatan dipanggil Botol, mereka sepakat untuk memanggilku Gendhul, Bahasa Jawa yang berarti botol. Aku tak keberatan mereka memanggilku demikian karena tidak ada akhiran “Tol” yang berarti tolol; sesuatu yang sangat menyakitkanku hingga akhirnya aku pindah ke Jogja (Baca ulang deh tulisanku yang lalu di Superblogger.ID)

    Akupun menghentikan langkah lalu oleh mereka, aku dikenalkan dengan Agung. Agung adalah anak kepala kantor pajak yang baru. Bapaknya mengganti posisi Pak Domo, Bapaknya Bowie yang juga teman kami waktu SMP. Aku cukup akrab dengan Bowie dan keluarganya dulu.

    Agung bersekolah di SMA 1 Kebumen sama seperti kebanyakan teman-teman SMPku. Setelah basa-basi sebentar, aku lupa siapa tapi ada salah seorang yang bilang kepadaku, “Mumpung kamu liburan, ngeband yuk! Mau ada lomba band kalau kamu mau ikut!”

    Aku langsung meng-iya-kan. Tentu aku tak perlu bertanya akan ada di posisi apa di band itu karena meski di Jogja main bass, kawan-kawan SMP di Kebumen tahunya aku ini ya nyanyi.

    Paling gak bisa menolak untuk diajak berkesenian, akupun mengiyakan ajakan itu dan sejak sore itu, seolah-olah aku lupa pada ikhtiar awal untuk mengurung diri selama di Kebumen. Aku jadi jarang ada di rumah karena sejak siang hingga larut malam aku selalu pergi kalau nggak ke rumah Agung, ke studio musik milik Iza untuk berlatih atau jalan-jalan bareng kemanapun kami suka.

    Lalu siapa saja yang ada di band itu?

    Selain aku yang jadi vokalis, Agung bermain bass, Dodo, bermain gitar dan Iza ngedrum. Lagu yang kami pilih dari Greenday, band yang lagi ngetop-ngetopnya waktu itu. Ada tiga, When I Come Around, She dan Basket Case.

    Setelah kurang lebih tiga minggu bersiap, datanglah hari H. Lomba diadakan di alun-alun kota. Panggungnya cukup besar menghadap ke arah selatan. Aku ingat betul dengan outfitku sore itu. Kaos hitam bertuliskan BRONX warna ungu merk C-59. Celana jeans hitam dan beannie (kupluk rapper istilah dulu) warna abu-abu. Rambutku waktu itu cukup panjang karena di De Britto, kami memang boleh berambut panjang sementara kawan-kawan ngeband-ku lainnya berambut potongan layaknya anak-anak SMA lainnya.

    Kebetulan Budhe Her, Kakak tertua Papa waktu itu juga sedang ada di Kebumen. Dia pun ikut nonton berbaur di sana sementara Papa dan Mama tidak. Papa dan Mama memang selalu kularang untuk nonton aku saat berlomba nyanyi sejak dulu karena aku tak mau malu atau jadi tak fokus dan anehnya mereka menuruti saja. Lucunya, anak keduaku, Elodia juga pernah ikut dance competition dan ia juga melarangku serta istri untuk menonton dengan alasan yang sama persis! Like father like… daughter!

    Kami berhasil membawakan lagu-lagu sebaik saat latihan dan seperti sudah bisa kutebak setelah membandingkan performance band-band lainnya, kami muncul sebagai juara satu. Sesudah acara kami berkeliling naik mobil-nya Agung, aku lupa kemana tapi pokoknya makan dan putar-putar kota lagaknya seperti kumpulan artis daerah saja!

    Malam itu ketika berpamitan, aku diijinkan kawan-kawan untuk membawa piala sebagai kenang-kenangan.

    Hingga akhir hayat Papa dan Mama di dekade 2010an, piala itu masih dipajang di sudut ruang keluarga rumah Klaten bersama piala-pialaku yang lainnya meski saat itu aku sudah pindah ke Sydney, Australia. Tapi sepeninggal mereka dan saat rumah direnovasi karena Chitra, adikku, membutuhkan lebih banyak ruang untuk keluarganya, piala-piala itu entah sekarang ada di mana. Tebakanku mungkin tersimpan dengan berbagai macam barang-barang lawasan lainnya di gudang rumah Klaten.

    Tapi dimanapun piala itu sekarang berada, kenangan saat bagaimana aku bersama Agung, Iza dan Dodo memperjuangkannya tiga puluh satu tahun silam tidak akan hilang, makanya kuabadikan melalui tulisan ini.

    Momentum lomba ngeband waktu itu adalah pembuktian bagi diriku sendiri bahwa meski sudah merasa tersakiti, ketika mau mengusahakan dan berkorban, oleh Tuhan, aku masih bisa melihat nilai positif dari pertemanan yang pernah kualami di Kebumen.

    Sayangnya, momentum itu adalah momentum kesukacitaan yang terakhir yang kualami di Kebumen sebelum kami sekeluarga akhirnya masuk ke lorong kelam hidup yang kemudian jadi penanda akhir perantauan empat belas tahun kami di kota itu. Sesuatu yang akan kuceritakan di tulisan-tulisan berikutnya yang sekaligus akan jadi penutup rangkaian panjang serial Tentang Kebumen ini.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Membawa sepeda motor ke jogja

    Membawa sepeda motor ke jogja

    Setelah membeli mobil dan bisa nyetir, Papa praktis nggak pernah membawa sepeda motor Honda Astrea Grand 1993 yang biasa dipakainya dulu.

    Di lain sisi, aku masuk ke kelas 3 SMA Kolese De Britto dan sudah cukup lama pengen punya sepeda motor sendiri, seperti kawan-kawan lain. Selama itu, Papa dan Mama membekaliku sepeda kayuh ber-merk Polygon untuk beraktivitas. Tapi ya mana seru sih bersepeda? Anak SMA gitu lho? Apa iya bisa kita boncengin gebetan pakai sepeda? Emangnya Galih dan Ratna?

    Aku melihat kesempatan dalam kesempitan. 

    Waktu berlibur ke Bali, November 1995, saat mood lagi bagus-bagusnya, aku memberanikan diri untuk minta ijin ke Papa, “Pa… aku pakai motornya ke Jogja ya?”

    Papa dengan setengah berbisik bilang, “Nek Papa ki ra masalah. Mengko aku tak alon-alon matur karo Mamamu….”

    Sesampainya balik di Kebumen, aku diajak bicara Mama. “Mama ora masalah kowe nggowo motor tapi mengko kowe janji ora nglayap wae?” ujarnya sambil menghisap batang rokok Dunhill Hijau kesukaan Mama.

    Sebagai anak yang pandai menyaguhi janji, aku hanya manggut-manggut saja demi ijin yang diberikan saat itu juga!

    Tapi permasalahannya satu, bagaimana cara membawa sepeda motor itu sampai ke Jogja?

    Dipaketkan? Mahal! 
    Dikendarai ke Jogja?
    Bisa-bisa ijinnya langsung dicabut karena Mama pasti ketakutan setengah mati karena lalu lintas yang ramai, takut aku ngantuk ketika mengendarai dan lain sebagainya.

    Aku mencari akal beberapa waktu dan, “Ma! Aku wes nemu cara!” ujarku. Waktu itu awal tahun 1996.

    “Piye, Le?” tanya Mama yang juga penasaran.

    “Pake travel! Jadi nanti aku bawa sepeda motor ke travelan lalu aku naik travel seperti biasa dan motornya diangkut pake truk. Di Jogja, motornya langsung kuambil.”

    Mama manggut-manggut percaya. “Trus mbayare piro? Mesti larang lho!”

    “Hmmm.. ora mbayar, Ma!” aku meyakinkan!

    “Kok iso?” 
    “Karena aku wes dianggep langganan dan Andre kan kancaku sekolah… jadi gratis…” Andre, kami memanggilnya Badrun, adalah kawan satu angkatanku di De Britto yang juga anak dari pemilik Rajawali Travel. Mama pun teryakinkan dengan mudahnya!

    Padahal kenyataannya? Sabar! Simak terus cerita ini ya…

    Biasanya, aku pulang balik ke Jogja menggunakan travel jam 5 sore hari Minggu. Tapi siang itu, sekitar jam 1 aku pamit ke Mama dan Papa juga Chitra. Aku bilang bahwa jadwal travelku jam 2 siang supaya tidak terlampau malam sampai Jogja.

    Siang itu aku hanya mengenakan sandal jepit, jeans celana panjang dan kaos oblong serta tas ransel yang biasa kupakai untuk ke sekolah. Aku tak mau menggunakan jacket apalagi sepatu karena takut dicurigai.

    Dari Jl Kaswari tempat kami tinggal, aku bergerak ke timur lalu belok ke kanan ke arah Jl A. Yani. Dari kaca spion kuamati tak ada yang mengikuti. Aman! Lalu alih-alih belok kiri ke arah kantor Rajawali Travel, aku langsung tancap gas ke… Jogja!

    Terus terang rasanya gugup dan deg-degan!

    Deg-degan karena aku tak terbiasa dengan ramai lalu lintas antar kota seperti itu. Deg-degan karena aku tak terbiasa juga untuk berbohong! Oleh karenanya, aku mengendarai motor dengan sangat pelan-pelan. Tak pernah melebihi 60 km per jam. Sekalinya menyentuh angka 80 km per jam aku langsung buru-buru injak rem. 

    Dua jam kemudian, sekitar jam 3 sore, ketika sudah sampai di Rewulu, sebelum Jogja, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya dan karena aku nggak bawa jas hujan, aku segera meminggirkan sepeda motor di depan sebuah ruko yang tutup hari itu.

    Ada beberapa pengendara lain yang juga berteduh di atap ruko itu. Aku mengeluarkan sebatang rokok lalu menyulutnya dan menikmati hisapan demi hisapan. Sekonyong-konyong, orang-orang itu memperhatikan dan mengawasiku dengan tajam. Tadinya aku tak sadar hingga akhirnya aku ingat itu adalah hari puasa di Ramadhan 1996! Rokok segera kumatikan dan kubuang lalu aku buru-buru melanjutkan perjalanan dengan tak mempedulikan hujan yang masih sangat deras!

    Sesampainya di asrama, aku segera memarkir motor di garasi lalu mandi.

    Setelah mandi dan hujan mereda , seperti minggu-minggu sebelumnya, aku pergi ke wartel (warung telekomunikasi) untuk mengabari Mama dan Papa bahwa aku sudah sampai Jogja dengan selamat. Hal ini kulakukan karena Mama selalu berpesan untuk mengabarkan ketika sudah sampai di asrama setelah pulang dari perjalanan jauh termasuk dari mudik ke Kebumen. (Ketika akhirnya kami mengenal teknologi mobile phone dan SMS, rutin tersebut tentu saja tergantikan!)

    “Wes tekan, Le?” tanya Mama di seberang.

    “Uwis, Ma! Tapi aku agak masuk angin!” Aku memang agak sedikit pusing dan perut terasa mual karena angin sepanjang perjalanan dan hujan dari Rewulu hingga ke asrama di Papringan.

    “Lho kok iso? Tapi motore wes dijupuk?”

    “Uwis Iki aku juga wes numpak motor kok…”

    Mama terdengar menarik nafas lega. “Hehehe… Kowe ngerti ra, Papamu ki nganti saiki nggumun kok travelan iso duwe jasa untuk pengiriman barang koyo sing mbok ceritakan tadi ya?”

    Awalnya aku cuma mengiyakan saja.

    “Padahal Papamu kan langganan luwih suwe ketimbang kowe tapi malah nggak mendapatkan fasilitas gratis koyo kuwi!” lanjut Mama.

    Karena tak bisa menahan tawa dan kurang berbakat untuk berbohong, akupun menyerah. “Ma… aku arep matur tapi aja kaget ya?”

    “Lha piye, Le?” tanya Mama menyelidik.

    “Sebenarnya tadi motornya kunaikin sampe ke Jogja hahahaha…”

    “Hah?!” Mama kaget lalu mulai meracau dengan nada tinggi dan tak bisa berhenti…

    Aku jauhkan gagang telepon sambil terus menahan tawa lalu buru-buru kupotong dengan taktis “Ma, iki wes hampir 2000! Mahal bayar wartelnya! Aku mulih asrama sik ya wes meh jam belajar!” Gagang kuletakkan cepat-cepat dan aku tertawa terbahak-bahak membayangkan bagaimana reaksi rumah sore itu!

    Malam harinya, setelah jam belajar usai, Papa menelponku melalui nomer telepon asrama. Ia berseloroh, “Kowe ki cah ra nggenah! Mamamu kagol dan bingung kae. hahahaha!” Kami terbahak bersama-sama…

    Dua bulan sesudah membawa motor ke Jogja, 31 Maret 1996, aku punya pacar untuk pertama kalinya. 

    Dan seperti yang Mama dan Papa prediksikan, aku semakin jarang pulang ke Kebumen karena kalau nggak sibuk pacaran ya sibuk motoran bareng teman-teman!

    Sepeda motor Honda Grand 1993 adalah sepeda motor kenangan. Aku tak mampu lagi menghitung ada berapa kawan yang pernah kuboncengkan meski aku tahu secara presisi ada berapa pacar yang pernah duduk dan memelukku dari sadel belakang. Ada banyak drama yang pernah terjadi di atasnya dan juga cerita-cerita menarik yang pada saatnya nanti akan kuceritakan satu per satu jika memungkinkan.

    Perjalananku dengan sepeda motor itu kuakhiri pada tahun 2003. Ketika itu aku sudah bekerja cukup mapan. Sepeda motor kujual dan uangnya kupakai sebagai uang muka kredit sepeda motor baru, Astrea Supra X yang kemudian menemaniku hingga hari terakhir di Jogja sebelum pindah ke Australia, 2008.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Mobil pertama sekaligus terakhir yang pernah Papa punya…

    Mobil pertama sekaligus terakhir yang pernah Papa punya…

    Saat membangun rumah tahun 1991, Papa dengan penuh percaya diri menambahkan fitur garasi di sisi depan bagian kanan padahal waktu itu kami belum punya mobil.

    Terkait jabatan yang diembannya, Papa memang diberi hak menggunakan mobil dinas untuk keperluan pekerjaan dan sesekali kami pakai jalan-jalan di akhir pekan. Tapi kalau mobil pribadi, kami belum punya. Alasannya? Aku tak tahu, mungkin karena uang mungkin juga karena hal lainnya karena pernah sekali Papa berujar, “Ngapain beli mobil pribadi kalau kita boleh pakai mobil dinas… dan bagus!”

    Empat tahun kemudian, 1995, Papa akhirnya memutuskan untuk membeli mobil pribadi. Mobil yang kami beli bukan mobil baru. Sebuah mobil bekas buatan tahun 1985.

    “Daihatsu Charmant!” ujar Papa.
    Aku dan Mama mengernyitkan dahi, “Daihatsu Char…mant?” Kami saling pandang karena nggak ngerti mobil apa itu!

    Papa membelinya dari Pak Hadiman Eman, mantan kepala kantor tempat Papa berdinas yang sudah pindah kembali ke Bandung waktu itu. Kalau kalian ingat ceritaku sebelumnya, Pak Hadiman adalah bapak dari kawan dekatku Ginandjar (Gin Gin), Wibawa (Wiby) dan alm. Waluya (Lulu) yang bertugas di Kebumen hanya untuk beberapa tahun lamanya.

    Pada sebuah malam Sabtu, Papa mengajak sopir yang biasa membawa mobil dinas untuk pergi ke Bandung mengambil mobilnya. Aku ditelpon Mama disuruh pulang ke Kebumen untuk melihat mobil baru. Aku menurutinya karena juga tertarik untuk tahu seperti apa Daihatsu Charmant yang tidak pernah kudengar sebelumnya itu!

    Minggu pagi, sekitar jam delapanan, ada sebuah mobil berwarna biru muda metalik parkir di depan rumah.

    Aku dan Mama juga Chitra mengamati dari balik kaca jendela kamar depan lalu “Yes! Itu Papa!” Kami berhamburan keluar untuk melihat seperti apa wujud mobilnya!

    Ternyata, untuk ukuran mobil waktu itu, Daihatsu Charmant cukup bagus. Tentu tak bisa dibandingkan dengan milik temanku, B yang Mitsubishi Lancer terbaru atau W yang orang tuanya barusan beli Panther yang waktu itu ngetop betul! Pun juga tak bisa dibandingkan dengan mobil dinas yang selama ini kami pakai…Tapi Daihatsu Charmant lebih gres dari Toyota Corolla DX yang waktu itu masih sangat banyak dimiliki orang-orang di Kebumen.

    Sejak saat itu, kami sekeluarga pun demam mobil baru.
    Papa belum bisa nyetir jadi kami memanfaatkan jasa sopir panggilan untuk mengantar Mama pergi ke Gombong atau kalau sore hari sepulang kerja Papa pengen makan ke Kutoarjo. Dan… hampir sebulan sekali, Papa, Mama dan Chitra pergi ke Jogja di Sabtu siang, menjemputku lalu pergi ke Klaten menginap di rumah Eyang. Hari minggu siang kami pulang, aku diturunin di muka asrama di Jogja lalu mereka lanjut ke Kebumen. Ketika Lebaran tiba, Papa yang biasanya gak pernah pengen pulang ke kota asalnya, Blitar, Jawa Timur, tahun itu tiba-tiba pengen mudik menggunakan mobil tentu saja. 

    Di bulan-bulan awal setelah punya mobil, Papa lantas mengambil kursus nyetir di Efisiensi, tempat kursus nyetir di Kebumen waktu itu, lalu setelah mendapatkan SIM, ia mulai berani membawa mobil untuk pergi ke kantor. Di bulan berikutnya, seperti bulan-bulan sebelumnya, Papa dan keluarga hendak pergi ke Jogja.

    Karena penasaran pengen disetirin Papa, aku memutuskan bolos sekolah di hari sabtu supaya bisa pulang pada Jumat malam ke Kebumen lalu pergi kembali ke Jogja Sabtu siangnya bersama mereka.

    Dan pengalaman pagi itu sungguh.. mendebarkan! Hahahaha!

    Sebenarnya bukan cara menyetir Papa karena ia nyetir begitu pelan dan terlampau hati-hati tapi teriakan Mama yang timbul tenggelam seenaknya sendiri.

    “Awassss!!! Ana sepeda, Pa! Awasssss….”
    Padahal Papa sudah memberi jarak dan sepeda masih cukup jauh di depan.

    “Piye to? Kok malah disalip ki, Pa? Medheni,….”
    Padahal Papa menyelip kendaraan umum yang mendadak berhenti di depan karena hendak mengambil penumpang.

    Lain waktu ketika hendak parkir di tepi jalan,
    “Awas, Pa! Mepet banget kuwi! Mengko nek nabrak malah tombok!”

    Tapi tak ada yang lebih memorable dari yang terjadi di pertigaan Gamping, Jogja, beberapa kilometer sebelum masuk Kota Jogja.

    Karena lampu merah, kami berhenti di sana. 
    Dari arah Kebumen, jalannya cukup menanjak sehingga Papa menggunakan rem tangan untuk menopang posisi mobil yang mengantri lampu.

    Ketika lampu hijau menyala, Papa agak terlambat menarik rem tangan, memindah presneling lalu menekan pedal gasnya. Otomatis, mobil-mobil di kiri dan kanannya sudah mulai duluan jalan. Lalu tiba-tiba Mama berteriak “Pa! Ngglondor, Pa! Ngglondor, Pa!”

    Ngglondor adalah istilah Jawa untuk membahasakan mobil yang berjalan mundur ke belakang diluar kendali si sopir karena kontur jalan yang menanjak.

    Kami semua panik apalagi ketika melihat ke kaca belakang mobil di belakang mengklakson seolah memang ngglondor beneran.

    Tapi sejurus kemudian, seorang bapak yang ada di pinggir jalan mendekati kaca mobil lalu memberi aba-aba untuk Papa menjalankan mobil.

    Mama berhenti berteriak dan kami jadi lebih tenang!
    Rupanya bukan mobil kami yang ngglondor tapi karena Mama terlalu memperhatikan mobil di kanan kiri yang bergerak duluan sehingga ilusi visual membuat mobil kami yang berhenti seolah berjalan ke belakang. Ya sama seperti kalau kita naik kereta, berhenti di sebuah stasiun lalu kereta di sebelahnya jalan duluan menimbulkan ilusi seolah kita yang jalan ke arah yang berlawanan! Adapun mobil-mobil yang di belakang kami mengklakson bukan karena mereka takut kena glondoran mobil tapi karena mereka mau Papa segera jalan takutnya lampu kembali merah!

    Mungkin karena saking senewennya, Papa memutuskan untuk berhenti sejenak di Warung Soto Kadipiro, tak jauh dari situ untuk melepas stress. Sambil mengelap keringat di wajah, Papa menggeleng-gelengkan kepala berkali-kali sambil tertawa, ”Mamamu ki lucu tenan…wes jan!” sementara Mama cuek saja seolah hal barusan tak pernah terjadi.

    Pengalaman bermobil baru terus berlanjut dan yang paling seru tentu ketika kami berempat pergi ke Bali pada November 1995 selama lebih kurang sepuluh hari. Melalui jalan yang tak pernah kami lalui dengan kendaraan umum sekalipun, pergi ke pulau yang selama itu hanya muncul di acara-acara TVRI sangat membuat memori dalam benak hingga sekarang dan mungkin untuk selamanya.

    Mobil Daihatsu Charmant itu pula yang tiga tahun kemudian mengantarkan kami sekeluarga pindah dari Kebumen ke Klaten dalam suasana yang memilukan yang nanti pada saatnya akan kuceritakan sebab-musababnya.

    Karena keadaan ekonomi yang terus memburuk, Papa dengan berat hati menerima saranku dan Mama untuk menjual mobil kami di Klaten sekitar tahun 2002. Papa dan Mama tak berpenghasilan sementara mobil yang semakin uzur semakin membutuhkan ongkos untuk perawatan rutin.

    Aku lupa berapa uang yang Papa terima dari penjualan mobil waktu itu tapi apa yang terjadi di hari itu sangatlah menyentuh. Mobil derek datang menarik Daihatsu Charmant keluar dari garasi karena sudah tak bisa dijalankan sama sekali.

    Papa berdiri di depan rumah cukup lama hingga pandangan mobil itu berlalu darinya…

    Sembilan tahun kemudian Papa meninggal dunia dan Daihatsu Charmant itu jadi mobil pertama sekaligus terakhir yang pernah Papa punya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Meninggalkan Kebumen…

    Meninggalkan Kebumen…

    Aku mengakhiri malam terakhir sebagai “Anak Kebumen” pada 15 Juli 1993 dengan iringan lagu milik Kidnap Katrina, Biru, yang ku-request di Radio Bimasakti dan seperti biasa kukirimkan untuk L.

    Kala kita masih bersama
    Dunia pun terasa indah…
    Waktu kita habiskan berdua
    Tawa, canda kala itu… 
    Oh indahnya…

    Seharusnya hari itu menjadi hari yang indah.
    Sekian lama aku dibully dan merasa sangat tertekan dengan pola pertemanan sebagian anak sepantaran hari itu aku bebas pergi ke kota impian, Yogyakarta melanjutkan hidup dan berstudi di sekolah yang menjadi dambaan banyak anak, SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Tapi, kedekatanku dengan L, adik kelas beda sekolah(karena ia study di SMP 3 Kebumen), sejak beberapa bulan lalu itu seolah membuat tapak kakiku terpaku untuk melangkah.

    Maka dengan berat hati aku meninggalkan Kebumen. Hari itu kucatat sebagai hari pertama aku menjadi perantau. Umurku baru lima belas tahun tapi aku sudah tidak tinggal lagi bersama orang tua dan satu-satunya adik yang kupunya.

    Meski begitu, setiap akhir pekan aku pulang ke Kebumen. 

    Tak hanya untuk berjumpa Papa, Mama dan Chitra tapi juga menyambangi L di beranda rumahnya di Gang Serayu. Bercerita tentang ramainya Jogja, mendengar cerita-cerita lucunya lalu pergi ke Gereja bersama-sama dan ketika berpisah, kami berharap secepatnya bertemu di sabtu berikutnya.

    Selama beberapa bulan pertama, hal itu seperti menjadi rutinitas yang tak boleh patah.

    Kadang kalau rasa kangen pada L hinggap tanpa permisi, aku menulis surat sambil memutar Biru dari kaset yang akhirnya kubeli dan entah sudah kuputar berapa ratus kali

    Kini kau telah jauh dariku…
    Aku cemas akan dirimu..
    Tapi kupercaya akan cintamu…
    Biru, Rindu..
    Suasana hatiku…

    Hingga suatu saat, di akhir Agustus 1993, aku merasa sepertinya sudah waktunya untuk nembak. Pacaran jarak jauh nggak masalah atau setidaknya patut diuji coba. Toh cuma Jogja – Kebumen, hanya 110 kilometer jaraknya. Pun setiap akhir pekan aku pulang? Pikirku.

    Tapi aku deg-degan. Ya kalau diterima, kalau ditolak? Hal yang paling mengkhawatirkanku adalah kalau sampai dia masih belum mau pacaran karena usianya yang masih sangat belia waktu itu, dua belas tahun! Tapi… bagaimana caraku mencari tahu?

    Ide terpantik! Aku memanfaatkan adikku untuk mencari arah angin dari adiknya L yang keduanya berkawan dekat.

    “Ya kamu tanyain ke adiknya, kira-kira dia beneran suka sama aku atau enggak? Kalau iya, aku bakalan… nembak!” 

    Sekitar September 1993, perubahan besar terjadi, yang kemudian mengubah alur sejarahku dengan sosok yang harusnya jadi pacarku itu. Pada suatu sabtu ketika baru sampai rumah, adikku memberi kode untuk masuk ke kamarnya.

    “Ada apa?”
    Dia berbisik, “Mas… aku dikasi tahu kemarin, katanya kamu nggak usah kirim-kirim surat lagi ke Mbak L!”

    Aku kaget. “Hah? Siapa yang kasi tau? Adiknya?”

    Ia mengangguk.
    Kabar itu kuterima bagai petir di siang bolong!

    Demi apa semua ini sementara sudah ada belasan surat terkirim pun dia baik-baik saja malah setiap kutanya, L selalu menyampaikan bahwa dia seneng dikirimi dan membaca surat-suratku?

    Karena tak masuk akal maka aku mencari akal untuk terus menghubungi atau setidaknya mencari tahu kenapa ia tak mau lagi berhubungan denganku.

    Kutelpon rumahnya, pembantu rumah tangganya bilang, “Oh, Mbak L lagi keluar rumah…”

    Kucoba datang ke rumahnya, yang nongol hanya pembantu rumah tangganya dengan jawaban yang kurang lebih sama, “Mbak L lagi gak di rumah…”

    Sempat terpikir untuk bertanya lewat Mama karena ia berkawan dengan Mamanya tapi aku mengurungkan niat karena akupun belum mengabarkan bahwa aku sedang dekat dengan L. Waktu kecil aku memang cenderung malu untuk bercerita tentang hal-hal seperti ini kepada kedua orang tuaku.

    Segala pikiran buruk pun mengular di kepala.  Ada begitu banyak “jangan-jangan” yang muncul di benak. 

    Jangan-jangan dia sebenarnya gak suka aku? 

    Jangan-jangan dia masih nggak mau pacaran seperti dugaanku? 

    Jangan-jangan… jangan-jangan dia sudah ada yang punya? Ah tapi yang ini pasti nggak mungkin! Batinku melawan pikiranku sendiri…

    Tapi kemudian caraku mendapatkan kepastian tentang L adalah sesuatu yang sangat tidak menyenangkan untuk dikenang. Tapi demi kesembuhan luka batin masa lalu, aku harus menuliskan semuanya di sini.

    Suatu malam di akhir pekan, ketika sedang mudik ke Kebumen, Mama memintaku membeli nasi goreng babat semarang kesukaan kami sekeluarga.  Letak warungnya ada di depan toko Cahaya Muda milik temanku sejak TK, SD, SMP dan waktu itu juga sama-sama studi di De Britto Jogja, Andi Karsono.

    Selagi memesan, tiba-tiba ada seorang masuk ke dalam warung dan kukenal betul siapa dia. Kami pernah jadi kawan akrab tapi nggak lama karena aku tak suka perangainya yang meledak-ledak dan senakal-nakalnya aku dulu, bagiku kenakalannya sudah di luar jangkauanku. Aku masih ingat betul sore itu ia mengenakan kaos biru berlogo Superman dan celana panjang merah marun.

    “Nah, kiye pas ketemuan bocahe nang kene…” ujarnya.

    Lenganku ditariknya keluar dengan kuat setengah dipaksa.  Di samping warung yang remang-remang, ia mengeluarkan obeng dari saku celana dan mengarahkannya ke leherku. Intinya dia melarangku untuk menghubungi L. Kalau sampai nekad, dia bilang, “Kudatangi asramamu di Jogja…” Soal alamat tentu ia tahu karena di surat yang kukirim kepada L selalu kuterakan alamat asramaku di sana.

    Sejak saat itu aku melatih diri untuk tak lagi menganggap L ada dalam hidupku.

    Sejak saat itu, aku merasa paku yang membuat kakiku selama itu tak mampu melepaskan diri dari Kebumen tercerabut pelan-pelan. Sakitnya luar biasa tentu saja, tapi itulah harga yang harus kubayar untuk bisa lebih lega melangkah maju dan meletakkan Kebumen beserta isinya sebagai masa lalu.

    Sejak saat itu, setiap aku pulang ke Kebumen yang semakin lama semakin menjarang, adalah murni untuk keluargaku. Aku nggak keluar rumah sama sekali kecuali hanya untuk ke gereja, membeli rokok atau membeli nasi goreng babat kesukaan kami. Ada beberapa ajakan untuk kongkow dengan teman-teman SMP, aku menolaknya begitu saja…

    Tapi tentang lagu Biru, aku tidak lantas menanggalkannya. Lagu itu terlalu indah untuk tidak kudengarkan lagi hanya gara-gara ingatan yang tak bisa lepas dari L.

    Justru Ia kudengarkan lebih sering lagi hingga benar-benar kusut pita kasetnya hingga benar-benar luruh dan hancur lebur segala repihan kenanganku atas L…

    Aku ingin kau cepat kembali
    Aku ingin kita bersama lagi
    Biru… Rindu..
    Suasana hatiku…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • “Halo, L!”

    “Halo, L!”

    L adalah adik kelas dua tingkat. Kami bersama sejak SD. Aku sebenarnya tak kenal dia waktu di SD, lebih mengenal keluarganya karena Mamanya adalah kawan dekat Mamaku, adikku kawan dekat adik bungsunya. Waktu kami masih tinggal di Jl Bengawan, Kauman, Mama sering menghabiskan waktu di rumahnya setelah menjemput Chitra, adikku.

    Selepas SD, ia sekolah di SMP 3 Kebumen, bertetangga dengan sekolahku, SMP 1. 

    Kami bertemu praktis hanya setiap Jumat, selepas sekolah. Pada saat itu, anak-anak kristiani dari semua kelas dari dua sekolah itu dikumpulkan di SMP 1 untuk mengikuti pelajaran agama selama 45 menit.

    Di situlah aku mulai melihatnya lebih dekat dan aku melukiskan momentum ‘kesadaran’ itu selayaknya seorang yang mendayung biduk menyusuri danau berkabut pada dinihari nan gelap. Lalu ketika matari meninggi dan kabut lenyap, baru pada saat itu si pendayung sadar bahwa alam sekitarnya begitu indah. Setelah sekian lama tak mengindahkannya, di momentum pertemuanku dengan L siang itu, aku baru bisa melihat bahwa dia adalah seorang anak gadis yang sangat cantik. Kulitnya putih bersih. Hidungnya mbangir.

    Matanya lebar bak bintang kejora dan alisnya menggantung bagai payung yang menaunginya. Bibirnya tipis, memerah. Rambutnya panjang sedada, dikepang dua. Pun badannya kurus dan menjulang, sama sepertiku, melebihi rata-rata anak di sekelilingku dan sekelilingnya.

    Pada awalnya kami masih malu-malu. Hanya curi-curi pandang dan begitu sepasang mata tertangkap basah oleh sepasang yang lain, kami saling melengos bersicepat seolah kami tak pernah saling tatap!

    Tapi aku lantas memberanikan diri untuk mendekatinya; mengambil jalan malu-malu! Aneh, bukan? Berani tapi malu? 

    Aku menulis pesan singkat “Hallo, L!” di secarik kertas lalu kuberikan kepada teman yang selalu duduk sebangku dengannya, sesama anak SMP 3. Dari jauh aku mengamati bagaimana ia membuka dan membaca tulisanku. Kulihat ia tersenyum, mencari dimana aku duduk lalu bersicepat menutup mulutnya seolah senyumannya tak boleh kupandang sebutir pun!

    Pertanda baik? Jelas!

    Setelah beberapa kertas terkirim dalam beberapa minggu, aku memutuskan untuk membuat movement yang cukup berani untuk ukuranku yang pemalu.

    Dalam sebuah siaran di Radio Bimasakti yang memungkian interaksi dengan pendengar, aku buru-buru menelpon penyiar dan mengirimkan lagu untuknya. “Untuk seseorang di Gang Serayu! Sampai ketemu Jumat depan ya!”

    Untuk memastikan bahwa ia mendengar, sebelumnya aku suruh adikku untuk mengabari adiknya meminta L supaya mendengarkan radio di jam yang sama!

    Tak lama kemudian aku membuat sebuah gerakan yang lebih berani lagi.

    Suatu sore, sepulang sekolah, aku cepat-cepat mengambil sepeda dan menunggu L keluar dari gerbang sekolah SMP 3. Begitu tampak batang hidungnya, aku menebar senyum. Ketika ia mendekat, aku menyapanya, “Halo, L!”

    Ia tersenyum lalu bertanya, “Halo, Don… Ada apa ya?”

    Aku memantapkan hati, “Hmmmm… aku boleh ngajak kamu makan di Bakso Kimo?” tanyaku.

    Ia diam.
    “Kamu suka bakso Kimo? Atau mau yang lain?” tanyaku lagi.

    Kebetulan waktu itu aku menang lomba kuis radio dan mendapatkan voucher makan gratis di Bakso Kimo. Memang hanya untuk satu orang tapi aku masih punya sisa uang rokok dari Mama yang bisa kupakai untuk menraktirnya. Aku bisa saja meminta uang Mama, tapi pada waktu itu, aku masih sangat malu untuk bicara tentang perasaan cintaku kepada lawan jenis.

    Ia mengangguk dan sore itu rasanya bagai disirami hujan bunga mawar sedemikian lebatnya di sekeliling aku dan dia!

    Jangan tanya bagaimana aku mempersiapkan diri menghadapi hari itu!

    Aku sanggup berpuasa rokok sejak malam sebelumnya supaya mulutku tak bau! Aku menyiapkan poloshirt merk Country Fiesta (CF) warna biru muda yang dibelikan Papa di Toko Djakarta bulan lalu. Aku mengenakan celana pendek cokelat khaki dan memasang setut di pinggangku. Dan untuk sepatu, aku memilih Nike warna abu-abu. Sepatu yang jarang kupakai karena saking sayangnya; dibelikan Papa di Jogja dan tak bisa ditemukan di Kebumen kecuali di lapak-lapak pasar yang sudah barang tentu palsu karena belum disahkan Roy Suryo dan Rismon waktu itu!

    Mama sempat bertanya kenapa aku tampil beda sore itu? “Arep neng endi, Le, kok necis men?”

    Aku bukan anak yang bodoh. Tentu sudah menyiapkan jawaban sejak lama untuk mengelabuinya, “Mama-e Hendy ngundang kanca-kanca untuk syukuran, Ma…” Hendy adalah teman dekatku, anak pemilik Toko Remaja. (Sorry, Hen! Sorry Tante! Hahaha!)

    Mengendarai sepeda, kami janjian bertemu di sudut alun-alun kota. Di depan telepon umum berseberangan dengan SMA N 1 Kebumen aku menyandarkan sepeda menghadap ke arah barat, arah dimana L harusnya muncul karena rumahnya ada di sana.

    Setelah sekitar lima belas menit menunggu, L menampakkan dirinya mengendarai sepeda jengki warna hijau tua. Dari jauh kulihat ia mempercepat ayunan sepedanya dan senyumnya tersimpul malu-malu. Aku masih ingat betul yang ia kenakan sore itu. Rok warna merah panjang model tali dengan dasaran kemeja putih berkerah lebar. Sepatunya kulit hitam berkaos kaki putih. Rambutnya dikepang dua, berpita merah juga. Klasik. Formal.

    Kami lalu bersepeda beriringan. Tanpa kata. Tanpa suara. 

    Sesampainya di warung Bakso Kimo, aku segera memesan, “Pak. Bakso loro ya…”

    “Kamu mau minum apa?” tanyaku dan itu adalah kata pertama sore itu setelah sebelumnya kami hanya menyapa, “Halo?!” waktu pertama bertemu tadi!

    Dengan malu-malu, ia bilang “Es teh boleh…” 

    Kami duduk. Tak saling berhadapan. Sebelah-menyebelah. Berjarak. Tak terlalu jauh dan kadang kudekatkan dengan alasan ingin mengambil saos dan sambal yang sengaja kuletakkan di depannya. Setiap sentuhan yang tak disengaja (meski kuharapkan) ada desiran yang begitu kuat kurasakan menjalari sekujur tubuh!

    Tak banyak kata yang kami ucapkan. Hanya degup jantung yang saling beradu. Kami berbincang soal kebiasaan sekolah kami masing-masing. Kami bicara tentang adik kami masing-masing termasuk ajakanku untuk bertemu di kesempatan berikutnya, “Sabtu ini ke Gereja jam berapa bareng keluargamu? Ketemuan yuk!”

    Satu jam usia pertemuan kami sore itu. Kami berpisah jalan di depan Bakso Kimo. 

    Sesampainya di rumah, ketika menyalakan radio hendak mengirim pesan, begitu terkejutnya aku mendengar L lebih dulu mengirimkan salam buatku. “Buat seseorang di Jl Kaswari. Makasi traktiran baksonya tadi ya…”

    Sekonyong-konyong, sekelilingku berubah menjadi taman bunga yang mekar nan indah. Langitnya berwarna merah muda, tanahnya putih berkilau bak sutera.

    Aku mabuk kepayang!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • EBTANAS!

    EBTANAS!

    Bisa dibilang, dua tahun sekian bulan berada di bangku SMP, aku tak pernah belajar sama sekali. PR pun kukerjakan malas-malasan, kalau bisa dikerjakan di menit-menit akhir sebelum dikumpulkan, bukankah malam terlalu indah kalau hanya dipakai untuk mengerjakannya?

    Tapi sebulan sebelum EBTANAS, aku jadi maniak belajar. Targetku sederhana: belajar semua materi yang akan diujikan sejak kelas 1 sampai 3. Aku melahap buku demi buku dari sore hingga malam, dari malam hingga dinihari, diselingi membaca Enny Arrow di kamar mandi tentunya hahaha!

    Teman belajarku adalah rokok yang tiada henti kuhisap, kopi bergelas-gelas, kudapan serta siaran radio Bimasakti. Di jam-jam tertentu, Mama memanggilku berhenti belajar untuk refreshing; sekadar makan atau “Nonton tv rene Le, ora sinau terus!” 

    Aku memang berubah! Terlalu drastis kalau alasannya hanya karena EBTANAS. Aku merasa harus punya nilai tinggi supaya bisa diterima di sekolah di Jogja.  Kalian yang membaca tulisanku sebelumnya tentu paham dengan perubahan ini. Rencana yang awalnya aku akan melanjutkan ke SMA N 1 Kebumen harus berubah gara-gara ada begitu banyak orang mem-bully-ku dengan panggilan BOTOL!

    Belajar ilmu sosial, bahasa serta hapalan biologi adalah hal mudah bagiku. Entah barangkali karena volume kepalaku yang besar ini berarti juga besarnya volume pengingat di otakku? Aku tak tahu.

    Tapi intinya, aku sangat mudah menghapal dan mengingat untuk waktu yang lama. (Termasuk kalau kalian amati, bagaimana aku bisa menuliskan semua kenangan yang terjadi 30 tahun lalu dalam serial tulisan ini, bukankah sudah cukup bukti?!)

    Caraku menghapal pun berbeda dengan kebanyakan anak lainnya. 

    Ketika harus melahap sejarah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda selepas Proklamasi, misalnya. Aku tak menghapal nama-nama tapi aku menghapal cerita para tokoh dalam perjanjian-perjanjian itu. Aku membayangkan mereka, materi yang mereka bicarakan dalam perundingan maka tentang apa nama perjanjian, kapan dan dimana itu jadi lebih mudah!

    Tapi meski demikian, dalam ilmu hitung-menghitung yang melibatkan angka, aku lemah! Lemahku bukan karena aku tak mampu tapi karena untuk melahap semua ilmu sejak kelas 1 hingga 3 adalah perkara yang sulit!

    Waktu ujian semakin dekat!
    Perkara hapalan sudah tuntas, perkara hitungan tetap tak terkejar. Tapi akal bulus muncul ketika dibutuhkan!

    Orang yang duduk di bangku depan saat ujian nanti adalah AM, kawan dekat sejak SD.

    AM adalah anak yang unik. Ia sangat pandai dalam perkara hitung-menghitung, mungkin karena sejak kecil sudah dilatih jadi kasir di rumah makan kecil milik keluarganya. Tapi dalam hal hapal-menghapal, ia sering garuk-garuk kepala sendiri, nyengir lalu tertawa ngikik dengan mata yang menyipit nyaris hilang! “Aku gak ingat jawabannya! Apa ya?”

    Aku lantas mengajukan proposal kepadanya. “Gini! Gimana kalau nanti pas EBTANAS kita bekerja sama?”

    Ia manggut-manggut mendengarkan. Kali ini matanya membesar. “Aku akan kasi contekan di mata pelajaran hapalan, kamu kasih aku contekan di soal-soal hitungan?”

    Ia kemballi garuk-garuk kepala, nyengir lalu tertawa ngikik “Hihihihi… boleh juga, Don!”

    Deal!
    Hari EBTANAS dimulai.
    Sesuai dengan rencana, kami saling membagi contekan.

    Caranya ada dua.
    Pertama, melalui suara.
    Ketika penjaga sedang bergerak, misalnya jalan kaki atau ketika anak lain minta tolong, pada saat itu kami saling membisikkan jawaban dengan tangan menutupi mulut. Perhitungan kami waktu itu cukup scientific! Pada saat-saat seperti itu, fokus perhatian dan suara yang didengar guru pengawas adalah suara yang bersumber dari gerak tubuhnya sendiri misalnya gesekan baju, celana, derap langkah kaki. Atau ketika ada anak minta tolong tentu ia akan mendengarkan suara si anak tersebut. Pada saat itu, ia akan lebih tidak waspada terhadap suara kami. Kalaupun ia tiba-tiba mendengar, sulit baginya untuk menebak siapa yang barusan bersuara.

    Kedua, melalui sisa serutan pensil.
    Waktu itu untuk mengerjakan EBTANAS kami diwajibkan menggunakan pensil 2B. Pada sisa kayu hasil serutan, di situlah kami menuliskan jawaban lalu kayu hasil serutan itu kami jatuhkan ke bawah dan tendang ke arah AM dan begitu juga sebaliknya. Tentu kami tak langsung mengambil. Dengan alasan kaki gatal, kami jadi bisa pura-pura menggaruk kaki dan saat itu juga sekalian mengambil kayu serutan. Setelah dibaca tinggal dihancurkan saja toh guru tidak akan curiga atau kalaupun curiga mana bisa membaca lha wong kayu serutannya sudah hancur, kan?

    Kedua hal itu kami lakukan terus-menerus selama ujian dilakukan.

    Tentu tak seratus persen jawaban kami sama, tapi untuk menutup perbedaan, pada saat akhir-akhir jam pengerjaan, saat anak-anak lain mulai meninggalkan kelas, saat itu kelas akan lebih berisik, aku dan AM bisa beraksi lebih leluasa untuk memanfaatkan suara. “Nomer 5, 7, 12?” Lalu dia menggunakan jari untuk memberi isyarat jawaban A, B, C, atau D.

    Ketika hasil EBTANAS diumumkan, NEM ku dengan NEM AM sangat tipis perbedaannya. Sebuah hasil kerjasama yang memuaskan meski tentu tak bisa dibenarkan hehehe…

    Uniknya ia melanjutkan studi di SMA 3 Solo. Aku lupa bercerita bahwa selain rencana ke Jogja, om dan tante yang tinggal di Solo pernah membujukku untuk melanjutkan sekolah di tempat tanteku bekerja sebagai guru di SMA 3 Solo.

    Sejak hari kelulusan, aku tak lagi pernah bertemu dengan AM hingga saat ini. Pernah sekali waktu dulu “send request” pertemanan di Facebook tapi tak dijawab mungkin ia tak lagi main fesbuk atau… duh, barangkali ia lupa kepadaku karena kan sejak SMP dia bilang sangat lemah soal hapalan hahaha!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • BOTOL dan alasanku pindah ke Jogja

    BOTOL dan alasanku pindah ke Jogja

    Sebenarnya aku belum ingin pindah ke Jogja!
    Bagiku masih terlalu pagi. Baru juga lulus SMP, masih ingin tinggal di rumah lebih lama bersama Papa, Mama dan Chitra. Sudah juga punya rencana untuk melanjutkan studi di SMA 1 Kebumen, kebetulan juga waktu itu lagi cukup serius PDKT dengan cewek, adik kelas dua tingkat yang secara hitungan bisalah jadian! Baru deh nanti kalau sudah lulus SMA dan melanjutkan kuliah baru mikir mau ke Jogja atau mungkin kota lainnya.

    Lalu apa yang membuatku akhirnya bertekad bulat untuk pindah ke Jogja? Ada beberapa alasan tapi yang paling mengemuka diantaranya adalah karena “BOTOL”

    Botol? Ya! Botol!
    Jadi suatu sore, Mama memintaku membeli ayam goreng di rumah makan yang letaknya di sebelah Toko Varia.  Ketika hendak menaiki sepeda untuk kembali ke rumah, sekelompok pemuda yang sedang nongkrong di teras rumah makan itu memanggilku, “Tol! Botol! Tol! Botol”

    Awalnya aku tak menanggapi karena memang aku tak pernah mendengar istilah itu sebelumnya ditujukan kepadaku. Tapi akhirnya aku sadar karena tak ada orang lain yang ada di sebelahku jadi “Botol” itu pasti untukku.

    Sesampainya di rumah aku menyampaikan ini kepada Papa dan Mama. Sama sepertiku, mereka pun bingung kenapa aku dipanggil Botol?

    Aku memang dikaruniai ukuran kepala yang besar dan jidat lebar. Dua hal itu selalu jadi pusat perhatian orang-orang di sekelilingku sejak kecil. Jadi kalau cuma dibully dengan dipanggil Nonong, Jenong, Bathuk, Buthak, Cunong, Profesor udah kebal, udah biasa. 

    Tapi ini Botol? Kenapa botol?
    Apa karena bentukku seperti botol? Tidak juga sepertinya. Yang ada justru dulu pernah dibully “Jerangkong” alias tulang-belulang karena aku kurus betul. 

    Tapi Botol?
    “Mungkin karena kacamatamu tebel kayak pantat botol, Le!” ujar Mama menenangkan mencoba menutup rasa penasaranku yang masih terbuka lebar.

    Anehnya lagi, tak lama sesudah itu, banyak anak di sekolah memanggilku dengan panggilan sama: botol. Tol! Botol!

    Karena penasaran, dengan polos aku lantas bertanya kepada salah satu kawanku. “Kenapa ya aku sekarang lebih banyak dipanggil botol?”

    Kawan tadi tertawa terbahak-bahak “Hahahah! Masa kamu gak tau sih, Tol? Botol! BOTAK DAN TOLOL! Hahahaha.. Tol! Botol!” Ia berjalan keluar kelas dengan riang gembira seperti orang yang lega habis boker besar!

    Aku terdiam.
    Kali ini benar-benar aku ‘kena’.
    Aku dikatain botak tidak masalah. Meski kuanggap kurang tepat karena aku tidak botak melainkan bathuk (jidat) yang lebar.

    Tapi TOLOL? Ini adalah penghinaan yang bagiku luar biasa!

    Hingga sekarang, saat tulisan ini kurawi, menjadi bodoh adalah momok yang luar biasa menakutkan. Aku adalah orang yang merasa harus selalu punya pemikiran yang tajam karena hanya dengan itu aku bisa mengambil keputusan-keputusan hidup terbaik. Oleh karenanya sejak kecil hingga kini aku selalu mengambil banyak waktu dan kesempatan untuk belajar melalui membaca dan mengobservasi apa saja supaya tetap brilian. Papa dan Mama berkali-kali-kali menekankan kepadaku bahwa karena aku bukan anak orang kaya; maka intelektualitas termasuk di dalamnya kecerdasan, moral dan etika adalah modal utamaku untuk hidup di dunia.

    Maka dibilang TOLOL adalah sebuah penghinaan yang tak hanya ditujukan kepadaku tapi juga kedua orang tuaku. Aku tak bisa menganggap hinaan itu sambil lalu! Tapi untuk melawan, waktu itu  aku takut karena aku memang tak sepemberani mereka yang memanggilku Tol! Botol! itu.

    Aku lalu memutuskan untuk mengambil jarak.  Pelan-pelan menarik diri dari garis peredaran selama ini, memilih mengurung diri di rumah mempersiapkan EBTANAS dengan lebih sungguh atau sesekali berkumpul dengan anak-anak yang masih mau memanggilku Donny … atau dipanggil yang lain pun gak masalah asal bukan Tol! Botol!

    Di titik itu aku sadar harus meringkus rencana-rencana indahku yang kuutarakan di atas lalu memilih untuk mengambil kesempatan yang pernah ditawarkan Papa dan Mama untuk pindah ke Jogja.

    Melarikan diri? Lebih tepatnya menyelamatkan masa mudaku! Aku tak mau menyerahkan masa mudaku dalam bully yang tak selayaknya kuterima. Aku memilih menjalankan naluriku sebagai manusia, pindah ke tempat yang lebih baik.

    Sejak saat itu hari demi hari yang kulewati kuhitung secara seksama. Aku semakin tak sabar untuk mengakhiri semua dan pindah menuju dunia baru: Jogja!

    Catatan:

    Setelah pindah ke Jogja, aku sama sekali tidak berinteraksi dengan kawan-kawan lama kecuali mereka yang sudah pindah ke Jogja sejak SMP. Bahkan ketika mereka pun sudah pindah ke Jogja untuk kuliah sementara keluargaku masih tinggal di Jogja, tak sekalipun aku berusaha untuk kembali berhubungan. Tapi aku sadar, semua yang ada di muka bumi ini ada masa dan kadaluwarsanya termasuk luka batin. Perlahan ia menyembuh melalui interaksi lewat media sosial dan whatsapp group dan akhirnya di awal Januari 2025 yang lalu, tiga puluh dua tahun sesudah aku menarik diri, ketika sedang berlibur ke Indonesia, aku menemui kawan-kawan lama dalam reuni yang singkat tapi indah di Jogja… Di titik itu, tak ada lagi luka, yang ada tinggal kasih, kasih yang menyembuhkannya.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Nyolong Triplek

    Nyolong Triplek

    Aku tahu kapan orang tuaku marah dalam taraf biasa dan kapan marah banget. Selain waktu ketahuan nonton bokep, ada satu peristiwa lain yang kutangkap dalam ingatan ketika mereka marah banget kepadaku, hal ini yang hendak kuceritakan di sini.

    Menjelang akhir kelulusan, guru yang mengampu beberapa mata pelajaran yang tidak termasuk dalam EBTANAS memberi kami tugas akhir yang meski tidak setara dengan nilai EBTANAS tapi apapun hasilnya akan termaktub dalam ijazah SMP kami nantinya.

    Guru mata pelajaran Ketrampilan (kalau tidak salah ingat, itu nama mata pelajarannya) memberi kami tugas untuk membuat sebuah lukisan tiga dimensi di atas triplek. Jadi intinya, setelah selesai melukis, kami diminta untuk mencungkil bagian-bagian tertentu di permukaan triplek untuk memberi kesan bahwa lukisan itu tidak dua dimensi karena ada bagian yang timbul dan tenggelam.

    Entah setan dari mana yang hinggap, aku kemudian punya ide untuk mencuri triplek yang dipakai pada rak penyimpanan tas yang ada di depan ruang BP/BK.

    Sepulang sekolah, saat benar-benar sudah sepi, aku mengambil begitu saja lalu meringkusnya pulang.

    Tapi entah malaikat dari mana pula yang lantas membuat guru BP waktu itu, Bu T, tahu bahwa aku mencuri triplek! Padahal, jaman dulu CCTV belum semasyarakat sekarang jadi tak mungkin sekolahku punya satu, pun suasana sudah kupastikan sepi makanya aku berani nyolong!

    Aku dipanggil di Ruang BP dan dengan wajah yang penuh senyum tapi tajam mata bagai tusukan belati, Bu T ngendika, “Donny, tolong kembalikan tripleknya ya?”

    Aku gelagapan.
    Dan ini bukan hanya soal kembali-mengembalikan saja. Lebih dari itu, Bu T memintaku untuk matur ke kedua orang tua dan mereka harus datang ke sekolah membawa surat pernyataan bahwa mereka tahu anaknya mencuri. 

    Dan yang namanya penyesalan datang belakangan karena kalau duluan itu namanya registrasi, bukan?!

    Awalnya aku mencoba untuk tidak mengabarkan hal ini kepada kedua orangtuaku. Tapi aku paham kalau tidak menyelesaikan masalah ini, aku terancam tidak lulus dan rencana-rencana baik untuk pindah ke Jogja untuk melanjutkan studi SMA bisa buyar seketika. Aku benar-benar ketakutan bahwa kedua orang tuaku akan marah besar. Tak hanya karena anaknya ketahuan maling tapi lebih dari itu, ada sebuah peristiwa besar yang masih menjadi trauma terkait dengan pencurian.

    Peristiwanya terjadi sekitar dua tahun sebelumnya.

    Aku sengaja tak menuliskannya sebagai sebuah cerita tersendiri dalam serial “Tentang Kebumen” ini karena terlalu riskan. Meski kedua orang tuaku sudah meninggal dunia tapi orang yang hendak kuceritakan ini masih hidup. Bukan pula soal hidup-mati seseorang tapi dia adalah saudaraku sendiri!

    Dengan details yang tidak akan kupaparkan di sini, yang hendak kusampaikan sesingkat bahwa salah satu saudaraku yang tinggal bersama kami tertangkap basah mencuri barang milik tetangga. Sebenarnya tentang ia yang doyan mencuri, itu cerita lama. Sejak ia tinggal bersama kami, ada banyak kehilangan-kehilangan kecil dan besar yang terjadi. Mulai dari uang seribu perak sampai jam tangan Mama yang raib. Beberapa diakui, beberapa disanggahnya. Cerdik memang. Licin tepatnya!

    Tapi kejadian pencurian barang milik tetangga itu menjadi gongnya. Suatu siang, rumah kami diketok pintu oleh seorang yang kukenal adalah teman saudaraku tadi. Dengan gelagapan dan suara bergetar, ia lapor kepada Mama bahwa saudaraku ada di kelurahan, diamankan!

    Aku tak ikut menyertai Mama waktu itu, tapi dari apa yang diceritakannya, dengan nada bergetar juga kepadaku, saudaraku tadi benar-benar tertangkap basah, maksudnya, tertangkap sedang nyolong dan akhirnya dibikin basah oleh darah. Ia dihajar bahkan hampir dilinggis kepalanya. Beruntung ia diselamatkan seseorang dan dilarikan ke kantor kelurahan. 

    Masalah bisa diselesaikan dalam sekejap dengan bantuan pelumas bernama uang. Tapi trauma tidak sesingkat itu menguapnya.

    Papa dan Mama jadi sangat benci dengan tindakan pencurian. Hampir setiap hari Mama selalu menyampaikan hal tersebut kepadaku dan Chitra, adikku. Itu pula yang membuatnya memberiku ijin untuk merokok bahkan memberiku uang jatah rokok harian. Kenapa? Bukan karena ia mau anaknya merokok, tapi ia tak mau anaknya nekat mencuri uang hanya untuk membeli rokok!

    Tenggat waktu untuk menyampaikan kabar ke Mama dan papa menyempit. Pilihannya benar-benar tinggal dua, kalau tidak besok meminta Papa dan Mama datang untuk menyerahkan surat ke Bu T atau aku tak lulus dan harus menunggu setahun berikutnya untuk punya mimpi sekolah di Jogja atau mungkin tidak jadi sama sekali!

    Sore itu, saat Papa pulang kantor, di ruang tengah rumah aku menceritakan semuanya.

    Tak perlu! Kalian tak perlu tahu bagaimana reaksi mereka waktu itu. Papa dan Mama tak pernah main tangan kepadaku. Seumur hidup aku jadi anaknya, tak sekalipun gamparan pernah mendarat ke wajahku. Tapi, kata-kata yang ditujukan itu bak mitraliyur yang trilyunan lebih menyakitkannya daripada tendangan sekalipun!

    Semua berakhir dengan air mata.
    Aku menyesal telah mencuri. Mama dan Papa sedih karena anak yang ia bangga-banggakan melakukan hal yang paling mereka laknat selama ini.

    Hari itu aku berjanji untuk tidak akan jadi maling lagi! Janji yang kupegang hingga kini hingga nanti…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Tenaga Dalam

    Tenaga Dalam

    Sekira dua tahun setelah ikut beladiri Kempo, aku ingin sesuatu yang lebih. Benar! Kempo berhasil membuatku jadi lebih sedikit tidak penakut.  Kempo juga berhasil membuatku merasa orang lain segan terhadapku hanya gara-gara warna sabuk yang menggambarkan tingkatan. Tapi apakah sejatinya aku sudah benar-benar keluar dari sifat penakutku? Apakah aku sudah benar-benar bertransformasi jadi cowok sesuai dengan gambaran-gambaran yang kudapatkan dari sekelilingku? Jawabnya, belum!

    Dalam proses pencarian itu, aku bertemu pada satu muara menarik: ikut beladiri tenaga dalam!

    Sebenarnya dalam Kempo, kami dilarang untuk ikut cabang beladiri yang lain tapi uniknya, orang yang memberiku ide untuk ikut beladiri tenaga dalam justru adalah salah satu sempai (kakak tingkat) Kempo sendiri! Tentu kami bicara dan berencana dalam senyap supaya tak ada orang lain yang tahu dan mendengar.

    Dalam sebuah kesempatan tak lama kemudian, aku mengemukakan ide itu kepada Papa dan Mama.

    Mama lebih condong ke arah, “Untuk apa sih? Kamu bentar lagi udah lulus SMP! Katanya mau ke Jogja? Apa perlu ikutan ‘gitu-gitu’?” Tapi Papa mendukungku!  Seperti biasa, keputusan akhir ada di tanganku dan aku kemudian memutuskan untuk bergabung.

    Nama perkumpulan beladiri tenaga dalamnya tak perlu kusebutkan. Aku tak tahu apakah perkumpulan itu masih ada hingga kini tapi waktu itu namanya sedang naik daun di seantero kota. Konon, Sang Guru yang jadi pendiri adalah sempalan dari sebuah perkumpulan pencak silat terbesar di Kebumen. 

    Aku dan Sempai yang mengajakku untuk bergabung pun membuat janjian. Ia menjemputku menggunakan sepeda motor. Aku diberi sangu 25 ribu rupiah oleh Mama. Sebuah jumlah yang sudah sangat besar waktu itu tapi sejumlah itulah yang diminta untuk dijadikan biaya pendaftaran dan ‘pembukaan’. Pembukaan? Iya. Nanti aja, baca terus tulisan ini kalian akan tahu apa maksudnya.

    Lokasi padepokannya terletak cukup jauh dari rumahku. 

    Ia berada di sebelah utara kota, di jalan menuju arah Karang Sambung. Bangunannya adalah rumah desa kebanyakan dan berada tepat di sebelah saluran air irigasi.

    Ketika sampai di sana, banyak sepeda motor diparkir di halaman depan rumah sementara orang-orang banyak yang duduk di pelataran sambil merokok dan ngobrol entah tentang apa.

    Oleh Sempai, aku dibawa masuk ke ruang tamu yang tidak berperkakas selain gelaran tikar, beberapa asbak dan bungkus rokok, gelas dan botol air minum serta piring sisa kudapan. Di sekelilingnya ada orang-orang yang melakukan kegiatan sama dengan yang ada di luar, merokok dan ngobrol entah tentang apa.

    Tak lama kemudian, Si Sempai memanggilku untuk berdiri. “Don! Ini Mas ***** , pendiri dan guru padepokan.”

    Aku mengulurkan tangan kepadanya. Umur Sang Guru kutaksir sekitar 10-15 tahun di atasku. Perawakannya kurus, tak terlalu tinggi, sepipiku, mengenakan kopiah, kaos lengan panjang bertuliskan nama perkumpulan dan celana panjang lebar warna hitam. “Selamat datang, Mas! Nanti hubungi ke Mas yang berkumis itu untuk dibantu pendaftarannya ya…” Ia kemudian masuk ke ruangan lainnya yang dibatasi tirai.

    Aku kemudian bergeser ke “Mas berkumis” yang ditunjuk.

    “Ini formulirnya, tolong diisi lalu ditandatangani. Kamu ada KTP?” tanyanya. Aku menggeleng, umurku masih 15 tahun waktu itu!

    Segera setelah formulir kuisi dan kutandatangani, kusodorkan uang dua puluh lima ribu untuk pendaftaran dan ‘pembukaan’ tadi. Sabar, bentar lagi sampai di sana tentang apa itu ‘pembukaan’! Sabar!

    Aku kemudian diminta duduk. Baru kali itu aku punya kesempatan untuk mengamati orang-orang yang ada di sekitarku. Sambil mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya, aku mulai melibatkan diri dalam percakapan mereka. Rata-rata umur yang ada di sana sekiranya usia anak-anak SMA. Ada juga yang ada di awal 20 tahunan sementara “Mas Berkumis” tadi, kutaksir umurnya sekitar 40 tahun, sedikit lebih tua dari Sang Guru, pantas kalau ia jadi semacam admin di padepokan tersebut.

    Sekitar lima belas menit menunggu, dari balik tirai, Sang Guru menampakkan wajahnya lalu memanggilku. “Sini, Mas… Masuk sini…”

    “Mas berkumis” ikut menyertaiku lalu menyerahkan formulir itu kepadanya. “Mas Donny ini non-muslim, Mas.”

    Sang Guru mengangguk lalu tersenyum kepadaku. “Mari masuk.”

    Di balik tirai itu adalah kamar tidur dengan tak banyak sinar matahari yang masuk.

    Sang Guru berdiri lalu memintaku duduk bersila di bawah.

    “Mas Donny akan ‘dibuka’ sekarang sehingga setelah ini sudah punya tenaga dalam yang bisa dipakai untuk membela diri. Santai saja, pokoknya fokus dan doa, nggih!” Aku mengangguk meski agak deg-degan juga.

    Ia tak secara spesifik memintaku untuk berdoa tertentu jadi secara spontan aku mengucap Salam Maria beberapa kali.

    Yang terjadi kemudian, Sang Guru merapal doa dalam bahasa yang tak kumengerti. Tak lama kemudian, kedua telapak tangannya ditempelkan ke kepalaku dan dengan bergetar, kedua ibu jarinya ditekan ke jidatku kuat-kuat.

    Kepalaku terasa begitu ringan waktu itu tapi tak lama kemudian berujung pada rasa pening yang bukannya luar biasa sakit tapi cukup terasa entah karena tekanan dua ibu jarinya atau yang lainnya…

    Sepuluh menit kemudian semua selesai. “Sampun! Sudah selesai!” Kami bersalaman lalu keluar.

    Orang-orang yang ada di ruangan serentak berdiri dan menyalamiku satu-per satu seraya memberi selamat. Di titik itu aku baru paham bahwa aku sudah dibuka dan sudah jadi anggota resmi dari padepokan itu.

    Sang Guru keluar lalu minta salah seorang dari yang hadir untuk menguji tenaga dalamku.

    Setelah piring, asbak, botol air minum beserta gelas disingkirkan, aku disuruh berdiri di ujung ruangan lalu orang yang diminta tolong tadi ada di ujung yang satunya.

    “Mas Donny tenang saja, gak perlu bergerak, gak perlu panik pokoknya yakin kalau dia gak akan bisa menyentuh badannya Mas Donny.” Aku mengangguk, deg-degan pakai banget!

    Lalu sekonyong-konyong, orang yang ada di ujung satunya tadi meloncat ke arahku dalam gerakan seperti di film silat. Mukanya memerah, matanya melotot, bibirnya terbuka lebar seperti mengaum hendak menerkamku! Kakinya dipakai untuk membuat lonjakan sementara tangannya terbuka dan diarahkan menyorong kepadaku. Aku sempat ingin menghindar tapi beberapa detik kemudian, ketika aku belum sempat bereaksi, si penyerang itu terlempar hingga terjengkang ke lantai.

    Wow! Aku benar-benar takjub dengan apa yang baru saja terjadi. Seperti di film-film tapi ini nyata!

    Siang itu jadi momentum awal ketertarikanku pada yang namanya tenaga dalam. Apa yang kuceritakan di atas hanyalah awalannya saja karena dalam keikutsertaanku selama beberapa waktu kemudian, aku mendapatkan beberapa kemampuan lain yang sepertinya tak elok untuk kuceritakan di sini tapi yang pasti waktu itu membuatku merasa lebih percaya diri!

    Hampir setiap dua hari sekali aku ke padepokan mengendarai sepeda untuk nongkrong, merokok, ngobrol dengan sesama yang lain sambil menunggu Sang Guru untuk entah ikut ngobrol memberikan wejangannya atau tiba-tiba memberikan satu ilmu baru. Aku bisa berada di sana hingga sebelum adzan Maghrib dikumandangkan. Pun aku terlbat dalam kegiatan-kegiatan lainnya di padepokan itu. Setiap sebulan sekali ada pertemuan rutin untuk mendapatkan “isian-isian” baru, kadang ikut acara kungkum (berendam di dalam air)  tengah malam di Sungai Lukulo yang alirannya ada tak jauh dari padepokan.

    Ketika aku akhirnya pindah ke Jogja, Juli 1993, aku tak lagi sering ke sana.

    Di awal-awal kepindahan, aku selalu mengusahakan untuk datang ke padepokan pada sabtu sore sebelum jadwal pergi ke Gereja. Tapi lama kelamaan aku merasa tak punya waktu dan tak lagi mampir ke sana.

    Cerita ini kusudahi dengan mengingat apa yang terjadi beberapa bulan kemudian. Saat itu aku duduk di bangku kelas 1 SMA. Pada suatu malam aku terjebak dalam sebuah keributan yang terjadi di asrama tempatku tinggal.

    Salah seorang kakak kelas mencekik, mendorong dan hampir saja memberiku bogem mentah yang cukup menyakitkan. 

    Sesampainya di kamar, seorang kawan bilang, “Untung lho kamu tadi gak digampar! Untung cuma didorong! Untung cuma dicekik!”

    Aku dengan jumawanya masih sanggup bilang, “Ya karena aku punya tenaga dalam. Dia gak akan bisa menggampar meski tetap bisa mendorong dan mencekikku!”

    Temanku naik pitam. “Asu! Dia itu gak gampar kamu karena dia kasihan sama kamu, Dul! Kalau tahu kamu komentar kayak gini, tadi aku dan temen-temen gak akan halangi dia untuk menghajar kamu!”

    Malam itu berlalu dengan sangat wagu…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Mengambil Keputusan

    Belajar Mengambil Keputusan

    Nilai terbaik yang kudapat dari kedua almarhum orang tuaku adalah kebebasan yang mereka berikan kepadaku untuk mengambil keputusan hidup dari yang kecil hingga besar. Mulai dari keputusan untuk membeli pakaian jenis apa hingga yang besar-besar seperti ketika hendak pindah ke Jogja tahun 1993, memutuskan untuk men-dropout-kan diri dari kampus karena bekerja pada 2000 dan tentu saja keputusan untuk pindah ke Sydney, Australia di tahun 2008.

    Dan yang kuceritakan berikut ini adalah sekelumit saja sebenarnya…

    Waktu itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP dan sedang sangat giat untuk menggeluti kegiatan beladiri Shorinji Kempo. Di satu sore ketika sedang berlatih, kakak tingkat (sempai) memberitahu bahwa aku terpilih untuk ikut sebuah kejuaraan daerah di Purwokerto di jalur embu beregu yunior (kerapian teknik dalam sebuah regu). Senangku bukan kepalang! Bisa terbayang bagaimana aku akan terlibat dalam persiapan yang ketat, rasa deg-degan ketika menjelang kejuaraan dan kalau menang… aku bakal dapat medali! Bisa kupasang di kamar atau kupamerkan ke kawan-kawanku di sekolah nantinya!

    Kukabarkanlah berita menyenangkan ini kepada Mama dan Papa dan mereka mendukungnya.

    Latihan insentif pun dimulai. Hampir setiap dua hari sekali aku datang ke gedung untuk berlatih bersama teman-teman yang masuk dalam regu.

    Hingga sekitar tiga minggu kemudian, di sebuah siang di sekolah, Bu H.S Marnani, guru seni musik, memanggilku ke ruang guru. Di sana sudah ada Nunik, teman duetku dalam bernyanyi beberapa waktu belakangan. “Donny dan Nunik. Kalian harus mempersiapkan diri untuk ikut lomba Porseni tiga bulan lagi.”

    Keikutsertaan kami di Porseni itu akan menjadi hal yang penting karena dari yang pertama itu akan jadi kesempatan terakhirku sebelum lulus SMP dan kalau aku bisa juara 1, 2 atau sesial-sialnya tiga, kami akan dikirim ke Porseni tingkat propinsi. “Dan kalau dari perkiraan saya, Nunik bisa juara satu dan Donny juara dua bisa dapet lah,” lanjut Bu Nani. Sainganku di kelompok pria memang sudah terpetakan. Dalam lomba yang diadakan setahun sebelumnya, aku kalah olehnya. Maka perkiraan yang dibikin Bu Nani bukannya tanpa alasan.

    Kami mulai digenjot untuk berlatih keras.
    Sepulang sekolah kami berlatih satu hingga dua jam setiap hari mempersiapkan dua lagu yang akan kubawakan, Budaya Kebanggaan Kita dan Irama Desa. Lagi-lagi hal menyenangkan ini kukabarkan kepada kedua orang tuaku dan mereka lagi-lagi mendukungku.

    Di hari-hari awal semuanya baik. 
    Latihan persiapan kejuaraan daerah Kempo dan latihan porseni bisa kuatur karena setiap pagi aku membawa perlengkapan beladiri ke sekolah, bekal makan selepas pulang dan latihan nyanyi sebelum akhirnya melanjutkan berlatih Kempo ke gedung latihan yang jaraknya tak terlampau jauh.

    Tapi lama-kelamaan hal itu ternyata berimbas juga utamanya di sisi persiapan untuk ke kejuaraan Kempo. Karena latihan bernyanyi kadang molor selesainya membuatku kadang datang terlambat latihan. Hingga akhirnya di sebuah sore aku mengajak Papa dan Mama bicara untuk membantu mencari jalan keluar. Mereka tak banyak berkomentar. Hanya memberikan beberapa masukan “Kamu bagus di nyanyi dan Kempo, terserah kamu mau bagaimana? Mau maju dua-duanya kalau bisa ya bagus, kalau tidak ya pilih salah satu saja!” 

    Dan akhirnya setelah merenung beberapa hari, aku memilih untuk menggugurkan rencana ikut dalam kejuaraan kempo. Aku memang suka Kempo tapi pada dasarnya kesukaanku itu lebih banyak didasarkan sebagai motif untuk kompensasi terhadap rasa takutku terhadap banyak hal. Ikut beladiri Kempo saja sudah cukup membuatku merasa keren dan tak tampak sebagai sosok penakut! Apalagi kalau sampai ikut kejuaraan dan juara, kan lebih asyik lagi? Sementara nyanyi dan musik itu berbeda. Tak perlu penjelasan lebih lanjut tentang ini, buktinya sampai saat tulisan ini kurawi, 32 tahun kemudian aku masih dan bahkan semakin aktif bernyanyi dan bermusik.

    Papa dan Mama, lagi-lagi mendukung keputusanku itu. Tak banyak yang disampaikan selain “Oh ya wes nek wes mbok pikir tenan…”

    Kabar segera kusampaikan kepada sempai dan tentu mereka kecewa sebagaimana sejatinya perasaanku. Saking kecewanya, salah satu sempai, Sutarman, datang ke rumah untuk berbicara dengan kedua orang tuaku mencoba membujuk supaya aku tetap berangkat ke Purwokerto. Tapi lagi-lagi, Papa dan Mama mendukung keputusanku, “Kami nurut Donny saja, Mas…”

    Sejak saat itu sampai tiga bulan kemudian aku fokus persiapan lomba menyanyi.

    Tapi sayang, apa yang diprediksikan Bu Nani ternyata tidak menjadi kenyataan. Nunik memang jadi  juara 1 tapi aku hanya menempati posisi juara harapan tiga yang berarti aku tak lolos klasifikasi menuju porseni tingkat provinsi.

    Kecewa? 
    Jelas! Sangat! 

    Gara-gara peristiwa itu aku mogok nyanyi hingga lebih dari delapan tahun! Aku baru bernyanyi lagi di tahun 2001 ketika aku mulai aktif dalam kegiatan musik di Gereja. 

    Pada saat itu, sempat berpikir Duh andai saja aku memilih ikut kejuaraan kempo barangkali akan menang! Dan kenyataannya memang demikian. Tim yang diajukan ke kejuaraan di Purwokerto mendapatkan medali emas.

    Tidak mudah untuk move on, tapi dari kejadian itu aku belajar tentang bagaimana mengambil dan mempertanggungjawabkan keputusan. Dari sana aku berlatih untuk mengambil keputusan lebih baik lagi dan selama hal itu kuambil dalam keadaan sadar dan setelah melalui proses berpikir, penyesalan bisa ditepis atau setidaknya dibikin sesedikit mungkin, seperti yang dibilang Frank Sinatra di magnum opusnya, My Way, “Regrets, I’ve had a few, but then again, too few to mention.”

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Menang Lomba Radio

    Menang Lomba Radio

    Ada masanya dulu aku keranjingan dengan yang namanya kuis radio. Tahun 1993 ketika aku duduk di bangku kelas 3 SMP di Kebumen.

    Konsepnya kurang lebih sama dengan yang ada di radio-radio lokal di kota kalian waktu itu. Jadi ada satu program acara yang dipandu penyiar untuk berinteraksi dengan pendengar lewat telepon. Dalam interaksi yang disiarkan langsung itu, penyiar bertanya entah itu terkait ilmu pengetahuan umum. musik atau hal-hal menarik lainnya. Si pemenang biasanya dapat hadiah dari para sponsor yang mendukung acara. Bagi yang kalah, setidaknya nama dan suaranya didengarkan para pamiarsa. Syukur-syukur bisa titip salam colongan buat yang tersayang!

    Hampir tiap sore di masa itu, sekitar jam 3 sampai 5 aku selalu nongkrong di sofa dekat telepon sambil menenteng radio untuk mencermati apa pertanyaan yang diajukan, siapa saja yang sudah ikut nimbrung, apa saja hadiahnya dan ini yang penting, kapan waktu sela untuk buru-buru memencet nomer telepon radio supaya bisa masuk mendahului yang lainnya. Radionya adalah radio yang beberapa tahun baru muncul kala itu, Bima Sakti. (Dulu masih berada di jalur AM tapi sekarang setelah browsing di internet, rupanya Bimasakti sudah bermigrasi ke FM).

    Awal mula kenapa aku bisa tertarik adalah karena dua hal.

    Yang pertama, sejak kecil aku memang dikondisikan untuk selalu mengasah otak dengan banyak pengetahuan umum. Kebetulan waktu SD, Pak AS Midi (guru sekaligus Kepala Sekolah SD Pius Bhakti Utama) selalu memberi waktu luang untuk melontarkan tanya jawab kepada para murid di kelas. Gak ada hadiahnya tentu saja tapi setiap menjawab dan benar, rasanya senang dan bangga. Oleh karenanya aku jadi update dengan berita di televisi dan koran. Jadi, ketika beberpa tahun kemudian di radio ada kuis yang kebanyakan adalah ilmu pengetahuan umum, antusiasmeku tinggi betul apalagi kalau bisa menjawab dengan benar! Aku tak tahu bagaimana reaksi para milenial dan Gen-Z membaca kalimatku barusan. Aku tak tahu apakah mereka bisa membayangkan nikmatnya menjawab pertanyaan dengan benar manakala sekarang sudah begitu banyak tersedia alat bantu jawab mulai dari Google hingga AI!

    Yang kedua, adalah sepupu jauhku, Mas Teguh. Mas Teguh ini getol banget ikut lomba radio di Rakosa FM Jogja dan kuikuti kiprahnya melalui radio di Kebumen yang berjarak 110 km jauhnya! Mas Teguh akhirnya sempat menjadi penyiar Rakosa FM dengan nama udara, Wibisana. Entah, tapi perkiraanku, ia mendapatkan pekerjaan itu karena saking getolnya ikut lomba dan menang!

    Tentu tak setiap hari aku menang tapi kebanyakan iya. Hadiahnya pun bermacam-macam. Pernah mendapatkan voucher belanja di Top Mode, toko busana yang baru buka waktu itu, voucher makan gratis tapi yang paling tak bisa kulupakan dan menjadi inti dari tulisan ini adalah ketika aku mendapatkan hadiah untuk kursus komputer gratis!

    Aku lupa nama tempat kursusnya tapi ia terletak di Jl HM Sarbini, di seberang Gedung Bhayangkara tempatku berlatih Kempo setiap minggu. Aku mendapatkan kursus gratis sebanyak delapan kali kalau tidak salah dan masing-masing pertemuan panjangnya satu jam.

    Di hari ketika aku datang untuk mengurus voucher, aku diberi pilihan materi yang bisa kuikuti, Wordstar atau Lotus 1-2-3. Papa menyarankan Lotus 1-2-3 ketimbang Wordstar yang cuma ngetik kayak sekretaris katanya! Aku menuruti saja apa katanya.

    Awalnya tak serius karena demi sejuta topan badai, hadiah bukannya hal-hal yang bikin asyik kok malah mikir dan belajar !?

    Tapi yang kemudian membuatku bersemangat adalah mbak-mbak pengajarnya yang halus tutur katanya dan menarik penampilannya. Posturnya tidak tinggi, tak terlampau kurus tapi juga tidak bisa dibilang gemuk. Parasnya tidak cantik tapi mungkin karena ia selalu banyak senyum dan matanya yang indah itu menatap dengan indah apalagi senyum yang selalu diimbuhkan di setiap akhir kalimat, kok rasanya aku jadi seperti terkena steroid untuk lebih bersemangat belajar komputer bersamanya?!

    Tapi uniknya, lama-kelamaan aku jadi tertarik, bukan pada si mbaknya tapi pada materi kursus yang diberikan.

    Bagi kalian yang tidak tahu, Lotus 1-2-3 adalah nenek moyangnya Microsoft Excel yang sekarang kalian kenal. Fungsinya pun kurang lebih sama. Di akhir pertemuan yang ke delapan, aku diminta mengerjakan soal ujian dan lulus dengan hasil baik. Aku sempat ditawari untuk melanjutkan kelas dengan materi yang lebih dalam. Tapi sayang, aku memutuskan untuk tidak melanjutkan karena harus fokus ke EBTA/EBTANAS yang sebentar lagi diadakan.

    Momentum kursus gratis itu adalah momentum awal dari segala hal yang terkait dengan kecintaanku pada komputer.

    Lulus dari SMA Kolese De Britto Yogyakarta, tiga tahun kemudian, aku mengambil jurusan Teknik Informatika di Universitas Kristen Duta Wacana. Enam tahun sesudah kursus itu aku sudah bekerja menjadi admin jaringan warnet di Jogja. Di waktu yang sama aku memberanikan diri untuk berprofesi sebagai designer. Setahun berikutnya aku membangun usaha yang bergerak di bidang yang sama. 2008 pindah ke Australia dan hingga kini, sejak saat itu, aku menggeluti bidang komputasi, bakat dari Tuhan yang sangat kucinta dan menjadi sarana bagiku untuk mencukupi kebutuhan hidupku dan keluarga.

    Dan semua itu berawal dari kecintaanku pada Si Mbak…eh pada komputer yang ditularkan pertama kali kepadaku karena aku menang lomba radio pada sebuah siang menjelang sore di tahun 1993.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Mie Ayam Mansur

    Mie Ayam Mansur

    Ada masanya, di Kebumen, warung mie ayam muncul bak cendawan di musim hujan karena saking banyaknya.

    Masa itu kuingat sebagai masa yang mengakhiri dominasi Bakso Urip dan Bakso Kimo sebagai tempat jajan alternatif selain pakem mainstream nan legendaris yang tersedia seperti Bakmi Ratman (dan Ratman Muda), Rumah Makan Pancawarna, Cahaya Kota juga Eka Rasa.

    Mienya terbuat dari gandum seukuran senar bass gitar berwarna putih pucat agak kecoklatan. Gugusannya direndam dalam kuah panas setelah sebelumnya dihujani dengan penyedap rasa dan bumbu-bumbu lainnya. Ditambahkan kepadanya beberapa ruas sayur sawi dan segumpal daging yang kami percaya adalah daging ayam (konon di beberapa tempat yang terlampau banyak jumlahnya, mungkin saking kreatifnya, si penjual menggunakan daging tikus!)

    Setelah dipindahtangankan, kebanyakan penikmatnya sepertiku membombardir permukaannya dengan saus tomat cabe berwarna merah-oranye(yang konon berbahan baku ketela rebus yang dicampur dengan pewarna kimiawi dan cara mencampurnya diinjak kaki telanjang para pekerja pembuat saus hahahah!) hingga tertutup seluruhnya. Saking familiernya dengan pemandangan itu membuatku agak kaget ketika Guns N Roses di tahun-tahun itu merilis album Spaghetti Incident karena covernya awalnya kupikir adalah hasil jepretan mie ayam saking miripnya tapi ternyata itu adalah spaghetti, sesuatu yang waktu itu melihatnya pun belum pernah apalagi menyantapnya!

    Kembali ke mie ayam, aku menyantapnya menggunakan sumpit dan sendok. Sumpit untuk membongkar bongkahan mie ayam dan mengantarnya ke mulut, sendok untuk menyeruput kuahnya yang gurih khas msg! Oh ya, makan mie ayam rasanya tidak lengkap kalau tidak ditemani kerupuk, segelas es teh dan sebatang rokok Gudang Garam Filter yang siap tersulut sesaat setelah suapan mie yang terakhir dan sendokan kuah terakhir tandas!

    Nah bicara soal teman, waktu SMP dulu aku menikmati mie ayam bersama teman-teman sekelas. Awalnya kami sering ke mie ayam yang warungnya terletak di Jl A. Yani di sebelah Salon Mirna. Sekian lama kami ke sana sampai akhirnya seorang yang lain memberitahu bahwa ada warung mie ayam baru yang letaknya tak jauh dari sana, di seberang terminal bus antar-kota. Kami menyebutnya sebagai Mie Ayam Terminal.

    Warungnya terbangun di kios semi permanen yang menempel dengan hamparan sawah. Dari belakang kios yang digunakan sebagai toilet dan tempat cuci piring itu tampak rumahku yang memang berjarak tak sampai 500 meter dekatnya. Di sebelah kirinya ada bengkel sepeda motor dan di sebelah kanannya warung nasi padang yang aku baru tahu ternyata ada setelah aku sering ke warung mie ayam terminal.

    Rasanya sejatinya tak terlalu beda dengan warung mie ayam sebelumnya. Istilah bulenya, nggak rocket science lah bedanya. Yang membedakan adalah bentuk mienya yang lebih tebal dan porsi daging ayamnya yang lebih banyak. Tapi yang paling membuat Mie Ayam Terminal istimewa adalah kehangatan pemiliknya. Namanya Mansur. Usianya kutaksir sekitar 10-15 tahun di atasku. Ia tipe orang yang mudah akrab dan pandai membawa diri. Ia tak sendirian, ada Cholid yang tampaknya lebih muda yang membantu menyiapkan bahan dan mangkok dan sendok serta sumpit kotor disulap menjadi bersih kembali. Ada juga seorang yang lebih tua dari mereka berdua, aku lupa siapa namanya.

    Hal itu membuat kami selalu ke sana sepulang sekolah. Pun sesudah menyantap kami tak langsung pergi, sambil menghisap rokok, kami ngobrol lama dengan Mansur dan Cholid tentang banyak hal. Lain waktu (dan cukup sering) setelah selesai makan, aku nongkrong sembari menunggu penjual buku stensilan Eny Arrow langgananku menampakkan batang hidungnya di sisi seberang di terminal untuk kuhampiri dan kubeli kalau ada yang menarik untuk jadi bacol sore itu. Bacol? Bahan coli!

    Ketika aku pindah ke Jogja pada 1993 untuk melanjutkan studi, setiap akhir pekan ketika pulang ke Kebumen, setelah turun dari bus aku tak segera pulang tapi mampir makan di warung yang kemudian tak lagi kusebut sebagai Mie Ayam Terminal tapi Mie Ayam Mansur. Semakin lama tentu semakin menjarang karena seiring berjalannya waktu aku semakin kerasan di Jogja dan makin jarang pulang.

    Ketika keluargaku pindah dari Kebumen ke Klaten pada. 1998 yang menandai akhir dari perantauan kami di sana, kepada Mansur kuserahkan kenang-kenangan jam dinding yang lantas dipasang di dindingnya sekian lama.

    Terakhir aku berkunjung ke Mie Ayam Mansur adalah 2004 ketika perusahaan tempatku bekerja memenangkan tender proyek untuk mengerjakan sebuah situs web dan aplikasi SMS bagi stasiun televisi lokal Kebumen. Waktu itu aku lihat jam dinding pemberianku masih terpasang dan berfungsi dengan baik.

    Kini, tujuh belas tahun sesudah pindah ke Australia, tak sekalipun aku belum pernah ke sana (dan ke Kebumen) karena setiap kali pulang berlibur ke Tanah Air, agenda kegiatan selalu penuh di Jakarta, Semarang, Jogja dan Klaten…

    Beberapa kali melihat percakapan teman-teman alumni SMP 1 Kebumen di Whatsapp Group yang saling janjian untuk makan di Mie Ayam Mansur, air liurku terbit dan kangen suasana warung mie ayam dan kehangatan Mansur beserta krunya. Sebagai tamba kangen, tak jarang aku memutar video liputan dari beberapa food vlogger yang berkunjung ke warungnya via Youtube. Mansur tampak masih seperti dulu gestur, kehangatan bahkan dari caranya ia menyiapkan hidangan masih sama dengan yang ia lakukan lebih dari tiga puluh tahun lalu. Ia hanya sedikit tambah tua saja, badannya mengurus tapi selebihnya tidak. Jam dindingku… ah tentu sudah tidak ada lagi mungkin mati termakan umur…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Berkarya Wisata, Mengunjungi Jakarta Untuk yang Pertama

    Berkarya Wisata, Mengunjungi Jakarta Untuk yang Pertama

    Sebagai anak daerah, pertama kali berkunjung ke Jakarta adalah saat aku mengikuti rangkaian karyawisata bersama teman-teman seangkatan di SMP Negeri 1 Kebumen. Sayangnya aku lupa kapan tepatnya, tapi perkiraanku kalau enggak 1991 ya 1992. Kami menggunakan dua bus dan karena waktu itu belum ada jalan tol, jarak tempuh Kebumen ke Jakarta lebih dari semalam; berangkat sore hari saat matahari masih belum lindap, sampai di Jakarta keesokan harinya saat sudah terang tanah.

    Selama di Jakarta kami diinapkan di sebuah wisma yang terletak di sisi selatan ibukota. Lagi-lagi aku lupa nama tempatnya tapi yang kuingat, wisma itu asri betul dengan pohon-pohon rindang, terdiri dari bangunan-bangunan kecil dan setiap bangunan terbagi dalam kamar-kamar besar dengan beberapa tempat tidur bertingkat di dalamnya.

    Pagi itu kami langsung bergerak ke beberapa tempat, salah satunya Monas.
    Sepanjang perjalanan dari wisma ke Monas, aku lebih banyak terdiam. Sama seperti anak-anak yang lain, aku menatap ibukota di balik kaca. Pemandangan yang selama ini kulihat hanya dari layar kaca dan katanya-katanya, saat itu kulihat dengan mata telanjang. Betapa kontras dengan apa yang kamu punya di Kebumen. Di Jakarta yang kulihat pagi itu, semua serba mewah nan menjulang juga cemerlang padahal jarak Kebumen dari Jakarta tak lebih dari 500 kilometer saja. Setimpang itu perbedaannya! Lalu bagaimana dengan tempat-tempat lain yang bentangan jaraknya lebih dari itu bahkan harus menyeberangi laut dan selat?

    Dari Monas kami menuju ke Dufan, Dunia Fantasi di Ancol.
    Untuk masuk, lengan kami distempel menggunakan tinta oleh petugas jaga. Dengan stempel itu kami bisa leluasa masuk meski ternyata untuk menikmati wahana kami harus bayar ongkos tambahan. Jadi singkat kata, kami diperbolehkan masuk Dunia Fantasi tapi dibiarkan berputar-putar mengelilinginya sambil tetap berfantasi membayangkan rasanya menikmati wahana.

    Oh satu lagi, ketika orang-orang mengunjungi Dufan tampil dengan pakaian terbaiknya, kami dipaksa harus berseragam SMP untuk masuk ke sana. Aku tak tahu apa yang ada di bayangan orang-orang yang melihat kami waktu itu. Tapi kalau aku ada di posisi mereka, melihat ada orang-orang berkeliling Dufan mengenakan seragam SMP, kira-kira aku tahu apa yang kupikirkan tapi tentu tak layak untuk kusampaikan di sini karena akan merusak mood kalian dalam membaca tulisan ini.

    Ada satu kejadian unik yang tak kan bisa kulupakan siang itu. Teman sekelasku, Yasin, yang berasal dari Pejagoan, sebuah daerah di seberang Sungai Lukula, dengan lugunya bertanya kepada seorag penjaja makanan yang beredar di Dufan siang itu. Alih-alih menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar, Yasin yang jago bermain sepakbola itu bertanya “Kiye regane pira, Pak?” dengan logat ngapak yang sangat kental!

    Aku yang ada di dekatnya terkejut.
    Mau malu gak sempat lari, mau lari takut bikin Yasin tambah malu hehehe…

    Kedatanganku ke Jakarta rupanya disampaikan Mama dan Papa kepada Om Agus dan Tante (aku memanggilnya Mbak) In. Mbak In adalah adik Mama dan mereka merantau di Jakarta sejak beberapa tahun sebelumnya. Ketika keluar dari Dufan, tiba-tiba aku melihat mereka bersama sepupu-sepupuku, Cynthia dan Aditya, di pintu keluar Dufan.

    Tentu aku senang sekali dengan kejutan itu!
    Aku lantas meminta ijin kepada guru pendamping karyawisata untuk pergi bersama om, tante dan para sepupu tadi dan ijin pun diberikan. Aku diajak berkeliling Jakarta mengendarai Suzuki Katana putih-nya Om Agus. Ketika jam makan malam tiba, mereka mengajakku makan di gerai pertama Mc Donalds di Indonesia yang berada di Sarinah.

    Waktu kami masuk, puluhan orang sudah mengantri di kasir dan oh ya, tolong catat, aku masih mengenakan seragam SMP selarut itu! Pemandangan malam itu masih terekam hingga sekarang di kepalaku. Aroma makanan khas McDonalds yang meruap, lampu resto yang temaram, furniture yang mengkilat dan para pramusaji berseragam dengan wajah yang mengkilat, senyum merekah dan keramahan seolah tidak dibuat-buat.

    “Kowe arep maem opo, Don?” tanya Mbak In lirih di dekat telingaku.
    Aku menggeleng sambil terus menatap ke papan besar berisi informasi makanan yang dijual di depanku. “Manut, Mbak In. Aku bingung…”

    Mbak In dan Om Agus membelikanku cheeseburger, french fries (yang waktu itu sulit banget untukku mengucapkannya!) dan minuman bersoda. Kami menikmati sambil ngobrol selama sekitar satu jam di sana. Ketika beranjak, kotak pembungkus cheeseburger kubawa pulang untuk kenang-kenangan. Hingga beberapa tahun kemudian, bungkus itu kusimpan di kamar.

    Aku diantar ke wisma tempat kami menginap saat jam sudah beranjak lewat dari pukul sembilan malam. Di tengah perjalanan Om Agus dan Mbak In menawariku untuk tinggal lebih lama di Jakarta. “Kamu ikut kita aja pulang nemenin Aditya dan Cynthia trus nanti hari sabtu Om ambil cuti dan anak-anak om liburkan lalu kita ke Dufan supaya puas main trus hari minggunya baru pulang dewe ke Kebumen naik kereta tak bayari. Gimana?”

    Mbak In, Aditya dan Cynthia ramai menimpali untuk mendukung usul Om Agus sementara aku diam sibuk menatap pemandangan jalan-jalan di Jakarta yang menggelap diterangi pendar lampu merkuri nan teduh tapi tetap ramai, tetap sibuk seolah hari harus dihabiskan setandas-tandasnya…

    Malam itu aku memutuskan untuk menolak usulan Om Agus dan tetap berada bersama rombongan karyawisata karena berpikir untuk datang berlibur kembali ke Jakarta bisa kapan saja tapi berkaryawisata bersama kawan-kawan adalah pengalaman yang mungkin tidak akan datang lagi. Keesokan paginya kami bergerak ke Bogor lalu Bandung, tidak menginap karena di sore menjelang malam, kami menempuh perjalanan kembali pulang ke Kebumen…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Keranjingan Tamiya

    Keranjingan Tamiya

    Seperti halnya kebanyakan anak-anak yang tumbuh di era 90an, akupun dulu tergila-gila pada Tamiya. Bisa ditebak lah awalnya gimana…  Kesengsem film yang ditayangkan TVRI setiap minggu pagi, Dash Yongkuro. Film kartun Jepang buatan Zaurus Tokuda itu ‘racun’ bagiku. 

    Sejak saat itu aku merengek pada Papa untuk minta dibelikan Tamiya.

    Seingatku waktu itu, di Kebumen, yang jual Tamiya hanya di Toko Djakarta. Pun ragamnya sangat terbatas. Mobil Tamiya yang kubeli pertama adalah Black Manta Ray kalau tidak salah harganya empat belas ribu rupiah. Harga yang sudah tergolong mahal hanya untuk sebuah mainan.

    Pun tak selesai di situ. Maksudku, bukan berarti bahwa ketika kita beli satu mobil tamiya lalu kita tak perlu beli hal-hal lainnya.

    Menekuni hobi Tamiya kalau istilah teman-temanku di Australia sini adalah seperti memasukkan diri kita ke dalam rabbit hole. Sebuah peribahasa yang dibangun pada kenyataan bahwa sebuah lubang di tanah yang digali oleh seekor kelinci makin lama makin dalam karena si kelinci tak tahu batas kedalaman yang diperlukan seperti apa.

    Dalam hal Tamiya pun demikian. Kita tak tahu batasan puas dan bagus itu seperti apa, pokoknya gali eh beli terus!

    Awalnya hanya beli mobilnya. Tapi setelah membaca referensi (yang masih sangat terbatas waktu itu) di majalah-majalah ditambah lagi dengan apa kata teman penyuka Tamiya, aku jadi merasa perlu membeli hal lainnya. 

    Dinamo baru karena yang bawaan “gak ada tarikannya!” Sayap, ekor dan bemper disertai roller yang dipasang di tepiannya supaya larinya seimbang. Logam pemberat, supaya ketika menghadapi tikungan tajam dan tanjakan mobil kita tidak melayang keluar lintasan. Roda dan ban baru karena yang standar terlalu besar radiusnya. Minyak pelumas WD40 untuk mendinginkan dinamo di sela-sela balapan, rachargeable batteries, tas tamiya, kaos, topi hingga sticker untuk dipasang di kaca mobil dan kamar dan segala macam lainnya!

    Dan, betapa bersyukurnya aku, Papa dan Mama selalu menyaguhi untuk membeli semuanya itu satu per satu. Kami jadi sering ke Jogja di akhir pekan karena aku perlu ke Toko Snoopy di Jalan Solo untuk membeli aksesoris ini dan itu. Di lain waktu aku perlu pergi ke Purwokerto atau Kutoarjo untuk menjajal seberapa kebat mobil konfigurasiku dibandingkan mobil yang lain. Sekembalinya dari sana, muncul ide baru lagi untuk modifikasi supaya lebih kebat, maka minggu depannya ke Jogja lagi. Begitu terus-menerus!

    Tapi satu-satunya peralatan Tamiya yang tak dibelikan Papa meski aku sudah sering meminta adalah lintasan balap Tamiya. Alasan Papa ada dua. Yang pertama tidak ada ruangan tersisa di rumah untuk memasang lintasan yang memang makan banyak ruang. Yang kedua, kalau teman-temanku main ke rumah untuk adu Tamiya, rumah jadi kotor dan bising.

    Tapi untung ada Wiby!
    Ya! Masih ingat Wiby, kan?
    Anak pimpinan cabang kantor tempat Papa bekerja yang kawan baikku dan kutulis di tulisan sebelumnya?

    Karena rumah dinas bapaknya besar dan ada pavilliun yang terhubung ke rumah utama, Wiby memasang lintasan tamiya di pavilliun itu. Lalu jadilah hampir setiap sore, setidaknya aku, Wiby dan Wahyu, kami menghabiskan waktu di sana. Ngulik, balapan, ngulik, balapan.

    Untungnya hobi Tamiya ini berakhir menjelang akhir kelas tiga SMP.

    Aku berhenti main atas kesadaranku karena ingin fokus ke Ebtanas dan karena aku sudah terlanjur punya cita-cita untuk sekolah di Jogja. Jadi NEM Ebtanas harus bagus.

    Ketika pindah ke Jogja, di sebuah siang, Mama menelponku dari Kebumen. 

    “Le, Tamiyamu timbangane nganggur tak wenehke anake Mbak Rus ya…”

    Mbak Rus adalah nama pembantu kami waktu itu. Aku mengiyakan saja. Semua koleksi mobil tamiya dan perkakas pendukung diberikan kepadanya.

    Hanya satu yang tersisa, tas tamiya yang karena banyak ruang dan mudah dijinjing kemana-mana, Mama menggunakannya sebagai tas penyimpan alat-alat kosmetiknya hingga akhir hayatnya di tahun 2016 silam.

    Tahun 2008, sesaat sebelum pindah ke Australia, seorang kawan menawariku membeli mobil Tamiya yang belum dibuka.

    Jenisnya Astute. Aku pun membelinya lalu hingga kini kupajang di ruang kerjaku sebagai peringatan bahwa di Indonesia dulu, aku pernah punya masa muda yang begitu membahagiakan hanya dengan mengulik dinamo, menyemprot WD40, memasangnya ke dalam chasis, memasang batere lalu menyalakannya lewat tombol on/off dan meletakkannya dengan penuh perasaan di atas track untuk diadu dengan yang lainnya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Bermain Gitar

    Belajar Bermain Gitar

    Salah satu yang kusyukuri dari hidup dan diriku adalah karunia yang diberikan Tuhan untuk belajar sesuatu dengan cepat bermodalkan ‘membayangkan’. Tapi sayangnya, salah satu musuh utama dari karunia itu adalah rasa malas yang kadang datang terlampau sering dan terlalu besar.

    Bermain gitar adalah salah satunya.
    Papa hobi main gitar. Sejak kecil, hampir setiap hari, aku melihat Papa memainkan gitarnya. Beberapa kali ditawari untuk belajar aku tidak mau. Pernah sih sesekali mencoba sampai dibuatkan bagan kord oleh Papa dan tinggal kumainkan tapi aku tak mau. Alasanku, “Jariku jadi sakit kalau main gitar.” Mungkin juga karena aku lebih tertarik untuk bernyanyi.

    Tapi meski demikian, setiap nonton acara musik baik di siaran televisi maupun saat di alun-alun ada acara live music, aku selalu memperhatikan gitarisnya. Jari-jemari tanganku kadang kugerak-gerakkan sendiri membayangkan seolah aku memainkan nada yang sama yang dimainkannya; seolah-olah aku bisa bermain gitar beneran. Hal ini berkelanjutan. 

    Sekitar tahun 1991, pimpinan kantor tempat Papa bekerja berganti. Penggantinya adalah Pak Hadiman Eman. Seorang bersuku bangsa Sunda beranak tiga, Ginanjar (Gin Gin), Wibawa (Wiby) dan Waluya (Lulu). 

    Gin Gin mungkin sekitar tiga atau empat tahun di atasku. Lulu sekitar tiga tahun di bawahku. Wiby sepantaran denganku. Ia pun disekolahkan ke SMP 1 Kebumen.

    Tak membutuhkan waktu lama, aku jadi berkawan baik dengan Wiby. 

    Ia sering mengundangku main ke rumahnya sepulang sekolah entah untuk main video game, tamiya atau nonton pertandingan basket NBA melalui parabola dan bermain basket di lapangan di halaman belakang rumahnya. Sore harinya biasanya aku dijemput Mama yang kadang di hari-hari tertentu memang harus datang ke rumah dinas tempat Pak Hadiman tinggal untuk mengikuti acara Dharma Wanita kantor.

    Saking baiknya hubungan, kadang aku juga menginap di rumahnya saat liburan. Nah, suatu saat ketika aku bermalam di sana, karena sudah capek main Tamiya dan nonton pertandingan bakset, Wiby masuk ke kamar, mengambil gitar lalu kembali ke ruang tengah keluarganya.

    “Kamu bisa main gitar kan, Don?” tanya Wiby.

    Aku menggeleng.
    “Lho, kupikir kamu bisa karena tanganmu sering ‘main gitar’ sendiri gitu…”

    Aku tersenyum.
    Tapi entah angin apa, tak lama kemudian aku mengambil gitar darinya. “Coba sini, siapa tahu aku bisa…”

    Di depan tempat duduk Wiby ada buku cara bermain gitar bersama dengan beberapa lembar halaman berisi lirik lagu dan kord. Setelah membolak-balikkan buku aku sampai di halaman Don’t Cry-nya Guns n Roses yang waktu itu memang sedang naik daun. Semalam-malaman gitar itu kupegang, lagu tersebut kumainkan sampai bisa bahkan saat Wiby akhirnya ketiduran. Aku tak tahu kenapa aku tiba-tiba bisa, tapi ilmu membayangkan yang kulakukan selama itu ternyata berguna sekali.

    Keesokan harinya ketika pulang ke rumah, ketika Papa dan Mama bertanya tentang keseruan nginep semalam, aku tiba-tiba bilang, “Aku iso main gitar!”

    Papa heran apalagi Mama. Kuambil gitar Papa lalu kumainkan Don’t Cry di depan mereka.

    “Lho kok iso? Padahal wingi wae kowe durung iso to?” tanya Mama keheranan. 

    Setelah peristiwa malam itu, tak lama kemudian saat acara ulang tahun kantor, aku bersama Wiby main gitar bareng mengiringi Lulu menyanyikan lagu-lagu Koes Plus, Manis dan Sayang dan Kembali (Ke Jakarta).

    Lagu demi lagu kupelajari meski aku tetap belum percaya diri untuk bilang ke temen-temen bahwa aku bisa bermain gitar. Baru ketika pindah ke Jogja, aku bilang ke teman-teman bahwa aku bisa main gitar sejak kecil lalu aku sering diminta bermain gitar oleh karena pengakuanku itu. 

    Sejak saat itu, hingga kini dan nanti, hidupku tak bisa jauh dari musik dan gitar. 

    Mengkoleksi gitar dan menambah peralatan pendukung hingga menerima tawaran main musik dan bernyanyi secara profesional di acara-acara di Sydney pun kujabanin semata bukan karena duitnya tapi karena kecintaanku pada musik. (Ssstttt, akupun merilis banyak karya musik di Spotify, Apple Music dan Youtube Music! Cari deh!)

    Sejak pindah ke Jogja pada 1993, aku tak bertemu lagi dengan keluarga Hadiman Eman. Pak Hadiman pindah ke Bandung setelah masa tugasnya selesai di Kebumen. Beberapa tahun lalu aku terhubung melalui Facebook dengan Gin Gin, Wiby dan Lulu. Dari mereka aku baru tahu bahwa Pak Hadiman beserta Ibu sudah meninggal dunia, sama seperti kedua orang tuaku, dan beberapa tahun lalu aku menerima kabar mengejutkan melalui Gin Gin bahwa Lulu meninggal dunia…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Mercon Meletus di Belakang Perpus

    Mercon Meletus di Belakang Perpus

    Pada sebuah siang yang lengas, di bulan Ramadhan tahun 1993, waktu itu aku duduk di bangku kelas tiga SMP, sekonyong-konyong suara ledakan keras memecah hening suasana belajar di sekolah. Para murid dan guru pun keluar berhamburan dari kelas mencari sumber ledakan itu.

    Tak sampai lima menit kemudian, kami semua berlarian menuju arah gedung perpustakaan setelah mengetahui ternyata sumber ledakan berasal dari kolom yang ada di antara dinding gedung perpustakaan dan tembok luar kompleks sekolah.

    Kolom itu lebarnya sekitar satu meter dan tingginya mungkin kisaran lima meter. Yang jadi sumber ledakan adalah mercon, tampak dari kertas yang berhamburan. Kencangnya ledakan terjadi karena amplifikasi gelombang suara yang membentur-bentur dinding di kolom yang sempit itu.

    Untung tak ada korban meski ibu penjaga perpustakaan yang selalu ramah dan baik hati harus dibawa ke rumah sakit menggunakan mobil ambulan karena badannya lemas dan pihak sekolah sepertinya khawatir kalau-kalau ia jantungan.

    Jam pelajaran dikosongkan lalu empat puluh lima menit kemudian kami diminta masuk ke kelas masing-masing untuk melanjutkan kegiatan belajar-mengajar seperti biasa.

    Setengah jam berlalu, pintu kelas diketok dan guru yang mengajar membukakan pintu. Dari balik pintu muncul Pak T, berbincang sebentar dengan guru yang mengajar lalu secara mengejutkan, mereka berdua memandang ke arahku dan tak lama kemudian guru itu berkata, “Donny, ikut Pak T sebentar ke kantor BP ya…”

    Anak-anak di kelas pun terkejut, pun aku juga merasakan hal yang sama.
    Mata-mata yang menatap kuanggap sebagai tikaman yang menuduh tentang sesuatu yang aku sendiri belum tahu apa yang bakal dituduhkan.

    Tapi aku toh mengikuti saja apa yang diminta. Berjalan menyusuri lorong kelas di belakang Pak T. Sesampainya di selasar Ruang BP, ternyata aku tak sendirian. Semuanya lelaki. Wajah-wajah mereka adalah wajah nan tak asing karena sebagian adalah anggota genk bermainku, sebagian lagi bukan tapi punya tingkat kebadungan yang kurang lebih sama.

    “Ana apa?” tanyaku pada mereka.
    Hanya gelengan kepala dan bahu yang terangkat. Aku lantas duduk bersama mereka beberapa saat.

    Hampir setengah jam kami menunggu, pintu ruang BP terbuka dan Pak T meminta kami berbaris. “Kalian berbaris lalu nanti kita panggil per lima orang masuk ke ruangan.”

    Aku makin deg-degan. Ini pasti ada yang tidak beres. Tapi kenapa aku? Apakah ini terkait dengan ledakan mercon yang baru saja terjadi? Tapi itu bukan aku!

    Ketika sampai giliranku, kami diminta masuk ke ruang BP menghadap ke dinding.
    Di saat bersamaan, terdengar beberapa langkah yang ada di belakang kami lalu dengan setengah berbisik, Pak T bertanya pada mereka, “Ada dari mereka?”
    Tak ada jawaban yang kudengar sepertinya semua sudah diatur untuk tidak bersuara tapi menggunakan isyarat.

    Selanjutnya kami diminta keluar, menunggu di depan ruang BP sambil terus dalam posisi berbaris untuk menunggu giliran anak-anak yang lain. Sementara itu, jam istirahat pun tiba.

    Para murid yang biasanya pergi ke kantin, saat itu merubung kami di depan ruang BP. Sudah bisa ditebak yang terjadi kemudian? Mereka mengaitkan kami dengan ledakan mercon yang terjadi. Meski mereka tak tahu konteksnya tapi mata-mata tajam dan bisik-membisik yang terjadi seolah sudah mengisyaratkan bahwa kami adalah pelakunya.

    Lima belas menit berselang, jam istirahat pun usai. Suasana kembali senyap karena para murid masuk ke kelas masing-masing dan kami masih menunggu di sana.

    Sekitar dua puluh menit kemudian kami diperbolehkan masuk kembali ke kelas. Tak ada satu patah kata pun dari Pak T yang memberitahu kenapa kami dipanggil, kenapa kami ditahan di depan ruang BP sekian lama dan kenapa kami diperlakukan seperti itu, menghadap ke dinding berlima-lima sekian menit lalu disuruh keluar lagi.

    Sejauh yang kutahu dan kuingat, pihak sekolah tak berhasil menemukan siapa yang melakukannya.

    Tiga tahun kemudian, setelah lulus SMA pada masa awal-awal kuliah, aku tak sengaja bertemu dengan N, seorang kawan lama se-SMP. Rupanya ia satu kampus denganku.

    Kami pun memutuskan pergi ke kantin untuk sekadar ngobrol dan mengurai cerita setelah sekian lama tak berjumpa.
    Dalam pembicaraan seru itu, dengan cengar-cengir ia bilang, “Kelingan pas ana mercon njebluk nang mburi perpus, Don?”

    “Iya, kelingan..” jawabku.
    “Ngerti ora, sapa janjane sing njeblukna?”
    Aku menggeleng.
    “Ya inyong karo kanca-kanca hahaha!”

    Seketika aku menoleh ke belakang, siapa tau ada Pak T di sana.
    Jika ada tentu kawan tadi dengan mudah bisa diringkus dan dihadapkan Bu Penjaga Perpustakaan yang hampir jantungan gara-gara kebadungan yang dilakukannya.

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Membakar Tempat Sampah

    Membakar Tempat Sampah

    Kenakalanku saat duduk di bangku SMP kian menjadi-jadi. Tentu tak elok kalau kuceritakan semua di sini tapi dari yang sekian yang telah kuceritakan termasuk tentang merokok, bokep, alkohol, enny arrow, yang hendak kuceritakan kali ini ada di level yang berbeda meski sekali lagi… masih aman untuk kuceritakan :)

    Bersama Rn, tetangga yang tempo hari jadi teman seperminuman, kami jalan-jalan ke kota selepas maghrib. Istilah ‘kota’ bagi Kebumen yang kecil adalah ruas Jalan Pahlawan yang dipenuhi pertokoan dan berhadapan dengan Pasar Tumenggungan hingga ke kawasan perkantoran sampai di Alun-alun.

    Dari Jl Kaswari kami menuju ke Jl Pemuda. Mampir dulu ke warung rokok milik almh. Rinawati untuk membeli Gudang Garam Filter menggunakan uang rokok yang diberi Mama.

    “Aja lali tuku korek! Nek ora anak korek arep ngejesna nganggo apa?” ujar Rn. 

    Setelah menyorongkan uang aku segera pergi. “Pada arep ngendi, Don? Bengi-bengi aja kakean dolan sesuk sekolah!” ujar Rinawati, kawan sekolah yang kukagumi kecantikannya secara diam-diam.

    Kami menyalakan rokok sambil berjalan kaki mengamati orang-orang dan jalanan.

    Selepas Tugu Lawet, entah godaan dari setan jenis apa, tiba-tiba aku mengambil korek dari saku lalu menyalakan batang dan membuangnya ke tempat sampah plastik berwarna oranye yang baru beberapa bulan dipasang. Lebih dari lima tempat sampah kami begitukan dan kami riang gembira melakukannya.

    Hingga tepat di depan kantor Papa dan hendak menyalakan korek untuk membakar tempat sampah yang ada tepat di depannya, tiba-tiba ada suara berteriak dari belakang, “Hey kalian! Berhenti!”

    Kami kaget lalu berhenti.

    “Berdiri di situ!”
    Seorang pria berpawakan sedang berjaket kulit turun dari sepeda motor GL 100 warna hitam yang diparkir di pinggir jalan. Kukira awalnya adalah polisi tapi bukan!

    Aku kenal orangnya!
    Dia adalah Mas H, kakak Mbak P yang tinggal di sekitar turunan Gang Lusi, Kauman. Waktu kami masih tinggal di Kauman, mereka berdua sering main ke rumah. Mbak P bahkan pernah membuatkan kristik dan dipajang oleh Mama dan Papa di ruang tamu.

    Mas H adalah seorang guru SD yang pernah mengajariku mengerjakan proyek pelajaran prakarya, membuat asbak dari tanah liat.

    Ia datang mendekat. Dengan mata membelalak sambil setengah berteriak ia pun bilang, “Kalian ini ngapain? Bakar-bakar tempat sampah apa kalian gak mikir kalau kebakaran gimana?”

    Plak! Plak! Plak! Mas H menampar pipi kami masing-masing dua kali. Sambil menunjuk muka, ia berseloroh, “Aku tahu kamu! Donny kan? Anaknya Pak Didiek kan? Kamu apa gak bikin malu bapak apalagi kantornya di sini?” Tangannya menunjuk ke kantor tempat kerja Papa.

    Badanku gemetar bukan karena takut dipukuli tapi karena orang-orang mulai mengerubungi termasuk om-om yang empunya toko rokok di samping kantor yang aku kenal karena jadi langganan Papa setiap hari! Bagaimana kalau ada polisi patroli lewat lalu aku dan Rn diserahterimakan? Bagaimana juga kalau satpam kantor tiba-tiba keluar dan menelpon Papa yang waktu itu sudah pulang kerja?

    Di tengah kepanikanku aku memohon ampun dan akhirnya diijinkan untuk pergi. “Jangan diulangi lagi atau kalian kulaporkan polisi!”

    Wajahku memasi. 
    Rencana nongkrong di alun-alun pun batal. Kami berbalik arah sambil setengah berlari mengambil jalur di tepian Pasar Tumenggungan. Kami tak berani melewati di sisi pertokoan karena takut mereka mengenali kami. Tak banyak yang aku dan Rn percakapkan dalam perjalanan itu. Di setiap tempat sampah yang kami bakar yang  kami lewati, orang-orang ramai memadamkan api dengan mengguyur air. 

    Sesampainya di rumah aku langsung masuk kamar dan duduk termenung cukup lama.

    Jantungku berdegup kencang. Aku mengutuki diri sendiri kenapa ide aneh tadi datang? Untung tidak kebakaran?! Kalau kebakaran mungkin aku tidak dipenjara karena masih kanak-kanak tapi dengan apa Papa harus membayar kerugian yang  ditimbulkan? Belum lagi malu dan segala macam perasaan yang lain campur aduk di dalam benakku.

    Pagi harinya aku menyempatkan melewati kawasan pertokoan menggunakan sepeda. Aman! Tak ada yang terbakar meski aku melihat sisa-sisa jelaga di beberapa tempat sampah. Beberapa hari ke depannya adalah saat yang mencekam karena aku takut Papa dilapori si pemilik toko rokok sebelah kantor tentang kejadian malam itu. Atau gimana kalau tiba-tiba satpam kantor memberitahu atau kalau Mas H mengadu langsung kepada Papa?

    Semua ketakutan itu tidak pernah terjadi.

    Enam tahun kemudian, September 1998, ketika kami baru saja pindah dari Kebumen ke Klaten, kami dikagetkan ketika halaman depan harian Kompas memberitakan peristiwa kebakaran besar di Pasar Tumenggungan Kebumen. Aku langsung terbayang-bayang korek api dan tempat sampah yang kubakar.

    Aku lantas menggunakan kesempatan itu untuk bercerita tentang apa yang kulakukan bersama Rn waktu itu kepada Papa dan Mama. Mereka hanya geleng-geleng kepala mendengarkannya seakan tak percaya. Papa mengangkat bahu dan sambil menyedot rokok dalam-dalam ia berujar pelan, “Yo arep piye meneh wong wes kedaden?”

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Enny Arrow

    Enny Arrow

    Kenapa aku dulu suka Enny Arrow?
    Karena waktu itu belum ada teknologi smartphone dan internet sementara itu untuk mengangkat teve serta video player untuk menonton bokep di dalam kamar mandi adalah hil yang mustahal.

    Gak tau maksudku?
    Come on! Sebagian besar pria pernah masturbasi dan untuk itu kami (iya bukan kita karena kalian bisa aja bilang “Kita? Aku tidak pernah melakukannya, Don!”) butuh rangsangan atau dalam bahasa anak sekarang, bacol, bahan coli. (Coli itu apa? Duh! nanti tulisanku kepanjangan, tanya AI!)

    Enny Arrow, atau biasa disingkat EA, adalah sebuah stensilan, sebutan untuk buku hasil produksi mesin cetak tinta, yang diterbitan Penerbit Mawar di era 80-90an. Isinya kisah-kisah asmara lengkap sampai ke persetubuhan dalam bahasa yang lugas, deskriptif dan mendetail.

    Ukurannya barangkali sekira kertas A6, berbahan baku kertas buram yang kualitasnya sangat rendah. Sampulnya bisa gambar apa saja, kebanyakan cewek, seperti yang tampak dalam gambar terlampir di tulisan ini. Namanya juga stensilan esek-esek, tentu ia tidak bisa didapatkan di toko buku pelajaran apalagi perpustakaan! Ia diperjualbelikan dalam senyap.

    Pengalaman pertamaku dengan Enny Arrow adalah sebagai berikut.

    Waktu itu sekitar tahun 1991, Eyang Buyut meninggal dunia di Klaten. Papa, Mama serta Chitra berangkat lebih dulu di sore hari. Aku lupa kenapa tak bisa pergi bersama mereka tapi malam harinya aku menyusul ke Klaten diantar Mas W, anak kawan baik Papa dan Mama, naik bus malam jurusan Tasikmalaya – Surabaya, PO Mandala. 

    Mas W ini umurnya sekitar tiga-empat tahun di atasku dan mengobrol dengannya sepanjang perjalanan yang memakan waktu sekitar tiga jam setengah itu seru betul ditingkahi dengan hisapan rokok yang nyaris tiada henti.

    Sesampainya di Jogja, sekitar tengah malam, bus berhenti agak lama di Terminal Umbulharjo. Para penumpang turun sebentar untuk meluruskan kaki dan buang air sementara para pedagang asongan masuk ke dalam bis menawarkan barang dagangannya. Ada yang jual nasi ayam, telur puyuh, arem-arem, tissue hingga buku, teka teki silang (TTS) serta koran.

    Aku membeli telur puyuh waktu itu.

    Tak lama kemudian, seorang penjual koran datang menghampiri kami. “Koran? TTS?” Kami menggeleng. Si penjual koran tak beranjak pergi. Ia celingak-celinguk ke depan dan belakang seperti memastikan semuanya aman lalu sekonyong-konyong di balik TTS dan koran, ia menyembulkan sebuah buku kecil dan berujar, “EA?! EA?!”

    Mas W tersenyum lalu bilang, “Mau beli EA, Dik?”

    Aku bengong. “A…apa itu Mas? EA?”
    Dia memberi isyarat ibu jari dijepitkan di antara sela jari telunjuk dan jari tengah. Aku mengangguk-angguk tanda mengerti.

    Aku bertanya pada penjual, “Piro, Pak?”
    “Rong ewu mangatus wae…!”
    Hampir mengeluarkan uang, Mas W bilang, “Larang! Sewu oleh ra?”

    Dengan agak gusar, si penjual TTS pun menyerahkan buku itu kepada Mas W dan aku segera mengangsurkan selembar ribuan kepadanya. EA itu berpindah tangan. Aku melihat sampulnya sebentar lalu kumasukkan ke saku jaket seolah “transaksi” itu tidak pernah ada meski jantungku berdegup kencang tak bisa membayangkan bagaimana asyiknya nanti membacanya!

    Malam itu jadi pembuka semuanya.
    Ketika ingin masturbasi, aku tak lagi harus nunggu rumah kosong untuk memutar bokep lalu berjingkat-jingkat ke kamar mandi. Tinggal masuk ke kamar atau kamar mandi sambil pura-pura bawa koran tapi dalamnya ada EA. Tangan kiri membaca, tangan kanan… beraksi! Tante Rosa! (Nggg… gak tau juga arti tante rosa? Wkwkwkw!)

    Supply EA kudapatkan dari mendatangi penjual buku, koran dan TTS di Terminal Bus Kebumen. Untuk membeli aku harus menyisihkan uang jajan dan uang rokok karena harganya yang waktu itu tak bisa dibilang murah. Tak setiap bulan tentu saja. Takaranku kalau aku sampai hapal cerita dalam stensilan EA atau kalau lembar stensilan sampai robek karena saking seringnya kusibak atau terkena air, itu saatnya untuk mengangsurkan EA ke teman-teman satu gengku untuk membeli yang baru.

    Aku menyimpan koleksi EA ku di bawah karpet kamar tidur tepat di bawah ranjang supaya Mama dan pembantu tak curiga. Pernah suatu kali ketahuan Mama. Waktu itu aku memasukkan EA ke dalam saku celana dan lupa mengeluarkan saat hendak dicuci. Mama berteriak dengan mata membelalak tajam, “Iki opo?!?!” aku pura-pura bego, mengangkat bahu dan berlalu…

    Dan koleksiku tak hanya EA. 
    Dari para penjual koran dan TTS serta buku yang kemudian jadi kukenal baik, aku mendapatkan kartu permainan bergambar seronok serta sobekan majalah porno luar negeri, Playboy dan Penthhouse dengan harga yang beragam dan tentu lebih mahal.

    Kegiatanku mengkoleksi EA terhenti ketika aku pindah ke Jogja untuk melanjutkan studi pada 1993. Bukan! Bukan karena bertobat tapi karena untuk bermasturbasi, aku tak perlu lagi ke kamar mandi. Sebuah televisi berwarna 14 inch permintaanku dikabulkan Papa dan Mama dengan alasan untuk mengakses acara-acara edukatif-nya TPI (Televisi Pendidikan Indonesia) yang waktu itu sedang jaya-jayanya dari kamar kost!  Tentu aku hanya berpura-pura dengan alasan itu karena kebetulan kawan seasramaku ada yang berhasil menyelundupkan video player yang sering kupinjam untuk kusambungkan dengan televisi dan darinya aku bisa memutar video bokep sesuka hatiku!

    Di tahun itu, teknologi smartphone dan internet tetap belum ada. Televisi dan video player pun tetap tidak bisa dipindah ke kamar mandi. Tapi untuk bermasturbasi, aku kan tinggal masuk kamar, mengunci pintu, menutup korden, menyalakan televisi dan video serta memutar radio keras-keras supaya tak terdengar ah-uh-ah-uh dari bokep lalu rebahan dan berkarya dengan kedua tangan tanpa salah satunya harus memegang buku.

    Sebuah improved experience yang hakiki! 
    Enny Arrow mah lewat!

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Belajar Merokok

    Belajar Merokok

    Papa merokok. 
    Mama merokok. 
    Harapan sebesar apa yang bisa kau sematkan kepadaku supaya tidak tumbuh sebagai seorang perokok juga?

    Aku pertama kali menghisap rokok ketika berumur 6 tahun. Bukan! Bukan karena Papa dan Mama mengajariku. Waktu itu kami masih tinggal di Rumah Eyang di Klaten. Suatu siang aku main ke rumah tetangga yang waktu itu sudah duduk di bangku SMA. Dia melinting rokok lalu menawariku untuk mencoba, sekali-dua. Sesudahnya tidak lagi karena menurutku pahit dan tak ada enaknya sama sekali kecuali kertas (papir) yang manis rasanya, lain tidak!

    Aku merokok rutin sejak kelas 5 SD.

    Rutin dalam artian setiap hari selalu punya jadwal untuk merokok; setelah makan dan saat buang air besar. Lagi-lagi jangan salah tebak! Bukan Mama apalagi Papa yang mengajari. Adalah sepupuku, N, yang tinggal di rumah kami. Ia, waktu itu duduk di bangku SMA, juga perokok. Saat duduk di bangku SMP, N sudah tidak tinggal di rumah kami tapi aku tetap merokok. Sudah menjadi candu rupanya. 

    Darimana aku dapat jatah rokok? Nyolong dari boks tempat penyimpanan rokok Papa dan Mama. Minta dari teman-teman satu genk yang juga mulai merokok atau kalau ada duit sisa dari uang jajan, aku membeli Gudang Garam Filter eceran. Waktu itu, harga sak ler-nya masih 25 rupiah saja!

    Sebenarnya sejak awal aku sudah curiga bahwa setidaknya Mama curiga anaknya ini merokok. Beberapa kali asbak penuh abu dan puntung yang kusembunyikan di bawah dipan tetiba bersih di sore harinya! Kutanya pembantu, ia menggeleng. Ya siapa lagi, masa Chitra? Adikku semata wayang itu dulu masih SD, mana berani masuk ke kamar kakaknya? Papa? Apalagi! Tak terbayangkan karena sejak awal ia mewanti-wantiku untuk tidak merokok karena berbahaya untuk kesehatan. Ironis ya?

    Kecurigaanku pada kecurigaan Mama terhadapku makin tebal ketika suatu siang, Mama berujar dengan lantangnya, “Lho… Rokokku kok kari sa’mene? Dicolong tikus po ya?” Tak ada orang di rumah waktu itu selain aku dan pembantu.  Aku buru-buru menutup wajah dengan koran seolah tak mendengar dan tak tertarik dengan apa yang dibicarakannya.

    Setelah bertahan merokok diam-diam sekian lama, akhirnya kecurigaanku terhadap kecurigaan Mama itu tervalidasi. Ketika itu aku duduk di bangku kelas 3 SMP. Aku merasa perlu untuk terbuka kepada Mama karena tingkat ketergantungan terhadap rokok meninggi dan perlu dapat dukungan dana darinya untuk mencukupi persediaan setiap harinya.

    Mungkin kalian berpikir, kan bisa tetap nyolong dari boks persediaan rokok mereka?

    Betul! Tapi pada dasarnya aku tak suka rokok menthol-nya Mama karena kata teman-teman kebanyakan rokok menthol bisa bikin mandul dan bagiku Dji Sam Soe filter-nya Papa itu terlalu pahit. 

    Sore itu, sepulang sekolah aku mengajak Mama bicara, “Ma, aku meh matur…”

    “Opo, Le?” ujar Mama sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

    “Aku ki sakjane wes suwe ngerokok…. “ 

    Dan tebakanku kali itu benar!
    Sambil mengeluarkan asap dari mulutnya, ia tersenyum, “Hehehe, Mama wes ngerti. Lha wong Mama sing ngresiki asbak, sing ngresiki WC-mu… sopo meneh nek dudu aku?” Untuk soal WC, waktu itu kami pakai WC jongkok tanpa penyentor otomatis. Jadi, kadang tak hanya rokok, tai pun bisa muncul kembali kalau jumlah sentoran air menggunakan gayung tidak maksimal menenggelamkan mereka.

    Ia lalu menyodorkan bungkus rokoknya, “Jupuk’en, Le..”

    Dan untuk pertama kalinya, aku dan Mama merokok bersama sore itu. Awalnya tentu ragu wagu. Tapi lama-lama terbiasa…

    Pagi hari dan seterusnya, Mama selalu menambahkan uang saku untuk beli rokok, “Iki dinggo tuku rokok, Le…”

    Beberapa tahun sesudahnya, aku pernah bertanya kepada Mama kenapa dia malah memberiku uang saku untuk beli rokok dan Mama menjawab “Aku paling gething (benci) karo sing jenenge maling! Aku wegah anakku dadi maling! Jadi ya kukasi aja duit untuk beli rokok daripada kamu harus nyolong?!”

    Urusan dengan Mama beres, bagaimana dengan Papa?

    “Wes aku wae sing ngendika karo Papamu, Le!” ujar Mama ketika itu.

    Lalu pada sebuah akhir pekan, setelah Papa dan Mama pulang dari pergi entah ke mana, kudapati wajah Papa murung betul. Buru-buru meletakkan kunci mobil di atas meja lalu duduk di sofa dan dengan nafas mendengus, ia menundukkan kepala dalam-dalam. Mama memberi kode kepadaku untuk menjauh atau setidaknya tidak mengeluarkan sepatah kata pun.

    Kira-kira setengah jam kemudian Papa memanggilku. “Ngopo kok ngrokok barang kowe ki Don? Kan Papa wes omong rokok ki ra apik…” Sebatang rokok terbakar menyala tergamit di sela jarinya.

    Belum sempat menyelesaikan kalimat, Mama buru-buru menimpali, “Heleh.. lha awake dewe yo ngrokok moso Donny ora oleh ngerokok?” Ia pun menyalakan rokoknya, duduk di sebelah Papa.

    Kamu pasti berpikir tak lama kemudian aku ikut menyalakan rokok dan merokok bersama mereka, kan? Tidak! Dari apa yang kami perbincangkan siang itu, Papa setuju aku merokok asalkan tidak melakukannya di depan mukanya selama aku belum bisa beli rokok dengan uang hasil jerih payahku sendiri.

    Janji kutepati. Enam tahun kemudian, September 1999, aku dapat kerjaan sebagai penjaga warnet. Ketika itu mereka sudah pindah ke Klaten, di suatu sore yang damai, aku pulang dari Jogja membawa tiga bungkus rokok, Dji Sam Soe Filter, Dunhill Hijau dan Gudang Garam Filter. Kuletakkan di atas meja lalu kami bertiga merokok bersama-sama untuk pertama kalinya…

    Sejak saat itu, volume rokokku makin kenceng lagi!

    Sehari gak cukup satu, kadang dua bungkus! Pun tak lagi puas dengan Gudang Garam Filter. Sebagai gantinya Sampoerna A-Mild yang waktu itu naik daun dengan iklan “Bukaaaan basa-basi!”. Kadang kukombinasikanlah ia dengan Dji Sam Soe kretek atau Marlboro Merah. Awalnya aku sebenarnya tak terlalu suka Marlboro tapi akhirnya suka karena sering beli langsung dari mbak-mbak SPG nya yang cantik-cantik itu! Tapi kalau tanggal tua, larinya tetep ke eceran Gudang Garam Filter sih. Itupun kadang ngutang ke warung rokok depan kantor, “Catet sik ya! Tak bayar ‘suk nek bar gajian!”

    Atas kehendak Tuhan, aku akhirnya berhenti merokok pada 14 Oktober 2005. Sesuatu yang tak pernah kurencanakan bahkan hingga beberapa jam sebelumnya. Kisahnya bisa kalian baca di Superblogger.ID. Hingga tulisan ini kurawi, dua puluh tahun kemudian, tak sehisapan rokok pun pernah kunikmati lagi.

    Papa masih bertahan merokok hingga di menit akhir ia hidup dalam kesadaran, dinihari tanggal 5 April 2011. Sebatang rokok ditemukan masih menyala menggantung di bibir asbak di meja depan tivi saat Chitra, adikku, dan Mama mendapatinya terserang stroke. Sehari kemudian Papa berpulang.

    Mama pun demikian. Masih bertahan merokok hingga sebelum dokter memberitahu kami diam-diam bahwa ada benjolan di paru-paru Mama, pada pertengahan 2015, setahun sebelum ia akhirnya berpulang juga untuk selamanya…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.

  • Ikut Seni Beladiri

    Ikut Seni Beladiri

    Bagi Papa, maskulinitas itu mungkin dipandang dari seberani apa kamu untuk berkelahi dengan sesama lelaki, dan di matanya, aku tidak ada dalam level yang ia inginkan. Sejak kecil, aku selalu kalah dalam berkelahi. Pernah  menang, aku berhasil memukul jatuh lawan tapi aku yang kemudian nangis ketakutan. Gimana kalau mati? Gimana kalau aku dipenjara? Pernah juga suatu kali aku pulang dalam keadaan menangis dengan luka berdarah di pipi. Saking gregetannya, Papa menggenggamkanku sebilah pisau lalu bilang, “Balik sana! Bales!” Tapi aku malah semakin gemetar tak berkutik dan menangis lebih keras…

    Aku bisa mengerti pandangannya ini. Tujuannya toh baik. Bukan untuk mendidik anaknya jadi seorang bajingan tapi lebih untuk membuatku tegar dan tahu apa yang harus kulakukan ketika menghadapi situasi dan kondisi yang tidak kuinginkan. 

    Maka, di awal tahun 1991, setelah luka sunatku sembuh (oh satu lagi, sunat juga dianggap sebagai simbol maskulinitas baginya), Papa memintaku untuk ikut komunitas beladiri. Ikut beladiri adalah jalan pintas untuk membuatku lebih maskulin, anggapnya. Hasilnya? Kalian akan lihat dalam bacaan ini.

    Awalnya aku mau ikut karate karena kedua om-ku, Om Momok dan Om Kokok pernah ikut karate lalu tiba-tiba ingin judo karena Tupon pernah ikut judo tapi Papa dan Mama melarang. “Kalau kamu kebanting nanti otakmu takutnya tergoncang dan jadi bodoh…” Hehehe… aku manut aja…

    Suatu saat, ketika main ke rumah seorang teman di Jl Sarbini, aku mampir menyambangi Gedung Bhayangkara. Gedung Bhayangkara adalah gedung pertemuan yang ketahuan dari namanya berada di kompleks tangsi polisi. Di kaca depan gedung tersebut, aku melihat sebuah brosur tentang perekrutan anggota beladiri Shorinji Kempo namanya.

    Asing. Tak pernah dengar sebelumnya tapi aku tertarik entah kenapa.

    Sesampainya di rumah aku menyatakan ketertarikanku itu kepada Papa dan Mama dan mereka nurut saja. Mungkin dalam hati mereka berujar “Ya udah deh, daripada tidak sama sekali!” Tapi Papa pada akhirnya benar-benar tertarik dengan ideku setelah ia tahu Ek, sepupu kawanku SMP, almh Rinawati, empunya warung tempat Papa berlangganan beli rokok juga ikut Kempo. “Tadi aku udah bilang ke Ek kalau kamu mau ikut Kempo dan dia mau jagain kamu di sana!”

    Ek ini mendapat tempat spesial di hati Papa. Waktu itu Ek masih SMA, pawakannya tinggi langsing tapi berotot macam Bruce Lee. Tiap pagi dan sore, Ek selalu berjalan kaki dengan langkah cepat dan tegap lewat depan rumah ke terminal untuk bersekolah ke Prembun, kecamatan terluar di sisi timur Kebumen. Papa mengagumi Ek sebagai cowok yang pemberani dan masuk dalam kategori maskulinitas yang ia maui.

    Latihan Kempo diadakan setiap hari Kamis sore seingatku. Dengan bersepeda aku mengikuti latihan dan tak dinyana aku suka. Gerakan-gerakannya menurutku mudah diikuti dan para kakak angkatan yang menjadi pelatih banyak memuji keluwesanku. Ketika ujian naik level, beberapa kali aku mendapatkan predikat kenshi terbaik dan ini membuatku semakin semangat.

    Merchandise Kempo seperti stickers, buku serta poster pun banyak kubeli. Kamar tak lagi hanya kuisi dengan poster grup musik metal tapi juga kusandingkan kini dengan beberapa poster dan sticker Kempo. Bahkan di kaca rumah bagian depan bertengger sticker logo Kempo untuk menandakan bahwa pemilik rumah itu ikut Kempo.

    Rasa bangga ini mau-tak-mau kemudian menaikkan level kepercayaan diriku. Di depan teman-teman SMP aku selalu bercerita tentang kempo. Kadang di sela jam istirahat, aku mempraktekkan teknik kuncian dengan meminjam tangan teman. Ketika mereka terjatuh dan kesakitan aku tertawa terbahak-bahak. Di waktu lain aku tiba-tiba melakukan gerakan split di antara kursi kelas meniru apa yang dilakukan Van Damme dalam film Bloodsport yang sedang sangat terkenal waktu itu. Rupanya hal ini mengundang perhatian banyak orang termasuk Dr, teman sekelasku. 

    Ia datang kepadaku lalu bertanya “Don, kamu ikut Kempo ya?” tanyanya dengan santun.

    “Iya. Kamu mau ikut juga?” jawabku dengan nada sengak.

    Dr tersenyum lalu menjawab “Ah, enggak. Aku ikut pencak silat di sekolah…”

    “Don… kamu mau nggak, nanti setelah aku naik sabuk kuning, kita duel yuk?!” Dr mengatakannya tetap dengan santun. Aku dengan otomatis menjawab, “Ayo, kenapa nggak?” mataku menyiratkan keberanian meski tanpa kusadari keringat dingin keluar dari telapak tanganku. Duel? Berantem? Apa aku siap?

    Tiba-tiba hatiku mengecil, percaya diriku redup. 

    Aku menceritakan hal itu kepada teman-teman satu genk. “Eh, aku ditantang Dr untuk duel enam bulan lagi sesudah dia naik ke sabuk kuning!” Harapanku waktu itu, mereka akan mendatangi Dr untuk meneror sehingga rencananya gagal tapi yang terjadi malah sebaliknya. Mereka menyemangatiku untuk duel dan siap menjadi wasit, “Ya udah nanti kita bikin duelnya di belakang SMP Pius aja… Mau pake senjata atau tangan kosong, Don?” SMP Pius letaknya di Jl Pahlawan. Entah kenapa, halaman belakang sekolah itu sering dijadikan duel antar anak-anak dan remaja mungkin karena letaknya jauh dari jalan besar.

    Sejak saat itu, guliran waktu terasa begitu menyakitkanku. Setiap malam aku tak bisa menghapus ingatanku pada wajah Dr. Badannya gempal berotot. Duh, kalau dia nendang perutku pasti sakit banget! Kalau kepalannya sampai di rahang dan pelipisku, pasti aku terjengkang dibuatnya. Kalau aku kalah, teman-teman se-genk pasti akan menertawakanku!

    Tapi aku belum menyerah.

    Aku mempersiapkan diri. Bercerita pada kakak-kakak angkatanku di Kempo, termasuk Ek, dan sama dengan teman-teman satu genk-ku mereka menyemangatiku.

    Ek mengajarkan teknik duel kepadaku termasuk gimmick-gimmick yang perlu dilakukan untuk membuat lawan jatuh dalam sekali-dua kali pukul dan tendangan.

    Menjelang sebulan sebelum perhitungan untuk duel, aku semakin panik.

    Aku merasa gagal untuk menjadi seorang pemberani yang dalam bahasa Papaku menjadi seorang yang maskulin. Padahal ikut Kempo, padahal jadi kenshi terbaik, padahal rumahnya sudah penuh dengan sticker dan atribut kempo tapi kok mental masih setempe ini?

    Sekitar lima hari sebelum tanggal yang ditentukan, pada sebuah jam istirahat aku mendekati Dr di bangkunya, “Eh, kita batalin aja yuk duel kita atau kita undur gitu?!” ujarku.

    Dr kaget dan dengan senyum penuh santun ia bertanya, “Lho kenapa, Don?”

    Aku bikin alasan mengada-ada, “Kakiku tuh lagi sakit karena kemarin nendang terlalu keras waktu latihan…”

    Dr manggut-manggut. Ia duduk di depanku dan memegang kakiku lalu bilang, “Mau kupijet biar sembuh? Di Pencak Silat diajerin juga soalnya…”

    Aku terdiam dan malu lalu beringsut pergi dengan pura-pura pincang menjauhi…

    Maskulinitas sejak saat itu mendapatkan arti yang berbeda dalam benakku.

    Dr adalah contoh orang yang maskulin. Ia bisa bersikap keras tapi pembawaannya tetap lembut. Aku yakin saat itu Dr pun tahu aku ketakutan menghadapi tantangannya tapi ia tak merasa perlu untuk lebih memojokkanku apalagi mengabarkan pada publik bahwa aku membatalkan rencana duel itu. Hingga kelas 2 SMA, aku menggeluti Kempo.

    Sekitar tiga tahun lalu aku bertemu dengan Ek di social media.

    Ia sekarang sudah tinggal di Amerika Serikat. Dalam sebuah percakapan yang intens aku bilang kepadanya, “Dulu Papaku sangat mengidolakan kamu. Dia pengen aku jadi sepemberani kamu tapi aku gak pernah bisa dan mampu…”

    Dia menjawab, “Papamu pengen kamu jadi tukang gelut?! Padahal buatku ketika kamu berani pindah ke Australia jauh dari orang tua dan bekerja banting tulang untuk keluarga, itu kamu udah jadi orang yang berani, Don…”

    Mataku sebak berkaca membaca tulisan Ek waktu itu. Andai Papa masih ada, mungkin aku akan rekam layar percakapan itu dan kukirimkan via WA.. Andai saja…

    *Tentang Kebumen adalah serial tulisan yang menceritakan pengalaman hidupku selama hidup di Kebumen, Jawa Tengah pada periode waktu 1984 – 1993.