Zaman now, zaman edan?

17 Nov 2017 | Kabar Baik

Barangsiapa berusaha memelihara nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya, dan barangsiapa kehilangan nyawanya, ia akan menyelamatkannya.
(Lukas 17:33)

Hanya orang yang mengikuti kebenaran yang akan diselamatkan pada hari kedatanganNya.

Kira-kira begitulah yang digambarkan Yesus hari ini tentang bagaimana kelak Ia akan datang kedua kalinya sebagai Raja Agung.

Dalam sisi personifikasi, Ia membawa dua contoh, Nabi Nuh dan istri Lot yang konon bernama Edith.

Nabi Nuh adalah nabi yang mendengarkan suara Allah tentang akan datangnya air bah. Ia mempercayai hal itu lantas mulai membangun bahtera meski orang-orang sekelilingnya menganggap hal itu sebuah kegilaan. Dan ketika air bah benar-benar datang, Nabi Nuh pun diselamatkan.

Edith adalah contoh sebaliknya. Sikap Edith yang menoleh ke belakang saat kota Sodom dihancurkan Tuhan adalah lambang ketidakbisaannya meninggalkan keduniawian. Ia pun diubah menjadi patung garam.

Menjadi orang benar adalah dengan cara setia pada ajaranNya sekaligus tak mau lekat pada keduniawian yang menjerat.

Melihat dunia zaman now kadang menimbulkan rasa prihatin yang luar biasa.

Demi gengsi dan supremasi dunia, orang-orang berubah jadi musang meski kadang berbulu domba. Mereka tak tahu malu, sikut-sikutan untuk bisa jadi yang pemenang. Aturan (dan tiang listrik) pun ditabrak bahkan nilai-nilai suci agama dimanipulasi untuk bisa meraih jabatan dan duduk di kursi empuk pimpinan pemerintahan.

Yang lebih memprihatinkan lagi, ketika kita mencoba untuk tidak ikut-ikutan, kita justru yang dianggap ketinggalan jaman.

Seperti seorang pegawai kelas rendahan yang diprotes istrinya karena terlalu jujur dan protes karena tak kunjung kaya. ?Kamu harus ikut kayak teman-temanmu yang lain, Pak! Nyolong-nyolong dikit nggak papalah? kalau enggak kapan kita bisa hidup enak dan kaya??

Tentu berat dan tidak mudah. Masing-masing dari kita memiliki pergumulan yang berbeda. Aku jadi teringat pada apa yang pernah ditulis R Ng Rangga Warsita, seorang pujangga besar Jawa yang dimakamkan di kota kelahiranku, Klaten, Jawa tengah sana.

Apa yang ditulisnya dalam Serat Kalatida yang terkenal itu kiranya selaras dengan bagaimana kita harus mempersiapkan diri bukan saja menghadapi akhir jaman tapi juga hidup sehari-hari.

amenangi zaman edan,
?wuhaya ing pambudi,
m?lu ng?dan nora tahan,
y?n tan m?lu anglakoni,
boya keduman m?lik,
kaliren wekasanipun,
ndilalah kersa Allah,
begja-begjaning kang lali,
luwih begja kang ?ling klawan waspada.

yang artinya,

menyaksikan zaman gila,
serba susah dalam bertindak,
ikut gila tidak akan tahan,
tapi kalau tidak mengikuti (gila),
tidak akan mendapat bagian,
kelaparan pada akhirnya,
namun telah menjadi kehendak Allah,
sebahagia-bahagianya orang yang lalai,
akan lebih bahagia orang yang tetap ingat dan waspada.

Jadi mari kita selalu ingat dan waspada di zaman edan ini sehingga ketika waktuNya tiba, kita tahu di sisi mana kita akan ditempatkanNya.

Sydney, 17 November 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.