Zakir Naik, Apologetika dan Mempertahankan Iman

6 Apr 2017 | Cetusan

Akhirnya aku memutuskan untuk merilis tulisan setelah beberapa kawan bertanya kenapa aku tak kunjung mengomentari Zakir Naik yang sedang berkunjung dan ‘naik daun’ di Indonesia hari-hari ini.

Kebetulan juga, tadi pagi di atas kereta saat berangkat kerja, aku menemukan tulisan menarik dari Ulil Abshar Abdalla, tokoh pemikir NU, di Facebook menyoal apologetika, Zakir Naik dan Ahmad?Deedat. Kalau kalian punya waktu aku menyarankan untuk membaca tulisannya saat ini juga ketimbang menghabiskan waktu di sini karena dibandingkan dengan guratannya Ulil, apalah arti larik-larik kata seorang DV?

Membaca ulang dan mendengar istilah apologetika membuatku teringat dan terlempar pada sebuah masa silam yang jauhnya sekitar sepuluh tahun dari sekarang. Ketika itu aku tertarik untuk menjadi seorang apologetik, seorang yang mempertahankan iman Katolik dengan bekal pengetahuan terhadap keimanan itu sendiri.

Ada tiga alasan kenapa aku memutuskan untuk belajar.

Yang pertama dan yang paling tak masuk akal adalah, istilah apologetika itu seksi sekali! Setiap dengar kata ‘Apolo’ aku jadi ingat Apollo 11 yang konon katanya sampai ke Bulan dan… aha, apalagi kalau bukan Si Cantik Apollonia Vitelli dalam Godfather 1. Penampilannya hanya sebentar karena tak seberapa lama setelah diperistri Michael Corleone, Ia mati kena bom mobil saat sedang belajar nyetir di Sicilia. Ya, tepat ingatanmu, ada adegan telanjang si Apollonia dalam film itu. Seronok ya? Hahaha!

zakir naik

Yang kedua adalah supaya aku tampak lebih pintar lagi. Bukan hanya Donny yang jago IT dan jago main musik, tapi Donny yang juga jago ngoceh soal agama, soal apologetika! Sounds great huh?

Tapi yang ketiga mungkin adalah yang paling penting dan terdengar realistis. Waktu itu aku merasa prihatin dengan begitu banyak orang-orang Katolik muda yang berpindah iman dengan gampang dan siapa tahu apologetika adalah jawaban untuk mengatasinya. Yang kubayangkan, kalau aku bisa membantu kawan-kawan Katolik yang hendak menyebrang agama dan membuat mereka ‘kembali ke Roma’ dengan ‘rumus-rumus’ apologetika yang kubawa, kan kedengarannya heroik banget?

Meski akhirnya pemahaman itu ternyata salah kaprah. Orang-orang Katolik pindah agama bukan karena tak bisa mempertahankan iman mereka tapi karena sebagian tunduk takluk pada buaian calon istri/suami yang menghendaki untuk memilih simalakama, “Pilih mana? Agama atau saya?” Lalu karena mereka memilih pasangannya maka mereka pun menurut untuk ikut agama pasangannya juga sehingga mau di-apologetik-an sampai ke Bulan pun ya mana mau ia meninggalkan pasangannya, kan?

Lalu apa dan bagaimana kiprahku dulu untuk belajar menjadi seorang apologetik? Aku ikut kursus-kursus kitab suci lalu melanjutkannya dengan usaha mandiri bergabung pada diskusi-diskusi online yang ber-genre apologetika Katolik tentu saja.

Dalam forum-forum online itu kami membedah buku, menguliti tulisan dan menelan diskusi demi diskusi tentang iman dan tentang bagaimana iman harus dipertahankan. Lalu ketika dirasa sudah cukup ‘beramunisi’, kami terjun ke diskusi lintas iman online yang kadang dalam praktiknya benar-benar jauh dari diskusi dan lebih mengarah ke debat brutal dan tak mempedulikan lagi asas-asas baik di dalamnya.

Hingga sekitar tiga tahun lamanya, tiba-tiba aku merasa ada yang berubah dalam diri. Wawasan tentang agama memang terbuka, keterbukaanku tentang spiritualitas bertambah, tapi ada satu pertanyaan awal yang bermain-main di benak, Adakah aku telah membela iman ketika berapologetika? Ataukah, justru sebenarnya aku hanya membela teks yang kuanggap sebagai imanku? Apakah iman itu?

Itu semua kurang menohok hingga akhirnya suatu saat aku diberitahu oleh kawan sepelayanan di Gereja bahwa ada seorang ibu dan keluarganya yang harus dibantu secara ekonomi. Secara spontan, pertanyaanku balik kepadanya adalah, “Dia Katolik?”

Kawanku menggeleng dan aku mengangkat bahu. Saat bahuku terangkat, saat itulah aku merasa terjatuh hingga ke dasaran! Aku merasa telah salah membela iman meski mungkin juga aku telah membela iman yang salah!

Membela Iman Kristiani adalah melestarikan budaya pikir dan kehendak Yesus Sang Maha Kasih! Nah, kalau aku harus menanyakan terlebih dahulu apa agama orang yang hendak kutolong, apakah kasihNya bisa kulestarikan apalagi kupertahankan dengan cara-cara konyol seperti itu?

Sejak saat itu aku mulai mundur teratur dari diskusi-diskusi apologetika. Beberapa orang yang bertanya tentang hal-hal keimanan kujawab dengan hal-hal yang tak semestinya diberikan oleh ‘seorang apologetik’. Jawabanku tak lagi ‘taktis’, tak lagi ‘eksak’ nan menohok tapi lebih banyak menggunakan kata, “Hmmm, tergantung bagaimana kamu memahaminya…” atau “Tergantung sikaplah!” Padahal dua hal itu, utamanya penggunakan kata ‘tergantung’ adalah hal pelik yang paling dihindari ketika sedang ‘berapologetika’ karena itu berarti membuka celah lawan untuk memasukkan opini-opininya.

Titik dimana akhirnya aku benar-benar berhenti dari grup apologetika adalah momentum saat Jorge Mario Bergoglio diangkat menjadi Paus Fransiskus pada 2013. Paus yang lantas banyak mengusung semangat keterbukaan dan menerima perbedaan itu memberikan imbas positif bagiku untuk lebih mempertahankan iman dan bukannya mempertahankan teks yang melukiskan iman.

Hingga kini, setelah aku tak lagi belajar menjadi seorang apologetik, aku toh tetap merasa mempertahankan iman dengan cara-cara ‘offline’ yang tak perlu di-‘on air’ kan. Mempertahankan iman dengan tak menganggap orang lain sebagai lawan tapi justru melawan kehendak diri sendiri yang kadang tak ingin mempertahankan iman secara nyata. Demikian.

Don, errrrr…lalu inti tulisanmu tentang Zakir Naik apa??Ya nggak ada… karena tak semuanya harus dicari intinya, kan?

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. aku gak ngerti tulisannya Ulil… mungkin aku perlu banyak ngopi…

    Balas
  2. Masha Allah brother, now follow me brother

    Balas
  3. Okelah ust DV,setidaknya aku paham apa yg kau maksud. Tengss brow….

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.