Yusuf dan keputusannya untuk tidak populer di mata dunia

18 Des 2018 | Kabar Baik

Bicara tentang kelahiran Yesus yang sebentar lagi akan kita peringati, hal yang kadang mengular dalam benak adalah sebuah tanya, bagaimana perasaan Yusuf ketika mengetahui bahwa Maria, tunangannya hamil ya?

Sebagai manusia biasa, Yusuf tentu awalnya terguncang. Bahkan, karena tak ingin mempermalukan Maria di depan publik, tukang kayu itu berpikir untuk meninggalkannya secara diam-diam.

Namun di tengah kebimbangan, malaikat Tuhan meyakinkan Yusuf lewat mimpi. Bahwa Maria, calon istrinya itu mengandung anak dari Roh Kudus dan melalui Anak itu kelak dunia diselamatkan dari dosa! (lih. Matius 1:20-21).

Segera sesudah bangun, Yusuf pun berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan kepadanya, Ia menikahi Maria.

Setiap orang dari kita mengenal apa yang kuistilahkan sebagai tonggak kehidupan dan bagiku, momentum dimana Yusuf memutuskan untuk menuruti perintah malaikat Tuhan itu adalah salah satu tonggak kehidupannya.

Yusuf, sebagaimana Maria, pasti punya segudang mimpi indah tentang bagaimana mahligai perkawinannya kelak. Hidup tenang dan damai, beranak banyak, bekerja dan membesarkan anak hingga tua, menimang cucu hingga akhir.

Tapi hal itu tak dimiliki Yusuf. Ia mengorbankan hidup dan impian-impiannya demi kesetiaan pada Tuhan yang memeliharanya. Tentu tak mudah! Tapi itulah pilihan dan keputusan! Keempat penulis Injil sangat sedikit menuliskan kisah hidup Yusuf sesudah kelahiran Yesus.  Kapan ia mati pun tak tertuliskan tapi hal itu tak penting lagi baginya karena sejak awal ia memang sadar resiko atas hidup yang dipilihnya.

Bagaimana dengan kita?

Seberani apa kita untuk menyerahkan hidup kepadaNya melalui tugas-tugas yang diamanatkan Tuhan kepada kita?

Aku adalah orang yang begitu mencintai musik.

Sekitar tiga bulan yang lalu, aku ditawari untuk terlibat dalam mempersiapkan sebuah pentas musik bersama seorang musisi senior Tanah Air yang kini hidup di Sydney. 

Latihan demi latihan digelar setiap minggu sore dihadiri oleh beberapa kawan seniman lainnya. Lagu-lagu kami ciptakan dan mainkan bersama-sama dan aku begitu larut menikmati proses tersebut. Hingga akhirnya aku tersadar dan memberanikan diri untuk bertanya dalam diri sendiri, ?Inikah tugas pelayanan dalam hidupku??

Apa yang kucari? Popularitas? Kepuasan diri sendiri? Lalu bagaimana dengan anak-anak dan istriku? Adakah mereka juga menikmati apa yang kunikmati? 

Aku lantas berdiskusi dengan istri dan tak lama kemudian atas kesadaran diri aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari tim tersebut. Alasanku  sederhana, dari senin hingga jumat aku sibuk dengan pekerjaanku. Kapan lagi aku bisa meluangkan waktu bersama Tuhan dan keluarga kalau bukan di Sabtu dan Minggu?

Aku tak mau kehilangan kesempatan untuk lebih banyak lagi mengenal, mencintai dan dicintai keluarga. Untuk itu aku tak takut kehilangan kesempatan untuk setidaknya lebih dikenal dari sekarang karena karya dan penampilan-penampilanku di atas panggung tahun depan. 

Berat untuk memutuskan? Berat bahkan untuk menjalaninya! Tapi biarlah aku kehilangan panggung saat ini siapa tahu ada kesempatan di lain waktu. Kalaupun tak ada, satu hal yang kupercaya dan kunanti dengan setia, Seorang Yang Kupercaya nantinya akan mempresentasikan dengan bangga di hadapan BapaNya tentang kiprah hidup dan keputusan-keputusan yang pernah kubuat selama hidup di dunia ini. Dan orang itu adalah? Yesus yang sebentar lagi kita hormati hari lahirnya.

Sydney, 18 Desember 2018

Jangan lupa isi Survey Kabar Baik 2018. Hasil isian kalian dalam survey tersebut sangat mempengaruhi bagaimana pola tulisan dan distribusi renungan Kabar Baik ini akan berkelanjutan. Klik di sini untuk informasi selengkapnya!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.