Yang tidak melawan, ia ada di pihak kita!

25 Mar 2019 | Kabar Baik

Andai aku diberi kemampuan untuk mengatur waktu, yang ingin kulakukan saat ini adalah skip atau melompati waktu hingga selesainya urusan Pilpres 2019 ini!

Kuyakin aku bukan orang pertama yang punya pikiran seperti itu. Pilpres adalah hal yang patut disyukuri demi masa depan bangsa yang cerah tapi friksi yang terjadi antar-pendukung pasangan calon hingga saat ini begitu lebar dan dalam hanya karena berbeda pilihan.

Beberapa hari yang lalu, kawanku mengadu tentang seorang kawan lainnya yang menurutnya telah berbuat keanehan; mendukung ?paslon sebelah?.

?Lho, kenapa aneh??

?Ya aneh! Kan dia seharusnya udah tahu paslon sebelah itu seperti apa? tapi kok ya masih dipilih!?

Awalnya kupikir kawan tadi becanda. tapi ternyata tidak! Ia bahkan sudah memutuskan tali perkawanan di Facebook dan nge-block akun WA segala!

Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita

Hal ini mengingatkanku pada Yohanes. Murid kesayangan Yesus itu melaporkan pada Sang Guru tentang orang yang dilihatnya mengusir setan demi namaNya padahal ia bukan murid Yesus.

Yesus melarang Yohanes dan para murid lain untuk bertindak terhadap orang tersebut. BagiNya, ?Barangsiapa tidak melawan kita, ia ada di pihak kita.? (lih. Markus 9:40)

Mari pahami betul-betul perkataan Yesus itu. Tidak melawan berarti sepihak!

Bagaimana dengan dua paslon Pilpres? Adakah keduanya memiliki posisi yang berlawanan?

Jika saling berlawanan, maka kalau paslon A bertujuan untuk melakukan pembangunan terhadap bangsa dan negara maka paslon B harusnya bertujuan untuk menghancurkannya karena menghancurkan adalah lawan kata dari pembangunan.

Nyatanya kan tidak! 

Kedua paslon punya tujuan yang hampir sama yaitu membuat bangsa dan negara kian maju dan rakyatnya pun sejahtera!  Maka sebenarnya yang terjadi, kita ini tidak melawan mereka. Kita sepihak dengan mereka, menginginkan bangsa dan negara ini maju. Hanya caranya yang berbeda dan perbedaan cara tak mengundang kita untuk saling berlawanan!

Barangsiapa tak di pihak kita, ia adalah lawan kita!

Kecuali kalau memang kita menggunakan paradigma pikir ?Barangsiapa tak di pihak kita, ia adalah lawan kita!? Tidak sepihak berarti lawan!

Jika demikian sah-sah saja kalau kawanku tadi menganggap kawan lain yang tak sepihak dalam pemilihan presiden menjadi lawan.  Baginya asal tak sepihak otomatis jadi lawan.

Tapi kalau begitu, siapa yang sejatinya benar-benar sepihak dengan kita?  Bahkan yang kita pikir sama-sama memilih paslon yang sama pun kan pasti ada perbedaan satu dengan lainnya? Jika demikian lantas ada berapa banyak lawan yang akan kita ciptakan hanya karena tak sepihak?

Sydney, 25 Maret 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.