Kali ini, mari kita ngobrol yang ringan-ringan saja, soal fashion.
Kita awali dengan satu pernyataan bahwa salah satu hal menarik yang bisa disimpulkan dari hubungan kisah Adam dan Hawa dengan peradaban adalah, sejak mereka jatuh ke dalam dosa, Tuhan mengimbuhkan rasa malu dan oleh karena itulah mereka berpakaian sejak saat itu untuk menutupi kemaluan mereka.
Namun kini, lebih dari sekadar itu, pakaian bagi sebagian orang juga dipandang mampu menentukan harkat dan menjadi parameter kualitas hidup seseorang dari yang lain dalam pergaulan kesehariannya.
Tapi konsep pemikiran seperti itu, di Australia sini kurang begitu laku. Orang-orang di sini rata-rata tak terlalu peduli pada penampilan orang lain; atau setidaknya hal itu (fashion) tidak akan menjadi dasar untuk seseorang berinteraksi dengan sesamanya.
Terkait denganku, aku bukanlah tipe orang yang ‘mudah cocok’ dalam hal fashion.
Dulu, ada suatu masa dimana aku merasa bahwa fashion adalah segala-galanya. Semua barang yang kupakai mulai dari ujung kaki hingga kepala haruslah bermerk dan mahal. Tapi seiring berjalannya waktu dan mendapati kenyataan yang demikian di Australia, orientasiku pun berubah!
Sekarang, aku membeli pakaian mahal dan bermerk ketika aku memang butuh membeli sesuatu yang bagus dan awet serta tahan lama.
Katakanlah jas.
Aku tak sungkan untuk membeli jas yang mahal sekalian karena aku tahu aku harus mengenakan jas yang bagus potongannya dan bahannya serta awet. Tapi untuk urusan kemeja kerja sehari-hari (kadang aku kerja pakai jas tapi tak selalu), aku memilih membeli yang murah-meriah. Kenapa, karena kemeja kantor adalah pakaian yang sangat kerap dipakai, tak menjadi perhatian utama (apalagi kalau dipadu dengan jas, akan tenggelam dibalik jas dan dasi) dan tak memerlukan detail untuk kualitasnya.
Lalu, jeans.
Aku sepakat dengan pendapat Momon, sahabat blog yang kukagumi tulisannya itu. Suatu waktu ia pernah berkata “Orang keren harus punya jeans yang keren juga!” Nah, untuk itu aku tak sungkan untuk membeli jeans yang bagus sekaligus awet karena aku merasa aku adalah ‘orang keren’ :)
Tapi untuk kaos oblong yang dipakai untuk kerja hari jumat ataupun akhir pekan, aku tak lagi memilih untuk beli kaos bermerk yang mahal-mahal. Aku memilih kaos obralan yang dijual tak sampai 10 dollar (untuk ukuran sini sudah sangat murah) dan kukenakan begitu saja.
Alasannya, sama dengan pakaian kantor, selain tak ada yang memperhatikan, sekalinya bosan, ketika membuang tak sampai sakit hati untuk melakukannya karena murah.
Barang ketiga yang kuikhlaskan jika harus kubeli dengan harga lumayan mahal adalah sepatu. Sama halnya dengan jas dan jeans, sepatu haruslah kuat dan tahan lama. Ganti-ganti sepatu selain tak bagus diongkos, apakah kalian juga punya pengalaman sama denganku yaitu ketika harus mengganti baru, kaki kalian akan lecet-lecet pada awalnya?
Tapi untuk kaos kaki, singlet dan celana dalam, aku tak pernah membeli barang yang terlalu mahal. Malah sebaliknya, semakin murah yang kudapat, semakin bangga rasanya.
Barang terakhir yang bole kubilang rela untuk kubeli mahal adalah sabuk. Aku memilih membeli sabuk yang berkualitas bagus sekalian dan bisa kupakai hingga tahunan. Alasannya jelas, daripada gonta-ganti yang kualitasnya buruk, mending beli sekali lalu sudah… :)
Perpaduan barang-barang mahal dan murah pada akhirnya menjadi keseharianku. Hasilnya? Aku tak pernah merasa tak tampan ataupun terganggu ketampananku karena pakaian yang kukenakan hahahaha!
Resepnya? Simak berikut di bawah ini lalu praktekkan!
Pertama, pagi hari sebelum mengenakan pakaian apapun, bercerminlah di kaca lalu yakinkan dirimu bahwa apapun yang hendak kau pakai hari itu, kau akan tampak setidaknya sama-sama tampan/cantiknya dengan hari lalu. Jadi, jangan pikir yang mahal atau yang murah dulu, pikirkanlah, apapun itu dan reaksinya terhadap ketampanan/kecantikanmu :)
Kedua, kamu harus tahu bahwa pakaian, sebagus apapun yang kamu pakai kalau jiwamu tak mencerminkan sebuah kebahagiaan dan kemapanan, semua akan hilang begitu saja.
Kalian ingat Steve Jobs? Pernah lihat dia pake kaos selain kaos warna hitam dan celana jeans biru dan sepatu kets di tahun-tahun terakhir hidupnya?
Ia berpenampilan sederhana… sesederhana itu, tapi kita melihatnya sebagai seorang yang ‘wah’ karena jiwa dan kepiawaiannya dalam karier berbicara sangat lebih banyak ketimbang pakaian yang ia kenakan.
Lalu yang ketiga… tanamkan dalam dirimu bahwa berpakaian harus memuat misi bahwa setidaknya ia tidak akan melukai orang lain termasuk melukai pandangan orang lain.
Maksudku, jangan kamu pakai pakaian yang kontrasnya bikin orang lain ‘ilfil’ karena kalau demikian alih-alih kamu merebut hati orang, yang ada kamu justru dijauhi orang lain. Aku tak bisa menyebut seperti apa kriteria pakaian yang ‘melukai pandangan orang lain’ tapi kenalilah lingkunganmu.
Misal kamu hadir di lingkungan orang muda yang menggelar acara di tepi pantai. Tentu kurang pas kalau kamu datang mengenakan jas atau waktu kamu hadir di lingkungan agama, tentu tak elok kalo kamu hanya pake tank top saja.
Keselarasan kita dengan lingkungan dan sejauh mana cara berpakaian kita tak menimbulkan ‘pergunjingan’ orang lain saja menurutku setidaknya sudah ‘menyelamatkan’ muka ketimbang ribut mikir mana yang mahal dan menyingkirkan yang murah untuk dikenakna.
Nah lalu yang terakhir, dan kupikir yang terpenting adalah, aku percaya setiap manusia memiliki style dalam hal apapun termasuk dalam hal berpakaian. Menurutku, orang berpikir tentang style terlebih dahulu baru kemudian mengimplementasikannya ke dalam fashion yang sesuai. Dengan demikian, semurah apapun itu, selama pakaian masuk dalam style kita, harusnya hal itu tak menjadi soal. Dan bukan yang sebaliknya, style yang mengikuti fashion. Karena kalau demikian adanya, hingga akhir dunia pun, kau tak kan pernah puas untuk mengumbar nafsu dan uang dalam hal yang akan selalu berganti waktu demi waktu: fashion.
So, tentukan style-mu!
Style is a very personal. It has nothing to do with fashion. Fashion is over very quickly. Style is forever.
(Ralph Lauren)
Tinggalkan Balasan