Yakin masuk surga?

9 Mei 2019 | Kabar Baik

Renungan Kabar Baik hari ini kumulai dengan satu pertanyaan yang semoga ringan untuk dijawab, ?Dengan caramu hidup dan beriman sekarang ini, yakinkah kamu bahwa setelah mati nanti kamu pasti akan masuk surga??

Jika kamu yakin masuk atau yakin tak masuk, menurutku kamu adalah orang yang punya kepercayaan diri luar biasa. Aku tak yakin bahwa jika hanya bergantung pada cara hidup dan caraku beriman saja maka aku akan masuk surga.

Yakin-nggak yakin masuk surga?

Waduh! Kalau kamu nggak yakin kenapa kamu tiap hari menulis renungan Kabar Baik, DV?

Cara hidup dan cara beriman adalah usaha. Tapi yang menentukan apakah aku berhak diterima di Surga atau tidak adalah Tuhan sendiri. Setiap orang perlu ?tarikan? dari Bapa seperti yang dikatakan AnakNya berikut ini, 

?Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku? (lih. Yohanes 6:44)

Tapi bukankah kita yang sudah dibaptis ini berarti sudah ditarik olehNya?

Benar! Tapi tak lantas kita ini otomatis masuk surga karena meski sudah ditarik, dosa dan kelemahan membuat kita berjarak dariNya lalu kita memutuskan untuk melepaskan tarikan itu. Selama kita berbuat dosa, selama itu pula kita tak bisa memastikan bahwa setelah mati seseorang pasti masuk surga!

Kalau sudah berusaha tapi tetap tak yakin bisa masuk surga, kenapa tidak lebih baik tak berusaha dan menikmati dunia, Bos?

A-ha! Pertanyaan seperti itu kerap muncul dan untuk sejenak terkadang diri ini tergoda untuk menyepakati pendapat itu.

Kalau hidup ini tak kan berlanjut sesudah kematian, barangkali aku akan memilih hal yang sama, menikmati dunia hingga ke dasar-dasarnya. Tapi aku tak bisa untuk tak percaya bahwa sesudah hidup di dunia ini akan ada kehidupan lanjutan semata karena hal itu adalah bagian dari kepercayaanku kepadaNya.

Tiga hal penting

Maka yang terpenting adalah tiga  hal.

Pertama berusaha percaya kepada Yang Datang Dari Allah yaitu Yesus Kristus sendiri. Usaha itu harus tampak dalam kita mengusahakan hidup sehari-hari. Bagaimana kita berinteraksi dengan sesama, bagaimana kita teguh dan taat menjalani aturan-aturanNya. Apakah kepercayaan itu tak cukup hanya dengan ditunjukkan bahwa dalam kolom agama di KTP tertulis ?Katolik?? Tak cukup jugakah dengan kita rajin ke Gereja dan persekutuan doa?

Tidak. Kepercayaan harus mendarah daging. Usaha yang dilakukan dalam hidup sehari-hari adalah cerminan sudah seberapa jauh kita percaya kepadaNya.

Kedua, merendahkan diri di hadapanNya. Sekuat-kuatnya usaha kalau kita tak bisa merendahkan diri maka kita tak kan diselamatkan. Hal ini sejatinya sangat berat. Aku kerap merasakannya. Sebagai orang yang setiap hari menulis dan mempublikasikan renungan Kabar Baik, tantangan untuk menjadi sombong itu luar biasa besarnya! Setiap mendapat pujian, setiap mengetahui bahwa tulisanku viral, kepalaku membesar, nyamannya bukan kepalang!

Ketiga, segera sudahi membaca renungan ini dan mengerjakan dua hal di atas secara terus-menerus!

Sydney, 9 Mei 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.