Pengalaman berbelanja di pasar tradisional ketika jaman sudah se-modern sekarang dan kata-kata ?belanja? seolah dirampas oleh supermarket-supermarket berkapital besar adalah sesuatu yang sangat berharga. Terlebih hal itu dilakukan di negara tempatku tinggal sekarang yang what-so-called adalah negara maju, Australia.
Sekitar sebulan lalu kaki kananku terkilir dan aku butuh tukang urut plus akupuntur untuk menyembuhkannya.?Kalau di Jogja mudah, tinggal pergi ke Bang Udin di nJambon sana lalu tinggal tahan sakit sebentar, ?mak krek? lalu sembuh! Tapi di Australia?
Seorang kawan menyodorkan sebuah nama, ?Mr Xiao Massage, nama tempatnya!?
?Dimana ini??
?Di Parklea Market!?
?Di pasar??
O well, tak ada pilihan lain.
Semula aku membayangkan tempat pijat yang nyaman kalau nggak di mall ya di tempat prakteknya sendiri di rumah, tapi ini di pasar?

Aku pernah ke Parklea Market tapi itu sudah lama sekali, barangkali tiga tahunan lalu dan tak meninggalkan kesan yang mendalam karena namanya juga pasar jauh dari kata nyaman ketika kenyamanan telah terlanjur kita sematkan pada segala sesuatu yang lebih modern.
Tapi aku tak ada pilihan lain. Demi hilangnya rasa nyeri yang waktu itu sudah menjalar sampai ke punggung bagian bawah, aku pergi seorang diri ke Parklea Market, sekitar 30 km sisi timur laut kota Sydney di dusun Parklea.
Pasar Parklea berdiri di satu lahan yang luas. Aku tak bisa mengukurnya secara pasti tapi bandingannya barangkali seluas dua kali stadion Mandala Krida Jogja. Ruang parkir memakan tempat paling banyak kira-kira ? dari seluruh areal.
Bentuk bangunannya sendiri seperti gudang besar dengan model atap melengkung. Kalau tak ada tulisan PARKLEA MARKET di atapnya barangkali aku akan mengira itu adalah hanggar pesawat terbang dengan atap yang tinggi ber-rangka baja.
Pasar ini tidak buka saban hari. Ia hanya buka setiap Jumat-Sabtu dan Minggu. Alasannya mudah ditebak karena siapa yang mau berbelanja di hari biasa karena rata-rata semua orang Australia dari senin-jumat sibuk bekerja dan bagi kami, belanja itu cukup seminggu sekali.
Di point ini aku lantas membayangkan, mungkin begitu juga konsep pasar-pasar di Jawa yang dulu hanya buka tiap hari weton-weton khusus hingga nama pasar pun diidentikkan dengan hari bukanya, Pasar Pon, Pasar Wage, Pasar Kliwon?
Sesampainya di Parklea Market, segera setelah memarkir mobil aku masuk ke dalam bangunan pasar. Waktu itu mendekati tengah hari, hari Minggu, ramai orang menyemut di sana-sini.
Tujuan pertamaku tentu langsung ke Mr Xiao dan aku harus mendapati kenyataan bahwa aku harus mengantri kurang lebih dua jam kalau mau pijat langsung ke pemiliknya, Xiao.

Deal!
Selain karena rekomendasi kawanku hanya mau dipijat oleh Xiao, tiba-tiba aku berpikir alangkah baiknya jika kumanfaatkan kesempatan ini untuk jalan-jalan ke seluruh areal Parklea Market meski dengan kaki pincang dan suasana pasar yang sangat ramai.
Hal pertama yang mengesankanku pengaturan bahwa stall-stall di bagian paling luar yang bertepian dengan tembok diutamakan untuk penjual makanan dan minuman.
Hal ini membuat kesan seolah kalau kalian capek berbelanja, tinggal jalan menuju sisi terluar gedung dan kamu akan mendapatkan makanan dan minuman dengan harga yang jauh di bawah harga rata-rata restaurant di luar sana.
Pagi itu aku memilih jagung rebus yang dijual di dekat pintu utama oleh migran yang barangkali berasal dari India atau negara di sekitarnya. Tak tanggung-tanggung aku memesan dua batang plus sekaleng minuman.
Dari situ aku bergerak ke kiri, menemui lahan yang diperuntukkan pedagang penjual bahan makanan mentah seperti sayur-sayuran, buah serta aneka daging-dagingan.
Ke sisi yang lebih dalam lagi, aku menemui bagian penjual hewan peliharaan seperti kelinci, anak kucing, anak anjing, dan burung termasuk peralatan perlengkapannya seperti pakan ternak dan kandang.
Lalu di belakangnya lagi aku bertemu sekelompok penjual tanaman hias beserta pot-pot dan tanah subur yang dijual dalam kantong plastik.
Mentok ke belakang lalu mengular ke arah kanan kita akan menemui stall penjual pakaian mulai dari baju kerja murah-meriah (harganya sekitar $5 – $10 padahal diluar sekitar $25 ke atas) hingga souvenir khas Australia seperti boomerang, kaos, sweater, pembuka botol dan gantungan kunci yang barangkali banyak dibeli para migran yang hendak pulang berlibur ke negara asalnya.
Di sisi yang lebih depan lagi adalah bidang para penjual peralatan elektronik, handphone dan lainnya. Tapi sebenarnya tak semuanya benar-benar tertata rapi dalam bidang-bidang seperti itu, ada juga satu-dua yang nyempil, beda di tengah yang lainnya.
Hal unik yang kutemui di sana adalah tempat jual jasa pembacaan kartu tarot (ramal nasib). Ini tentu ?wow? sekali dan agak ?out of topic? sebenarnya.
Bayangkan, orang datang ke pasar untuk membeli kebutuhan lalu tiba-tiba berpikiran, ?Oh, aku merasa ada yang aneh dalam hidupku.. aku ingin dibaca masa depanku oleh tukang tarot!? lalu mampirlah ia ke tempat itu. Abstrak dan so random, bukan?
Hal unik lainnya adalah wahana mainan anak-anak.
Aku sudah sering mengatakan bahwa tradisi memiliki pembantu rumah tangga ataupun profesional baby sitter di sini memang tak lazim. Jadi, kami biasa membawa anak-anak kemanapun pergi termasuk berbelanja ke pasar. Nah, barangkali orang lantas berpikir bagaimana supaya anak-anakku tak bosan dan aku juga bisa menikmati belanja adalah dengan menitipkan anak-anak ke wahana permainan sehingga mereka bahagia dan kita juga lega untuk berbelanja.
Tapi aku sempat terpaku berada di depan sebuah kubus yang barangkali seukuran 25m3 dan ramai orang mengerubunginya. Semula aku tak tahu apa yang ditawarkan karena ada suara seru nan gaduh dari dalam kubus itu.
Setelah kubaca pelan-pelan, ternyata? ya ampun kubus itu adalah bioskop mini berkonsep 3D lengkap dengan kursi berpengaman yang bisa bergerak-gerak mungkin disesuaikan dengan alur film. Kreatif tapi tetap so random kan? Secara itu kan di pasar gitu lhoh!!!
Nah tapi yang akan kuceritakan ini bukan sesuatu yang random tapi akan kupakai sebagai ?gong? tulisan kali ini.
Setelah lelah berkeliling, mataku sekali lagi terpaku pada sebuah stall yang menjual handphone dan alat-alat elektronik.
Sebuah kotak headphone merk ternama yang sangat kuhafal harganya hampir mencapai $500 di toko, disitu kutemui dengan label harga fantastis, ?ONLY $50!? katanya.
Sebelum masuk ke stall itu aku merogoh kantong memastikan bahwa aku punya spare $50 jaga-jaga kalau aku benar-benar nggak bisa menghindari godaan berbelanja ?barang bagus? itu.
?Wow! Is it for real?? tanyaku.
Penjualnya senyam-senyum sambil menawarkanku untuk mencoba headphone itu.
Aku lantas mengeluarkan headphone itu dari box-nya, menggenggam dan mengamati lalu mengenakannya dan aku berada di posisi beberapa milisecond sebelum memutuskan membelinya hingga tiba-tiba sebuah pertanyaan lama.. sangat lama yang sudah tak pernah muncul ke otak sadarku menyeruak maju mempertanyakan ke diriku sendiri,
?Don, yakin barang yang mau kamu beli itu asli dan bukannya palsu??
Oh my God! Aku ingat pertanyaan seperti itu dulu.. duluuu sekali muncul ketika misalnya aku sedang berada di Malioboro Mall, menemui sebuah toko baju dengan merk-merk ternama tapi diskon sepanjang tahun hingga menerbitkan pertanyaan yang sama, ?Yakin ini barang asli??
Atau kalau mau yang lebih lama lagi adalah pengalaman waktu SMA dulu. Waktu sepatu boots DrMartens sedang menggejala di Jogja dan setiap ada orang yang tampangnya tak meyakinkan mengenakan sepatu yang what-so-looked-like DrMartens dan aku menggumam, ?Yakin ini barang asli??
Aku segera melepas headphone itu.
Inginku bertanya apakah ini asli atau palsu, tapi kuyakin apapun jawabannya aku telah membangun benteng untuk tidak mempercayainya.
?Loh, nggak jadi??
Aku hanya tersenyum dan menggeleng lalu berjalan keluar. Sementara itu di sebelahnya adalah toko yang menjual baju jersey klub bola basket, NBA. Di sana harga dipatok hanya $25 walau kutahu diluar harganya $100.
Aku toh tak merasa perlu mencobanya karena takut mendapatkan sensasi yang sama seperti kurasakan ketika mencoba headphone tadi.. ?Yakin ini asli??
Eh btw, waktu di toko souvenir aku menemukan barang unik! Pembuka botol (opener) dengan hiasan dari Kangaroo scrotum! Kalian tahu apa itu scrotum kan? Itu adalah kantong buah zakar dari Kangguru pejantan.
Bentuknya seperti di bawah ini!

Kalian mau? Kalau mau, akan akan belikan dan kuberikan ketika pulang berlibur ke Indonesia nanti. Tapi aku hanya akan membelikan satu buah saja untuk satu orang dengan alasan terbaik kenapa aku harus membelikannya.
Jadi tuliskan alasan kalian di kolom komentar di bawah ini. Yang menang akan kuhubungi secara japri!













Tinggalkan Balasan