Yak-yak’o dan yak-yak’an

16 Agu 2022 | Cetusan, Digital

Tiga tahun yang lalu di hari-hari sekarang ini konon ada yang terusik dengan statusku di Facebook lalu menelpon salah satu teman dan bilang, “Donny itu nulis tentang yak-yak’o di FB pasti sedang nyindir aku ya?”

Aku ketawa ngakak dikabari. Kok ya tau-taunya aku nulis tentang dia! Jangan-jangan memang dia merasakan hal yang sama bahwa dirinya hanya bermodal ‘yak-yak’o’ saja padahal sejatinya memang suwung?

Hari ini aku ngampet ngguyu lagi alias menahan tertawa. Tak hanya karena Facebook Memory mengingatkanku pada kejadian waktu itu tapi juga karena ada konteks yang pas banget untukku kembali mengangkat kata keramat ini, “yak-yak’o”

Yak-yak’o dalam terjemahan kasar ke Bahasa Indonesia barangkali adalah, “Sok yakin!”

Ada orang-orang yang sedang saling beradu demi jabatan dalam sebuah perkumpulan nggak terlalu penting bernama perkumpulan alumni.

Mereka begitu serius menyusun program dan strategi pemenangan seolah jabatan yang nanti dimenangkan akan mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Seolah titahnya akan mengubah hidup-mati anggota-anggotanya. Dan untuk menggenapi tuduhanku atas ke-yak-yak’o-an mereka itu, seolah program-program yang mintilihir itu memang mereka dalami dan tahu bagaimana cara menjalankannya! Padahal? Yo yak-yak’o!

Teoriku, dalam mengelola hal-hal yang kurang serius, bukankah sebaiknya juga jangan terlampau serius? Lha wong nanti dari program kerja yang segunung, realisasinya kan paling cuma bikin acara doa bersama di sini dan di sana dan bikin reuni sambil nyanyi hymne almamater dan selfa-selfi sana sini!

Ada juga yang mungkin nggak yak-yak’o tapi yak-yak’an!

Hmmm, aku susah menerjemahkan kata yak-yakan dalam Bahasa Indonesia. Maafkan!

Yak-yak’an dalam mendapatkan jabatan, pokokmen kudu dadi, kudu iso piye carane… seolah begitu jadi akan mendapatkan banyak keuntungan yang seimbang dengan usaha yak-yakan yang dikeluarkan!

Padahal ya katakanlah dadi,
kowe ki dha arep ngapa?
Arep’a dadhi ya arep nganti kapan?
Njuk nek uwis.. arep kepiye?

Minggu ini tensi politik dalam sebuah perkumpulan alumni sedang meninggi…

Bagi yang yak-yakan dan yak-yak’o lha mbok sudah jangan terlalu diseriusin dan sebenarnya gak perlu diterusin. Menang dadi areng, kalah kowe yo mung dadi awu

Untuk apa berjuang demi jabatan terkait memori masa lalu di almamater? Bukankah lebih baik fokus pada keluarga dan pekerjaan!?

Kalau hanya untuk berdoa bersama dan reuni, apa ya perlu jabatan? Jabatan apa yang lebih mulia dari tukang parkir, tukang bersih-bersih selama acara-acara itu dilangsungkan?

Atau jangan-jangan demi gengsi?

Sudahlah! Daripada terpolarisasi lebih baik hentikan dan akhiri dengan jabat tangan!

Ingat lho! Sejak ada di almamater itu, bukankah kita diajari banyak menimbang tentang hal-hal yang kita lakukan? Membedakan roh dalam setiap gerakan?

Mana yang lebih menguntungkan bagi kemuliaan nama Tuhan yang lebih besar di muka bumi?
Adakah melanjutkan pertandingan atau berjabat tangan?

Salam yakin,
Donny Verdian

Sebarluaskan!

4 Komentar

  1. Om Donny maaf komentar diluar topik.
    Kalau boleh tau bagaimana awal mulanya pakai domain .id ini? Semenjak kapan?

    Balas
    • Wah agak lupa tapi kayaknya sekitar 4 taon lalu ya kalau nggak salah…

      Balas
  2. Lama gak denger tak-tak-o 😇👍

    Balas
  3. Ralat krn tadi otokorek: yak-yak-o

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.