Ya Sudah Mau Gimana Lagi

11 Agu 2022 | Cetusan

Seorang musisi besar Tanah Air di era 80-90an akan mengadakan konser pamitan di Jogja bulan depan.

Aku kenal dia sejak kira-kira enam tahun lalu.
Banyak berguru darinya dan menjadikannya tempat untuk showcase lagu-lagu baruku. Bahkan beberapa waktu lalu kami sempat hampir berkolaborasi tapi di menit-menit akhir (benar-benar menit akhir) sebelum rilis, ada kesalahan non-teknis yang membuatku harus menunda rilis karya itu untuk waktu yang belum bisa kami tentukan hingga sekarang.

Tapi hal itu tidak mengganggu hubunganku dengannya. Malah sejak tiga bulan lalu, ia mengajakku ikut bernyanyi di atas panggung barang dua atau tiga lagu dalam konser nanti.

Senangku bukan kepalang! Ini kehormatan dan kesempatan langka yang barangkali hanya akan terjadi seumur hidup sekali! Bayangkan, aku akan bernyanyi bersamanya di kota tempat aku pernah besar dan bertumbuh, Yogyakarta!

Tapi sayang!
Kondisi keuangan sedang sangat pas-pasan membuatku tidak bisa berbuat banyak dan aku harus menerima realita. Ya sudah mau gimana lagi…

Sebuah kabar angin sejak beberapa minggu lalu menghembus di telingaku. Bisiknya, “Donny itu… udah dibayar tiga puluh juta buat bikin database tapi hasilnya mana??? Databasenya dibawa nggak diserahkan! Uang pun juga!”

Aku tahu kabar ini jelas sangat salah karena database alumni tidak kupegang, sistem sudah selesai kukerjakan dan kuserahterimakan 2019 silam dan… tiga puluh juta??? Hello! Uang itu tidak pernah mampir ke rekeningku melainkan langsung dari paguyuban ke developer yang ditunjuk mengerjakan waktu itu.

Inginku terkait masalah ini ada dua.
Pertama, aku ingin yang ngomong di belakang itu diberi keberanian untuk mengungkapkan ke publik supaya aku lebih mudah menyusun langkah-langkah hukum yang memang sudah kupersiapkan untuk menghadapinya!

Kedua, aku ingin yang kuserahterimai pekerjaan di 2019 silam membuka suara di ruang publik untuk mengkonfirmasi kesalahan berita itu. Aku sudah meminta berkali-kali tapi tanggapannya hanya, “Aku sibuk!” Ya sudah mau gimana lagi…

Kawan,
dalam hidup, tidak setiap keinginan harus bertemu dengan mendapatkan.

Tak semua mimpi harus pula menjadi kenyataan.
Ada beberapa (kalau tak mau dibilang banyak) mimpi dan keinginan yang berakhir dengan “Ya sudah mau gimana lagi…” Atau dalam istilah agamis, “Bukan jalan Tuhan!”

Meskipun bagiku pernyataan yang terakhir barusan agak judgemental! Siapa kita, eh aku kok bisa sampai tahu bahwa ini adalah jalan Tuhan atau bukan? Kalau jalan kenangan banyak ya?!

Dan semakin lama kita hidup, jika tidak mulai mengelola hati, semakin kita akan hancur dihadapkan kenyataan pahit itu. Ini alamiah mengingat semakin kita tua semakin kita renta dan ada begitu banyak batasan yang tak bisa kita hindari dan akhirnya memaksa kita untuk berkata, “Ya sudah mau gimana lagi…”

Tapi tulisan ini tak mengajakmu untuk berhenti mencari ingin dan menjaring mimpi karena pada dua hal itulah hidup menemukan riang, riuh dan dinamikanya. Asal jangan keterlaluan juga termasuk jangan bermimpi untuk hidup seribu tahun lagi….

Pernah ada yang punya mimpi seperti itu dan menuangkannya ke dalam puisi. Sang penyair mati muda meski mimpinya tetap jadi tulisan yang belum lekang hingga kini. “Ya sudah mau gimana lagi…”

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.