Widi Nugroho: Di De Britto, guru bisa belajar juga dari muridnya

22 Mei 2018 | Tokoh Alumni De Britto

B. Widi Nugroho adalah tokoh kedua belas dari tujuh puluh Tokoh Alumni SMA Kolese De Britto yang kurencanakan.

Sama seperti Pak Kadi yang kuulas sebelum ini, pria kelahiran Ponorogo, 23 Agustus 1968 ini adalah alumni De Britto (1987) yang kemudian mengajar di almamater sejak 1993 hingga sekarang. Pak Widi mengajar mata pelajaran Bahasa Inggris dan aku pernah diajarnya selama tiga tahun, 1993-1996. Kini Pak Widi juga menjabat sebagai Wakil Kepala Sekolah Urusan Hubungan Masyarakat SMA Kolese De Britto Yogyakarta.

Beberapa hari silam aku berbincang banyak dengannya. Sebuah perbincangan yang elok nan unik karena tak hanya antara seorang kakak kepada adik angkatannya tapi juga seorang guru kepada muridnya.

Petikannya bisa kalian baca berikut ini.

[DV] Belum apa-apa saya mulai dengan pertanyaan yang berat, Pak. Pernahkah kamu merasa khawatir terhadap De Britto?

[WN] Ada, tapi kekhawatiran saya ini tidak pada lembaganya. Kekhawatiran saya atau lebih tepatnya tantangan itu ada pada konteks di mana De Britto berada.

Konteks Yogya saat ini, apapun bisa didapat di Yogya. Dari hal baik sampai hal buruk bisa ditemukan di Yogya yang tentu harus diwaspadai.

Juga konteks zaman sekarang: era media sosial membuat anak-anak zaman ini menjadi lebih reaktif, bukan reflektif.

Dalam pola mendidik yang dilakukan di JB, apa ada perubahan atau adakah semacam pendekatan yang ?khas? terkait maraknya penggunaan media social? Misalnya ada nggak sangsi yang diberikan ketika misalnya seorang murid menulis/menyebarkan hoax?

Sebagai sebuah kolese Jesuit, De Britto mendasarkan proses pendidikannya pada Spiritualitas Ignatian. Hal yang sangat mendasar dalam tradisi Ignatian itu adalah apa yang disebut sebagai discernment, proses menimbang-nimbang dan memilah-milah yang baik dari yang buruk, yang lebih baik dari yang baik, dan dalam situasi tertentu, yang terbaik di antara yang buruk. Jadi, inti pendidikan Jesuit adalah mendidik murid untuk mampu membuat keputusan yang baik.

Ini yang paling mendasar dan berlaku dalam segala situasi, tidak hanya dalam konteks media sosial.

Jadi sebenarnya semangat kebebasan yang kita anut itu, tujuan akhirnya membuat murid mampu membuat keputusan yang baik dan kemudian bertanggung jawab terhadap keputusan itu.

Maka, anak-anak JB selalu melakukan examen setiap hari, untuk melihat pengalaman dalm satu hari, mensyukuri hal-hal baik yang telah terjadi, dan kalau ada hal-hal kurang baik bisa belajar dari hal-hal itu dan berniat untuk tidak mengulanginya, dan melakukan lebih baik dari hari ini.

Dan examen itu mengajari mereka untuk reflektif. Tidak reaktif.

Meskipun belum pernah terjadi, seandainya ada murid menyebarkan hoax di media sosial, tentu ada proses pendampingan kepada pelaku, dan pasti didampingi dalam proses refleksi, dan pasti ada konsekuensi.

Baru-baru ini saya dengar ada sebuah sekolah homogen di Jogja yang akan berubah jadi heterogen. Apakah hal ini mungkin juga bisa terjadi di De Britto bahwa suatu waktu akan menerima murid cewek?

Kalau bicara kemungkinan (possibility), ya mungkin saja. Tetapi, probabilitasnya kecil, karena sampai hari ini De Britto belum berpikir ke arah sana, dan mungkin tidak akan pernah. Menerima murid cewek berarti harus mengubah model atau pendekatan dalam proses pendidikannya. Dan, itu bukan pekerjaan mudah.

Sebagai alumni kadang saya dan banyak rekan lain selalu berusaha membanding-bandingkan, misalnya ?Anak JB jaman sekarang ga? garang kayak dulu, mainannya handphone melulu!? Sebagai alumni yang juga guru, pernahkah muncul pemikiran yang sama, Pak?

Dulu sewaktu masih jadi guru muda dan belum punya pengalaman, pernah sih berpikiran seperti itu.

Tetapi makin ke sini, makin sadar bahwa itu bukan hal yang baik. Entah kenapa, menurut pengamatan saya, suatu angkatan selalu memandang angkatannya paling baik. Orang selalu bilang, “Dulu zaman saya ..bla bla bla ..” yang intinya memuji-muji generasi atau angkatannya dan memandang angkatan sekarang tidak sebaik angkatannya.

Padahal di tiap angkatan, selalu ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang pintar, ada yang kurang pintar. Ada yang garang, ada yang cengeng. Itu berlaku di semua angkatan. Jadi tidak fair sih menurut saya.

Kalo soal handphone, ya pastilah, kita gak mainan handphone, kan waktu itu belum ada! Kalo handphone ditemukan di zaman saya SMA, pasti saya juga mainan handphone hehehe?

Bicara soal kesejahteraan guru, apakah gaji guru cukup untuk hidup sehari-hari?

Untuk de Britto cukup Don ..tinggal bagaimana mengaturnya …

Ada beberapa guru yang mengundurkan diri lalu memutuskan berkarir di tempat lain, Pak. Apa yang membuatmu setia pada profesi guru itu?

Bagiku, De Britto itu bukan sekadar sekolah, dalam pengertian tempat belajar untuk murid. Tetapi juga tempat belajar untuk guru. JB itu tempat perjalananan pemanusiaan saya. Saya berkembang banyak di situ sebagai pribadi.

Artinya bahwa meski materi yang diajarkan tiap tahun sama tapi ada insight yang kamu dapat saat mengajar. Begitu ya, Pak?

Iya betul ..karena gini Don, Di De Britto itu kan model pembelajarannya dua arah, diskusif. Dan itu memungkinkan guru untuk mendapatkan insight dari muridnya. Murid belajar dari guru, guru juga belajar dari muridnya.

Soal belajar, saya juga banyak belajar dari figur-figur guru di JB, dari para Jesuit yang berkarya di JB, dari perjumpaan dgn teman-teman guru dari Kolese lain, baik di Indonesia maupun Kolese lain di Asia Pasifik.

Konteks ‘guru belajar dari muridnya’ itu dalam praktek kira-kira contohnya gimana?

Murid-murid itu – dalam diskusi di kelas – sering kali mempunyai pemikiran-pemikiran yang tidak terduga, pemikiran-pemikiran yang di luar perkiraan kita. Danbagi saya itu mengagumkan. Di situlah saya belajar.

Masa depan pendidikan ‘katolik’ di Indonesia dengan gesekan-gesekan yang terjadi di masyarakat akhir-akhir ini menurutmu gimana?

Saya kira masa depan sekolah katolik tergantung tiga hal: mutu (kualitas), dukungan umat katolik sendiri, dan kerjasama solid antar-sekolah katolik.

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.