Weekend nggak weekend, untuk seorang yang belum mendapatkan pekerjaan seperti aku sebenarnya sama saja.
Tapi meski demikian satu hal yang membedakan adalah karena pada weekend, istriku libur bekerja dan kami bisa menghabiskan hari bersama-sama sejenak.
Ada banyak hal yang harus kami lakukan pada hari itu, Sabtu 8 November 2008 yang juga adalah hari ke delapanku tinggal di sini.
Yang pertama adalah mengurus Photo Card.
Photo Card adalah kartu identitas selain SIM yang dikeluarkan oleh RTA. Sebagai warga aku merasa perlu untuk memiliki itu karena di sini dimana-mana, ketika mengurus hal-hal yang berbau administratif, selalu ditanya kartu identitas minimal dua buah selain passport. Maka jadilah kami pergi menuju ke RTA Castle Hill yang jaraknya tak jauh-jauh amat dari rumah.
Proses pembuatannya tak lama ternyata, hanya beberapa menit, si ibu penjaga loket mengisikan informasi form ke dalam programnya di komputer. Setelah selesai ia mengisi form dan memfotokopi passport serta kartu ATM Bank ku, ia memintaku untuk duduk dan difoto. 1.. 2.. 3.. jepret!
Selesai sudah!
Dimintanya aku duduk untuk beberapa saat hingga kemudian,
“Mr Donny Verdian!”
Teriak seorang setengah baya dari balik loket yang lainnya lagi.
Akupun datang dan mengambil kartu plastik yang sudah jadi.
Setelah dari RTA, kami menuju ke RockWood untuk berziarah ke makam anak salah seorang teman dekat kami.
Ia tak sempat lahir, beberapa waktu sebelum dilahirkan, jiwanya telah dipanggil Tuhan kembali.
Ziarah ke makam di sini, khususnya di RockWood, ternyata tak seperti di Indo.
Kami memasuki sebuah pintu gerbang besar lalu berhenti pada sebuah perhentian untuk membeli bunga.
Bunga yang dijual bukan pula bunga mawar merah dan putih yang sudah terpotong-potong begitu.
Mereka menjual berikut tangkainya dan dengan koleksi bunga yang bermacam-macam indahnya.
Mawar merah, putih, merah muda, bunga matahari dan masih banyak bunga yang lain yang aku tak hafal nama-namanya.
Disebelah si penjual bunga itu, masih dalam satu atap terdapat pula coffee shop megah nan luas. Mungkin masih pagi maka baru sedikit yang terisi sementara di sudut sana segerombolan pemuda tampak asyik masyuk berkopi ria.
Setelah membayar, kamipun melanjutkan perjalanan dengan tetap berkendara.
Kompleks makam itu masihlah sepi meski tak berarti kami sendirian. Ada beberapa mobil terparkir di setiap blok pemakaman. Makam di situ dikelompokkan menurut keyakinan masing-masing. Kenapa kubilang keyakinan dan bukan agama, karena pada ujung jalan nanti kami juga menemukan makam yang tak beridentitaskan agama tapi berkeyakinan universal.
Makam si Jo, anak teman kami tadi itu, terletak di pemakaman Katolik yang agak menjorok ke dalam.
Setelah memarkir mobil, kamipun segera mengambil air ke dalam ember yang telah kami bawa untuk membersihkan makamnya.
Oh ya, cara orang-orang di sini memperlakukan makam sangatlah menarik.
Makam tak melulu identik dengan bunga. Mereka meletakkan banyak hiasan pula di sini.
Ada yang memasang kincir angin mainan, rosario, robot-robotan, patung-patung dan masih banyak lagi.
Selain itu, pada batu nisannya yang lebar-lebar itu mereka menuliskan banyak hal. Ada yang mengharukan ada pula yang menggelikan meski itu sebenarnya ekses dari ungkapan yang terlalu mengharukan dibungkus dengan hal yang berbau komedi.
Selesai ke makam si Joe kami beranjak ke Macquarie Center.
Tujuan kami adalah Vodafone Center untuk mengambil Blackberry Bold-ku. Tapi setelah capek-capek jalan ke sana kami harus kecewa karena ternyata mereka kehabisan paket Blackberry Bold.
Well, kami lalu memutar arah ke Parramatta.
Sebelum sampai ke Westfield, kami mampir sebentar ke McDonalds untuk sarapan.
Satu hal yang paling menyenangkan di sini adalah karena McDonalds memiliki paket sarapan yang sangat menyenangkan dan mengenyangkan dengan harga yang relatif murah. Selain itu, satu hal yang tak pernah dan tak bakalan pernah terjadi di Indonesia tampaknya, yaitu bahwa aku bisa menemukan beacon babi di McDonalds sini! So, pagi itu ditemani langit yang membiru dan angin bertiup sepoi, suhu berkisar di 25 derajat dan burung-burung yang memberikan salam selamat pagi, kami menyantap dengan lahap dan menikmati hingga tandas….
Pukul 11.00 am lebih sedikit, Westfield pagi itu belum terlalu ramai, kamipun bersigap cepat menuju ke counter Vodafone yang berada di lantai 3 superstore Parramatta itu.
Dan untungnya mereka masih memiliki satu blacberry bold yang belum terjual, yup tinggal satu! Bayangkan!
Setengah jam kami dijelaskan tentang banyak hal hingga akhirnya segala persyaratan selesai pada menit ke 45 kira-kira. Maka… aloooohaaaa akhirnya Blackberry Bold di tangan. Itu berarti akses email ada di genggamanku.
Waktu tak terasa telah bergulir ke 12 siang, kamipun segera pulang ke rumah.
Seusai makan siang kami lantas beristirahat hingga sore menjelang.
Seperti halnya minggu lalu, sabtu dan minggu ini kami berencana ngumpul lagi di rumah Rinda dan Paul di Newtown sana. Pukul 06.30 pm kami sudah berkendara menuju ke kota.
Sebelumnya kami mampir terlebih dahulu ke restaurant Chinesse food untuk membeli bakmi. Irna, teman dekat kami kebetulan berulang tahun maka tak salah kami membawakan mie karena menurut tradisi Cina, makan mie pada saat berulang tahun itu adalah sebuah pengharapan untuk umur panjang, sepanjang mie yang memang panjang-panjang itu.
Karena ini malam minggu jalananpun macetnya ampun-ampunan. Terlebih menjelang Harbour Bridge, kemacetan cukup parah melanda dua lane yang tersisa untuk arah ke kota.
Aku berusaha untuk tidak temperamental menghadapi kemacetan seperti itu. Kulayangkan pandanganku ke udara dan pemandangan sekitar dan wowww! Begitu indah!
Matahari sudah condong ke barat, sinarnya menyentuh ujung-ujung atas Harbour Bridge, bangunan-bangunan pencakar langit di CBD sana serta dedaunan di ujung pohon teratas. Langit biru dan permukaan air laut di teluk yang mengemas berkilauan. Dahsyat!
Temaram pukul 07.30 pm sampailah kami di rumah Paul.
Paul, Rinda, Irna, Jaya dan si kecil Geri telah berada di sana.
Aku didaulat untuk memimpin doa bagi ulang tahun si Irna dan selebihnya kami MAKAN!!!!
Di meja, selain mie tersedia juga babi goreng, cumi goreng, ayam goreng dan sayuran serta bulatan-bulatan cokelat yang dalamnya terisi sedikit liqueur. Selesai makan kamipun bersantai ria sambil berkaraoke.
Lagu-lagunya? Ya apalagi kalau bukan lagu-lagu Indonesia! Aku, Jaya dan Joyce, kami nyanyi bareng-bareng sementara Rinda, Irna dan Paul sibuk menyimak foto-foto pernikahan kami oktober lalu lewat laptop.
Malam semakin menggagahi, tak terasa pukul 11.30 pm.
Kami bersama Irna dan Jaya berpamitan untuk pulang karena keesokan harinya kami janjian ke gereja pagi bareng-bareng.
Jalanan di city semakin malam ternyata semakin macet. Banyak orang bersuka ria di pub-pub serta club-club di sepanjang jalan. Mereka bahkan sampai rela mengantri masuk, dan sembari mengantri mereka pun tetap bercanda ria di pinggir jalan.
Menyenangkan?
Iya. Tapi ada juga rasa jengkel melihat semua itu karena mereka seperti lupa bahwa mereka ada di jalan, public facility yang tetap dipergunakan oleh orang lain yang bukan rombongannya.
Lalu lintas pun menjadi macet karena ramainya orang melintas dan mobil-mobil yang lewat.
Setelah mengantar Irna dan Jaya pulang dan selepas Harbour Bridge, barulah lalu lintas menurun intensitas kemacetannya dan berangsur-angsur menyepi.
Kembali kami berada pada situasi yang sangat kusukai. Sepi, mendengarkan musik-musik Indo genre 80-90an dan ngobrol banyak hal dengan Joyce.
“Ada gosip ngga dari Indo?” tanya Joyce tiba-tiba.
“Gosip apa nih?”
“Ya gosip anak-anak persekutuan doamu atau temen-temen lainnya gitu…”
“Oh banyak.. aku banyak dapet dari chatting seminggu kemarin bareng mereka hahaha”
Kamipun lantas bergosip ria dan berketawa ketiwi meski tak sampai terbahak-bahak hingga tiba di rumah.
Sesaat sebelum tidur kami mengajak Simba keluar ke kebun belakang untuk berak dan kencing.
“Wah nggak terlalu dingin ya sekarang, Hon..” kataku pada Joyce.
“Cieee.. yang udah mulai terbiasa…” sahut Joyce sambil tersenyum.
Aku membalas senyum, termangu memandang bulan yang tampak kinclong tanpa terhalang awan ditemani bintang-bintangnya yang berkedipan kemayu.
Ah indahnya kehidupan!

Terminal dan Stasiun Parramatta!
Yang di seberang itu adalah papan nama Westfield Superstore meski sebenarnya letak pertokoannya di seberang dari situ. Banyak orang menunggu bis di seberang maupun di sebelah sisiku berada. Ya namanya juga terminal

Inilah Simba, anjing lucu yang menjadi sahabat baruku!

BBB? No, bukan Bukan Bintang Biasa nor Bawang Bombay Busuk tapi BlackBerry Bold!
Tinggalkan Balasan