Dulu waktu kecil, ketika menjelang tidur, hal yang paling kutakutkan adalah kalau-kalau matahari besok tidak terbit lagi dan gelaplah dunia! Tapi akhir-akhir ini, doa yang selalu kupanjatkan sebelum tidur adalah semoga pada keesokan paginya, weker alarm yang kustel dapat berbunyi senyaring-nyaringnya dan tidak ngadat. Aku lebih mengkawatirkan alarm ketimbang matahari karena matahari diatur oleh alam, sementara justru bangun pagiku sangat dan sungguh diatur oleh dering alarm.
Kenapa aku sangat tergantung pada alarm?
Awalnya adalah komitmen.
Secara disadari atau tidak, sedari kecil aku, dan juga kalian, selalu dituntut untuk berkomitmen terhadap sesuatu dengan menggunakan waktu sebagai pijakannya, sebagai lahannya.
Komitmen untuk masuk sekolah pukul 07.00 pagi!
Komitmen untuk masuk kelas kuliah jam 9 pagi!
Komitmen untuk berangkat kerja jam 6.30 pagi atau kalau tidak maka satu-satunya bis yang bisa mengkoneksikan jadwal bus lainnya yang ada di kota menuju tempat kerja akan berlalu begitu saja!
Komitmen seperti itu sama halnya dengan menancapi sepetak lahan waktu yang linier dengan bilah-bilah bambu lalu kita berjalan diantaranya. Setiap kita merasakan ada sesuatu yang mengganjal dan menyandung depan, maka disitulah kita tahu bahwa kita telah sampai pada bilah terdekat dan satu komitmen yang telah kita tancapkan sebelumnya siap untuk kita hadapi dan selesaikan.
Alarm adalah pengganjal tersebut. Pemberi sandungan untuk merangsang otak kita bahwa harus ada reaksi dan penyelesaian terhadap sesuatu yang menyandung itu, berdering itu.
Waktu kecil, waktu aku belum terlalu memandang perlu alarm karena Mamaku lah yang menjadi “alarm” hidup, aku diajari oleh nenekku untuk berucap “Kakang Kawah Adi Ari-ari, tangekno aku jam enem!” menjelang tidur.
Konon menurutnya, mantra tersebut berguna untuk meminta pertolongan pada kakak “kawah” serta adik “ari-ari” untuk membangunkan kita pada waktu yang kita mintai sehingga sedikit banyak dapat menghemat energi Mamaku yang biasa dihabiskan untuk menggoncang-goncangkan tubuhku serta berbicara agak keras hingga aku terbangun oleh karenanya.
Siapa dan apa itu Kakang Kawah dan Adi Ari-Ari?
Menurut adat orang Jawa (dan karena aku orang Jawa!), orang lahir tidak hanya sendirian. Ia memiliki seorang kakak bernama kawah, adalah air ketuban yang dikeluarkan Ibu sebelum melahirkan, serta seorang adik bernama ari-ari, adalah plasenta, yang dikeluarkan Ibu setelah kita lahir.
Mejiknya, pada awal-awalnya mantra itu sedemikian manjur bagiku.
Untuk beberapa pagi sesudah nenekku mengajariku dan aku memraktekannya, Mamaku selalu merasa terlambat membangunkanku karena begitu masuk ke kamar tidurku, ia temui aku sudah duduk sambil membaca buku bersiap mandi dan bersekolah.
Tapi lama-kelamaan tampaknya Kakak Kawah dan Adik Ari-ari tak lagi sanggup untuk membangunkanku terlebih ketika aku mulai meminta hal-hal yang kurang masuk akal, misalnya seperti selepas nonton sepakbola hingga pukul 03.30 lalu sebelum tidur merapal mantra untuk dibangunkan pukul 5.30, ya jelas untuk bangun tidur pada jam segitu itu, nggak mungkin punya :)
Pindah ke Jogja selepas SMP dan berpredikat anak asrama, sudah barang tentu weker alarm adalah barang yang sangat kubutuhkan menggantikan sosok Mama yang sebelumnya selalu membangunkanku.
Tak ada lagi sentuhan tangan halus berujar “Le, tangi… wes jam enem! Ayo.. gek ndhang pakpung :)” dan tergantikan oleh suara sember alarm yang dihasilkan dari sebuah pelatuk alumunium kecil yang dipukul-pukulkan ke dalam sebuah mangkuk-mangkukan berbahan baku sama ketika jam telah menunjukkan waktu tertentu.
Ajaib!
Pada awal-awal tinggal di Jogja, alarmku sangat berfungsi luar biasa dengan hasil menakjubkan karena cukup sekali dering dan aku telah terbangun dengan suksesnya. Tapi sekali lagi, hal itupun tak berlangsung lama!
Memasuki bulan-bulan berikutnya, alarmku tak lagi mempan membangunkanku dari tidur semalam.
Kehadirannya, hingga akhirnya aku lulus SMA dan keluar dari asrama, alarm terefektifku adalah tendangan kaki, pukulan ke arah pantat serta teriakan “Woyyyy.. bangun woyyyy! Udah setengah tujuh woyyyy!!!!!!”
Yap, teman-teman asrama adalah alarm yang paling mujarab!
Pernah pula dalam kurun waktu lebih dari delapan setengah tahun, aku hidup dalam dunia yang memperbolehkan aku tak perlu berkomitmen terhadap waktu pagi seketat dulu-dulunya. Bekerja di kantor sendiri selama itu membuatku tak memandang penting lagi dengan apa yang dinamakan alarm. Aku bebas bangun jam berapapun untuk bekerja hingga jam berapapun pula, selama laba kudapat dan gaji karyawan terpenuhi dan tak ada satupun yang menunggak, persetan dengan yang namanya waktu dan alarm!
Tapi ketika aku memutuskan untuk pergi ke Australia dan mulai bekerja untuk orang lain, aku seperti berputar ke masa lalu, ke masa dimana alarm adalah barang yang lebih penting keberadaannya ketimbang sarapan dan secangkir kopi yang kusantap sesudah alarm itu sukses membangunkanku.
Maka bisa dibayangkan andai saja, ya andai saja semoga saja tidak pernah terjadi, alarmku ngadat dan tak mau berbunyi ketika saatnya harus berbunyi, di titik itu aku tahu betapa aku juga barangkali istriku akan mengawali hari begitu terlambat.
Kenapa istriku? Karena aku adalah suaminya yang menjadi alarm baginya sesaat setelah aku selesai mandi dan hendak bergegas pergi melalui kecupan lembut ke pipi yang hangat, tanpa teriakan maupun bunyi bel yang kuantuk-antukkan seperti halnya alarm-alarm yang dulu pernah membantu membangunkanku.
Tinggalkan Balasan