Web designer/developer bintang yang terus bersinar di tengah bintang baru yang lebih terang

11 Okt 2012 | Digital, OKTOBZER

Aku memulainya karena iseng semata.
Waktu awal-awal mengenal internet pertengahan tahun 1996, aku membuat website pertamaku dengan alasan untuk membagikan foto dan info diri kepada teman-teman chatting (waktu itu melalui mIRC) yang menanyakannya.

Lalu teman-teman lain yang sudah menengok website (dulu sebenarnya lebih dikenal sebagai istilah homepage) minta dibuatkan dan hal itu lama-lama menjadi kesenangan tersendiri, merangkai konten dalam bentuk tulisan dan gambar, memberi hiasan pada tahap layouting, dan akhirnya?orang-orang sekelilingku tahu bahwa kalau mau bikin homepage, hubungi Donny!

Sekitar dua tahun kemudian, sebuah ajang lomba mendesain web di kampus kuikuti bersama Amien Sutawidjaya, sahabat yang pernah kuceritakan di sini. Hasilnya? Kami juara pertama!?Selain hadiah uang, desain situs yang kami buat diimplementasikan sebagai desain situs kampus. Ah, bangganya!

Tapi ternyata tak berhenti di situ, berkat kemenangan itu, aku dan Amien lantas di-hired oleh sebuah perusahaan di Jogjakarta untuk dijadikan web developer/designer di sana. Itulah titik awal untukku bekerja secara profesional di bidang yang kugeluti hingga kini?dan entah hingga kapan, web development.

…waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan ?Wow? karena masih sangat langka!

Sebuah profesi yang mungkin sekarang terdengar jamak sejamak kalian dengar istilah ‘satpam’ atau ‘supir’ tapi percayalah, waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan “Wow” karena masih sangat langka!

Dotcom bubble – dot bomb

Lalu tibalah masa dimana perusahaan ‘dotcom’ menghentak bursa efek dunia.?Segala sesuatu berbau ‘internet’, berawalan ‘e-‘ (termasuk di dalamnya email yang dulu dikenal sebaga e-mail, eCard yang dulu dikenal sebagai e-card) bermunculan di sini. Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.

Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.

Itulah masa dotcom bubble. Para investor dan kapitalis besar mempertaruhkan uangnya ke bisnis ini.

Sayang hal ini tak berlangsung lama. Dunia memasuki resesi pada 2001, setahun setelah aku bersama keempat kawanku membangun perusahaan web development di Jogja. Keterpurukan resesi itu seperti di-gong-i dengan kejadian 11 september 2001 yang seolah?memberi ‘jeda’ yang cukup lama untuk pengembangan bisnis dotcom. Maklum, suka tak suka, mau tak mau, kiblat bisnis dotcom tetaplah di Amerika, tempat ‘kejadian perkara’ peristiwa yang sangat mengubah wajah dunia sesudahnya itu.

Masa dotcom bubble pun berakhir, dikenal dengan masa dotcom bubble burst atau yang lebih sarkasm lagi, dot bomb, entah itu terelasi dengan kegiatan teroris sekitar 9/11 atau tidak.

Masa keemasan web development

Namun dot bomb nyatanya hanyalah masa kegelapan bagi perusahaan-perusahaan dotcom besar saja.

“…orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya.”

Di tingkat ‘akar rumput’, internet dan website telah terlanjur dikenalkan dan orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya. Berdasarkan pengalamanku dulu, masa-masa 2001-2004 justru adalah masa terindah memimpin sebuah unit usaha web development. Perusahaan-perusahaan kelas UKM yang memang butuh website untuk representasi hingga ke para konsumen di luar negeri, berlomba-lomba ingin dibuatkan website sebagus mungkin. Malah, tak hanya UKM, perusahaan-perusahaan kelas kakap pun semakin ingin meremajakan websitenya.

Namun seperti layaknya segumpal gula di lantai, semut pun datang merubung dan berebutan menikmatinya.Perusahaan-perusahaan web development bertumbuhan bagai cendawan di musim hujan.

Ada perusahaan yang memang betul-betul memiliki akar web development. Tapi banyak pula perusahaan yang dulunya adalah pendesain kartu nama dan spanduk pun mulai berani membubuhkan ‘Web Design’ pada jenis layanannya.

Warnet-warnet yang juga banyak tumbuh saat itu juga entah iseng atau beneran, mulai berani menambahkan label hal yang sama di kaca depan atau di baleho namanya.

Perusahan-perusahaan operator telco besar juga tak mau ketinggalan, mengimbuhkan ‘web development’ sebagai salah satu unit usahanya meski entah siapa yang sebenarnya mengerjakan pekerjaannya. Outsourcing? Tentu saja!

Jadi web designer? Semudah ABCD!

Gayung pun bersambut.
Lembaga-lembaga kursus pengetikan mengubah nama jadi lembaga kursus pencetak web designer/developer handal.

Mahasiswa pun tak urung turut meramaikan pasar persaingan dan akibatnya mudah ditebak, harga website perlahan makin turun dengan tuntutan kualitas yang sama baiknya atau malah justru meninggi!

Perang harga tak terhindarkan lagi! Seorang web designer yang mengaku handal meski bermodal copy-paste sekalipun, bisa menawarkan proposal pembuatan website dengan harga fantastis: 10 kali lipat lebih murah dari harga yang dulu kubandrol.

“Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”

Suatu waktu seorang pengusaha yang kepadanya kutawari proposal pembuatan website bertanya kepadaku, “Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”

Aku hanya diam, tak menjawab. Setahun kemudian ia balik kepadaku dan bertanya apakah harga proposal yang dulu kutawarkan masih berlaku, kutanya kenapa lalu jawabnya, “Hasilnya mengecewakan! Sekali jadi langsung ditinggal! Sekarang malah webku mati!”

Aku hanya tertawa dalam hati, seraya kubilang bahwa proposal itu sudah tak berlaku lagi dan kutawari ia dengan bandrol harga yang jauh lebih tinggi dan setelah itu tak kudengar lagi keluhnya selain tanda tangan bergulir di atas kertas perjanjian
pemberian kerja kepadaku.

Masalah profesionalitas, etos kerja dan skill tampaknya menjadi masalah sampingan bagi para web designer/developer abal-abal itu karena yang penting uang dari klien diembat, ditukar dengan website yang.. maaf.. abal-abal juga!

Social media era dan SEO era

Lalu tiba-tiba O’Reilly mengenalkan kata Web 2.0 sebagai kata kunci untuk menggambarkan internet sebagai ranah interaksi dan bukan hanya galeri pamer semata.

Friendster memulai segalanya! Orang-orang terpana dengan keluwesannya dalam memberikan ruang komunikasi dan interaksi antar membernya.

“Semacam biro jodoh ya?” Tanya temanku lugu tentang Friendster kala itu, 2004 awal.
“Hmmm bukan… eh.. tapi ya bisa juga sih!” ujarku.

Lalu berangsur-angsur Facebook dan kini Twitter setelah sebelumnya Plurk dan segala macamnya terlewati dalam label ‘trend sesaat’.

Blogger? Ughhh, jangan dibahas dulu di sini, ada waktunya sendiri :)

Di sisi lain, SEO pun berevolusi.
Google menjadi parameter yang sangat penting yang bicara soal kemudahaan sebuah website dicari orang. Orang berlomba-lomba menjadikan websitenya sebagai yang keluar di halaman pertama halaman pencarian Google.?Tak hanya itu, iklan-iklan yang dipasang di Google pun menjadi hal yang menarik untuk mencari uang. Uang yang bener-bener uang, berjumlah besar, sangat besar malahan!

Maka munculah profesi-profesi baru di dunia web. Social media strategist, digital media marketer atau apapun itu namanya pokoknya terkait dengan kampanye di channel-channel social media (dan salah satunya adalah buzzer) serta SEO consultant
bahkan hingga Ad-sense expert menyeruak tiba-tiba.

Lalu dimana web designer dan web developer??Masih bersinar dan sama sekali tak meredup, tapi sinar bintang-bintang di sekitarnya sedang moncer-moncernya, jadi mana yang lebih terlihat silaunya, kalian tentu tahu jawabnya.

Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.

Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.

Semula sebelum social media didefinisikan serta diimplementasikan, website adalah hal terpenting, “Tinggal dicantumkan di kartu nama, Pak!” ujarku dulu selalu memberikan advise pada orang untuk memperkenalkan website mereka ke orang lain.

Tapi setelah social media dan SEO menjadi satu bola baru, orang mulai berpikir untuk apa punya website kalau bisa membuat halaman di Facebook dan meletakkan barang jualannya di sana? Atau tinggal daftar di eBay dan berdagang di sana??Atau Kaskus misalnya?

Lalu sebagian lain ada pula yang terus berkutat pada websitenya sendiri tapi dengan harga beli website yang kian murah karena makin maraknya persaingan antara designer/developer.

Sementara SEO dijadikan kanal untuk memperkenalkan websitenya itu, dan dari sini muncul pernyataan-pernyataan, “Mending bikin web yang biasa aja asal SEO nya mantap dan bisa masuk halaman pertama Google, tak jadi masalah!”

Dan hal ini kian menghimpit para web designer/web developer dalam menjaring rejekinya.

Ke depan? Selalu ada celah karena Tuhan belum lagi mengantuk!

Aku berpikir tentang satu hal.
Kalau semua tempat di dunia ini sudah ada jembatan, masih perlukah kita pada insiyur spesialis ahli jembatan??Jawabannya bisa, “Tidak perlu!” dan hal itu sahih selama memang semua jembatan yang dibangun itu super sempurna sehingga tak butuh bangun ulang maupun perbaikan (meski ini bukan pula jadi alasan kenapa banyak jembatan mudah rusak tentu juga karena
disengaja supaya biaya pembuatan murah dan untung besar!).

Kalau semua penyakit di dunia ini bisa disembuhkan, adakah dokter tetap diperlukan??Jawaban singkatku, “Berapa persen dokter yang sesungguh menyembuhkan penyakit kalian dan berapa persen yang sebenarnya membiarkan atau malah membuat segalanya tambah buruk?”

Demikian pula dengan masa depan web designer/developer.?Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.

Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.

Orang China selalu bilang, “Pasti ada celah!” sementara orang agamis berkomentar, ?Tuhan tak pernah tertidur!? dan aku memilih membela kedua pendapat itu. Tuhan tak pernah kehabisan akal untuk memberi makan umatnya terutama dalam hal ini mereka yang bekerja sebagai web designer/developer.

Namun bergantung pada nasib adalah pilihan orang pemalas. Seorang profesional harus sanggup move-on (sesuatu yang aku tak sanggup saat orang bilang move on untuk beralih dari blog ke dunia lain karena aku bukan blogger berbayar, bukan blogger profesional!)?demikian pula dengan seorang web designer/developer!

Mengulang masa lalu yang penuh emas dengan tetap menjadi web designer/developer barangkali akan jadi cerita kenangan, tapi dengan melakukan update terhadap kemampuan diri sendiri dalam bidang web development yang terus berkembang, niscaya kita tak kan?pernah hanyut ditelan jaman!

Oh ya, bagaimana dengan para developer/designer yang alih profesi jadi social media strategist dan SEO expert misalnya? Ya tak mengapa, itu kan pilihan hidup.

Simak diskusiku dengan kawan lamaku yang sampai sekarang, sama denganku, masih bertahan dan bangga dengan title web designer/web developer untuk menafkahi diri dan keluarga.

Siapa dia? Seseru apa? Nantikan senin depan!

Sebarluaskan!

34 Komentar

  1. “Simak diskusiku dengan kawan lamaku yang sampai sekarang, sama denganku, masih bertahan dan bangga dengan title web designer/web developer untuk menafkahi diri dan keluarga.

    Siapa dia? Seseru apa? Nantikan senin depan!”

    Wah sopo kie??? The botak’s Ronsky? :D

    Balas
    • enteni wae

      Balas
  2. Membaca blogpost ini serasa napak tilas ke jaman2 kenekatan kami untuk terjun ke ranah baru ini tak bisa ditandingi. Dotcom bubble & burst semacam batu tempaan yang membuat kami semua semakin yakin akan dunia ini. Istilah kerennya “What doesn’t kills you makes you stronger”….hehehe.

    Bravo buat tulisannya mas Donny, sesama dinosaurus internet….hehehehe

    Balas
    • Thanks, Bang! :)
      Beruntunglah kita jadi saksi beberapa jaman revolusi internet :)

      Balas
  3. *menahan diri setengah mati agar kotak komentar ini tidak berubah menjadi kotak surhat* :))
    mari kita tunggu tulisan lanjutannya :D

    Balas
    • Ra masalah Har! Ayo dimuntahkan.. di crotkan saja jangan ditahannn ngakik mengko :)

      Balas
  4. mau belajar banyak dari kang Dony! ahoy! :D

    Balas
  5. Menarik mas. Yang membedakan perusahaan dulu sama sekarang, dulu investor jor-joran buat modalin usaha kalau sekarang modal dikit aja sudah bisa jalan lalu dikembangkan sampai pada tahap sustainable.

    Saya sendiri lebih prefer menjadi seorang web designer, walaupun sebenarnya tidak bisa. Kenapa? Karena design itu beli putus, sedangkan (web) developer adalah never ending project xD

    Salam

    Balas
    • hmm.. web developer == never ending project? maksudnya never ending support? :)) *to surhat to*

      Balas
      • Emberrrr.. pernah punya project 4 taon ngga kelar-kelar.. gila ngga:) tapi kuyakin si lantip punya cerita lebih mengharukan lagi. Ayo, Lantip, ceritalah :)

        Balas
        • ayo Mas Lantip, ceritakanlah ! *siap-siap mantengin*

          Balas
  6. Menarik sekali mas, khususnya dalam hal sharing pengalamannya.

    Untuk perkembangan dunia internet, sangat cepat menurut saya. Internet telah mengubah wajah dunia.

    Balas
  7. Top. ;)

    Salam persahablogan,
    @wkf2010

    Balas
  8. Di erah 90-an, tempat ngumpul yang diinget cuma dua; milis ToekangWeb & MasterWeb trus dilanjutkan dengan bikin komunitas IWWF : Indonesia Web Workers Forum. :)

    Google saat itu blom ada ya, cari2 cuma pakek AltaVista & Yahoo! :)

    Balas
  9. Ulasan yg menarik, aku membaca seolah olah mengalami itu semua, ya karena kita ‘terbit’ pada masa yang sama, cuma bedanya aku lebih suka jalan sendiri daripada terikat dan membuat sebuah perusahaan :D

    Suatu saat seorang web dev juga mengalami masa jenuh, aku juga sudah mengalami masa jenuh, alias capek kerja, tepatnya beberapa tahun lalu, memang masih ada satu dua project yg dikerjain dalam jeda waktu yg relatif agak lama, selain untuk merefresh kembali, terutama lebih ke menjaga ‘silaturahmi’ dengan client client lama, kebanyakan yg ku kerjakan juga cuma project dari client lama, client baru selalu ku tolak.

    Intine pengen punya usaha sendiri, yg bisa jalan sendiri dan kita (aku) gak jadi kuli :D

    Balas
  10. Hahaha, homepage, inget jaman kuliah belajar HTML dan ngapalin kode2nya. Walaupun satu-dua halaman rasanya senang ketika jadi. Ulasan yg menarik mas’e..
    Ditunggu coretan berikutnya…

    Balas
  11. *minder liat yang ngomen orang top semua*

    ?Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas??

    Gara-gara banyak orang mikir kayak gini nih yang bikin freelancing susah. Mau pasang harga tinggi nggak laku, pasang harga rendah kok dapetnya capek doang. *ikut surhat*

    Balas
  12. tulisan yg sangat bagus ….
    menambah semangat utk tetap berada dijalur ini walau digempur oleh para abal2 … SEMANGAT

    Balas
    • Sip! Maju terus, pantang kendur!

      Balas
  13. kantorku wes tau dadi client’e DV karo Lantip

    #IkiRaPentingHAR

    Balas
    • Ora ono hubungane, Har!

      Balas
  14. Mas Donny memang sakti. Saya dulu mengenal cuma Geocities…

    Balas
    • Saktian Mas Yusril, Mas Lik :)

      Balas
  15. ooo, ternyata ngono sejarahe jaman mbiyen.
    *manggut2*

    Balas
  16. sekarang mencari web developer itu tidak mudah mas… aku sudah puyeng nyarinya juga… :) itu pekerjaan yang paling di cari orang skrg…

    jadi di era internet ini ya makin banyak yang mencari web developer. Kalua Web designer sih masih banyak bahkan banyak banget….:)

    Nikmati saja profesimu.. selama kata hati mengatakan itu yang dicintai…

    Balas
  17. tulisannya panjaaang ya… cocok buat reader.. not scanner :)

    Balas
  18. seorang newbie seperti saya masih sangat berada jauh dari paham sejarah seperti ini.

    Tapi saya senang telah membacanya. Menambah pengetahuan meskipun masih meraba-raba utk memahaminya.

    Balas
  19. developer yg jeli melihat peluang pasti sekarang sudah pindah dr developing ala dekstop (web site) ke pembuatan aplikasi-aplikasi mobile.

    Sayangnya tidak banyak yang bernai hijrah ke peluang yang satu ini. Padahal kalau mereka mau, mereka bisa dengan tidak sulit mempelajari cara-cara membuat aplikasi ala sosmed.

    Sedikit curhat soalnya sekarang lagi terlibat project yang diharuskan untuk mencari developer2 yang bisa membuat aplikasi Facebook maupun android, dengan demand yang besar ternyata developer yang relibel untuk membuat aplikasi2 ini masih sangat sedikit :|

    Balas
  20. Perjalanan panjang Om, inget waktu dulu buat web kampungan yang masih HTML full.
    Sekarang, kalau kepikiran bikin web, sepertinya bakalan off ditengah jalan, mending dalemi SEO, yang saban waktu terus berubah, ngga ada studi khusus menetap, celahnya masih lebar. :)

    Balas
  21. Saya Web Developer Gateway pak :D

    Balas
  22. Web Developer, bisa dipelajari siapapun, bahkan banyak web developer dari kalangan non – IT. Hasilnya juga tidak mengecewakan. Alasan bekerja di bidang seperti ini adalah : bisa tetep di meja, bisa browsing internet dlsb. Seremnya di Jogja, karena nggak ada industri, para web developer harus bersaing dengan mahasiswa yang mau buat web dengan cuma dibayarin nonton XXI

    Balas
  23. Dhuh :( keklik send, padahal durung rampung curcol e

    Balas
  24. walaupun ora patio dong, menurutku tulisan ini cukup memberiku pencerahan.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.