Aku memulainya karena iseng semata.
Waktu awal-awal mengenal internet pertengahan tahun 1996, aku membuat website pertamaku dengan alasan untuk membagikan foto dan info diri kepada teman-teman chatting (waktu itu melalui mIRC) yang menanyakannya.
Lalu teman-teman lain yang sudah menengok website (dulu sebenarnya lebih dikenal sebagai istilah homepage) minta dibuatkan dan hal itu lama-lama menjadi kesenangan tersendiri, merangkai konten dalam bentuk tulisan dan gambar, memberi hiasan pada tahap layouting, dan akhirnya?orang-orang sekelilingku tahu bahwa kalau mau bikin homepage, hubungi Donny!
Sekitar dua tahun kemudian, sebuah ajang lomba mendesain web di kampus kuikuti bersama Amien Sutawidjaya, sahabat yang pernah kuceritakan di sini. Hasilnya? Kami juara pertama!?Selain hadiah uang, desain situs yang kami buat diimplementasikan sebagai desain situs kampus. Ah, bangganya!
Tapi ternyata tak berhenti di situ, berkat kemenangan itu, aku dan Amien lantas di-hired oleh sebuah perusahaan di Jogjakarta untuk dijadikan web developer/designer di sana. Itulah titik awal untukku bekerja secara profesional di bidang yang kugeluti hingga kini?dan entah hingga kapan, web development.
…waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan ?Wow? karena masih sangat langka!
Sebuah profesi yang mungkin sekarang terdengar jamak sejamak kalian dengar istilah ‘satpam’ atau ‘supir’ tapi percayalah, waktu itu, bekerja sebagai web designer adalah sesuatu yang menimbulkan “Wow” karena masih sangat langka!
Dotcom bubble – dot bomb
Lalu tibalah masa dimana perusahaan ‘dotcom’ menghentak bursa efek dunia.?Segala sesuatu berbau ‘internet’, berawalan ‘e-‘ (termasuk di dalamnya email yang dulu dikenal sebaga e-mail, eCard yang dulu dikenal sebagai e-card) bermunculan di sini. Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.
Orang berpikir internet adalah sesuatu yang tak kalah asing dan menariknya seperti orang mencari-cari gambaran UFO di malam yang gelap.
Itulah masa dotcom bubble. Para investor dan kapitalis besar mempertaruhkan uangnya ke bisnis ini.
Sayang hal ini tak berlangsung lama. Dunia memasuki resesi pada 2001, setahun setelah aku bersama keempat kawanku membangun perusahaan web development di Jogja. Keterpurukan resesi itu seperti di-gong-i dengan kejadian 11 september 2001 yang seolah?memberi ‘jeda’ yang cukup lama untuk pengembangan bisnis dotcom. Maklum, suka tak suka, mau tak mau, kiblat bisnis dotcom tetaplah di Amerika, tempat ‘kejadian perkara’ peristiwa yang sangat mengubah wajah dunia sesudahnya itu.
Masa dotcom bubble pun berakhir, dikenal dengan masa dotcom bubble burst atau yang lebih sarkasm lagi, dot bomb, entah itu terelasi dengan kegiatan teroris sekitar 9/11 atau tidak.
Masa keemasan web development
Namun dot bomb nyatanya hanyalah masa kegelapan bagi perusahaan-perusahaan dotcom besar saja.
“…orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya.”
Di tingkat ‘akar rumput’, internet dan website telah terlanjur dikenalkan dan orang teredukasi untuk memiliki sebuah website untuk usahanya. Berdasarkan pengalamanku dulu, masa-masa 2001-2004 justru adalah masa terindah memimpin sebuah unit usaha web development. Perusahaan-perusahaan kelas UKM yang memang butuh website untuk representasi hingga ke para konsumen di luar negeri, berlomba-lomba ingin dibuatkan website sebagus mungkin. Malah, tak hanya UKM, perusahaan-perusahaan kelas kakap pun semakin ingin meremajakan websitenya.
Namun seperti layaknya segumpal gula di lantai, semut pun datang merubung dan berebutan menikmatinya.Perusahaan-perusahaan web development bertumbuhan bagai cendawan di musim hujan.
Ada perusahaan yang memang betul-betul memiliki akar web development. Tapi banyak pula perusahaan yang dulunya adalah pendesain kartu nama dan spanduk pun mulai berani membubuhkan ‘Web Design’ pada jenis layanannya.
Warnet-warnet yang juga banyak tumbuh saat itu juga entah iseng atau beneran, mulai berani menambahkan label hal yang sama di kaca depan atau di baleho namanya.
Perusahan-perusahaan operator telco besar juga tak mau ketinggalan, mengimbuhkan ‘web development’ sebagai salah satu unit usahanya meski entah siapa yang sebenarnya mengerjakan pekerjaannya. Outsourcing? Tentu saja!
Jadi web designer? Semudah ABCD!
Gayung pun bersambut.
Lembaga-lembaga kursus pengetikan mengubah nama jadi lembaga kursus pencetak web designer/developer handal.
Mahasiswa pun tak urung turut meramaikan pasar persaingan dan akibatnya mudah ditebak, harga website perlahan makin turun dengan tuntutan kualitas yang sama baiknya atau malah justru meninggi!
Perang harga tak terhindarkan lagi! Seorang web designer yang mengaku handal meski bermodal copy-paste sekalipun, bisa menawarkan proposal pembuatan website dengan harga fantastis: 10 kali lipat lebih murah dari harga yang dulu kubandrol.
“Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”
Suatu waktu seorang pengusaha yang kepadanya kutawari proposal pembuatan website bertanya kepadaku, “Kalau aku bisa dapetin yang murah dari mereka, kenapa aku harus bayar yang mahal padamu, Mas?”
Aku hanya diam, tak menjawab. Setahun kemudian ia balik kepadaku dan bertanya apakah harga proposal yang dulu kutawarkan masih berlaku, kutanya kenapa lalu jawabnya, “Hasilnya mengecewakan! Sekali jadi langsung ditinggal! Sekarang malah webku mati!”
Aku hanya tertawa dalam hati, seraya kubilang bahwa proposal itu sudah tak berlaku lagi dan kutawari ia dengan bandrol harga yang jauh lebih tinggi dan setelah itu tak kudengar lagi keluhnya selain tanda tangan bergulir di atas kertas perjanjian
pemberian kerja kepadaku.
Masalah profesionalitas, etos kerja dan skill tampaknya menjadi masalah sampingan bagi para web designer/developer abal-abal itu karena yang penting uang dari klien diembat, ditukar dengan website yang.. maaf.. abal-abal juga!
Social media era dan SEO era
Lalu tiba-tiba O’Reilly mengenalkan kata Web 2.0 sebagai kata kunci untuk menggambarkan internet sebagai ranah interaksi dan bukan hanya galeri pamer semata.
Friendster memulai segalanya! Orang-orang terpana dengan keluwesannya dalam memberikan ruang komunikasi dan interaksi antar membernya.
“Semacam biro jodoh ya?” Tanya temanku lugu tentang Friendster kala itu, 2004 awal.
“Hmmm bukan… eh.. tapi ya bisa juga sih!” ujarku.
Lalu berangsur-angsur Facebook dan kini Twitter setelah sebelumnya Plurk dan segala macamnya terlewati dalam label ‘trend sesaat’.
Blogger? Ughhh, jangan dibahas dulu di sini, ada waktunya sendiri :)
Di sisi lain, SEO pun berevolusi.
Google menjadi parameter yang sangat penting yang bicara soal kemudahaan sebuah website dicari orang. Orang berlomba-lomba menjadikan websitenya sebagai yang keluar di halaman pertama halaman pencarian Google.?Tak hanya itu, iklan-iklan yang dipasang di Google pun menjadi hal yang menarik untuk mencari uang. Uang yang bener-bener uang, berjumlah besar, sangat besar malahan!
Maka munculah profesi-profesi baru di dunia web. Social media strategist, digital media marketer atau apapun itu namanya pokoknya terkait dengan kampanye di channel-channel social media (dan salah satunya adalah buzzer) serta SEO consultant
bahkan hingga Ad-sense expert menyeruak tiba-tiba.
Lalu dimana web designer dan web developer??Masih bersinar dan sama sekali tak meredup, tapi sinar bintang-bintang di sekitarnya sedang moncer-moncernya, jadi mana yang lebih terlihat silaunya, kalian tentu tahu jawabnya.
Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.
Kebangkitan Social Media secara tak langsung membuat orang dan perusahaan-perusahaan gurem berpikir mengubah cara mengatur representasi mereka di website.
Semula sebelum social media didefinisikan serta diimplementasikan, website adalah hal terpenting, “Tinggal dicantumkan di kartu nama, Pak!” ujarku dulu selalu memberikan advise pada orang untuk memperkenalkan website mereka ke orang lain.
Tapi setelah social media dan SEO menjadi satu bola baru, orang mulai berpikir untuk apa punya website kalau bisa membuat halaman di Facebook dan meletakkan barang jualannya di sana? Atau tinggal daftar di eBay dan berdagang di sana??Atau Kaskus misalnya?
Lalu sebagian lain ada pula yang terus berkutat pada websitenya sendiri tapi dengan harga beli website yang kian murah karena makin maraknya persaingan antara designer/developer.
Sementara SEO dijadikan kanal untuk memperkenalkan websitenya itu, dan dari sini muncul pernyataan-pernyataan, “Mending bikin web yang biasa aja asal SEO nya mantap dan bisa masuk halaman pertama Google, tak jadi masalah!”
Dan hal ini kian menghimpit para web designer/web developer dalam menjaring rejekinya.
Ke depan? Selalu ada celah karena Tuhan belum lagi mengantuk!
Aku berpikir tentang satu hal.
Kalau semua tempat di dunia ini sudah ada jembatan, masih perlukah kita pada insiyur spesialis ahli jembatan??Jawabannya bisa, “Tidak perlu!” dan hal itu sahih selama memang semua jembatan yang dibangun itu super sempurna sehingga tak butuh bangun ulang maupun perbaikan (meski ini bukan pula jadi alasan kenapa banyak jembatan mudah rusak tentu juga karena
disengaja supaya biaya pembuatan murah dan untung besar!).
Kalau semua penyakit di dunia ini bisa disembuhkan, adakah dokter tetap diperlukan??Jawaban singkatku, “Berapa persen dokter yang sesungguh menyembuhkan penyakit kalian dan berapa persen yang sebenarnya membiarkan atau malah membuat segalanya tambah buruk?”
Demikian pula dengan masa depan web designer/developer.?Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.
Meski semua orang sudah punya website ataupun semua orang merasa tidak butuh website, tak berarti keberadaan web designer/developer akan hilang begitu saja.
Orang China selalu bilang, “Pasti ada celah!” sementara orang agamis berkomentar, ?Tuhan tak pernah tertidur!? dan aku memilih membela kedua pendapat itu. Tuhan tak pernah kehabisan akal untuk memberi makan umatnya terutama dalam hal ini mereka yang bekerja sebagai web designer/developer.
Namun bergantung pada nasib adalah pilihan orang pemalas. Seorang profesional harus sanggup move-on (sesuatu yang aku tak sanggup saat orang bilang move on untuk beralih dari blog ke dunia lain karena aku bukan blogger berbayar, bukan blogger profesional!)?demikian pula dengan seorang web designer/developer!
Mengulang masa lalu yang penuh emas dengan tetap menjadi web designer/developer barangkali akan jadi cerita kenangan, tapi dengan melakukan update terhadap kemampuan diri sendiri dalam bidang web development yang terus berkembang, niscaya kita tak kan?pernah hanyut ditelan jaman!
Oh ya, bagaimana dengan para developer/designer yang alih profesi jadi social media strategist dan SEO expert misalnya? Ya tak mengapa, itu kan pilihan hidup.
Simak diskusiku dengan kawan lamaku yang sampai sekarang, sama denganku, masih bertahan dan bangga dengan title web designer/web developer untuk menafkahi diri dan keluarga.
Siapa dia? Seseru apa? Nantikan senin depan!
Tinggalkan Balasan