Warnai harimu! Jangan biarkan monochrome melulu!

18 Sep 2017 | Cetusan

Tadi pagi kawan kerjaku yang usianya kira-kira sepantaran denganku curhat. “Kamu merasa bosen enggak sih? Hidup isinya cuma kerja trus gaji dari kerja dipake untuk bayar bill?!”

Aku tersenyum. “Lha maumu gimana?”

“Ya pengen bikin sesuatu yang baru lah!” katanya berseru meski matanya terlihat tampak letih untuk waktu sepagi tadi, senin pagi pula!

Kalau aku adalah enterpreneur yang baik tentu akan berujar, “Keluar dari kerjaan! Bakar kapal! Buka usaha sekarang juga!” Tapi aku tidak demikian. Bukannya aku tak menganjurkan ia untuk buka usaha tapi menjadi karyawan itu bukanlah satu bentuk dosa yang harus dihindari atau segera diakhiri.

“Kamu bisa mengajukan pensiun sekarang tapi kamu tetap tak bisa memensiunkan bill-bill kamu!” ujarku. Apalagi dengan komitmen keluarga, hidup (dan tagihan) memang tak bisa sebatas diri sendiri tapi juga istri dan anak-anak dan kapankah semua itu akan berakhir? Bukankah hal itu adalah sesuatu yang terus berkesinambungan?

Kalaupun bisa diubah, sejatinya perubahan itu tetap makan waktu dan tak mudah. Apalagi ketika kita sudah ada di dalam jalur pekerjaan yang kita tapaki sekian lama, semua memerlukan perhitungan tak bisa langsung ciao begitu saja.

“Jadi, yang lebih bisa kita lakukan adalah membuat hidup lebih berwarna!” ujarku.

Pekerjaan dan rutinitas bagiku adalah bagaikan tulang-belulang kehidupan sementara daging hingga kulit adalah rupa-rupa yang bisa kita isi dengan sesuatu yang lebih berwarna.

Tapi lagi-lagi, ia bersikap skeptis. “Gimana bisa? Kapan? Weekend cuma dua hari, nggak lebih dan malah bisa kurang ketika ada kerjaan yang harus dibawa ke rumah dan dikerjakan!”

“Are you sure?” Ia mengangguk dan bercerita. Hari sabtunya selalu habis untuk mengurus taman di rumahnya hingga sore hari sementara hari minggu ia harus pergi berbelanja grocery lantas membersihkan mobil.

Ya sebenarnya hal itu tak beda jauh dengan kegiatanku di akhir pekan.

Sabtu pagi adalah pagi yang tak ada bedanya dengan pagi-pagi yang lain karena aku harus bangun pagi lalu bersiap bersama istri mengantar anak-anakku kursus ballet dari jam sembilan sampai jam sebelas.

Sesudahnya biasanya dilanjutkan dengan latihan musik untuk pelayanan di Gereja hari berikutnya hingga siang menjelang sore lalu kursus renang untuk anak-anak. Menjelang malam kami pun pulang, makan malam lalu tidur.

Hari minggunya?
Lagi-lagi bangun pagi! Menyiapkan diri untuk pergi main musik ke Gereja. Atau kalau jadwal misa ada di sore hari, minggu pagi kupakai untuk membersihkan rumah dan mengurus taman. Siangnya berbelanja grocery dan tiba-tiba hari seperti sudah lompat ke minggu malam membawa kenyataan bahwa besok paginya adalah senin pagi.

Lantas bagaimana cara mewarnai hidup kalau sepenuh itu?
Bagiku mewarnai hidup itu tak perlu menciptakan celah baru untuk bisa ditempati kegiatan-kegiatan baru karena naga-naganya nanti juga akan merasa terlalu penuh dan kegiatan-kegiatan itu meski baru lama-lama akan terasa sebagai rutinitas juga. Mewarnai hidup adalah memandang hal-hal rutin yang kita lakukan dengan sudut pandang baru yang menarik!

Misalnya ketika mengantar anak-anak ke latihan ballet. Biasanya setelah menyerahkan anak-anak ke guru, aku dan Joyce pergi ke McDonnalds untuk sarapan. Tapi supaya lebih berwarna, alih-alih ke McDonnalds, kami diberi tahu kawan bahwa tak jauh dari ruang ballet anak-anak, ada seorang penjual sarapan sosis bakar dan kopi. Kenapa tak dicoba?

Atau ketika berlatih musik untuk pelayanan Gereja, barangkali ada yang berpikir lagu-lagunya toh itu-itu saja. Benar! Tapi tak semua aransemen lagu harus pula dibuat sama jadi kenapa tak mencoba sesuatu yang baru, aransemen yang baru, menggunakan sample-sample digital yang tak pernah terpikirkan sebelumnya untuk digunakan?

Atau saat membersihkan rumah dan taman. Dulu aku selalu merasa terbebani untuk melakukan kedua hal ini tapi kini amat menyukainya karena ada begitu banyak hal yang bisa kupikirkan selama melakukan kegiatan tersebut bahkan tak jarang tulisan-tulisan yang muncul di blog ini timbul dari pemikiran yang muncul sembari nge-vacuum dan ngepel lantai atau ketika sedang memangkas tanaman di kebun belakang.

“Tapi itu kan cuma weekend! Weekday kayak hari ini ya kita tetap harus bekerja rutin lima hari seminggu! Gimana cara mewarnainya?”

Lagi-lagi aku tersenyum. “Bro, kita ngobrol panjang lebara sekarang ini, apakah kamu tak merasakan warna baru pada senin pagi ini? Come on!!!”

Ia terkaget dengan ucapanku. Matanya berbinar dan tak seberapa lama kemudian ikut terbahak. Aku bersyukur telah mewarnai senin paginya, memberi sedikit lebih banyak obor semangat di matanya dan senyum serta tawa renyah di bibirnya.

Bagaimana caramu mewarnai hari? Atau semua kamu biarkan monochrome saja?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.