Pernah dengar istilah ‘walk the talk’??
Aku sedang suka lagi dengan istilah itu. Menurutku, selain enak diucapkan (setiap kata dalam bahasa inggris yang diakhiri dengan ‘lk‘ itu menuntut lidah yang menari dan bagiku itu seksi!), secara konsep, walk the talk bermakna ‘menjalani apa yang telah diucapkan’.
Aku dengar pertama kali istilah ini dari bosku di perusahaan lama yang mengatakan bahwa tantangan terberat menjadi seorang pemimpin adalah menjadi seorang yang ‘walk the talk’.
Nah, kenapa tiba-tiba aku suka lagi?
Itu tak lain karena terpantik tayangan debat calon gubernur DKI di salah satu stasiun televisi tanah air yang kuakses lewat parabola.
Bagian paling menarik dari seluruh rangkaian acara yang sebenarnya tak menarik itu adalah ketika para calon diberi waktu 1.5 menit untuk menjelaskan visi dan misinya.
Dari enam calon yang hadir, aneka rupa cara mereka tampilkan untuk memanfaatkan waktu yang sangat sempit itu.
Ada yang berapi-api, ada yang memulainya dengan puji dan puja doa yang berkepanjangan, ada yang sok cool meski ada pula yang seperti kalah sebelum bertanding.
“Kita tak butuh pemimpin kalau memang tak ada pilihan yang demikian.?Kita hanya butuh seseorang yang mengaku sebagai pemimpin…”
Tapi sebenarnya intinya toh sama saja.
Setiap calon gubernur mengutarakan janji perubahan, tak terkecuali bahkan sang incumbent pun bertekad untuk berubah. Aneh sih sebenarnya karena kalau dipikir logis, apa mungkin dari orang yang sama bisa menghasilkan perubahan yang signifikan dalam tenggat waktu yang tak panjang, selama masa jabatannya? Logika lainnya, kalau bisa berubah kenapa baru sekarang akan berubah?
Pemaparan mereka, seindah dan seburuk apapun adanya juga menyiratkan arti betapa lidah yang digunakan untuk mengucapkan itu tak bertulang, tapi kuasa sihirnya mampu menaklukkan keseluruhan tubuh kita yang ditopang tulang belulang ini.
Lidah mereka seolah menghadirkan kebodohan mendadak dan membuat kita manggut-manggut mengiyakan… maaf, maksudku, sok yakin untuk menganggap bahwa pilihan kita, siapapun itu, adalah sosok yang tak hanya akan sanggup bicara, tapi juga sanggup melaksanakannya, walk the talk!
Persoalannya sekarang, maaf kalau terdengar skeptis, sudah berapa generasi pemimpin yang kita lewatkan yang semuanya melakukan kebijakan hariannya lepas dari janji-janjinya yang pernah diucapkan?
Mungkin lantas ada yang berteriak, “Ah, kalau demikian mana ada pemimpin yang benar-benar walk the talk, Don?!”
Jawabanku sederhana. Kita tak butuh pemimpin kalau memang tak ada pilihan yang demikian.?Kita hanya butuh seseorang yang mengaku sebagai pemimpin untuk mengisi kursi kepemimpinan dan konyolnya menarik pajak dari kita sebagai bayarannya.
So, siapapun pilihanmu,?jangan berharap yang berlebihan dari siapapun itu. Berharaplah dari dirimu sendiri. Itulah pengharapan terbesarmu setelah berharap kepada Tuhan, tentunya.
Begitu saja, dan mari kita lanjutkan hidup :)
There are a few people who truly, truly walk the talk. – Olympia Dukakis
Tinggalkan Balasan