Wahai ranting-ranting yang berbuah, siapkah dirimu dibersihkan?

29 Apr 2018 | Kabar Baik

Setiap ranting pada-Ku yang tidak berbuah, dipotong-Nya dan setiap ranting yang berbuah, dibersihkan-Nya, supaya ia lebih banyak berbuah. (Yohanes 15:2)

Aku tertarik dengan ucapan Yesus di atas. Andai diri ini adalah ranting yang berbuah, siapakah yang membersihkan supaya kita berbuah lebih banyak lagi? Pemilik kebun anggur tentu saja.

Nah, karena yang membersihkan adalah pemilik kebun anggur, maka ia pulalah yang berhak untuk menilai mana yang mengganggu proses berbuah dan mana yang tidak.

Saat duduk di bangku SMP dulu aku punya dua orang teman, katakanlah namanya Mimi dan Mintuna.

Keduanya sangat jago main tenis meja. Saking jagonya, suatu waktu mereka dipanggil untuk bergabung dalam pelatnas.

Tapi sayang, tak sampai dua bulan kemudian, tiba-tiba di satu pagi, Mintuna muncul di muka kelas. Wajahnya muram, menahan malu dan kecewa.

Usut punya usut, Mintuna ternyata tak kuat berada di pelatnas. Ia merasa gemblengannya terlalu keras dan harga dirinya terlecehkan.

?Makan diatur!
Nonton tivi kelamaan tak diperbolehkan! Ketahuan merokok dihukum! Ketahuan bolos latihan fisik dimarahin habis-habisan! Namun itu belum seberapa? yang bikin aku akhirnya mundur, masa nelpon pacar aja dibatasi cuma lima belas menit sehari! Aku keluar!?

Beda Mintuna, beda Mimi pula.
Secara fisik ia tak pernah kembali ke sekolah hingga kami lulus tapi keharuman namanya sejatinya tak pernah pergi dari sekolah. Prestasi demi prestasinya kerap dikabarkan guru-guru yang dulu mengajarnya. Mimi menjadi atlit yang luar biasa!

Mimi dan Mintuna, keduanya ?berbuah banyak? dan supaya makin banyak, mereka dibersihkan melalui pelatnas. Mimi menerima proses pembersihan sementara Mintuna tidak.

Mimi melihat proses pembersihan sebagai upaya positif karena ia tahu tujuan awal ada di dalam pelatnas supaya lebih berprestasi lagi.

Mintuna tak menerima proses pembersihan karena menyikapinya dari sudut pandang yang kelewat negatif, kebebasannya terenggut, harga dirinya merasa dilecehkan.

Kunci memandang pembersihan sebagai upaya untuk berbuah lebih banyak adalah dengan tetap fokus pada tujuan awal kita diadakan yaitu untuk berbuah karena kita ini ranting anggur yang menempel pada Pokok Anggur yang benar.

Hilang fokus membuat kita terlena dan lekat dengan ?kotoran? duniawi yang membuat proses berbuah jadi tak lebat lagi. Semakin hendak dibersihkan, kelekatan membuat kita merasa diri ini sejatinya terpotong. Semakin tajam rasa itu muncul dalam diri, semakin kita tak bisa berbuah dan akhirnya memang dipotong beneran oleh Sang Pemilik Kebun Anggur.

Kawan, kadang kita merasa sudah memberikan yang terbaik bagi Tuhan dan sesama tapi kenapa seolah sisi duniawi kita tak pernah diperhatikanNya, selalu gagal dan tak mendapatkan impian kita? Lebih baik jangan berkecil hati. Siapa tahu itu adalah proses pembersihan yang dilakukan Tuhan. Barangkali Ia sengaja tak memberikan hal yang kita ingini karena Ia mau kita berbuah lebih banyak lagi.

?Wah, nggak enak banget dong! Masa seumur hidup cuma disuruh berbuah terus??

Lha kita kan memang ranting!
Pilih mana? Berbuah terus-menerus atau dipotong dan dipisahkan dari Pokok Anggur yang benar lantas dibakar dalam pemanggangan hingga hilang jadi arang dan abu untuk selamanya?

Sydney, 29 April 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.