Wahai cebongers dan kampretos, siapakah sesama kita sesungguhnya?

6 Jan 2019 | Kabar Baik

Sebelum segalanya kian meruncing, ada baiknya para cebongers dan kampretos menghentikan dulu aksi-aksinya dan membaca Kabar Baik ini.

?Siapakah sesamaku manusia?? demikian pertanyaan Ahli Taurat kepada Yesus seperti dilukis Lukas dalam Lukas 10:29.

Maka sadarilah bahwa seburuk-buruknya pihak seberang dan sehebat-hebatnya junjungan kalian, kita semua ini S-A-M-A!

Sama-sama manusia!
Sama-sama Indonesia!
Oleh karena itu, kita akan sama-sama bodohnya kalau hanya karena beda pilihan saat Pilpres lantas jadi bermusuhan dan tak saling sapa.

Ketika ada seorang yang ban motornya bocor di tengah malam, meski kita tahu ia seorang cebongers, ulurkanlah bantuan kepadanya karena ketika kita ada di posisinya, bantuan dari siapapun sangatlah berarti dan dinantikan.

Sebaliknya, saat ada keluarga yang kehilangan anggotanya karena berpulang, melayatlah meski kita tahu betul mereka itu kawanan kampretos! Datangi dan sampaikan salam duka karena kita sama-sama manusia!

Tapi kalau saling cinta, Pilpres jadi tak seru lagi dong? Gregetnya kan ketika kedua pihak saling bersaing merebut kemenangan?

Ini perkara menarik! Adakah cinta menghilangkan beda pendapat hanya karena kita ini sama-sama manusia?

Mari menilik pada konsep dasar tentang kasih seperti diajarkan Tuhan. Begini sabdaNya,

??kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.? (lih. Lukas 10:27)

Bagaimana mengasihi sesama adalah bagaimana kita mengasihi diri sendiri.

Pernahkah suatu malam, hujan deras, udara dingin dan tiba-tiba kamu lapar. Semangkuk mie rebus panas nan pedas dengan irisan daging ayam nan gurih, telur ceplok setengah matang ditingkahi irisan cabai hijau dan bawang goreng adalah bayangan yang amat menyenangkan! Lalu kamu bergegas menuju sepeda motor hendak pergi membeli seporsi di warung sebelah.

Tapi tiba-tiba kamu sadar!?
Dokter menyuruhmu mengurangi makan terutama makan malam demi kesehatan gula darahmu. Dengan berat hati, kamu mengurungkan niat itu dan masuk ke kamar lagi.

Hal di atas adalah contoh bagaimana kita mengasihi diri sendiri.? Tentu bukan perkara ringan untuk menghilangkan keinginan makan yang sudah memuncak tapi demi hal yang lebih penting dalam cakupan yang lebih luas yaitu kesehatan kita memutuskan dan berpihak!

Demikian juga prinsip mengasihi terhadap sesama.

Kita dibujuk untuk memilih pasangan A yang tampak lebih menawan, janji-janjinya lebih semerbak bagai bakung di taman! Tapi benarkah akan tetap seperti itu ketika mereka terpilih kelak? Adakah mereka lebih baik dari yang kemarin-kemarin atau jangan-jangan lebih buruk?

Di titik itulah kita memutuskan dan berpihak karena kasih itu berani berkeputusan dan memihak! Memihak pada  kemanusiaan serta tetap menempatkan nilai-nilai luhur Allah sebagai pedoman.

Selamat semakin merayakan pesta demokrasi, wahai cebongers dan kampretos. Tetaplah saling mengasihi sebagai sesama manusia karena secebong-cebongnya cebongers, kalian bukan benar-benar anak kodok, sekampret-kampretnya kampretos, kalian bukan benar-benar anak kelelawar.

Sydney, 6 Januari 2019

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Kalo tidak memilih alias Golput tidak apa2 kan

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.