Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
Kalau Amerika Serikat memilih Washington DC sebagai ibukota dan bukannya New York, maka demikian pula dengan Australia yang pada akhirnya menetapkan Canberra sebagai ibukota negara sejak 1908 dan melupakan Sydney yang konon pernah bertikai dengan Melbourne tentang sebuah ambisi untuk menjadikan diri mereka sebagai ibukota.
Jumat-Sabtu dan Minggu (10 – 12 Juni 2011) lalu, aku, istri dan anak beserta sejumlah sahabat pergi berwisata keluar kota Sydney, ke Canberra tepatnya. ‘Orang-orang sini’, ketika kuberitahu bahwa aku hendak berlibur ke Canberra banyak yang mengerutkan jidat dan bertanya, “Canberra? For holiday? Why?”
Canberra bagi sebagian orang memang bukan tujuan wisata yang menarik terlebih untuk saat-saat musim dingin seperti ini.? Benar, ia memang ibukota Australia, tapi jangan pandang konsep ibukota di sini seperti di Indonesia. Canberra hanyalah sebuah kota kecil seluas 814 km2 yang terletak di lembah perbukitan yang suhu udaranya saat musim dingin begitu terkenal seantero Australia mampu menggigilkan tulang, siang hari rata-rata di bawah 10 derajat celcius dan malam hari rata-rata suhu antara 5 – 2 derajat di bawah nol menurut skala Celcius.
Penduduk yang mendiaminya (biasa disebut sebagai “Canberran“) juga tak terlampau banyak hanya sekitar 358 ribu jiwa (hitungan per Maret 2011), bandingkan dengan Sydney yang per tahun 2010 telah dijejali 4.5 juta jiwa namun please jangan bandingkan dengan Jakarta yang telah digenangi lebih dari dua kali lipat penduduk Sydney.

Jadi jangan bayangkan di Canberra ada komplek pertokoan seukuran mall ataupun trafik kemacetan lalu lintas hingga ke taraf ‘Pamer Dada’ (Padat merayap tersenDat senDat!) atau ‘Pamer Paha’ (Padat merayap Tanpa Harapan!) seperti di Jakarta sana. Boro-boro macet, melihat jalanan lengang tanpa kendaraan dalam hitungan menit adalah satu hal yang biasa ditemui di sana. (Suatu saat waktu berada di jalan raya-nya, aku berujar pada istriku, “Wah Hon, kita nyebrang sambil merem barangkali nggak ketabrak juga ya di sini!”)
Namun meski demikian toh tak ada satu hal pun yang kulakukan tanpa didatangkan oleh alasan kuat. Jadi, ketika teman-temanku mulai bertanya “Why Canberra”, sebenarnya aku telah menyiapkan banyak alasan tentang kenapa Canberra jadi tujuan berliburku bersama keluarga dan teman dekat kali ini.
Seperti kebanyakan dari kalian, sebagai manusia normal, akupun memiliki sifat eksploratif, suka datang ke tempat yang belum pernah dikunjungi dan ingin melihat dan ‘mendapatkan’ sesuatu dari sana. Nah, sepanjang perjalanan hidupku di Australia, hingga sebelum akhir pekan lalu, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Canberra padahal jarak kota ini dari Sydney hanya sekitar 270km atau sekitar 3 jam perjalanan darat. Sebenarnya dulu, sebelum istriku hamil Odilia, aku pernah berencana untuk pergi ke sana pada Oktober 2009, namun kenyataan berbicara lain… istriku hamil muda dan tak memungkinkan bagiku untuk membawanya berlibur ke sana.
Alasan keduaku, barangkali ini agak klise, tapi aku ingin merasakan bagaimana situasi dan kondisi kota dengan hawa terdingin di Australia itu adanya. Barangkali naluri orang tropis, setiap suhu turun derajatnya, perasaan malah makin girang karena ingin tahu ‘bakal sedingin apa…’
Ketiga, aku juga ingin melihat bagaimana pemerintah Australia mengimplementasikan pemisahan tata kota antara ibukota (capital city) dengan kota industri seperti Sydney dan Melbourne. Tentu akan sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia dimana konsep ibukota dan kota industri pada akhirnya bersentuhan di Jakarta.
Keempat, meski kota kecil, namun sejatinya Canberra menyimpan begitu banyak obyek wisata museum dan tempat-tempat bersejarah yang menarik untuk dicermati.
Kelima… Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Hehehe…
So, nyamankan posisi duduk kalian dan persiapkan kudapan lezat sembari membaca tulisan-tulisanku tentang Canberra dalam beberapa hari ke depan…
Bersambung…
(Credit photo by Wijaya Trio, kecuali yang paling bawah, taken by Cucu)
Tinggalkan Balasan