Vakansi ke Canberra: Why Canberra? (1)

20 Jun 2011 | Australia, Cetusan, Vakansi canberra 2011

Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.

Kalau Amerika Serikat memilih Washington DC sebagai ibukota dan bukannya New York, maka demikian pula dengan Australia yang pada akhirnya menetapkan Canberra sebagai ibukota negara sejak 1908 dan melupakan Sydney yang konon pernah bertikai dengan Melbourne tentang sebuah ambisi untuk menjadikan diri mereka sebagai ibukota.
Jumat-Sabtu dan Minggu (10 – 12 Juni 2011) lalu, aku, istri dan anak beserta sejumlah sahabat pergi berwisata keluar kota Sydney, ke Canberra tepatnya. ‘Orang-orang sini’, ketika kuberitahu bahwa aku hendak berlibur ke Canberra banyak yang mengerutkan jidat dan bertanya, “Canberra? For holiday? Why?”
Canberra bagi sebagian orang memang bukan tujuan wisata yang menarik terlebih untuk saat-saat musim dingin seperti ini.? Benar, ia memang ibukota Australia, tapi jangan pandang konsep ibukota di sini seperti di Indonesia. Canberra hanyalah sebuah kota kecil seluas 814 km2 yang terletak di lembah perbukitan yang suhu udaranya saat musim dingin begitu terkenal seantero Australia mampu menggigilkan tulang, siang hari rata-rata di bawah 10 derajat celcius dan malam hari rata-rata suhu antara 5 – 2 derajat di bawah nol menurut skala Celcius.

DV, Joyce dan Odilia di depan National Convention Center


Penduduk yang mendiaminya (biasa disebut sebagai “Canberran“) juga tak terlampau banyak hanya sekitar 358 ribu jiwa (hitungan per Maret 2011), bandingkan dengan Sydney yang per tahun 2010 telah dijejali 4.5 juta jiwa namun please jangan bandingkan dengan Jakarta yang telah digenangi lebih dari dua kali lipat penduduk Sydney.

Dari kiri ke kanan: Ben (anak kecil yang lari di belakang itu) - DV menggendong Odilia - Joyce (istriku) - Irna - Darrell - Cucu di depan Pork Barrel Restaurant, Canberra


Jadi jangan bayangkan di Canberra ada komplek pertokoan seukuran mall ataupun trafik kemacetan lalu lintas hingga ke taraf ‘Pamer Dada’ (Padat merayap tersenDat senDat!) atau ‘Pamer Paha’ (Padat merayap Tanpa Harapan!) seperti di Jakarta sana. Boro-boro macet, melihat jalanan lengang tanpa kendaraan dalam hitungan menit adalah satu hal yang biasa ditemui di sana. (Suatu saat waktu berada di jalan raya-nya, aku berujar pada istriku, “Wah Hon, kita nyebrang sambil merem barangkali nggak ketabrak juga ya di sini!”)

Kalian yang mau tau Wijaya, temanku yang foto-fotonya kerap kupakai di blog ini? Pria di sebelah kiri itu adalah orangnya! Difoto dengan background landmark kota Canberra, Parlement House, beserta Irna (istrinya), Joyce, aku dan Odilia.


Namun meski demikian toh tak ada satu hal pun yang kulakukan tanpa didatangkan oleh alasan kuat. Jadi, ketika teman-temanku mulai bertanya “Why Canberra”, sebenarnya aku telah menyiapkan banyak alasan tentang kenapa Canberra jadi tujuan berliburku bersama keluarga dan teman dekat kali ini.
Seperti kebanyakan dari kalian, sebagai manusia normal, akupun memiliki sifat eksploratif, suka datang ke tempat yang belum pernah dikunjungi dan ingin melihat dan ‘mendapatkan’ sesuatu dari sana. Nah, sepanjang perjalanan hidupku di Australia, hingga sebelum akhir pekan lalu, aku belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke Canberra padahal jarak kota ini dari Sydney hanya sekitar 270km atau sekitar 3 jam perjalanan darat. Sebenarnya dulu, sebelum istriku hamil Odilia, aku pernah berencana untuk pergi ke sana pada Oktober 2009, namun kenyataan berbicara lain… istriku hamil muda dan tak memungkinkan bagiku untuk membawanya berlibur ke sana.
Alasan keduaku, barangkali ini agak klise, tapi aku ingin merasakan bagaimana situasi dan kondisi kota dengan hawa terdingin di Australia itu adanya. Barangkali naluri orang tropis, setiap suhu turun derajatnya, perasaan malah makin girang karena ingin tahu ‘bakal sedingin apa…’
Ketiga, aku juga ingin melihat bagaimana pemerintah Australia mengimplementasikan pemisahan tata kota antara ibukota (capital city) dengan kota industri seperti Sydney dan Melbourne. Tentu akan sangat berbeda dengan apa yang ada di Indonesia dimana konsep ibukota dan kota industri pada akhirnya bersentuhan di Jakarta.
Keempat, meski kota kecil, namun sejatinya Canberra menyimpan begitu banyak obyek wisata museum dan tempat-tempat bersejarah yang menarik untuk dicermati.
Kelima… Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia! Hehehe…
So, nyamankan posisi duduk kalian dan persiapkan kudapan lezat sembari membaca tulisan-tulisanku tentang Canberra dalam beberapa hari ke depan…
Bersambung…
(Credit photo by Wijaya Trio, kecuali yang paling bawah, taken by Cucu)

Sebarluaskan!

34 Komentar

  1. Katanya Canberra ini kota yg memang dirancang sejak awal untuk jadi ibukota ya? Ditunggu cerita kunjungan ke museum ya.

    Balas
    • Ngga… Justru Canberra adlh alternatif stlh sydney dan melbourne berebut posisi:) smacam win-win solution gitu lah :)

      Balas
  2. Wow…
    Nice picture Don.
    Dan dikau tinggi sekali di foto2 itu sepertinya…..

    Balas
    • Hihi jadi malu :) thx :)

      Balas
  3. Hmmm… jadi tempat wisatanya pun “hanya” museum2 ya. Kalau di Jakarta kan tempat wisatanya itu mall… :D

    Balas
    • Iya, mostly museum :)

      Balas
  4. Kapan lagi bisa ketemu kowe yo Don? Walaupun ketemu cm ngobrol nonsense….hahahahahahh

    Balas
    • Mari kita wujudkan… Desember?

      Balas
  5. Kayake Canberra itu mirip sama Klaten, sama-sama pernah diinjak kakinya Mbah DV. *opooo iki?*

    Balas
    • Komen wagu, tapi nyata :)

      Balas
  6. Gimana ya rasanya tinggal di kota yang tak sepadat jakarta, kelihatannya lebih tenang Mas :P

    Balas
    • Yang jelas sepi :)

      Balas
  7. Yee …. postingannya kok pendek banget? Mana ceritanya tentang hotel yang tidak memenuhi standar itu?
    *duduk manis menunggu kelanjutan cerita*

    Balas
  8. lenggah anteng,
    tangan sedhakep…
    nyemak ahh…..

    Balas
  9. Katanya kota yang suhunya adem cocok buat dijadiin pusat pemerintahan biar yang ngurus negara kepalanya adem juga.

    Balas
    • Mungkin memang demikian, Mas :)

      Balas
  10. Jadi, ibu kota disana tidak macet seperti di Indonesia ya… menarik sekali.

    Balas
    • Tidak! Tp meski macet, Jakarta tetap menarik, kalo tidak pasti tidak macet :)

      Balas
  11. Jadi jelas masih gedean Surabaya dong ya? tapi masa sedingin itu sih mas don? aku ya ndak kuat klo disana.. *haiah gak bisa kesana aja nggayal*

    Balas
    • Nek ra kuat tumpake becak heheheh:)

      Balas
  12. Hmmm… sepertinya Indonesia harus siap memindahkan Ibu Kotanya.
    Nyari yang sepi dan bebas macet :D, Sukabumi mungkin… hehehe

    Balas
    • Jayapura! :)

      Balas
  13. selamat ulang tahun jakarta

    Balas
    • Yuk!

      Balas
  14. informasi menarik mas. andai saja ini terjadi di indonesia. andai saja ibukota jadi dipindah ke pedalaman kalimantan. andai saja. ah, mumet berandai-andai.
    tapi benar-benar info yang nice, kota tertata dan jauh dari kesan semrawut.

    Balas
    • Yup! Tp tak hanya krn “tertata” tp juga berkat dukungan warga yang mau “ditata”:)

      Balas
  15. Ob disebutnya Canberran yah? Kirain Canberrian :p
    #sotoy

    Balas
    • Kupikir malah Cranberries :))

      Balas
  16. Semestinya memang begitu: ibukota negara jauh dari hiruk pikuk. Entah kapan Indonesia bisa memisahkan ibukotanya dari hiruk pikuk serta mulia (wah, kok aku jadi ikut-ikutan ya :D )
    *menyiapkan kudapan, bersiap melanjutkan tulisan Canberra berikutnya*

    Balas
    • Pipis dulu, mumpung iklan:)

      Balas
  17. jadi ngiri, hehe. Pengen keluar negeri nihh, tapi keliling Indonesia ja lum kelar,
    salam kenal

    Balas
    • Lam kenal balik… Ulurin tangan:)

      Balas
  18. Tadi pertama baca kirain Cranberries.. Hihihi.. Kalo di Indonesia, analogi “why Canberra” sepadan dengan apa tuh mas..? Mungkin gak seperti orang Indonesia yang mau jalan2 ke Banten buat jalan2..? “Why Banten?” :D
    PS: Odilia lutju! :D

    Balas
  19. Aku asyik melihat doto-fotomu yang jernih di atas…terlihat menyenagkan, aman tenteram

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.