Tulisan ini adalah rangkaian dari serial tulisan 'Vakansi ke Canberra'. Untuk menyimak selengkapnya, klik di sini.
“There is no new thing under the sun. [Ecclesiastes 1:9]”
Sesampainya di Canberra malam itu, tak ada yang tak bisa kulakukan selain mandi lalu beristirahat!
What! Winter dan tengah malam mandi? Tenang, tentu mandiku pake air hangat dan sekalipun demikian, tak kan kuberani mandi kalau saja tidak ada penghangat ruangan di kamar apartemen.
Air hangat dan heater. Sayangnya hanya dua hal itu pula yang mampu membuat kami puas atas layanan yang diberikan apartemen yang kami sewa karena selebihnya kami lebih banyak kecewanya. Kecewa dengan apartemen yang telah kami booking beberapa lama sebelum liburan karena ternyata kenyataan yang ada tak sesuai dengan foto kondisi kamar dan ruangan yang ditawarkan di website.
Kalian tahulah seperti apa kecewanya. Semacam kecewa seorang gadis yang merangkai kasih asmara dengan seorang pria lewat internet lalu berpacaran tanpa pernah bertemu sebelumnya dan setelah enam bulan kemudian bertemu ….and… OMAIGAT ternyata parasnya tak setampan bentuknya di foto yang selama ini dikirimkannya hahaha!
“Selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya?”
OK, balik ke soal apartemen.
Kekecewaan yang utama sebenarnya adalah kasur. Seusai mandi malam, hal yang kubayangkan pertama adalah nikmatnya melemparkan diri ke atas spring bed dan kenyalnya per yang menyangga kasur akan membuat beberapa kali lenturan seperti mengibaskan semua lelahku keluar dari tubuh.. namun yang kudapat ternyata, ketika kulemparkan diri ke atasnya, per itu sudah tak membal lagi karena barangkali sudah terlalu lentur, ia membawaku meringsek, terbenam dan tak melentingkan tubuhku sama sekali ke atas.
Yang lebih kasihan adalah Odilia, anakku. Ia yang tidur denganku harus berusaha keras untuk bisa terlelap karena gadis kecil berusia 1.5 tahun itu memang sudah terbiasa untuk guling-gulingan terlebih dulu hingga benar-benar bisa terlelap. Nah, dengan kasur yang sudah tak membal itu, tentu susah baginya untuk berguling-gulingan seperti biasa ia lakukan di rumah.
Sofa bed yang dipakai Joyce setali tiga uang kondisinya. Ia yang sejak dari perjalanan sudah ingin merasakan tidur nyaman, oleh karenanya kupersilakan tidur di sofa bed sendirian dan kubiarkan Odi tidur bersamaku, harus kecewa dengan kondisi kasur yang justru terlalu keras!
Tapi… “Ya sudahlah!” kata Bondan Prakoso bernyanyi.
Disyukuri saja lah meski tak sesuai dengan foto dan kondisi kasur yang memprihatinkan, toh hal-hal seperti itu tak boleh menjadi kendala yang menghilangkan semarak liburan yang sedang kami jalani… tak lama setelah Odilia terlelap (yang membutuhkan waktu lama untuk itu) akupun terlelap.
* ? * ? *

Sabtu pagi 11 Juni 2011, kami terbangun disambut dengan suhu dingin yang tetap saja bisa menyelinap di tengah pusaran pemanas ruangan yang kami pasang pada settingan suhu tertinggi. Setelah bermalas-malasan sejenak dan cuci muka serta gosok gigi kami segera beranjak keluar!
Sesampainya di luar, udara dingin benar-benar menampar!
Untung kami telah menyiapkan yang terbaik untuk menghadapi hawa Canberra. Coba bayangkan, ujung kepalaku telah terlindung topi fedora yang hangat. Empat lapis baju kukenakan mulai dari kaos thermal, kaos oblong, sweater tebal dan jacket. Lalu, selain celana dalam, aku telah melapisi kakiku dengan celana thermal dan jeans serta kaos kaki wool nan tebal. Praktis aku hanya harus melindungi wajah dan tangan yang sengaja tak kulapisi glove supaya mudah menggendong dan beraktivitas untuk Odilia.
Di tengah perjalanan kami masih tak bisa berhenti dari gerutu kenapa apartemen yang kami booked bisa sebeda itu dari foto yang ditawarkan di internet. Namun pada akhirnya kami mampu mengambil titik simpul dan menutup kekecewaan dengan anggapan bahwa Hey, ini Canberra, bukan Bali, Hawaii bukan pula Sydney! Canberra toh bukan kota yang merepresentasikan dirinya sebagai kota tujuan wisata! Ia adalah ibukota, pusat pemerintahan yang lebih banyak dihuni dan dikunjungi oleh para pekerja yang datang untuk urusan bisnis daripada wisatawan. Jadi, ketika kami menemui betapa ‘standard’ harapan kami berbeda dengan kenyataan, ya wajar-wajar saja!
Tujuan kami siang itu adalah ke Canberra Convention Center karena Joyce ingin melihat pameran karya seni ‘handmade‘, ada beberapa barang yang sudah diincarnya sejak dari Sydney. Menghabiskan waktu sekitar dua jam di sana, Joyce berbelanja dan aku bercengkrama dengan Odilia serta teman-teman lainnya, sudah saatnya untuk mencari makan karena lapar!
Sejatinya urusan makan di Australia bagi perut ‘Asia’ konon tak sesulit di Eropa. Posisi geografis yang cukup dekat dan terjangkau dari Asia, membuat Australia adalah surga bagi makanan asia. Kalian tak perlu susah-susah masak nasi goreng atau membawa bumbu asli dari Indonesia dengan cara mengelabui petugas custom di bandara karena semua dengan mudah bisa didapat dalam sajian siap santap! Rasanya pun tak sembarangan. Salah besar kalau kalian menganggap kami yang di Australia ini adalah penikmat masakan Asia imitasi karena jangankan bumbunya, chef pemasaknya pun banyak yang didatangkan khusus dari negara asal dengan visa kerja sebagai pemasak.
Jadi, soal makanan bukanlah sebuah kendala juga saat kami berlibur ke Canberra karena kami tahu, somewhere di dalam kota Canberra, pasti kami dapat menemukan chinna town dan di sana pasti melimpah makanan Asia yang sesuai dengan ‘karakter’ perut kami.
Tapi siang itu kami ingin mencoba sesuatu yang agak sedikit berbeda, ‘makanan bule’ kalau kata orang Indonesia.
Maka pergilah kami ke Pork Barrel, sebuah kafe-restaurant yang terletak di National Parliamentary Rose Garden, sebuah taman yang berada sangat dekat dengan Parliement House. Kafe itu terletak agak ke tepian taman namun meski demikian keasrian dan keaslian alam dijaga benar-benar. Pork Barrel tidaklah terlalu luas namun estetika bangunannya sangat dijaga sesuai dengan naluri seni yang tentu tak murahan (klik di sini untuk melihat bentuk bangunan dan info lebih lengkap tentangnya).
“penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… “
Lalu bagaimana dengan menu makanan yang disediakan?
Kalian pasti pikir bahwa ditilik dari namanya pasti kafe itu menjual daging babi?
Kalau benar maka kalian tak sendirian. Ketika pertama kali mendengar namanya disebut oleh Darell, teman kami yang beberapa kali sudah pernah datang ke sana, terbit air liurku membayangkan daging babi yang lezat apalagi ditambah dengan bersulang anggur di saat hawa dingin begini pasti menyenangkan.
Namun dugaanku ternyata salah karena tak ada satupun menu yang menyajikan pork (daging babi) melainkan menu-menu lainnya (barangkali hanya saat itu, entah saat-saat lain karena kebanyakan restaurant/bar/kafe di sini menyajikan beda menu untuk breakfast, lunch dan dinner serta weekend dan weekdays). Aku sempat hendak bertanya kepada pelayan kafe itu kemana mereka menyembunyikan menu masakan babi kegemaranku, namun niat itu kuurungkan setelah aku membaca penjelasan yang dipasang di tembok kafe itu:
Ternyata kafe itu menggunakan nama Pork Barrel lebih karena ingin ‘menjangkau’ soalan yang tak jauh-jauh dari apa yang kita perjuangkan di era Reformasi ’98 dulu, Korupsi Kolusi dan Nepotisme. Bagaimanapun juga kecewaku karena tak ada hidangan babi di sana, aku cukup terhibur dengan kenyataan ini dan tak henti berdecak kagum mencoba mengerti pola pikir pemilik Pork Barrel yang brilian dalam menamai restaurantnya itu!
Pikiranku melayang tiba-tiba…. Adakah tempat di muka bumi ini yang benar-benar telah bebas dari korupsi dan sebangsanya? Entahlah tapi bagiku dan kuyakin kalian mengamininya, selama manusia masih ada, bukankah nafsu jahat juga berkeliaran disekelilingnya? Sementara penanganan korupsi kan sebenarnya hanya soal bagaimana kita mau menjauhi sifat tamak dan bagaimana aturan concern menjaganya… sedangkan sifat itu sendiri sejatinya hingga kiamat pun akan tetap ada!
Tak ada yang baru di bawah matahari yang sama, Cyinnnn! Cemungudhhh!
Bersambung ?
Tinggalkan Balasan