Upaya pencegahan penularan dan penyebaran SARS-COV-2 di Gereja Keuskupan Agung Jakarta

3 Mar 2020 | Kabar Baik

Terkait merebaknya penyebaran Novel Corona Virus (COVID-19), Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) mengeluarkan surat ?himbauan teknis? dengan tajuk UPAYA PENCEGAHAN PENULARAN DAN PENYEBARAN SARS-COV-2 DI GEREJA KAJ. Hal ini membuatku bangga karena menunjukkan kepekaan Gereja terhadap lingkungan sekitar. Gereja sadar bahwa meski Ia adalah entitas suci tapi manusia-manusianya tetap saja lemah dan rentan terhadap penyakit termasuk penyebaran virus COVID-19 ini.

Surat yang dikeluarkan pada 2 Maret 2020 dan ditandatangani oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Jakarta, Rm. Samuel Pangestu, Pr ini dibuka dengan anjuran untuk tidak panik namun tetap waspada. Adapun poin-poin mendetailnya adalah sebagai berikut:

Umat dapat tetap beribadah di Gereja namun bagi mereka yang sedang menderita sakit pernapasan (batuk, pilek, sakit tenggorokan) disarankan untuk tinggal di rumah dan berobat ke dokter.

Hore! Kita boleh tidak ke Gereja?
Hahaha, sebenarnya siapa juga yang memaksa? :) Kalau memang malas ke Gereja tak usah menggunakan momentum ini sebagai alasan, bukan??

Dalam situasi sekarang, seseorang yang sedang sakit pernapasan disarankan untuk tidak ke Gereja, tinggal di rumah dan berobat ke dokter. Kenapa? Karena media penularan virus ini adalah melalui ludah yang menyembur entah melalui bersin maupun batuk. Nah, daripada nebar virus di Gereja mending istirahat dulu di rumah dan berobat jika perlu!

Diharapkan umat merawat kebersihan tangannya masing-masing dengan membawa hand sanitizer sendiri

Sudah jelas dong?
Hand sanitizer (yang berbasis alkohol) itu perlu untuk membunuh kuman/bakteri/virus yang mungkin menempel di tangan. Jadi misalnya orang sebelah ngajak salaman pas Salam Damai atau bergandeng tangan saat menyanyikan Bapa Kami, kalau nggak enak menolak ya tetaplah bersalaman. Tapi sesudahnya, pakai hand sanitizer! Gampang, kan?

Air suci di pintu masuk Gereja tetap disediakan. Umat dapat menggunakan atau tidak.

Bagi pembaca non-Katolik, dekat pintu masuk Gereja biasanya terpasang sebuah mangkuk kecil berisi air suci yang sudah diberkati. Umat yang masuk, mencelupkan jari ke air itu lalu membuat tanda salib.

Aku ingat saat virus H1N1 sedang menyebar di tahun 2009 lampau, Gereja-gereja di Australia bahkan mengeringkan mangkuk air suci sehingga umat tak mengambilnya.

Penerimaan komuni dianjurkan sebaiknya menggunakan tangan saja

Karena sebagian orang biasanya memilih menerima komuni langsung ke lidah, pihak KAJ sadar bahwa ludah yang jadi media penghantar virus punya potensi lebih mudah terpercik ketika tangan pastor/pro-diakon yang memberi komuni menaruhNya ke lidah penerima.

Ritus salam damai dengan bersalaman masih dapat dilaksanakan dengan tetap memperhatikan kebersihan tangan masing-masing atau umat boleh tidak melakukan Salam Damai

Aku bisa membayangkan barangkali ini adalah yang paling susah untuk dipraktekkan di Indonesia. Dalam perayaan ekaristi, Salam Damai yang intinya adalah untuk mengucap ?Damai Kristus? di samping kanan-kiri, dilakukan dengan berjabat tangan. Bayangkan kalau ada yang memilih untuk tidak mau bersalaman karena mencegah penyebaran virus, ia bisa jadi sumber ketersinggungan ketika ada orang lain hendak menyalami tapi ditolak, bukan?

Kalau di Australia sini, Salam Damai memang tidak identik dengan jabat tangan. Banyak orang tidak mengulurkan tangan tapi hanya mengangguk dan tersenyum dan menyampaikan pesan, ?Peace be with you!? 

Pada upacara penghormatan salib dalam ibadat Jumat Agung, untuk tahun 2020 ini, umat dipersilakan membawa dan menggunakan salibnya masing-masing.

Corona virus menyebar tepat menjelang Paskah. Pada hari Jumat Agung, umat Katolik memperingati wafat Kristus. Ibadat sore (biasanya jam 3 sore bertepatan dengan jam perkiraan Yesus wafat, 2000 tahun silam) ditandai dengan ibadat cium salib. Umat maju satu per satu ke depan altar lalu mencium salib yang dibawa petugas liturgi.

Untuk menanggulangi penyebaran virus Corona yang bisa saja terjadi melalui ciuman di salib yang sama, Gereja mengambil langkah brilian ini. Tapi bawa salib ke Gereja? Apa harus copot salib yang tergantung di dinding kamar? Ya kalau bisa nggak papa, tapi kalau repot, bukankah salib Tuhan juga ada di rosario? Kenapa tak bawa saja rosario kalian?

Sydney, 3 Maret 2020

Sebarluaskan!

2 Komentar

  1. Terima kasih ulasannya pak Donny, saya yg bantu romo Samuel menyiapkan teksnya

    Balas
    • Wow.. Makasih Bu Dokter komentarnya…

      Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.