Untuk apa beragama kalau bisa berbuat baik terhadap sesama?

13 Jun 2019 | Cetusan, Kabar Baik

Jika kemarin kita membahas tentang Yesus yang tak hendak menghapus/mengganti satu titik pun dari Hukum Taurat, hari ini Kabar Baik yang ditulis Matius menjelaskan kelengkapannya.

Kasih dan Taurat

Pada intinya, menurutku, Yesus datang untuk menunjukkan pentingnya Kasih dalam penerapan Taurat. Kasih yang tidak hanya antara manusia dengan Tuhannya tapi juga manusia dengan manusia yang lainnya. Keduanya jenis relasi kasih itu penting karena Bapa mengasihi manusia maka tak masuk akal ketika ada seonggok manusia mencoba memuliakanNya tapi ia tidak mengasihi sesamanya.

Misalnya tentang tata cara melakukan persembahan. Memberikan persembahan (biasanya hewan) kepada Bapa adalah tradisi ibadah Yahudi sejak lama. Yesus tidak menghapuskannya tapi Ia memberikan penegasan bahwa sebelum mempersembahkan bagi Bapa, sebaiknya kita memastikan terlebih dulu tak punya urusan yang belum terselesaikan dengan saudara kita. (lih. Matius 5:23-24)

Tapi dalam hidup sehari-hari, tak semua orang memandang apa yang diungkapkan Yesus itu sebagaimana mestinya.

Ada yang membacanya dari sudut pandang lain.

Apa gunanya beribadah jika bisa berbuat baik?

Yang pertama adalah mereka yang menganggap ibadah jadi tak penting. ?Apa gunanya beribadah kalau tak baik dengan orang? Jadi lebih baik kita berbuat baik dan berbuat kasih pada sesama, kan??

Aku sering mendengar pendapat seperti ini. Apalagi kalau sudah diimbuhi dengan, ?Lagipula kamu lihat sendiri, Don! Dimana-mana orang ribut karena agama. Mending kita baik sama orang aja deh? Tuhan toh tahu ibadah kita terhadap sesama!?

Waduh! Kalau itu sih namanya ?Gara-gara nila setitik rusak susu sebelanga dan belanga-belanga di sebelah-belahnya!? Gara-gara segelintir orang yang berbuat jahat mengatasnamakan agama jadi buruk nama semua agama?

Meskipun mengasihi sesama itu masuk dalam hukum Kasih Tuhan tapi ia bukan satu-satunya tujuan akhir karena mengasihi Tuhan juga adalah tuntutan bagi kita melalui ibadah ?di atas batu karang? yang telah ditentukan Yesus sejak awal mula.

Beribadah? Nanti dulu!

Ada juga, lebih sedikit, yang berkomentar gini, ?Aku belum layak masuk Gereja, Don! Urusanku dengan orang-orang belum selesai. Nanti kalau sudah selesai aku akan kembali ke Gereja. Percayalah!?

Hmmm, kedengarannya baik tapi siapa yang bisa memastikan bahwa suatu saat urusan kita dengan orang-orang pasti akan selesai? Siapa pula yang bisa  memastikan bahwa saat semuanya selesai dan hidup kita belum ?diselesaikan??

Semua harus dimasukkan dalam kerangka berpikir bagaimana kita berproses sepanjang hidup untuk menyelaraskan dua aliran kasih dari kita kepada Tuhan dan dari kita kepada sesama. Hingga akhirnya di ujung hidup nanti, kita bisa bilang bahwa kita telah melakukan yang terbaik untuk mengamalkan kasih.

Sydney, 13 Juni 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.