
Ya! Terimakasih.
Ucapkan itu ketika kamu merasa bahwa kamu mendapatkan sesuatu dari orang lain, apapun itu.
Maka itu menandakan bahwa kamu adalah orang yang mau mengakui bahwa dengan kasih, orang lain itu tadi berbuat kepadamu.
Bukan dengan paksaan meski sebenarnya iya sekalipun.
Ucapkanlah terimakasih meski itu hanya sekedar pemerah bibir, karena bukankah itu yang maksimal bisa kamu berikan dan mana mungkin orang yang kau beri ucapan itu
bisa tahu tentang basa-basi itu? Setahu-tahunya mereka pasti hanya mengira-ira saja.
Jadi terima kasih, meski hanya basa-basi itu tak mengapa.
Jangan!
Jangan tidak mengucapkan terimakasih ketika kamu mendapatkan sesuatu dari orang lain.
Maka itu menandakan bahwa kamu adalah orang yang mengabaikan perbuatannya kepadamu.
Kamu akan diannggap orang tak peka terhadap kasih karena tak bisa mengakui kasih yang kau terimakan dari mereka.
Jangan!
Jangan tidak mengucap terimakasih meski hatimu memang betul-betul tak ingin. Berbasa-basilah sedikit, tak mengapa…
Karena seperti kata Kardinal Lamberto kepada Michael Corleone dalam GodFather III sesaat sebelum ia mengaku dosa di teras gereja,
Mengaku dosa tanpa bertobat?
Tak mengapa, dari yang sering kudengar kamu kan orang praksis: setidaknya kamu kan nggak rugi!
Ya, ucapkan terimakasih meski kamu sebenarnya tak menginginkannya, karena kamu tak akan rugi sedikitpun!
Apa sih susahnya?

Tinggalkan Balasan