Tyas (7 – habis)

20 Mar 2016 | Tyas

Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

Ada beberapa penggalan percakapan yang akan selalu kuingat antara aku dengan Ayok, adik angkatanku saat kuliah di Universitas Kristen Duta Wacana yang lantas menjadi adik iparku.

Pertama adalah saat Papa meninggal, 7 April 2011 silam. Waktu itu, konon Ayok belum resmi berpacaran dengan Chitra tapi ia sudah begitu banyak membantu dalam prosesi pemakaman Papaku.

Ayok adalah orang yang menggantikanku untuk membopong jasad Papa saat akan dimandikan. Aku menyatakan keberatanku waktu itu karena takut aku tak kuat menanggung pedih. Aku memilih untuk menyiram jasad Papa dengan air saja.

Setelah usai memandikan, karena aku masih tak terlalu ?ngeh? siapa Ayok, aku memanggil Chitra dan bertanya, ?Chit, siapa yang kamu tunjuk buat ngatur prosesi perkabungan Papa ini??

Ia menunjuk Ayok. Aku bersalaman dan ia berkata, ?Saya Ayok, Mas. Temannya Chitra!??

Saat kedua adalah ketika aku memberikan pesan-pesan wejangan kepadanya semalam sebelum ia menikahi adikku, Juli 2012 silam. Sebagai wakil almarhum Papa, malam itu di lobby Novotel Hotel Jogja tempatku menginap, aku menyampaikan banyak pesan kepadanya yang tentu tak etis jika kusiarkan di sini.

Ketiga terjadi tahun lalu, saat aku sedang mudik untuk bertemu Mama.?Ada banyak hal yang kuurus dengannya terkait beberapa surat administrasi baik untuk mengurus kartu BPJS maupun hilangnya KTP Mama.?Setelah keliling kesana-kemari, aku dan Ayok mampir makan siang di sebuah warung makan tak jauh dari Stasiun Kereta Api Klaten.

Sembari makan, kami ngobrol ngalor-ngidul.

?Mas??
?Ya??

?Kamu kok bisa kuat banget tho??

Aku terkesiap. ?Kuat??
?Yup! Aku lihat dari kemarin kamu tatag (tabah -jawa) menghadapi semua ini padahal Mama kan sedang sakit keras.?

Aku tersenyum, mencari sela lalu menjawab. ?Aku pasrah, Yok!?
Ia diam.

?Aku mau tatag atau nggak tatag, itu gak mengubah kondisi Mama, kan??

Ia masih terdiam.

?Yok. Aku cuma mau pesan satu hal? Kalau Mama meninggal dan aku nggak bisa pulang, aku cuma mau dua hal. Jika ia meninggal di rumah kontrakan, segera sewa rumah perkabungan di Semangkak, Klaten.. Di kapelnya itu. Lalu rawatlah jasadnya sebaik mungkin lalu dimakamkan secepatnya.

Jika ia meninggal saat kalian sudah kembali ke rumah Tegal Blateran, rawatlah jasadnya lalu makamkan sebaik-baiknya, secepat-cepatnya??

***

Tyas

Mama dan Papa, 1979

Malam itu aku memutuskan untuk pulang ke Klaten bersama Joyce dan anak-anak pada hari Rabu, 9 Maret 2016. Mama mertuaku akan ikut serta, kami berencana bertemu di Jakarta pada Rabu pagi.

Aku segera menginformasikan hal itu kepada Chitra melalui grup WA.

Sesaat sebelum Joyce memutuskan untuk membeli tiket melalui website, aku memintanya untuk menunda sebentar. Aku berpikir aku harus bertanya pada Chitra apakah ia setuju dengan ideku untuk memakamkan Mama pada hari Kamis karena perhitungannya aku akan tiba di Klaten hari Rabu sore.

?Waduh, nggak bisa, Mas!?
?Kenapa??
?Repot! Siapa yang akan jagain? Kasihan Mama!?

Lalu ada serangkaian diskusi dan perdebatan yang terjadi tak hanya antara aku dan Chitra tapi juga dengan beberapa lingkaran persaudaraan dalam memutuskan hal ini.

Semua akhirnya dikembalikan kepadaku sebagai anak tertua Mama.

Aku berada di persimpangan.

Tapi akhirnya ada dua hal yang kuingat sebelum aku berkeputusan.

Pertama adalah percakapan yang kutulis di atas antara aku dengan Ayok, dan yang kedua adalah aku mengingat pribadi Mama.

Mama selama hidup bukanlah orang yang suka berkonfrontasi. Ia selalu mengajukan perdamaian di atas segalanya.

Aku membayangkan, jika aku memaksakan kehendakku untuk memakamkan jenasah Mama hari kamis, bisa jadi hal itu akan terlaksana. Tapi aku tak mau di waktu ke depan hubunganku dengan Chitra, adikku dan saudara kandungku satu-satunya terdapat ganjalan yang tak seharusnya ada.

Aku berkeputusan.
?Kita nggak usah pulang, Hon!? Joyce kaget.

?Kenapa??
?Aku ikhlas Mama dimakamkan besok pagi dan kalau dia dimakamkan besok, untuk apa kita pulang? Lebih baik kita kirim doa, aku pulang nanti bulan Juni atau Juli, pada peringatan 100 harinya.?

Aku segera menginformasikan ini ke grup percakapan dan persoalan ini pun berlalu sudah?

Chitra dan Ayok terus mengupdate situasi terkini di rumah.

Sementara itu, ucapan belasungkawa mengalir deras dari social media hingga ke whatsapp. Banyak yang tak bisa kutanggapi saat itu.

Kawan-kawan seangkatan di SMA Kolese De Britto sigap menjalin komunikasi untuk mengatur siapa yang akan melayat malam itu dan siapa yang akan hadir pada keesokan harinya karena Mama direncanakan akan dimakamkan pada tanggal 8 Maret 2016 pukul dua siang.

Malam itu pikiranku begitu runyam. Aku tak sanggup untuk menangis meski batinku tunduk dalam duka. Aku tidur memeluk anak-anak dan istriku, sumber kekuatan yang diberikan Tuhan kepadaku?

***

tyas

Karangan bunga dari Paguyuban Alumni SMA Kolese De Britto Yogyakarta

tyas

Karangan bunga dari komunitas bisnis De Britto (DBBC – De britto Business Community)

tyas

Karangan bunga dan teman-teman angkatan 96, SMA Kolese De Britto yang datang melayat

tyas

Karangan bunga dari Citraweb Nusa Infomedia

tyas

Karangan bunga dari kantor

Keesokan harinya aku tak pergi bekerja. Atasan memberiku cuti untuk menuntasi minggu itu dan aku menurut saja.

Ketika membangunkan anak-anak dan mempersiapkannya, sesaat setelah memberitahukan kepada Odi dan Elo bahwa Uti Tyas sudah tiada, aku baru merasakan resapan duka itu.

Saat aku sedang mendudukkan Odi dan Elo bergantian di toilet, tiba-tiba aku teringat dulu waktu kecil pun Mama melakukan hal yang sama terhadapku, mendudukkanku ke atas toilet dan menungguiku.

Aku menangis sejadi-jadinya meski tak sampai lima menit. Perasaanku sedikit melega karena duka terlampiaskan dalam wujud air mata.

Aku menelpon Chitra.
Suaranya masih berat, terisak.

tyas

Lelayu

?Semua OK?? Tanyaku.
?Iya. Cuma Geo yang rewel dari semalam…mungkin kurang tidur, mungkin kangen dengan Uti-nya?, ia mengambil nafas dalam-dalam.

?Mama cantik??
?Cantik banget, Mas!? Suara Chitra berubah sedikit meriah.

?Sama sekali nggak kelihatan sakitnya. Padahal kan sebelum meninggal, wajah Mama kan jatuh lebih berat sebelah..?

?Iya??
?Tapi ini dia cantik sekali!?

?Oh.. siapa yang merias?? ?Aku bertanya demikian karena saat masih sehat dulu Mamaku adalah seorang perias wajah jenasah di kampung.

?Nah itu yang aku mau tanyakan ke kamu!?
?Oh??

?Aku nggak kenal. Orangnya tinggi, masih muda, cantik, rambutnya ikal.?
?Trus??

?Pakai kaos Citranet!?

Aku kaget sejadi-jadinya. ?Kaos Citranet? Siapa ya???Ia lantas mengirimkan foto orang yang dimaksud.

Aku semakin kaget. ?Lho, ini si Ivo, adiknya Iwan dan sebelahnya itu Tante Mi?Ing, mamanya Iwan!?

Iwan yang kumaksud adalah Iwan Santoso.
Sahabatku yang meninggal mendadak pada 10 Mei 2015 silam yang kepadanya aku sangat kehilangan. Iwan adalah sahabat sejak kecil, rumahnya tak terlalu jauh dari rumahku dan sejak tahun 2000 hingga 2008, kami bersama-sama membangun perusahaan yang salah satunya adalah Citranet di Jogja. (Simak tulisanku di sini yang kutayangkan untuk mengenang kepergiannya, tis76)

Waktu aku datang untuk menjenguk Mama pada Maret 2015 silam, intensitasku bertemu dengan Iwan cukup tinggi. Tak kusangka itulah saat terakhirku bertemu dengannya karena dua bulan kemudian ia terkena serangan jantung lalu meninggal.

Aku ingat waktu kecil dulu, saat kami duduk di bangku TK Maria Assumpta Klaten, pada suatu siang aku terjatuh dan jidatku membentur sudut tembok dan robek berdarah. Tante Mi?Ing lah yang mengantarkanku pulang. Ia mendudukkan Iwan di depan dan aku diboncengkannya di belakang.

Alangkah uniknya hidup ini!
Setahun silam aku datang untuk menjenguk Mama, ternyata aku juga diberi kesempatan Tuhan untuk bertemu terakhir kalinya dengan sahabatku itu. Dan kini, Mamaku dipanggil Tuhan, Tante Mi?Ing dan Ivo, adiknya Iwan, yang merias wajah Mamaku untuk yang terakhir kalinya!

Dan ini bukanlah satu-satunya.Kawan-kawan dari De Britto adalah salah lainnya.
Komunikasi yang sangat intens yang terjalin antara aku dengan mereka setahun terakhir sejak aku dipilih menjadi panitia Pemilihan Presiden Paguyuban Alumni De Britto membuat hubungan kami hangat.

Aku tak bisa membayangkan, jika hubunganku tak baik dengan mereka, siapa yang waktu itu mau dan sudi membuatkan dan mengantar kue tart ulang tahun untuk Mama? (Simak tulisanku di sini tentang bagaimana Kunto dan Teddy serta Made mempersiapkan ‘pesta’ ulang tahun Mama yang terakhir)

Teman-teman Citraweb juga serta merta langsung mengulurkan tangan untuk membantu sekiranya ada yang bisa dibantu.

Sobat-sobat dari Maria Assumpta juga demikian dan ini sejatinya lebih unik lagi.?Kalian bisa membaca keterlibatanku pada almamater yang sebenarnya hanya kudiami setahun saat pendidikan TK dulu di tulisan ini.

Tapi keterlibatan itu seolah justru jadi simbol yang menguatkan persahabatanku dengan Iwan Santoso; orang yang semula akan kuajak untuk bersama-sama membangun situs Maria Assumpta.

Hanya itu? Tidak!
Bantuan Mas Markus yang mendatangkan pastor untuk memberikan sakramen minyak suci yang terakhir kepada Mama sehari sebelum Mama meninggal juga kukenal dari interaksiku dengan orang-orang Maria Assumpta.

Semua adalah rajutan yang indah.
Tuhan benar-benar telah mempersiapkan hari itu. Hari dimana Mama berpulang sekaligus hari dimana Tuhan sendiri menampakkan kasihNya melalui perantaraan orang-orang terdekat maupun orang-orang yang semula kupikir tak pernah mendekat.

Sekitar pukul dua siang waktu Indonesia Barat.
Mama dimakamkan di Pemakaman Semangkak Klaten, satu kompleks pemakaman dengan Papa dan almarhum Eyang Kakung, ayahnya.

Aku memandang nanar foto-foto yang dikirimkan.
Pada saat yang bersamaan, aku memimpin doa bersama Odilia, Elodia dan Joyce untuk menghantar jasad Mama ke tanah dan demi damainya jiwa yang bersemayam ke Rumah Bapa.

tyas

Makam Mama

Usai sudah perhelatan hidup seorang Veronika Dyah Rahayu Wirjaningtyas atau yang biasa disapa sebagai Tyas.

Hidupnya tak lepas dari salah dan lupa, lemah dan alpa. Tapi Tuhanlah yang lantas menggenapi semuanya itu dengan rahmat karuniaNya yang tak terhingga.

Aku telah dipersiapkan untuk menjadi kuat menghadapi dan menuliskan ini semua. Kekuatan ini berasal dari Allah semata, tapi didaraskannya melalui Papa dan Mamaku yang merawatku dulu dan kini saatnya untukku merawat setiap kenangan yang pernah muncul terhadap dirinya, diri seorang Tyas.

Selamat beristirahat dalam kekal, Ma.
Pada saatnya nanti, saat semua tugasku di dunia selesai kutuntasi, kita semua akan bersatu dalam haribaan Bapa yang maha menyenangkan, maha melegakan dan maha kekal… (tamat)

Sebarluaskan!

3 Komentar

  1. Saya terharu membacanya, Don. Semoga terbaik dari Tuhan untuk semua, aamin.

    Balas
  2. Bos, Tyas1-7 sdh saya baca tuntas. Cinta dan dukungan dari seorang ibu memang tidak pernah bisa tergantikan, tapi saya berharap, bos bisa menemukan kekuatan dan kehangatan dalam kasih sayang keluarga dan dalam pelukan hangat dari sahabat.
    Sekali lagi turut berduka atas meninggalnya, ibunda.

    Balas

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.