Tyas (6)

19 Mar 2016 | Tyas

Serial ?Tyas? kutulis dalam rangka mengenang kepergian Mamaku, Veronika Dyah Rahayu Wiryaningtyas, 7 Maret 2016, seperti halnya aku mengenang papaku lewat ?Diek? dahulu.

Senin pagi, 7 Maret 2016.
Tidurku semalam tak nyenyak, pikiran kalut menebak-nebak apa yang akan terjadi pada Mama. Mereka-reka banyak kemungkinan dalam pikiran sendiri, ?Bagaimana kalau begini? Bagaimana kalau begitu??

Aku segera menelpon Chitra pagi itu.

?Mama akan kita bawa ke PMI mengikuti jalur BPJS, Mas!? tuturnya.
?Sip! Kabari aku update-nya ya!?

Sekitar pukul 12 siang waktu Sydney, Chitra mengabari bahwa Mama sudah dibawa Ayok ke PMI dan oleh PMI ia dipindahkan ke rumah sakit yang lebih baik, Rumah Sakit Islam Klaten.

?Mama masuk ke ICU!? Kabar Chitra.

Perasaanku makin tak tenang sementara aku terus bekerja dan pikiranku berpilin-pilin satu sama lainnya.

?Saatnya kita bilang ke saudara-saudar, Chit??
?Iya, tapi kamu aja ya, Mas!?

Keluarga besar Eyang membentuk sebuah grup percakapan di Whatsapp sejak beberapa tahun silam. Saat itu juga kabar yang tak terlalu menyenangkan itu kurilis ke sana.

Sekitar dua jam kemudian, Ayok mengabarkan tekanan darah Mama menurun, 102/60 dan saat itu sudah dibantu respirator untuk bernafas.

Pikiranku makin kalut. Pengalaman mendengar bagaimana seorang pengidap kanker menuntasi hidupnya, salah satu tandanya adalah tekanan darah yang semakin menurun.

Kerja makin tak fokus.
Setiap saat ringer handphone berbunyi, setiap itu pula dadaku berdesir kencang menantikan kabar terbaru Mama.

Sekitar pukul tiga sore Waktu Sydney, Ayok kembali melaporkan tekanan darah Mama semakin menurun, 100/70.

Aku belingsatan. Kuraih rosario dari saku tas, aku beringsut dari meja kerja, menyepi dan menepi mendasarkan doa.

Di titik hening dalam doa, aku berusaha untuk sadar dan memahami bahwa barangkali ini adalah saat-saat terakhir Mama dan aku ingin untaian doa itu menyertainya berjuang sebisanya, semampunya.

Sepulangku ke rumah, matahari nyaris lindap di ufuk barat, aku segera bicara dengan Joyce.

?Sepertinya aku harus pulang!?
Joyce meng-iya-kan. Tapi justru ijin yang diberikannya itu membuatku berpikir, jika aku pulang, Joyce hanya berdua dengan anak-anak. Apakah aku tega untuk meninggalkannya?

?It?s OK. Kamu pulang sendiri. Aku bisa handle anak-anak?.?

Aku tak memutuskan.
Sekitar pukul sembilan malam waktu Sydney, di tengah rasa kalutku aku mengajak anak-anak tidur.

Sebelum tidur, Odilia dan Elodia merengek minta telepon Mama, Eyang putri mereka. ?We pray for her!? Aku tak punya jawaban yang lebih panjang daripada itu.

Selepas berdoa. Aku dan Joyce segera turun ke bawah untuk mendiskusikan rencana lebih detail lagi.

?Apa tak mungkin kita pulang bareng-bareng? Aku pengen kamu dan anak-anak bertemu Mama??

Kami berdiskusi. Berpikir. Berdiskusi.

Sekitar jam setengah sepuluh waktu Sydney, Mas Momok (Om Hendratmo, adik Mama) mengirim video yang menggambarkan kondisi Mama di grup percakapan WA.

Aku bergetar melihatnya.
Ia berbaring dengan posisi baring sekitar 30 derajat. Mulut terpasang selang, hidung pun demikian lengkap dengan peralatan medis di sisinya. Matanya terkatup setengah dan nafasnya tampak sangat tersengal, nafas yang untuk keluar masuk perlu diperjuangkan betul-betul.

She?s dying? pikirku.
?Kita semua pulang minggu depan! Aku dan anak-anak ikut!? Joyce memutuskan.

?Nggak bisa besok?? tanyaku.

Joyce menggeleng?
?Kita perlu ke sekolahnya Odilia untuk meminta ijin dan ngurus ini itu selama kita pergi. Kayaknya nggak mungkin kalau besok!? Jawabnya.

?Bagaimana kalau aku saja yang pulang besok?… Aku takut kalau nggak sampai minggu depan Mama sudah ngga ada…?

Sesaat setelah Joyce meng-iya-kan rencanaku.

Setelahnya kami menerima kabar besar itu.?Adalah Joyce yang pertama membaca kabar itu terlebih dahulu.

Ia berteriak keras, ?Oh my God!?

Sementara aku hanya bisa diam.
Aku merasa tak perlu membaca pesan karena teriakannya telah mengisyaratkan bahwa hal yang kutakutkan telah terjadi saat itu juga: Mama meninggal dunia.

Tyas

Pesan yang dikirimkan Mas Momok (Om Hendratmo), adik Mama di grup percakapan WA…

Rasaku bagai layang-layang tanpa benang. Angin yang sepoi perlahan membuatku melayang tanpa arah, tanpa tujuan tapi terjatuh…

Pelukan Joyce lah yang menguatkan dan menghindarkanku dari kejatuhan.?Ucapan belasungkawa yang berdatangan melalui social media dan whatsapp meneguhkanku.

Sejak saat itu. Aku menjadi seorang anak yatim piatu.

Aku tak bisa menangis meski suaraku melirih.?Aku tak gontai, meski ketika mencoba berdiri, persendianku rasanya seperti mesin tak pernah diminyaki.

…bersambung

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.