Tuntasi mimpi, jangan bangun terlalu pagi!

27 Mar 2018 | Cetusan

Masih tentang mimpi, ketika seorang tak kunjung berhasil meraih apa yang diimpikan, bisa jadi bukan karena ketidakbisaan, bukan pula karena kembali jatuh bermimpi saat harus mewujudkan seperti yang kurawi kemarin. Lalu? Karena belum tuntas bermimpi!

Lalu bagaimana menuntasi mimpi??

Bukankah terlalu panjang bermimpi juga tak baik? Benar! Mimpi yang terlalu panjang bagai cerita sinetron berjilid-jilid yang membuat kita tak punya kesempatan sedikit pun untuk menjadikannya nyata.

Mimpi yang tertuntasi adalah mimpi yang ketika terbangun kamu sanggup menceritakan dari A-Z dari 0-9 tentang mimpi yang barusan kamu dapatkan.

Semalam aku mimpi bertemu pacar.

Keren?
keren!

Tinggi?
Sepundakku lah!

Gemuk?
Chubby!

Rambutnya?
errrrr?. gak tahu..

Loh! Kok nggak tau? Tidur lagi sana, lanjutkan mimpi atau bikin mimpi yang baru!

Ketika kamu bermimpi untuk membuat sebuah produk pun begitu! Pastikan gambarannya lengkap di dalam benak. Seperti apa produk jadinya, kenapa orang-orang akan menggilainya.

Perwujudan mimpi yang tak tuntas biasanya akan tampak dari seberapa berbeda hasil akhir dari perkiraan awal.

Wait, Don! Bukankah wujud akhir produk yang berbeda dari impian mula-mula itu wajar?

Betul! Wajar!
Feedback pengguna terhadap produk yang kita buat akan mengubah wujud akhirnya. Tapi hal ini tidak sama dengan produk yang wujud akhirnya berubah karena mimpi yang tak tertuntasi tadi!

Bedanya?
Produk yang berasal dari mimpi tak tertuntasi bisa ketahuan dari prosesnya yang tak bisa dipertanggungjawabkan selain dari jawaban-jawaban berikut ini:

?Feelingku mengatakan lebih baik produknya dibikin begini??

?Pengguna pasti senang kalau kita tambahi fungsi ini!?

?Supaya penghasilan kita optimal lebih baik kita ubah jadi begono, bukan begitu apalagi begini?

Semua itu adalah asumsi padahal asumsi-asumsi semacam inilah yang harusnya dimaksimalkan, dituntasi di dalam mimpi. Karena dunia nyata, asumsi-asumsi harus diubah menjadi angka statistika dan opini pengguna.

Jadi jangan nekat menuntasi proses pembuatan karya kalau mimpimu sendiri pun tak tertuntasi!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.