x: Don, tulisan loe keren-keren!
DV: errrrr…..!
Bukannya tak mau berterimakasih dibilang ?keren?, tapi persoalannya, dalam tatanan sebenarnya, pantaskah ?keren? dan ?tak keren? dijadikan patokan sebuah tulisan?
Jauh sebelum aku terbiasa menulis dulu, aku sepakat bahwa pembatas yang memisahkan derajat tulisan memang ?keren? dan ?tak keren?.
Waktu itu, tulisan keren bagiku adalah tulisan berbunga-bunga, puisi, yang kerap muncul di majalah-majalah remaja atau kerap dibacakan sebagai pesan ?cinta? oleh seorang penyiar radio dan ditujukan bagi ?yang disasar? entah siapa…
“Jauh sebelum aku terbiasa menulis dulu, aku sepakat bahwa pembatas yang memisahkan derajat tulisan memang ?keren? dan ?tak keren?.”
Istilah kata, kalau tak ada kata yang mendayu-dayu, otak lantas mengirim sinyal kepada lidah untuk berkata, ?Tulisan ini tidak keren!?
Masa?berbunga-bunga? terlewati, lalu aku berani bilang tulisan Pramoedya itu keren!?Padahal, di dalam kata-kata yang dituliskannya tak ada satupun bunga-bunga kecuali malah bunga perjuangan, dendam, semangat pokoknya yang keras-keras karena memang ia selama lebih dari separuh hidupnya mengalami hidup dalam standard yang keras.
Lama aku mencoba mendalami Pramoedya, beberapa waktu silam sebelum sekarang aku menganggap Coelho dan Salman Rushdie juga keren! Padahal apanya yang keren kalau ketika membacanya aku harus berbagi konsentrasi antara menelaah kata-katanya dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia sekaligus? :)
Hingga beberapa waktu silam aku tersadar apakah sebuah tulisan harus dikategorikan sebagai ?keren? dan ?tak keren? setelah beberapa temanku berkomentar seperti yang kutulis di kalimat pertama tulisan ini.
Penyampai Pesan
“Tak ada tulisan yang tak menyampaikan pesan bahkan ketika pesan dari tulisan tersebut adalah ?Tak berpesan? “
Fungsi tulisan bagiku simple, ia harus menyampaikan pesan. Tak ada tulisan yang tak menyampaikan pesan bahkan ketika pesan dari tulisan tersebut adalah ?Tak berpesan? :)
Tulisan tak mengisyaratkan dialog, beda dengan ketika kita menelpon seseorang. Kamu menelpon orang lain dan orang lain di seberang diam, kamu bisa bilang bahwa telpon kamu ?gagal? entah karena sebab apa.
Tak percaya? Coba tanya dari sekian ratus ribu orang yang membaca buku teori Hawking, berapa persen yang ?ngerti? dan berapa orang yang ?sok ngerti? lalu bilang ?Wah, tulisan doi keren!? ?
Tulisan, sama halnya dengan media penyampai pesan lainnya akan dianggap berhasil ketika ia ternyatakan. Habis perkara!
Ikut Arus ?Keren? dan ?Tak Keren?
“Memiliki rasa bangga atas diri sendiri adalah wujud perlawanan untuk mengalahkan label bahwa kita dan segala kreasi kita itu tak keren!”
Tapi ketika ada tulisan yang dikategorikan ‘keren’ dan ‘tak keren’, barangkali itu karena kita terlampau menarik dan membandingkan setidaknya dua tulisan ke dalam ‘kompetisi’ yang bermuara pada ‘Mana tulisan yang lebih bagus?’
Terkadang kita terlalu memasukkan segala sesuatu yang ada di sekeliling kita sebagai sebuah perlombaan. Padahal apakah sejatinya memang demikian? Tentu tidak! Ada hal yang harus dimasukkan sebagai kompetisi tapi ada pula yang harus dibuang jauh-jauh sebagai wujud bahwa kita ini adalah manusia yang tidak selamanya menyukai persaingan.
Apalagi tulis-menulis, apalah persaingan yang perlu diimbuhkan ke dalamnya selain bahwa masing-masing penulis berhak untuk menyampaikan pesannya dan wajib sadar diri bahwa pembaca tak harus membacanya lebih-lebih mengerti arti pesan lewat tulisannya, toh? Apalagi kalau pertimbangan itu pada akhirnya justru akan melemahkan kita dalam menjaga hasrat untuk tetap menulis.
Orang yang rendah diri dan orang yang ‘sok’ rendah diri akan berujar bahwa tulisannya tak keren dibandingkan si A, si B, atau.. si DV! :) Padahal apa untungnya menjadi rendah diri dalam hal seperti ini selain hanya memang pada akhirnya membuat diri kalian benar-benar rendah? Kita dulu memang pernah dijajah, tapi tak selamanya kita harus jadi kuli kan?
Memiliki rasa bangga atas diri sendiri adalah wujud perlawanan untuk mengalahkan label bahwa kita dan segala kreasi kita itu tak keren! Jadi, keluarkan kertas dan pensil atau penamu. Atau buka aplikasi menulismu di komputer atau apapun gadgetmu lalu mulailah merangkai huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat itu bermakna! Makna berarti menggenggam dunia!
x: Oh! Jadi tulisanmu tak keren, Don?
DV: Bukan tak keren… tapi terlepas dari keren dan tak keren, aku menulis… dan itu keren!
x: errrrrrr!
Tinggalkan Balasan