Aku susah untuk tertarik membuat postingan sambung-menyambung dengan post blogger lain bahkan untuk sekadar blogwalking pun akhir-akhir ini sudah jarang sekali kulakukan.
Tapi ketika Mas Iwan @temukonco?men-tweet perihal postingan milik @masjaki?tentang tujuh lagu terbaik milik Sheila On 7 versinya (click di sini untuk membacanya), tak berpikir lama, kusingkirkan tulisan yang sejatinya muncul hari ini dan menulis tujuh lagu terbaik karya band asli Jogja itu tentu menurut versiku sendiri!
Aku penggemar U2, menggilai Coldplay segilaku terhadap Queen, Pink Floyd dan John Lennon utamanya setelah ia hengkang dari Beatles. Pagi-pagi musim dinginku penuh jejalan Metallica, Green Day dan Foo Fighter di telinga tapi ketika mendengar Erros(gitaris) membesut intro ?Dan? atau saat Duta, vokalis, menyanyikan reff ?Celakanyaaa?? (Seberapa Pantas) aku tak bisa menolak kenyataan indah bahwa aku adalah bagian dari keluarga besar Sheila Gank, sebutan untuk fans beratnya Sheila On 7!
Bukan hanya karena mereka berasal dari Jogja, atau pula bukan karena eks gitaris mereka, Shakti, adalah kawan dekatku di De Britto dulu.. tapi sebenarnya sejak mereka mengeluarkan album pertama kali tahun 1999, bahkan sejak single ?Kita? mereka perkenalkan lewat ajang musik indie di Geronimo FM, sekitar setahun sebelumnya, aku sudah menyukai mereka!
Lalu kenapa aku begitu menggilai mereka, sesuatu yang banyak kawanku bilang kontras banget dengan deretan pemusik manca yang kusebut di atas?
Suka-tak-suka, musik-musik Sheila adalah musik yang mengawal masa early twenty ku, masa dimana banyak sekali hal-hal yang terjadi yang pada akhirnya banyak mengubah arah hidup dan karakterku kini.
Jawabannya hanya satu. Suka-tak-suka, musik-musik Sheila adalah musik yang mengawal masa early twenty ku, masa dimana banyak sekali hal-hal yang terjadi yang pada akhirnya banyak mengubah arah hidup dan karakterku kini.
Jadi, apa saja ketujuh lagu terbaik mereka? Dengan berat hati, karena sulit sekali memilah tujuh dari sekian puluh yang terbaik, inilah pilihanku!
Dan (Self Titled – 1999)
Ini lagu yang sangat emosional.
Ada begitu banyak peristiwa muram (percintaan, maksudku) yang kualami di akhir era 90an yang secara tak sengaja seolah memilih ?Dan? sebagai ?soundtrack? nya sendiri!
Bahkan kalau diputar sekarang, dari nada pertama hingga terakhir lagu ini dimainkan, pikiranku bisa terpantik ikut jatuh muram mengenang peristiwa-peristiwa waktu itu. Waktu aku terperosok, terkhianati dan o well, ditinggal begitu saja ketika sajak cinta tengah kunikmati di awang-awang? (arggghhh? kalian bahkan ga percaya kan aku bisa menulis begini?!)
Bukan.. bukannya aku yang gagal move on dari kemuraman cerita lalu, tapi justru kehebatan lagu ?Dan? itu sendiri yang seolah mampu menarik ke atas ingatan yang barangkali sudah ada di palung paling dasar otakku. Mungkin Malaysia perlu menyewa submarine sekeren lagu ?Dan? untuk menarik MH370 jika ia benar-benar tenggelam di palung terdalam samudra.
Struktur lagu ini sangat sempurna dan dewasa dengan memasukkan satu per satu unsur instrumen, tidak langsung begitu saja seolah membangun emosional secara rapi, bertahap dan maaf, sekali lagi harus kukatakan.. sempurna!
Padahal kalau ditilik dari usia mereka saat itu yang rata-rata masih 19-an, emosi dan ego bermusik mereka pasti sedang tinggi-tingginya.
Kepiawaian Erros dalam memilih petikan dan riff pada bagian intro serta verse juga brilian. Interlude besutannya sederhana tapi lengkingannya seolah melanjutkan emosi lagu ini hingga ke titik kulminasinya.
Permainan bass Adam juga adalah yang terbaik dibanding semua permainannya di lagu-lagu lain setidaknya hingga kini. Perhatikan bagian verse, ia jenius sekali memilih nada yang harus dimainkan seolah berkelindan dengan vokal Duta di atas titian ?senyap? drum yang dibangun Anton.
Hal lain yang tak boleh ditinggalkan adalah liriknya yang brilian. Coba simak bagian ini,
caci maki saja diriku
bila itu membuatmu
kembali bersinar dan berpijar seperti dulu kala?
…cinta memang soal pengorbanan. Ketika orang yang kita cintai bahagia, cinta berada di puncak tertinggi dengan pengorbanan diri sebagai tonggaknya melebihi segala hal yang telah, sedang dan pernah akan ada dalam kehidupan ini
Pada akhirnya, cinta memang soal pengorbanan. Ketika orang yang kita cintai bahagia, cinta berada di puncak tertinggi dengan pengorbanan diri sebagai tonggaknya melebihi segala hal yang telah, sedang dan pernah akan ada dalam kehidupan ini dan… ?Dan? mengaktualkan hal itu secara brillian!
Temani Aku (Kisah Klasik Untuk Masa Depan – 2000)
Setelah terseok-seok oleh ?Dan?, ?Temani Aku? yang ada di album kedua ini seolah menjadi awal kebangkitanku dulu!
Lagu ini menjadi salah satu ?soundtrack? hubunganku dengan Joyce, mantan pacar yang kini jadi istri dan ibu bagi anak-anakku.
Aku bahkan pernah membuat sebuah flash clip ketika ?memperingati? 2 tahun jadian dengannya, 2002 silam dengan soundtrack lagu ini. Flash clip itu kutampilkan di blog lama, donnie.or.id. Sampai sekarang clip itu masih kusimpan tapi mohon maaf tak bisa kupertontonkan di sini karena istriku, Joyce, belum mengijinkannya hehehe?
Oh ya, dari sisi lagu, selain ke-simple-annya, hal yang kusuka dari ?Temani Aku? adalah interlude gitar yang kupikir awalnya dimainkan Erros ternyata oleh Shakti.
Sahabat Sejati (Kisah Klasik Untuk Masa Depan – 2000)
Pernah suatu waktu dulu aku sedang bepergian dengan salah satu sahabatku, Adhit Omphonk. Dalam perjalanan kami memutar lagu itu dan ia tiba-tiba berkata, ?Bayangkan nanti kalau kita udah nggak bareng-bareng lagi trus nyanyiin lagu ini rasanya pasti gimanaaa gitu!?
Ya, lagu ini memang bicara soal persahabatan dan setiap orang yang menghargai arti persahabatan seharusnya suka juga dengan lagu ini.
Secara musikalitas aku suka karakter gitar Erros dan Shakti di sini yang tak terlalu gahar tapi rock sekali dan coba simak penggalan lirik ini, ?Merdeka kita? kita merdeka!? Juara, kan?!
Hal yang agak membuatku tak terlalu sreg adalah gebukan drum Anton yang menurutku agak sedikit keluar dari tempo pada bagian akhir padhal sejak awal sudah disusun dengan rapi dan konsisten.
Tapi overall tetap OK lah!
Tema lagu dan aransemen secara keseluruhan tetap tak terbantahkan untukku menempatkan lagu ini di posisi ketiga!
Kisah Klasik Untuk Masa Depan (Kisah Klasik Untuk Masa Depan – 2000)
Bagiku, lagu ini ?menyeruak? agak terlambat.
Dirilis sebagai bagian dari album yang memiliki judul sama, Kisah Klasik Untuk Masa Depan pada 2000, aku mulai merasakan kekuatan lagu ini ketika mulai berpikir untuk pindah ke Australia, awal paruh kedua dekade silam.
Simply karena, aku akan pindah ke Australia meninggalkan Jogja dan Indonesia beserta seluruh isinya dan tantangannya adalah bagaimana membuat peristiwa-peristiwa terakhir yang kujalani dan alami di Jogja waktu itu menjadi kisah-kisah klasik yang menarik untuk kukenang di masa depannya yaitu sekarang-sekarang ini.
Orang banyak bilang lagu ini cocok sekali untuk acara perpisahan dan itu memang benar tak terbantahkan terutama ketika mendengar paparan Duta berikut,
Bersenang-senanglah
Karena hari ini akan kita rindukan di hari nanti
Sebuah kisah klasik untuk masa depan
Bersenang-senanglah
Karena waktu ini akan kita banggakan
Di hari tua
Yang Terlewatkan (Menentukan Arah – 2008)
Dari banyak grup band Indonesia yang sekarang semakin ke-melayu-melayuan, Sheila On 7 menurutku yang tetap punya karakter dan mempertahankan itu dari awal karir mereka.
Dari banyak grup band Indonesia yang sekarang semakin ke-melayu-melayuan, Sheila On 7 menurutku yang tetap punya karakter dan mempertahankan itu dari awal karir mereka.
Dan lagu Yang Terlewatkan ini adalah salah satu buktinya. Diambil dari album ?Menentukan Arah? 2008, lagu ini kuat sekali sisi akustiknya.
Pemilihan penggunaan drum brush stick oleh Brian yang menggantikan Anton di posisi drum sangat tepat. Kalau istilahnya Agnes Monica, ?kawin banget? dengan sound gitar Erros yang crunchy, kering dan akustik?
Oh ya, dari sisi lirik, lagu ini semakin menguatkanku bahwa SO7, setidaknya Erros yang paling banyak mencipta lagu, sangat sering menggunakan kata ?hebat?.
Soal tema lagu? Asik! Barangkali cocok bagi kalian yang sudah merit atau terlanjur terikat tapi lalu mengenal seorang yang pesonanya lantas membuat kita berpikir, ?Duh, coba ketemunya dulu sebelum nikah tentu kau tak kan terlewatkan!?
Ah, kali ini tentu bukan aku! Kamu barangkali? Kalian? Hayo, ngaku!
Berai (Self Titled – 1999)
Awalnya aku tak suka lagu ini.
Hingga akhirnya aku menyaksikan konser akustik Sheila On 7 di Java Cafe (doohh. jadul banget yah!) akhir 1999 lalu dan aku terpukau ketika mereka memainkan lagu Berai.
Secara musikalitas, hal paling menarik dari Berai adalah ketika suara Duta ditimpa (sandwich) oleh suara backing vokal wanita yang memainkan nada satu oktaf di atas vokalis Sheila On 7 itu.
Aku sangat-sangat-sangat suka pada frase lirik ini, ?Kau kemasi kasih sayangmu?
Berai, bagiku adalah ?Dan? versi yang lainnya.
Lagi-lagi, Erros adalah bintangnya. Pilihan nada pada intro sekali lagi sudah menjanjikan kemuraman itu sendiri, kemuraman tingkat dewa!
Sephia (Kisah Klasik Untuk Masa Depan – 2000)
Susah untuk tak suka pada lagu ini tapi awalnya aku ragu-ragu untuk menempatkannya di sini karena takut pendapatku telah terintervensi pendapat publik ketika mereka menilai bahwa lagu Sheila On 7 yang paling ngetop ya Sephia.
Dekade lalu bahkan istilah ?Sephia? marak digunakan untuk menyebut selingkuhan (wanita) sebagai ?Sephia-mu?.
Tapi aku harus mengakui blending antara musik mereka dengan orkestra itu ?OK banget?
Didukung lagi tema yang sangat aktual dan eh satu lagi, ada nggak dari kalian yang pernah nyanyiin plesetannya Sephia digabung dengan Begadangnya Rhoma Irama? Jadinya begini,
?Slamat tidur kekasih gelapku?
kalau tiada artinya..
begadang boleh saja kalau ada perlunya!?
Happy birthday Sheila On 7! Teruslah berlayar!
Tinggalkan Balasan