Tuhan dan lampu, Yesus dan Listrik Masuk Desa

11 Mar 2018 | Kabar Baik

Serunya listrik masuk desa di awal dekade 80-an itu barangkali sama dengan bagaimana gempitanya orang-orang menyambut koneksi internet 4G di zaman kini.

Tapi Bidu, kawan baik omku, tak seseru warga lain. Ia menanggapi listrik masuk desa dengan biasa saja.

?Lho, bukankah dengan listrik masuk desa kita nggak lagi tergantung pada teplok, sentir dan petromak, Bidu?? tanya omku, Moki namanya.

Bidu tak menjawab. Di dalam hatinya ada dua kubu yang saling berhadap-hadapan.?Listrik masuk desa membuatnya mengirit ongkos minyak dan perawatan petromak. Listrik masuk desa membuatnya bisa mendengarkan wayang lewat radio tanpa harus memikirkan batu baterai yang boros nian penggunaannya.

Tapi di sisi lain, yang tak bisa diungkapkan kepada Moki, listrik masuk desa membuat petulangan cinta terlarangnya dengan Tini, istri Birawa, tetangganya, terancam.

Apa pasal?
Bidu dan Tini biasa berasyik-masyuk di gardu dekat sawah yang ketika listrik belum masuk adalah tempat yang gelap nan gulita. Tak ada satupun orang berani datang ke sana pada malam hari karena konon angker pula. Dengan adanya lampu yang akan dipasang di atas gardu itu, Tini dan Bidu kehilangan tempat dan harus berpikir empat kali lipat untuk mencari tempat yang aman guna melanjutkan perselingkuhannya.

Kedatangan Yesus di muka bumi, 2000 tahun silam adalah seperti listrik masuk desa dalam cerita di atas.?Ada banyak yang menyambut, tapi ada juga Bidu-bidu yang galau, antara mau menyambut atau menolak.

Listrik atau cahaya itu tak menghakimi.?Listrik atau cahaya hanya membuat terang-benderang hal-hal yang buruk yang biasa dilakukan di tempat yang gelap.

Yesus pun demikian, Ia tak menghakimi.?Melalui terangNya, Yesus menyadarkan kita akan keberadaan diri yang sesungguhnya. Ia menawarkan kasih dan pada akhirnya memisahkan mereka dari kita. Mereka yang tak suka dalam terang memilih untuk menyingkir ke tempat gelap untuk menikmati keburukan. Kita, semoga yang meski berat tapi rela meninggalkan kegelapan dan datang kepada cahaya.

Don, kalau Yesus itu kamu ibaratkan denganl istrik, kenapa tak kamu matikan saja? Tanya Bidu yang tiba-tiba datang dalam renunganku.

Hmmmm, dua ribu tahun lalu, ada yang mencoba berkomplot untuk meringkus lalu mematikan cahaya Kristus. Usaha mereka berhasil. Mereka mematikanNya, membunuhNya. Tapi tiga hari kemudian Ia bangkit dan cahayanya abadi hingga kini menerangi kita semua, aku dan kamu. Hidup kitapun jadi terang-benderang?

Dan inilah hukuman itu:
Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. (Yoh?3:19)

Sydney, 11 Maret 2018

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.