Tuhan bersama orang-orang dalam aksi Kamisan!

13 Sep 2017 | Kabar Baik

Lalu Yesus memandang murid-murid-Nya dan berkata: “Berbahagialah, hai kamu yang miskin, karena kamulah yang empunya Kerajaan Allah.
(Lukas 6:20)

Kabar Baik hari ini, bagiku sangat remarkable! Berarti nan signifikan. Secara keras, Yesus menekankan keberpihakan Tuhan pada orang-orang yang miskin, berduka, lapar, dikucilkan dan dibenci.

Ini amat menarik karena sebelum Yesus datang, orang-orang Israel menilai Allah dari figur orang-orang Farisi dan Ahli Taurat, mereka menganggap Allah berpihak pada mereka yang hidup dalam kegelimangan harta, kenyang, populer dan dielu-elukan; mengajarkan hukum Taurat tapi tak mengerjakannya secara sebenar-benar.

Tak hanya tentang keberpihakan, Yesus juga mengajari dua hal penting yaitu bagaimana kita harus setia dalam penderitaan namun sekaligus tak berhenti menaruh harapan akan akhir dari segala derita.

Keduanya, kesetiaan dan harapan bermuara pada rasa perlunya kita untuk percaya dan beriman. Indah, bukan?

Tapi bagaimana wujud nyata dari menjaga kesetiaan sekaligus memunculkan harapan di ufuk segala penderitaan yang kita terima?

Tak bisa tidak selain bergerak. Menanti dengan setia sekaligus menaruh harapan itu berarti menyongsong perubahan, menggerakkan yang masih bisa digerakkan, memberdayakan yang bisa dijadikan daya, bukannya duduk lalu mati dalam keterdiaman!

Seperti orang-orang yang sudah lebih dari lima ratus kali berdiri mematung di depan Istana Negara Jakarta setiap Kamis jam 4-5 sore. Mereka menyebut sebagai ‘aksi Kamisan’, menuntut dalam keterdiaman, siapapun pemerintah yang sedang berkuasa untuk menyelesaikan banyak perkara pelanggaran HAM yang belum kunjung diselesaikan di Tanah Air. Mulai dari Tragedi 65, Tanjung Priok, Pembunuhan Marsinah, penculikan aktivis di penghujung Orde Baru, Pembunuhan Munir hingga kasus Ahmadiyah dan GKI Yasmin.

Mereka menanti tapi tak malas terdiam. Mereka bergerak dan terus mengingatkan pemerintah akan hutang yang belum terbayar lunas tentang perlindungan warga, salah satu yang seharusnya jelas-jelas termaktub dalam aturan sebagai kewajiban negara.

Tuhan bersama mereka yang menderita dan menanti namun tak pernah lelah berhenti untuk memperjuangkan keadilan di seluruh muka dunia!

Sydney, 13 September 2017

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.