Tuhan berpikir maka aku ada

8 Jun 2017 | Kabar Baik

Kabar Baik Hari Ini 8 Juni 2017

Markus 12:28 – 34
Lalu seorang ahli Taurat, yang mendengar Yesus dan orang-orang Saduki bersoal jawab dan tahu, bahwa Yesus memberi jawab yang tepat kepada orang-orang itu, datang kepada-Nya dan bertanya: “Hukum manakah yang paling utama?”

Jawab Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.

Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.

Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini.”

Lalu kata ahli Taurat itu kepada Yesus: “Tepat sekali, Guru, benar kata-Mu itu, bahwa Dia esa, dan bahwa tidak ada yang lain kecuali Dia.

Memang mengasihi Dia dengan segenap hati dan dengan segenap pengertian dan dengan segenap kekuatan, dan juga mengasihi sesama manusia seperti diri sendiri adalah jauh lebih utama dari pada semua korban bakaran dan korban sembelihan.”

Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!” Dan seorangpun tidak berani lagi menanyakan sesuatu kepada Yesus.

Renungan

Semalam di grup percakapan WhatsApp Kabar Baik muncul sebuah diskusi menarik.

Mana yang benar, ‘Aku adalah apa yang aku pikirkan’ atau “Aku adalah apa yang Tuhan pikirkan” ?

Premis pertama, “Aku adalah apa yang aku pikirkan” muncul dari pernyataan legendaris Ren? Descartes, filsuf abad ke-17, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada.

Setiap bangun pagi (o well, setelah check social media dari handphone tentunya…) aku ditantang satu pernyataan kecil, “Berapa lama aku harus duduk di toilet dan menikmati ‘ritual pagiku’?” Hal itu lantas biasanya kujawab, “Tiga puluh menit cukup! Aku harus membantu istri untuk menyiapkan anak-anak pergi ke sekolah!”

Setelah selesai, kembali aku bertanya, “Sebaiknya aku pakai baju apa? Di luar tampaknya dingin sekali?” Aku lantas memilih kaos celana jeans hitam. Untuk menghangatkan tubuh, kututup dengan jaket kulit tebal, warna hitam pula.

Turun ke ruang makan, aku berpikir lagi, “Sebaiknya aku makan apa pagi ini? Cereal, kopi susu saja atau roti tawar dan keju?” Karena takut kekenyangan, pagi tadi aku memilih kopi susu saja.

Begitu sampai di kereta untuk pergi kerja, kembali aku berpikir, “Apakah sebaiknya aku menuliskan Kabar Baik sekarang atau nanti saja waktu jam istirahat di kantor?” Karena aku tak mau kalian menunggu maka kukeluarkan laptop dan kutuliskan kisah ini.

Runtutan hal yang terjadi/ada dalam hidup adalah hasil pemikiran, hasil olah akal dan budi kita dan ada begitu banyak (kalau tak mau dikatakan hampir semua) hal di dunia ini muncul dari pemikiran-pemikiran ‘elementer’ seperti itu.

Jadi benarkah pendapat Descrates, “Aku berpikir maka aku ada?”

Pernyataan “Cogito Ergo Sum” tidak bisa disalahkan asal kita tak berhenti pada “aku” semata karena Descartes menulis “Aku berpikir maka aku ada.”

“Aku” diciptakan oleh Tuhan sehingga berhenti pada “Aku” adalah sebuah dead-end, sebuah cul-de-sac, sebuah titik buntu. Penelusuran spiritual, aku menyebutnya demikian, haruslah terus dilanjutkan di atas / beyond ‘Aku’ dengan memandang Tuhan yang membuat kita bisa berpikir dan memberi alasan untuk kita berpikir.

Membuat kita berpikir
Tuhan membuat kita bisa berpikir karena akal budi dan kehendak bebas yang diberikanNya. Pikiran adalah buah dari akal dan budi. Kehendak bebas adalah anugerah untuk membuat kita mampu berpikir dan tidak mengikuti pola yang tetap seperti robot.

Alasan untuk berpikir
Tapi apa alasan untuk kita berpikir? Supaya kita ada? Kalau memang alasannya ‘Supaya kita ada’ maka pertanyaanku, mana yang lebih dulu terjadi dengan menerapkan quote Descrates, ‘Cogito Ergo Sum’ tadi, ‘kita berpikir’ atau ‘kita ada’? Lagi-lagi, kita harus memandang Tuhan untuk menemukan alasan kenapa kita berpikir dan apa yang ditulis Markus hari ini mengutip apa yang dikatakan Yesus adalah jawabannya.

Kepada seorang Farisi yang baik, Yesus berkata begini, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu.”

Kita berpikir, sebagai buah akal dan budi, untuk lebih mengasihi Allah! Apa yang keluar dari pikiran harus bersumber dan bertujuan pada mengasihi Allah sendiri.

Dalam wujud nyata, niatan itu muncul dengan menyelaraskan pikiran kita dengan kemauan Tuhan, pikiran Tuhan. Pada titik selaras paling tinggi, paling dalam, yang ada bukan lagi ‘Aku’ tapi ‘Tuhan’. Diri ini disangkal (bdk Lukas 9:23) sehingga tak ada lagi “aku berpikir maka aku ada” tapi “Tuhan berpikir maka aku ada”

Duh tiba-tiba aku berpikir ingin kentut sementara kereta penuh, bagaimana baiknya?

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.