Tri Sembah Bekti Pulang ke Rumah

9 Jun 2024 | Cetusan

Semalam, sepulang dari pelayanan musik di Perayaan Ekaristi Berbahasa Indonesia di St John XXIII’s, Jeng Linggar mengirim video melalui Facebook messenger.

“Pakde Fer tadi bilang bahwa ini lagu ciptaanmu. Warga Gereja Maria Assumpta yang tinggal di Australia. Namanya Donny Verdian yang juga lulusan De Britto”

Segera video itu kubuka. 
Tampak Mas Ferdinand Hindiarto, kakak kelasku di SMA Kolese De Britto dan Rektor Universitas Soegijapranata Semarang berdiri di mimbar Gereja Maria Assumpta Klaten mengumandangkan Tri Sembah Bekti (Tiga Salam Maria), lagu ciptaanku yang kurilis 25 Februari 2024, hari ulang tahun ke-68 almarhumah ibuku. Lagu itu kubawakan bersama Eyangku, Maria Sukarti Pranyoto yang saat ini sudah berusia 94 tahun.

Mataku pun sebak berkaca. Kepada Joyce, istriku, aku bilang “Wah, Hon… you know what? Laguku sudah kembali ke rumahnya!”

Aku terharu bukan karena laguku dibawakan orang lain karena meski tak sering, beberapa kali kawan-kawan mengirimkan kabar bahwa ia mendengar lagu-laguku dibawakan yang tentu membuatku sebagai pencipta merasa senang.

Tapi yang terjadi semalam di Gereja Maria Assumpta Klaten itu sesuatu yang ada di level berbeda!

Gereja Maria Assumpta adalah tempat dimana semua berawal mula. Eyang putriku yang kuajak bernyanyi dibaptis di sana dulu. Almarhumah Mama bersama adik-adiknya juga dibaptis dan bertumbuh secara iman di tempat itu. Mama dan Papa yang juga sudah almarhum ya menerima sakramen pernikahan di sana. Akupun dibaptis dan bertumbuh di sana. Menjelang meninggal tahun 2011, ketika memutuskan untuk menjadi seorang Katolik, Papa belajar agama juga di sana.

Maka tak salah dan tak berlebihan bagiku kalau Tri Sembah Bekti sudah pulang kembali ke rumahnya, ya di Gereja Katolik Maria Assumpta Klaten. Ini sebuah pencapaian “rasa” yang luar biasa bagiku. 

Maturnuwun, Mas Ferdinand dan Jeng Linggar sudah membawa laguku pulang ke tempat asalnya.

Suara Mas Ferdinand yang meski katanya “Suaraku elek dan di tengah-tengah nganggo lali…” sudah tertangkap dan meresap oleh dinding, atap dan kayu gereja yang indah nan ngangeni itu…

Berkah Dalem!

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.