Sebuah pemandangan absurd terjadi hari minggu sore kemarin ketika seorang pembawa acara siaran televisi nasional dengan bangganya berujar demikian, “Menurut statistik, Indonesia menempati posisi kedua di seluruh dunia yang mempunyai account Facebook terbanyak!”
Tak sampai satu menit kemudian, seorang rekannya yang sama-sama membawakan acara sore itu menyahut, “Tak hanya itu, kita adalah negara dengan jumlah pengguna blackberry terbesar di dunia!”
Lalu mereka berdua tersenyum penuh rasa bangga.
…petunjuk bahwa memang benar kebanyakan dari kita adalah trend follower, pengikut trend yang dengan setia selalu mengikuti kemana sang pembuat trend bertitah.”
Kenapa absurd, karena menurutku informasi yang disampaikan itu tak sedikitpun mengundang rasa bangga sebagai anak bangsa jadi ketika para pembawa acara tersenyum sumringah, aku kehilangan point tentang apa yang membuat mereka tersenyum kalau demikian? Ah maaf.. kuulangi kalimatku dengan imbuhan “ada sedikit bangga karena bangsaku tak termasuk dalam golongan yang cuek terhadap kemajuan teknologi dan bangga pula karena pemerintahnya belum memblokir akses ke media-media tersebut”. Selebihnya, semua itu hanya petunjuk bahwa memang benar kebanyakan dari kita adalah trend follower, pengikut trend yang dengan setia selalu mengikuti kemana sang pembuat trend bertitah.
Satu-satunya pihak yang diuntungkan dengan statistik di atas selain produsen brand yang bersangkutan barangkali para pembicara seminar yang kerap membawakan materi tentang social media serta… marketer yang menjajakan (atau dijajakan?) brand-brand komersial di ranah social media atau yang biasa disebut sebagai buzzer. Mengapa? Karena semakin besar angka pemakai berarti semakin besar pula peluang untuk dirinya menyuarakan brand yang dijajakan (atau menjajakan?) dan itu berarti uangnya semakin bermeter-meter panjangnya. Bisnis yang aneh bukan? :)))

Di sisi lain, seperti sebuah anomali dari kejadian di atas, seorang teman dengan bangga melaporkan diri sebagai salah sedikit dari mereka yang tak punya akun facebook. Terus terang aku shock!
Hello! Ini tahun 2011 gitu loh! Dan kawanku tadi… Ia bekerja di bidang yang tak jauh dari komputer, bukan tipikal pekerja yang overloaded, selalu punya waktu untuk sekadar ‘berleha-leha’ di internet. Sepengetahuanku, Ia bukan pula model orang yang menyimpan privasi terlalu dalam hingga tak memungkinkan ia ber-facebook dan…. dia juga bagian dari bangsa ini! Masa ngga pengen ikut menyukseskan meraih posisi pertama diseluruh dunia untuk akun Facebook terbanyak sih?
“…bagiku teknologi, bagaimanapun jalang dan berbahayanya adalah sesuatu yang harus kita ikuti…”
Bagiku, kawanku ini juga tak kalah absurdnya! Tak ada sedikitpun yang bisa dibanggakan untuk menjadi seorang yang kuper (kurang pergaulan) seperti itu karena bagiku teknologi, bagaimanapun jalang dan berbahayanya adalah sesuatu yang harus kita ikuti karena terbukti banyak membantu kehidupan manusia ketika ia bisa kita manfaatkan. Ibarat kata adalah ombak bagi seorang pemain ski air. Terjerumus sedikit saja ke dalamnya, kita akan jatuh, tapi menjaga keseimbangan untuk selalu berada di atasnya, akan menjadikan ombak tersebut bermanfaat.
Lantas mana yang paling baik?
Tak ada jawaban yang pasti karena tak semua trend follower bahkan mengakui dirinya adalah bagian dari kaum tersebut. Demikian pula ketika kau terperangkap dalam ‘lembah’ ke-kuper-an. Tak jarang mereka berdalih macam-macam untuk menghindarkan diri dari kesan kuper dan memilih untuk menjawab “Ah, toh tak semua harus kuikuti.. hidup ini pilihan!”
Tapi kalau aku harus memilih, terlepas pada kenyataannya aku lebih berada di lajur ‘trend follower’ ataupun ‘kuper’, aku berharap untuk menjadi pencipta trend karena hanya dengan demikian maka kita akan dibedakan dari dua sebelumnya yang kusebut. Jangan buru-buru bilang “Tak mampu!” atau “Sulit!” karena kalau Tuhan mampu menciptakan Mark Zuckerberg dengan Facebook-nya, Steve Jobs dengan Apple nya dan bahkan Bill Gates dengan Microsoft-nya, masa iya Dia tak mampu dan lupa untuk memberimu perangkat-perangkat yang sama untuk membuat keajaiban-keajaiban kecil untuk menggebrak dunia?
Jangan tanya caranya, ini sama sekali tak menyangkut pandai-bodohnya seseorang ditinjau dari sisi akademik ataupun pergaulannya. Belajarlah dari hal-hal kecil terlebih dahulu. Setia pada penyelesaian persoalan-persoalan kecil konon dengan sendirinya akan membuat kita mampu pula mengerjakan hal-hal yang besar.
Sekian tulisan yang tak kalah absurd dariku, si Absurd… nan tampan :)
Tinggalkan Balasan