Transfigurasi dalam hidup. Sejauh apa RohNya mengubahmu jadi berkilau?

6 Agu 2019 | Kabar Baik

Hari ini Gereja Katolik memperingati peristiwa transfigurasi. Yesus naik ke Gunung Tabor membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus. Di puncak, ketika sedang berdoa, Ia berubah rupa dan pakaian yang Ia kenakan menjadi putih berkilau-kilauan. Lalu tampak Musa dan Elia, dua nabi besar sebelumNya. Mereka berbicara tentang tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem.

Transfigurasi adalah penguat

Hal terpenting dari transfigurasi menurutku adalah bagaimana peristiwa itu menjadi penguat terhadap tiga rasul utama yang diajak naik, Petrus, Yohanes dan Yakobus. 

Mereka yang awalnya mungkin masih kurang percaya tentang keilahian Yesus dimantapkan percayanya setelah melihat peristiwa transfigurasi itu. Bahwa hadirnya Yesus merupakan satu kesatuan yang tak terpisahkan dari rencana keselamatan Allah yang dinubuatkan sejak lama, sejak Musa dan Elia. Bahwa pengorbananNya kelak di kayu salib pun adalah juga kehendak Allah.

Yesus dalam pertemuannya dengan Musa dan Elia seolah juga hendak memaparkan bahwa Ia datang bukan untuk memberontak terhadap norma yang sudah terbangun lama di bangsa Yahudi. Ia juga tidak hendak membatalkan satu titik pun dari Taurat, Ia menggenapinya.

Kita bagian dari rencana keselamatanNya?

Apa yang bisa kita pelajari dari hal itu?

Kita dikuatkan seperti halnya Petrus, Yohanes Yakobus? Benar! Kita dikuatkan dan kian percaya bahwa Yesus adalah Rencana Terindah Allah bagi manusia yang dinyatakan sejak awal dunia.

Tapi itu saja?
Tidak! Bagiku, peristiwa transfigurasi mengajak kita berkaca, adakah kita juga bagian dari rencana keselamatan Allah sendiri atau tidak?

Jika ya, maka hadirnya Roh Kudus dalam hidup seharusnya juga membuat kita mengalami transfigurasi. Meski tentu tidak secara fisik, kita diajak untuk mengalami perubahan hidup yang semula kelam jadi kemilau.

Aku pernah mendengar keluhan salah seorang kawan yang meski Katolik tapi malas untuk beribadah. Ketika kutanya, jawabnya begini, ?Ngapain ke Gereja kalau banyak orang yang rajin ke Gereja pun kelakuannya sama aja?!?

Transfigurasi dalam hidup

Pendapat itu tentu tak bisa dijadikan alasan untuk tak beribadah. Kita bisa mudah berkomentar, ?Beribadah kan gak liat orang lain tapi langsung ke Tuhan!? Tapi di sisi lain kita juga tak bisa menolak kenyataan bahwa secara manusiawi, adanya orang-orang yang ngakunya taat beribadah tapi tak berkelakuan baik amat mempengaruhi orang lain yang sudah malas akan jadi tambah malas beribadah; yang antipati akan semakin benci pada agama.

KehadiranNya dalam hidup seharusnya membuat kita menjadi saksi seperti halnya peristiwa transfigurasi di atas Gunung Tabor yang menguatkan ketiga murid Yesus.

Kita harus menunjukkan bahwa menjadi umat Tuhan itu membuat hidup kita lebih berarti, tak hanya bagi diri sendiri tapi juga bagi Tuhan dan sesama. Bagaimana memanfaatkan karunia dan buah-buah Roh untuk kita pakai dalam hidup bermasyarakat. Baik pada sesama, menjadi juru damai dalam setiap persoalan, menjadi orang yang tak segan membantu bagi mereka yang membutuhkan.

Demikian terus-menerus hingga akhirnya nanti kita sendiri dipermuliakan di Puncak Tabor abadi di surganya yang sejati. Tak hanya oleh Musa dan Elia tapi oleh seluruh penghuni surga dengan bintang utama, Yesus Kristus sendiri!

Mau?

Sydney, 6 Agustus 2019

Sebarluaskan!

0 Komentar

Kirim Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.